Archive | Februari 2009

Daya Tahan Lembaga


Seiring dengan kebutuhan dan pertumbuhan gerak dakwah di lapangan, menjadi suatu keniscayaan bagi kader dakwah untuk berbekal lebih banyak, tidak hanya pada satu komponen (lini) dakwah saja, tetapi harus integral mencakup semua komponen (lini) dalam rangka melebarkan sayap dakwah.

Apa yang menyebabkan Dionosaurus punah?
Ada beberapa teori yang menyatakan berbagai alasan mengenai penyebab punahnya hewan terebesar yang pernah ada di dunia ini.
1.Dinosaurus kalah bersaing dengan sekelompok mamalia baru
2.Alergi serbuk tanaman
3.Badannya terlalu besar
4.Adanya meteror yang jatuh ke bumi sehingga menyebabkan dionosaurus punah.

Teori keempat inilah yang merupakan teori terkuat dan diyakini oleh hampir semua ilmuwan.
Berdasarkan teori-teori di atas, dapat kita ambil sebuah ibroh (pelajaran) mengenai eksistensi sebuah lembaga/organisasi.

Pertama, Sebuah Organisasi akan tetap jaya dan eksis dalam melebarkan sayap pengaruhnya apabila ia mampu bersaing dengan lembaga/organisasi lain. Persaingan dalam kehidupan ini adalah sebuah keniscayaan, artinya hampir seluruh sendi kehidupan ini ada pihak-pihak yang saling berebut pengaruh atau peran.Dalam menghadap fase ini, sebuah lembaga/organisasi harus mempunyai plaaform yang jelas serta memiliki tujuan yang strategis, sehingga masyarakat akan lebih menaruh perhatian dan tertarik untuk mendukung segala kegiatan lembaga/organisasi tersebut. Tentunya platform yang diusung tak sekedar penghias AD/ART kelembagaan saja, tapi harus pula didukung dengan adanya sumber daya manusia (baca: Kader). Oleh karena itu peran Organisasi/lembaga dalam mengelola SDM yang ada sangatlah penting untuk tetep amenjaga keberlangsungan organisasi/lembaga tersebut.

Kedua, Keberlangsungan suatau organisasi/lembaga tergantung bagaimana ketahanan organisasi/lembaga tersebut dalam menghadapi berbagai guncangan, baik itu dari peramasalahan internal maupun adanya gannguan dari pihak eksternal. Oleh karena itu, butuh kesolidan antar kader dalam menyusun dan menyatukan gerak langkah lembaga. Dalam hal ini, peran mas’ul atau pemimpin sangatlah dibutuhkan unryuk bisa memberi semangat dan arahan kepada bawahannya agar bis tetap konsisten melaksanakan arah gerak lembaga.

Ketiga, Perumuhan sebuah lembaga yang sudah semakin besar dan sudah memiliki kemandirian dalam menata kelembagaan, tentu bis juga menjadi sebuah bumnerang bagi lembaga itu sendiri. Kebesaran sebuah lembaga tidak terlepas dari peran serta kader dan seluruh komponen penggerak lembaga, namun bila sayap-sayap lembaha itu sudah semakin lebar dan memiliki peran yang lebih besar tentu memiliki konsekuensi tersendiri dalam mengupayakan adanya sinergitas yanglebih baik agar seiring bertambahnya perang serta amanah yang diemban oleh sebuah lembaga tidak menjadikan lemabaga itu terlalu lelah dan akhirnya bisa mematikan gerak langkah lembaga.

Keempat, Adanya ancaman yang lebih besar dari lingkungan sekitar terhadap lembaga membutuhkan antisipasi yang lebih ekstra, sehingga ancaman kelembagaan yang muncul dari oraganisasi lain berupa pencekalan, fitnah maupun tindakan tidak sportif lainnya dapat ditangkal dengan baik.

Iklan

4 tahun yang lalu….


Liburan semester telah hampir usai…
Sayangnya libur yang cuma dua minggu ini gak terasa seperti liburan sebelumnya. Ketika pulang ke rumah, saya sudah mengagendakan untuk berkunjung ke Insan Cendekia, Main ke rumah teman-teman SMA, silaturahmi ke ‘mantan’ murobbi saya, dll…
Tapi sayang, sepertinya saya memang harus terus berada di rumah. Kondisi cuaca daerah Bogor dan sekitarnya, terutama di musim penghujan ini rupanya menjadi salah satu penghambat agenda yang saya ingin lakukan ketika liburan ini.
Bersyukurlah teman-teman SMA -yang meskipun sudah 4 thn tak lagi bersama- masih mau menyempatkan diri untuk silaturahmi ke rumah saya.

Jum’at Kemarin, saya berusaha untuk melakukan ‘kunjungan balasan’ sekaligus menghadiri undangan kegiatan Pembukaan Mentoring di SMAN 1 Parung. Sudah banyak yang berubah dari sekolah yang sudah saya tinggalkan 4 tahun yang lalu ini. 4 tahun sudah saya telah meninggalkan teman-teman terbaik di Rohis, SNBI, dan Nevar. 4 tahun lalu pula masa-masa SMA pernah saya lalaui bersama dengan teman-teman di SMAN 1 Parung. Namun , bukan berarti persahabatan itu harus putus apalagi berakhir karena terpisah oleh jarak. Persahabatan sejati takkan pernah pupus meski jarak dan waktu memisahkannya. Itulah yang saya alami di sekolah ini. Sekolah yang dulunya menjadi motor bagi saya untuk bisa masuk ke Insan Cendekia dan juga menjadi tempat saya menemukan arah sebenarnya pendidikan yang saya tempuh.

Sekolah itu kini sudah berubah. Perubahan itu baik dari segi fisik maupun sistem pembelajarannya. Sekarang bangunannya bertambah sehingga menjadikan sekolah tersebut semakin sempit karena lapangan yang dulunya dijadikan tempat olahraga, sekarang telah tergantikan dengan bangunan baru yang entah untuk apa. Tapi kalau dilihat sekilas dari bentuknya sih seperti ruang pertemuan atau GSG Insan Cendekia. Sistem KBM nya pun sudah berubah, dari yang dulunya memakai sistem MOving Class (setiap jam pelajaran pindah kelas), kini kembali seperti SMA lainya. Ada baiknya memang, waktu KBM tidak terbuang percuma karena perpindahan ruangan kelas yang terkadang siswa harus berpindah kelas dari satu ujung ke ujung lainnya.

Kembali ke tempat yang dulunya menjadi tempat favorit masa-masa SMA. Mushola Al-Jihad. Sebuah bangunan kecil yang dulunya menjadi tempat saya dan teman-teman memulai kegiatan Mentoring. Saya patut bersyukur karena angkatan saya dan teman-teman satu angkatanlah yang merasakan masa-masa awal perjuangan dakwah di SMA ini. Kegiatan yang sebelumnya belum pernah ada dan dilaksanakan secara Formal di Institusi pendidikan ini, mulai menunjukkan tajinya setahun berikutnya. Betapa tidak, seorang ketua Rohis, Ketua OSIS, Ketua MPK, Ketua Ekskul Karate dan bahkan iswa berprestasi terbaikpun semuanya dipegang oleh kader-kader hasil binaan Halaqah itu. Bukan bermaksud berbangga hati atau merasa puas dengan capaian itu, tapi itulah bukti bahwa Prestasi ataupun Organisasi bukan menjadi penghalang bagi kita untuk terus memperdalam ilmu agama serta menjadi penyeru-penyeru dakwah bagi kawan terdekat kita. Itulah yang perlu diketahui oleh teman-teman sekalian, bahwa ilmu agama pasti berbanding lurus dengan kesuksesan hidup seseorang. Bukan berarti bila kita terus belajar agama, ilmu dunia kita akan ketinggalan. Lantas apa yang harus kita lakukan bila sudah banyak paradigma berpikir masyarakat bahwa tidak perlulah mengikuti halaqah/mentoring., tidak perlulah memakai jilbab yang syar’i (bagi Akhwar)., tidak perlulah ikut Lembaga Dakwah Kampus., yang penting kita sholat 5 waktu dan yang wajib-wajib saja. Untuk itu, marilah kita buktukan bahwa kader-kader dakwah tidak terpinggirkan secara akademis, mari kita buktikan bahwa para akhawat bisa berprestasi, para ikhwan bisa memiliki kapasitas yang mumpuni di bidangnya. sudah bukannya zamannya lagi kader-kader dakwah identik dengan IP jeblok, sudah bukan zamannya lagi kader dakwah sering bolos kuliah. Saatnya kita buktikan kepada dunia bahwa kader dakwah adalah orang-orang yang bisa kompeten dan profesional dibidangnya masing-masing.
Dakwah masa kini sudah mulai memasuki ranah Akademis yang membutuhkan orang-orang yang berkapasitas intelektual yang bagus serta berkapasitas spiritual yang baik. Mengenai Dakwah Akademis, nanti saja dibahasnya………..