Krisis Energi di Indonesia


Berdasarkan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) 2008-2027, dibutuhkan kapasitas pembangkit listrik tak kurang dari 149 GW pada tahun 2027. Sementara itu saat ini kapasitas pembangkit kita tak lebih dari 21 GW.

Fenomena inilah yang terjadi dalam pengadaan energi di Indonesia. Krisis energi menjadi perhatian serius yang harus segera dicarikan solusinya. Negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 di dunia ini tentu membutuhkan pasokan energi listrik yang tidak sedikit apalagi bahan bakar untuk keperluan sehari-hari yang semakin meningkat seiring bertambahnya kebutuhan masyarakat Indonesia.

Mengapa krisis energi ini bisa terjadi?

Salah satu penyebabnya adalah terlalu besarnya ketergantungan penyediaan energi Indonesia pada bahan bakar minyak. Saat ini, sebagian besar sumber energi yang dieksploitasi di Indonesia berasal dari energi fosil, seperti minyak bumi dan batu bara. Sedangkan bila dilihat dari sisi supply, sumur-sumur minyak yang ada di Indonesia sudah sangat tua dan tidak layak lagi untuk dioperasikan. Ditambah lagi dengan semakin berkurangnya kegiatan eksplorasi menyebabkan semakin berkurangnya produksi minyak Indonesia. Penurunan kapasitas produksi ini sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1995, dengan penurunan tercepat terjadi sekitar tahun 2002.

Melihat permasalahan krisis energi itu, harus ada penanganan yang lebih terarah agar krisis energi yang terjadi tidak semakin parah,  karena ketika sumber energi tidak dapat diperoleh lagi maka banyak proyek-proyek industri, kegiatan pendidikan, sosial dan lain sebagainya yang akan terhambat.

Dampak yang ditimbulkan dari krisis energi ini sudah mulai terasa di kalangan masyarakat. Khusunya masyarakat kelas menengah ke bawah. Krisis bahan bakar berbasis fosil ini telah berdampak pada melonjaknya harga bahan bakar. Tidak berhenti di situ saja. Akibat melonjaknya harga bahan bakar dengan berbagai macam produk turunannaya harga sembako ikut melambung. Akhirnya beban masyarakat semakin berat. Nasib masyarakatpun semakin menderita.

Melihat dampaknya yang bisa semakin meluas mempengaruhi seluruh sektor kehidupan, pemerintah Indonesia sedang melakukan upaya-upaya penanggulangan krisis tersebut. Salah satu diantaranya adalah melakukan diversifikasi pemakaian sumber energi, dari yang semula hanya memanfaatkan energi fosil, lalu diperluas dengan memanfaatkan energi berbahan baku nabati sebagai sumber energi alternatif.

Bahan bakar nabati yang sedang dikembangkan sebagai bahan bakar alternatif adalah tanaman jarak karena tanaman ini dapat diolah menjadi biofdiesel. Pengolahan 3 kg biji jarak akan menghasilkan satu liter biodiesel. Namun, yang masih menjadi kendala adalah konversi lahan untuk penanaman jarak, karena semakin menurunkan persentase lahan untuk pertanian yang pada akhirnya berdampak pada hasil pertanian yang dihasilkan. Hasil yang ditargetkanpun belum maksimal. Tercatat baru sekitar 5 % lahan yang baru terealisasikan sebagai lahan Jarak pada 2007 lalu (dari 600.000 hektar target, hanya tercapai 25.000 hektar).

Kondisi seperti ini tentunya harus menjadi pemantik bagi para peneliti di Indonesia agar bisa dengan cepat menemukan sumber energi yang lebih ramah lingkungan dan bisa mengatasi krisis energi yang semakin mengkhwatirkan. Bila berharap pada bahan bakar fosil tentunya kita akan semakin sulit mengimbangi harga minyak dunia yang semakin melambung harganya. Karena pada saat ini Indonesia sudah mulai mengandalkan impor minyak dari negara lain. Tidak lagi sebagai negara pengekspor minyak seperti beberapa tahun lalu.

Proyek pembangunan reaktor nuklir pun sampai saat ini masih belum bisa terealisasikan. Disatu sisi ada keinginan dari para peneliti untuk segera membangun reaktor nuklir yang bisa dibunakan sebagai sumber energi listrik, namun di sisi lain belum adanya dukungan dari pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkn proyek tersebut. Bila dibandingkan dengan Amerika Serikat atau India, seharusnya kita sebagai anak bangsa lebih bersemangat untuk mendukung pembuatan reaktor nuklir. Karena efisiensi yang dihasilkan jauh lebih besar dibandingkan dengan penggunaan batubara atau minyak bumi. Mengenai limbah nuklir yang dikhawatirkan dapat merusak lingkungan, seharusnya sudah tidak dipermasalahkan lagi karena reaktor nuklir sudah mempunyai SOP (Standar of Procedure) yang mengatur pembuangan limbah tersebut agar tidak sampai mencemari lingkungan. Masyarakatpun tidak perlu khawatir dengan radiasi nuklir karena sekarang lapisan dinding reaktor sudah dibuat sedemikan hingga agar ketebalannya aman untuk digunakan.

Dengan demikian, dalam mengatasi krisis energi di Indonesia tidak cukup bila hanya mengandalkan satu sumber energi alternatif saja, kita harus bisa menemukan banyak sumber energi alternatif yang terbarukan agar pasokan bahan bakar dan listrik untuk dalam negeri bisa terjamin keberadaanya.

 

 

About these ads

Tentang jupz

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 82 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: