KP di Edwar Technology
alhamdulillah ini hari ke-2 saya KP di Edwar Technology, lab nya Pak Warsito, sang Penemu alat pemindai 4D. Entah kenapa juga saya bisa ‘terjebak’ di lab ini. awal mulanya daftar di BTL-BPPT, tapi kemudian di pondah di MEPPO-BPPT dan akhirnya atas kebaikan hati dosen pembibing saya di BPPT akhirnya berlabuh di tempat yang merupakan tempat orang-orang hebat ini.
*semoga ilmunya bisa nular juga
lanjutan postingan di bawah… kisah kita berakhir di januari
berat bebanku meninggalkanmu
separuh nafas jiwaku sirna
bujan salahmu apa dayaku
mungkin benar cinta sejati
tak berpihak pada kita
reff: kasihku sampai di sini kisah kita
jangan tangisi keadaannya
bukan karena kita berbeda
dengarkan, dengarkan lagu-lagu ini
melodi rintihan hati ini
kisah kita berakhir di januari
selamat tinggal kisah sejatiku
ooo pergilah
pengen muter nasyid ini sepanjang malam ini…
Di sini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau menghulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria
Reff:
Kini dengarkanlah
Dendangan lagu tanda ingatanku
Kepadamu teman
Agar ikatan ukhuwah kan bersimpul padu
Kenangan bersamamu
Takkanku lupa
Walau badai datang melanda
Walau bercerai jasad dan nyawa
Mengapa kita ditemukan
Dan akhirnya kita dipisahkan
Mungkinkah menguji kesetiaan
Kejujuran dan kemanisan iman
Tuhan berikan daku kekuatan
back to reff:
Mungkinkah kita terlupa
Tuhan ada janji-Nya
Bertemu berpisah kita
Ada rahmat dan kasih-Nya
Andai ini ujian
Terangilah kamar kesabaran
Pergilah gulita hadirlah cahaya
back to reff:
Diselamanya
(ending)
baca yuk!!!
setelah beberapa hari terakhir ini menjadikan acara ngabuburit sore di Gramedia sebagai kegiatan rutin, akhirnya ketemulah buku-buku yang selama ini dicari.
dan ini target buku selanjutnya:
Raudatul Muhibbin wa Nuzhatul Musytaqin….
semoga rampung dibaca, dan DIAMALKAN
renungan hari ini
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah ALLAH,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijnjikan kepadamu.”
“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia-akhirat, di dalamnya (surga) kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh apa yang kamu minta.”
“Sebagai penghormatan (bagimu) dari (ALLAH) Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada ALLAH dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?”
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik,maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.“
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.”
“Dan jika setan mengganggumu dengan suatu godaa, maka mohonkanlah perlindungan kepada ALLAH, Sungguh Dialah yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Fushilat: 30-36)

topeng
ini tamparan yang kesekian dan bertubi-tubi…
supaya kita semua sadar bahwa selama banyak wajah-wajah bertopeng…
atau saudara sendiri yang menikam dari belakang.
kam minna laisa fiina, wa kam fiina laisa minna…
memoar 25 Desember 2011
Mungkin beginilah perasaan Rasulullah dan para sahabat saat kalah dalam perang uhud. Dalam malam yang sunyi, dibawah langit yang cukup cerah malam ini, ikhwan-ikhwan mulai dibariskan di gelanggang dengan kondisi suara tertinggal 800-an suara…
Dimulai dengan sedikit taujih, perlahan para ikhwan mulai menitikkan air mata, tapi kita tetap harus keluar dari gelanggang dengan wajah yang tegap.
Pemberi taujih berkata, “setahun yang lalu, 2 tahun yang lalu, kita keluar dari gelanggang ini dengan takbir. Sekarang, apakah kalian berani meneriakkan takbir malam ini?”
Kamipun menjawab dengan agak berbisik, “berani!.”
Maka, malam ini gelanggang berhasil diguncangkan dengan takbir yang menyejarah…
jazakumullah khair atas kerja keras dan do’a antum sekalian….
kita semua telah menjadi pelaku sejarah dari dakwah kampus UGM. Tetap tersenyum, esok hari kita akan menyambut era baru dakwah kampus UGM.
ALLAHU AKBAR!!!!!
warna-warni #melingkar
Banyak teman yang bilanAg, kalau semagat membina itu justru mulai terasa ketika akhir-akhir masa kuliah. Selain ‘tuntutan’, motivasi untuk meninggalkan jejak-jeka manis sepanjang perjalanan masa kuliah pun menjadi salah satu penyebabnya.
tahun ini, saya menjumpai dua kelompok #melingkar dari dua prodi dan fakultas yang berbeda, yang satu dari prodi “TI” yang satu lagi dari fakultas “F”.
Tiga pekan perjalanan ternyata telah memberikan beragam warna yang begitu mengasyikkan bila dibandingkan tahun2 sebelumnya. mulai dari begitu bersemangatnya anak-anak “TI” untuk ikut #melingkar sampai begitu kritisnya anak-anak fakultas “F” yang selalu mempertanyakan tentang konsep-konsep dasar beragama. memang, dua kelompok ini punya karakteristik berbeda, anak-anak “TI” cenderung lebih nrimo setiap materi tanpa menggugat detail istilah atau maksudnya, arrtinya selama sesuai dengan pemahaman mereka, ya mereka langsung menerimanya. Beda dengan anak-anak dari fakultas “F”yang bisa sampai 2 jam untuk berdiskusi hanya berkutat pada istilah-istilah. mulai mempertanyakan konsep ‘keadilan’ Tuhan, atau hidayah dan dlalalah, atau kontekstual dan orisinalitas al-qur’an sebagai sebuah wahyu, juga masalah rumit seputar surga neraka, yang subhanallah, membutuhkan kepahaman ilmu yang luas untuk menimpali setiap diskusi-diskusi yang mereka lontarkan.
terlepas dari itu, kelompok #melingkar tahun ini lebih berwwarna dan lebih dinamis, semoga ALLAH memberikan kemudahan bagi saya untuk bisa menjadi teman akrab mereka dan merekapun bisa menerima apa yang saya sampaikan. terutama yang dari fakultas “F” ini..
minimal, selalu ada do’a-doa yang terselip untuk mereka,, karena mereka adalah kuncup yang siap untuk berkembang.
tulisan di web putih-kuning-hitam
semoga ALLAH memudahkan saya untuk kembali menulis yang lebih bermanfaat.. Aamiin..
DPW PKS Jawa Tengah : http://pks-jateng.or.id/index.php/read/news/detail/237/Kader-Kader-Manja
DPW PKS DI Yogyakarta : http://www.pks-diy.com/2011/10/istiqamah-adalah-konsisten-persisten.html
DPD PKS Cianjur : http://dpd-pkscianjur.blogspot.com/2011/08/kader-kader-manja.html dan http://www.pks-cianjur.org/index.php/artikel/kolom-kader/485-karena-ikatan-kita-istimewa.html
DPD PKS Pringsewu : http://pkspringsewu.org/?p=1048
DPD PKS Tegal Kota : http://www.pks-tegalkota.com/2011/08/kader-kader-manja.html
DPD PKS Gunung Kidul : http://pksgunungkidul.blogspot.com/2011/08/kader-kader-manja.html
DPC PKS Taktakan : http://www.pks-taktakan.org/2011/08/kader-kader-manja.html
DPC PKS Cipunagara : http://pkscipunagara.blogspot.com/2011/10/bila-langkahmu-terhenti.html
DPC PKS Petir : http://pkspetir.blogspot.com/2011/08/kader-kader-manja.html
DPC PKS Ngemplak : http://pksngemplak.blogspot.com/2011/11/kader-kader-manja.html
DPC PKS Kalijambe : http://pks-kalijambe.blogspot.com/2011/08/kader-kader-manja.html
DPC PKS Nongsa : http://pksnongsa.blogspot.com/2011/08/duhkader-kader-manja.html
DPC PKS Grogol : http://www.pksgrogol.com/2011/09/karena-ikatan-kita-istimewa.html
DPRa PKS Krukut : http://pkskrukut.multiply.com/journal/item/61/Duh…Kader-Kader_Manja
Bonus: di note Unofficial DPP PKS : https://www.facebook.com/note.php?note_id=10150274861507141
Asal mula istilah ‘GALAU’
kata ini sepertinya sudah ada sejak zaman nenek moyang kita,
, toh di Kamus Besar Bahasa Indonesia sudah ada definisinya.
ber·ga·lau a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran);
ke·ga·lau·an n sifat (keadaan hal) galau
ada beberapa sinonim dari kata galau, diantaranya: pakau, nanar, cemas, resah dan was-was.
kalau asal mula yang ini saya kurang tahu, coba kita tanyakan saja pada rumput yang bergoyang #eh.
Sedangkan, istilah glau yang saya maksud disini adalah ‘galau’. Pake tanda petik.
Pertama kali, saya mendengar istilah ‘galau’ ini dari seorang dosen Fisika Medik yang mengatakan: “Kalian ini jangan ‘galau’ karena dapet nilai sisir (baca: E), termodinamika itu menyenangkan.” atau seorang teman yang berkata “eh, gue lagi galau nih mikirin si ehm ehm..”
Saat itu, saya menangkapnya istilah galau yang ia sampaikan, bukan galau biasa, karena saaat itu istilah galau sedang mulai populer.
adalagi yang mendefinisikan ‘galau’ itu adalah sifat seseroang saat sedang ehm ehm dengan seseorang. bisa kita lihat dati status-status facebook-nya atau kicauan twitter-nya yang sedang ‘menggalau’, atau mereka yang sedang SNSD (Siap Nikah Siap Dilamar) #eaaa.
Menurut pak Jamil definisi galau itu banyak. Galau itu heboh sendiri. Galau itu bingung antara berbagai pilihan. Galau itu gelisah yang sangat parah. Galau itu bingung sendiri dan gak jelas maunya apa. Galau berkepanjangan bisa membuat hidup kacau. Galau tak baik dipelihara terlalu lama, sebab itu berbahaya bagi hidup Anda.
Bagaimana agar tidak galau? Saya menyarankan beberapa hal.
Pertama, tetapkan impian hidup. Prestasi terbaik apa yang akan Anda raih di kehidupan dunia ini? Jejak apa yang akan Anda tinggalkan di semesta yang membuat Anda dikenang generasi berikutnya? Kebaikan apa yang akan Anda persembahkan kepada-Nya sehingga Anda layak meminta surga-Nya? Fokuskan hidup Anda untuk mewujudkan impian yang telah Anda tetapkan.
Kedua, menjauh dari informasi negatif. Pastikan hanya menonton acara televisi yang berkualitas, bukan acara gosip atau berita-berita yang “mengotori” pikiran dan hati. Bila aktif di twitter pastikan follow orang-orang yang menyebarkan kebaikan bukan yang “menularkan” kegalauan.
Ketiga, pastikan ucapan dan tindakan Anda selalu positif. Ucapan dan tindakan bukan hanya saat bicara langsung kepada orang termasuk saat membuat status di dunia maya (Facebook, twitter dll). Sebab saat Anda berucap atau bertindak negatif kemudian mendapat respon, saat itulah hal negatif itu semakin heboh. Tanpa Anda sadari, hal negatif itu kemudian “meracuni” pikiran dan hati Anda, membuat Anda gelisah dan semakin galau.
Keempat, bergaulah dengan orang yang positif. Carilah komunitas-komunitas yang positif dan sesuai dengan profesi Anda. Ingatlah, 10 tahun yang akan datang tergantung dengan siapa Anda bergaul dan bersahabat saat ini. Bila saat ini Anda bergaul akrab dengan orang yang galau, 10 tahun yang akan datang hidup Andapun bisa galau dan kacau.
Berikut ini ciri-ciri penderita ‘galau’ ;
-
Resah dan Mengeluh
Inti dari status di social media adalah keluhan pribadinya tentang kehidupannya sehari-hari, biasanya dipengaruhi oleh mood yang sedang buruk. -
Self-Centered
Semua pembicaraannya lebih banyak tentang dia, dia dan dia. Memuji diri sendiri yang berlebihan. -
Membiarkan masalah pribadi diumbar ke publik
Yang seperti ini lama-lama bikin ill feel dan risih celakanya kalau sampai menyebut nama -
Membuat banyak status dalam waktu singkat
Saking aktifnya di dunia maya, dia bisa update status dalam hitungan menit untuk menunjukkan betapa eksisnya dia dan betapa dia butuh teman curhat. -
Aktif di banyak social media
Facebook saja tidak cukup, dia akan membuat akun di Twitter, Plurk, Yahoo atau sejenisnya, pokoknya yang bisa buat update status untuk mengabarkan ke dunia tentang perasaannya. Biar ga repot, biasanya dia menggunakan sistem feed dimana cukup update status dari satu social media dan secara otomatis akan terkirim ke beberapa akun social media.
nah, ternyata meskipun kehebohan ‘galau’ baru terdengar setahun belakangan ini, sebuah tim nasyid bernama “Suara Persaudaraan” telah mempopulerkan lagu ini dalam sebuah almbum berjudul “bara dalam tadzkiyah,’ yang duluncurkan pada tahun 1996. Salah satu nasyid nya berjudul GALAU. Berikut ini kutipan nasyidnya.
“Di sebuah terminal bus antar kota, seorang laki-laki dengan wajah berlinangan air mata memandangi anaknya dan melepasnya dengan bus yang menuju sebuah kota pelajar nan dingin di belahan timur pulau jawa. Sang bapak sedih, kecewa, lantaran perubahan yang terjadi pada anak gadisnya. Kerudung anaknya yang menutup penuh aurat, membuatnya cemas sang gadis jauh dari jodohnya. Sehingga ia merasa perlu menekan, agar kerudung yang menutup kecantikan anaknya terlucuti kembali .berkali-kali kakak sang gadis meyakinkan bapaknya, bahwa jodoh adalah ketentuan Allah. Tidaklah pantas seorang wanita memamerkan keindahan tubuhnya hanya untuk memicingkan laki-laki yang belum tentu menjadi suaminya. Termenung kakak sang gadis menerawang biru di langit jingga. Mulutnya bergumam:”
Sungguh lama nian ku terkubang di dalam ujian
Saat terakhir tiada kunjung datang
Ku terpekur dalam bimbang
Ku harapkan kepada Tuhan
Akan datangnya seorang kawan
Mendampinginya di medan juang
Menepis segala rintangan menghadang
Sabarlah adikku sayang
Pertolongan Allah pasti kan datang
Dari arah yang tak terkirakan
Sabar dalam penantian
Percayalah kepada Tuhan
Semua adalah hanya ujian
Pembukti iman dan ketaqwaan
Penopang cinta dan ketabahan
Lihatlah di ufuk timur
Goresan fajar mulai membentang
Matahari pagi kan bersinar
Ibaratkan janji Tuhan
Sungguh lama nian, ku terkubang di dalam ujian
Saat terakhir tiada kunjung datang
Ku terrpekur dalam bimbang
Kuharapkan kepada Tuhan
Akan datangnya seorang kawan
MendampinginyaDi medan juang
Menepis segala rintangan menghadang
Sabarlah, adikku sayang
Pertolongan Allah pasti kan datang
Dari arah yang tak terkirakan
Sabar dalam penantian
Percayalah kepada Tuhan
Semua adalah hanya ujian
Pembukti iman dan ketaqwaan
Penopang cinta dan ketabahan
Lihatlah di ufuk timur
Goresan fajar mulai membentang
Matahari pagi kan bersinar
Ibaratkan janji Tuhan
Ibaratkan janji Tuhan
lalu berlanjut ke nasyid selanjutnya yang berjudul “hasrat hatiku”,
Apabila telah tiba masaku,
Untuk segera mengakhiri lajangku
Dengan segenap kemampuan Allah berikan
Insya Allah janjiku segera kutunaikan
Tapi bila kuraba dalam hati,
Datang seruntun pertanyaan silih berganti
Adakah semua kulakukan terlalu dini
Berdegup jantung di dada, kendalikan diri
Namun pernikahan begitu indah kudengar
Membuatku ingin segera melaksanakan
Namun bila kulihat aral melintang pukang,
Hatiku selalu maju mundur dibuatnya
Akhirnya aku segera tersadar,
Hanya pada Allah lah tempat aku bersandar
Yang akan menguatkan hatiku yang terkapar
Insya Allah azzamku akan terwujud lancar
*tuh, galau itu jangan pada manusia, ‘menggalau’ lah pada yang bisa menyembuhkan kegalauan itu. GALAU: God Always Love All of U
“Barangsiapa yg ditimpa oleh kefakiran, kemudian dia mengadukannya kpd manusia, maka kefakirannya tdk akan ditolak darinya. Dan barangsiapa yg ditimpa oleh kefakiran, kmudian dia mengadukannya kpd Allah SWT, maka sungguh tlah mndekati kepastian bhw Allah SWT memberikannya rizqi baik didunia maupun di akhirat.”(hadis Abu Daud ra)
campur aduk 11-11-11
Rabu pagi, 9/11/11, saya pergi ke stasiun Lempuyangan buat beli tiket. tiket apa? yang pasti bukan tiket pesawat lah
.
sesampainya di stasiun…..
ooo antrian panjang, “biasalah..” pikir saya dalam hati. tapi melihat orang-orang di depan pada bawa kertas, jadi aneh juga ya… “udah antri dulu aja.”
sesampainya di depan loket, “tiket ke jakarta satu mbak.”
“oo maaf mas tiketnya yg hari ini sudah terpesan semua, adanya untuk tanggal 16.”
hah??!!! ini kok nggak kyk biasanya. masa’ progo cepet banget abisnya.
Dan,, Ya Allah setelah tanya ke satpamnya, ternyata mulai tgl 1 oktober kemain ada peraturan baru yg melarang adanya penumpang berdiri alias, satu kursi emang dijatah untuk sati orang. itu berarti, kereta progo yang biasany bejube tiap kali pemberangkatan, harus legowo mengurangi jumlah penumpangnya.
Progo… abis
Senja utama…abis
Gaya Baru Malam…. abis juga.
Duh, padahal rencananya sore nanti abis uts KWU sy langsung brgkt ke jakarta, ngurus KP sekaligus pulang kampung.
hanya ada satu loket yang masih menjual tiket untuk hari-H, yaitu gajah Wong, apa itu?
g tau juga, saya aja baru denger kali ini. ternyata itu kereta baru jurusan jogja-jakarta. kelas Ekonomi tapi ber-AC…. (hho boleh dicoba nih)
dan setelah melihat harganya, ngelus-ngelus dada, 130 ribu. 4 kali lipat harga progo.
tapi tak apalah, daripada sore ini sy gak jadi berangkat.
rencana saya kan rabu sore ini berangkat, nyampe jakarta kamis pagi, kamis ke BPPT buat ngurus KP, jumat sore langsung balik ke jogja supaya sabtu paginya bisa ke Kertosono ke acara walimahan temen.
tiket sudah terbeli, uts pun sudah selesai. tiba-tiba ada sms dr pembina KP di BPPT,
“saya baru adda di kantor senin besok, pekan ini sedang ada dinas di luar kota.”
nah lo, ini sih salah saya juga, kenapa tadi ga sms beliau dulu sebelum beli tiket.
alhasil, kalau mau ketemu beliau ya senin depan. sebenernya bisa aja sih rabu sore tetep berangkat dan baru balik ke jogja senin sore tgl 14. tapi ya itu, saya udah ada janjian sama tmn2 #lingkaran untuk brgkt ke walimahan tmn sabtu pagi tgl 12. kalau maksa ttp brgkt ke jakarta, berarti ga ikut ke walimahan tmn. padahal sy udah ngebatalin acara MPKD kampus,,,,
ya sudahlah, tiketnya akhirnya saya kembalikan lagi meski uang yg kembali nggak utuh lagi.
sy ikhlaskan, biarin deh, ke jakartanya pekan depan aja asal bisa ke walimahan tmn. kamis malemnya ada sms,
“kita berangkat ke kertosono jadinya jumat pagi ya, soalnya resepsinya hari jumat, rencana awal hari sabtu g jadi.”
aneh kan,,
ya bgitulah. tuh kan coba saya tetep brgkt ke jakarta, pasti gak akan kekejar untuk balik ke jogja untuk terus dilanjutkan ke kertosono.
ini kehendakNya yang pertama
oke, jumat pagi akhirnya berangkat ke kertosono naik sancaka. pikir saya, oh iya, nanti dari kertosono naek keret yg langsung ke jakarta aja untk pulang. kan walimahnya maju jadi hari jumat, berarti sabtu sy bisa sampe jakarta dan seninnya bisa ketemu pembimbing KP. ide bagus tuh (mikirnya gitu.., tapi…..)
tapi….. setelah sampe kertosono. sebelum ke tempat walimah, sy mampir ke loketnya dulu dan nyari2 tiket ke jakarta, dan… HABIS SEMUA UNTUK HARI INI. baik itu ekonomi, bisnis, maupun eksekutif…..
sempat terpikir, yasudahlah naik bis saja nanti….
(ditempat walimahan,,,, ceritanya di skip he2)
pulang dari kertosono naek sri tanjung (coba itung, udah berapa nama kereta yg saya sebut?
) dan dalam perjalanan pulang ada sms masuk
“saya sampai ahad besok sedang ada di Jogja, nanti bisa ketemuan kalau ada waktu yang cocok,”
Alhamdulillah….. ternyata si bapaknya itu tugas dinas ke Jogja, dan saya punya kesempatan ketemu langsung tanpa harus ke BPPT.
coba bayangkan kalao tadi sy ngebet pengen jumatt sore ke jakarta naek bis, dan udah perjalanan di bis dapet sms gitu, pasti nangis darah (nggak juga sihh
)
yg pasti, ini kehendakNya yang kedua.
===============================================
ada satu pelajaran yg bisa saya ambil, PERTAMA, kalau mau ketemu seseorang janjian dulu, he2…
KEDUA, hikmah perjalanan Jogja-Kertosono hari ini: ketika kita sedang mengejar ‘sesuatu’ nun jauh disana, berusaha untuk dapet ‘sesuatu’ yg belum kita miliki, bisa jadi justru ALLAH sedang mendekatkan ‘sesuatu’ itu kepada kita, dan ada dekat sekali dengan kita saat ini…..
‘sesuatu’ itu bisa anda ganti apa aja dehh. you know lah..
mana aksinya?
pada masanya nanti mungkin kita juga akan seperti itu, berkata pada generasi penerus kita dengan kata-kata:
“mana aksinya?”
padahal kita sendiri pun pada masa kini belum tentu ada aksi, belum tentu ada kontribusi yang diberikan.
so, merenunglah kembali. jangan menuntut orang lain untuk beraksi, kalau kita sendiri tak ada aksi.
sebenarnya cinta
“Sebenarnya cinta akan terasa kesejukannya pada saat kebeningan hati bertemu dengan kelezatan nafsu.” (Ust. Syatori Abdurrouf)
inspirasi tiada henti
sungguh dia masih ada, disini di hati orang-orang dan sahabat-sahabat yang menyayanginya.. lewat untaian tulisan dan goresan tintanya,..perjalanan hidupnya begitu berharga kebaikanmu kan slalu terkenang….
entah kenapa hari ini saya selalu diingatkan kematian. tergerak hati untuk kembali membuka wall mereka yang telah pergi mendahului. Subhanallah, saya tak tahan rasanya untuk tidak menitikkan air mata. bahan bukan hanya setitik dua titik, tapi mengalir di tengah keheningan malam ini. betapa Allah begitu mencintai mereka, memanggilnya dalam keadaan terbaik dalam hidupnya yang penuh karya.
(cengeng?) Nggak…!!!
Terimakasih untuk mereka yang terus menginspirasi, meski dari kejauhan dalam alam baka. Inspirasimu tiada henti memberi semangat untuk terus berbenah diri.
Allahummaghfirlahum war hamhum, wa’aafihim wa’fu anhum…
ketika kesadaran itu bangkit

hanya bisa berucap “SubhanAllah” melihat pemandangan burjo-burjo sekitar kampus di waktu sahur ini. Suasananya tidak kalah ramai dengan bulan Ramadhan…..
…..dan akhirnya sayapun cuma bisa meneguk segelas teh hangat karena harus berpindah sampai empat tempat burjo, saking padatnya antrian…..
*ini nyata, no lebay*
#Selamat Menunaikan Ibadah Shaum Arafah bagi yang menjalankannya.#
dilema kaderisasi
“Nggak ada dalilnya, kualitas yang bagus harus diapologikan dengan kuantitas yang sedikit.”
Dengan penuh semangat, pak Arief Munandar -yang tak mau bila kami panggil ustadz- memberikan closing statement dalam sebuah acara PPSMB (Pelatihan Pembelajar Sukses Mahasiswa Baru) Fakultas Teknik. Saya yang sebenarnya bukan panitia, apalagi peserta, alhamdulillah sempat mendengarkan sayup-sayup nasehat beliau dari kejauhan dibawah pohon rindang samping KPFT.
Waktu itu, sambil menunggu rombongan KKN berangkat ke Kulonprogo, saya sempatkan untuk sekedar melihat wajah-wajah baru yang akan menggantikan wajah-wajah lama -seperti saya- ini. Entah kenapa, sebuah statement yang singkat tapi begitu dalam hingga selalu saya ingat sampai saat ini. Beliau mengatakan bahwa “Nggak ada dalilnya, kualitas yang bagus harus diapologikan dengan kuantitas yang sedikit.”
sering ada yang bertanya,
“kok peserta trainingnya sedikit?.”
“memang hanya orang-orang pilihan saja yang punya kesempatan untuk hadir.”
“kok yang daftar lembaga ini sedikit?”
“memang hanya mahasiswa militan saja yang akan terjaring masuk.”
Kuantitas memang bukan segalanya, toh ummat nabi Nuh bisa dihitung dengan jari, tapi menjadi generasi terbaik pada masanya. Hal lain yang mungkin jadi apologi adalah kekalahan ummat Islam dalam Perang Uhud meski dalam kuantitas yang banyak.
Bukan dari perspektif itu yang ingin saya bandingkan, memang sunnatullah nya, orang-orang yang akan memperjuangkan kebaikan ini tidak banyak. Jumlahnya masih relatif sedikit bila dibandingkan dengan musuh-musuh kebaikan. Coba bandingkan acara kajian di kampus dengan konser band akhir tahun!
Perspektif yang ingin saya sampaikan adalah, jangan sampai justru kita sendirilah yang menjadi penyebab minimnya kuantitas para penggerak dakwah di kampus. Kalau mereka berguguran, biarlah proses seleksi alam yang menuntutnya, bukan karena kesalahan atau ketidakseriusan kita mencetak wajah-wajah baru penerus dakwah kampus.
misal, dalam sebuah LDK (Lembaga Dakwah Kampus) menginginkan agar yang masuk ke dalam lembaganya adalah mahasiswa yang benar-benar militan dan memiliki keinginan kuat untuk menjadi penggerak dakwah kampus, paling tidak mereka yang tarbawi-nya sudah sehat sejak SMA. Lalu tim kaderisasi lembaga dakwah tersebut kemudian menetapkan, open recruitmet hanya dibuka selama 2 hari dari jam sekian sampai jam sekian.
“kenapa singkat banget? padahal potensi mahasiswa baru di kampus ini cukup besar?”
“yah, itu sebagai bentuk seleksi awal kita supaya yang masuk ke lembaga ini benar-benar mahasiswa yang serius untuk menjadi anggota lembaga ini, bukan mereka yang asal-asalan hanya untuk memenuhi CV.”
iyakah seperti itu? lalu bagaimana dengan mereka (red: mahasiswa baru) yang di SMA nya belum kenal sama sekali apa itu dakwah? mereka yang di SMA nya nggak kenal dengan mentoring dan kajian-kajian keislaman?.
Padahal, mungkin dia baru kenal istilah dakwah ketika di kampus. dan ketika ingin mendaftar belum sempat mengambil form pendaftaran. Lalu ia bergumam,
“ah, ribet banget sih daftarnya, harus di jam-jam yang ada kelas kuliah. mesti ngisi ini itu lagi.”
Bagi mereka, yang memang suda terbina di SMA, mungkin tak ada masalah. Mereka akan punya keinginan kuat untuk mendaftar karena mereka tau urgensinya bergabung dengan sebuah lembaga dakwah. Akan tetapi coba lihat, mereka yang belum begitu tahu urgensinya dakwah, yang ingin coba-coba masuk LDK, mereka lalu beranggapan tak ada ruginya bila telat mendaftar dan tidak jadi anggota LDK tersebut dan ia pun tidak tahu apa sih urgensinya dakwah (kata-kata yang mungkin baru didengarnya di kampus).
Filter, yang kita buat diawal telah menghambat kesempatan seseorang untuk menjadi bagian dari penggerak dakwah ini. Padahal bisa jadi mereka yang terhambat itu memiliki potensi yang besar dikemudian hari untuk menjadi pendukung dan pelaku utama dakwah kampus ini.
Alhasil, jangan heran bila sering muncul keluhan,
“kok, yang menjadi tokoh-tokoh penting di lembaga kebanyakan anak-anak ‘transfer’ ya?”
Wajar….
karena yang diincar pertama kali, yang diperhatikan terus menerus, yang diharapkan menjadi penggerak dakwah kampus adalah anak-anak ‘transfer’ , sehingga mengesampingkan potensi lain yang sebenarnya jauh lebih besar. Lalu men-judge, mereka yang telat daftar di LDK, mereka yang nggak ikut wawancara, mereka yang nggak mengembalikan form adalah calon-calon anggota yang tidak miitan, sehingga tidak layak untuk menjadi anggota lembaga ini.
Padahal, inilah tantangannya, tidak hanya sekedar mendapat input yang bagus, akan tetapi sebuah sistem kaderisasi harus bisa menghasilkan ouput yang bagus dengan input yang beragam.
———
“……yasudah, terima saja yang mendaftar, biar alur kaderisasi yang akan menyeleksi mereka. karena kita butuh kualitas juga kuantitas “
iapun berlalu meninggalkan rapat itu….
Kamis, 3 Nopember 2011
06.00 WIB
Menjelang Ujian TenSor
jalan ini istimewa

jalan ini istimewa…
bukan karena kerlip lampu biru jingga di dalamnya.
jalan ini istimewa…
bukan karena karpet merah terhampar luas dipijaknya.
jalan ini istimewa…
bukan karena diorama indah disekelilingnya.
jalan ini istimewa….
KARENA ada CINTA di dalamnya.
“Ya Allah, wafatkan aku dalam kondisi mencintai jalan dakwah, dan jangan wafatkan aku dalam kondisi membenci jalan ini.”
kuasa
Kita menang bukan karena kita berkuasa tapi karena kebenaran menjadi nyata. (Anis Matta)
kuasa, kadang menjadi ujian kesombongan. membuat diri kita lupa darimana kuasa itu datang. atau oleh siapa saja kuasa itu diperjuangkan.
oleh siapa SAJA, bukan oleh siapa-siapa. kita merebut kuasa itu bukan untuk kemenangan pribadi, bukan untuk popularitas diri sendiri, bukan untuk citra bahwa kita begitu berjaya dihadapan mereka.
kita berkuasa untuk memudahkan kalimatullah tegak di muka bumi ini, kita berkuasa untuk memudahkan dakwah tersebar luas dihamparan dunia ini.
lalu, apa artinya kuasa bila justru dakwah semakin sulit. apa artinya kuasa bila justru jalan-jalan kebaikan menjadi terhambat.
kita telah memperjuangkan kuasa itu, tapi kini luluh dengan kesombongan. tak ada bedanya antara kita berkuasa atau tidak. karena kini kuasa telah dijadikan tujuan, bukan lagi sarana.
astaghfirullahal ‘adzhiim…
dalam labirin waktu asy-syifa

enam bulan tinggal di RS Sardjito,
mengamati, merasakan, menangkap aura di tiap hilir mudik berlarian.
ada keluh, ada resah ada harap-harap cemas. menanti kabar bagaimanakah kondisi yang tercinta dalam lorong-lorong kecil di sudut rumah sakit.
ada tetes darah, infus yang mengalir, hingga bau menyengat obat-obat mengalir bersama angin menelusuri tiap kamar-kamar berjajar.
mungkin tak kuasa mata-mata sayu itu mengeluarkan airmatanya, atau dari bibir mungil itu tak lega bila tak mengeluarkan isak tangis membahana. cukuplah pemandangan sehari-hari itu menjadi saksi bahwa memang rumah sakit ini telah menjadi bagian dalam hidup saya. enam bulan menjadi penghuni sardjito telah memberi warna tersendiri. mengingatkan selalu akan kematian yang suatu saat dengan tiba-tiba akan kita alami.
begitu mulianya para dokter itu, dengan pakaian kebesaran putih-dan semoga menunjukkan kesucian hatinya- untuk menolog sesama, sayapun tak kuasa untuk terus berucap “subhanallah”.
atas setiap perjuangan mereka, atas setiap senyum dan kehangatan dalam memberi pelayan terbaik di rumah sakit ini.
dan sore ini, dalam jebakan hujan sore, pasca uts biofisika, saya kembali menelusuri lorong-lorong itu. hendak bertenduh, namun dalam gemericik hujan yang terus membasahi bumi ini, tersingkap memori beberapa tahun lalu. kenangan di asy-syifa dengan berjuta kata untuk melukiskannya.
menulis: jalan kearifan

ketika menulis adalah jalan kearifan, kalimat demi kalimat adalah semangat.
ketika menulis adalah jalan kearifan, bahkan bergembirapun punya alasan.
ketika menulis adalah jalan kearifan, sekecil apapun fakta selalu punya makna.
ketika menulis adalah jalan kearifan, kata-kata senantiasa jadi tanggung jawab.
ketika menulis adalah jalan kearifan, berbagi ide berarti berbagi tanggung jawab.
~Tarbawi~


