Archive | Maret 2009

SMS Taujih (Part 2)


Zaman sekarang Dakwah sudah tidak lagi terfokus di masjid-masjid. Tapi sudah merambah ke berbagai institusi publik bahkan sampai ke parlemen. Media yang digunakan juga tak hanya sekedar ceramah atau klasikal semata. Seiring perkembangan teknologi, media SMS kini juga menjadi salah satu media dakwah yang cukup potensial untuk menyiarkan nilai-nilai islam, terutama kepada mereka yang masih ‘ammah.

Akhir-akhir ini aku sering mendapat beberapa SMS Taujih dari beberapa orang sahabat yang telah kuceritakan pada postingan sebelumnya. Namun kali ini, aku hanya ingin berbagi konten SMS yang ia kirimkan kepadaku agar antum juga bisa mengambil hikmah dan sangat mungkin sekali bila hati kita tersentu setelah membaca SMS Taujih itu. Jazakumullah untuk saudaraku yang telah menasehatiku lewat SMS nya, meski hanya sekumpulan kata-kata yang sangat singkat, semoga Allah membalas setiap huruf yang kalian ketikkan. Bagi saudaraku yang ingin berbagi kata-kata motivasi bisa menuliskanya di kolom komentar.

Berikut Kumpulan SMS itu, selamat membaca dan merenunginya……..

“Para Pahlawan harus berhasil Baca Lanjutannya…

Akankah Akhir hidup Kita seperti Burung Beo itu?


Setelah selesai Praktikum Fisika aku langsung kembali ke kos. Sore menjelang maghrib praktikum baru itu selesai. Ini kali pertama praktikum Fisika dilaksanakan yang tempatnya harus ‘numpang’ di Fakultas MIPA. Untungnya sih ga terlalu jauh dari kosanku. Cape bercampur peluh membuat sore ini sangat cocok digunakan untuk bersantai, tidur-tiduran. Tapi jangan sampai tidur lho… Karena menurut ilmu kesehatan juga menurut sunnah Rasul bahwa tidur itu dilarang pada 2 waktu, yaitu waktu setelah subuh sampai matahari terbit dan waktu setelah ashar sampai matahari terbenam. Tau kenapa alasannya?? Tugas tmn2 lah untuk mencari jawabannya.
Sambil merebahkaan diri di kamar, iseng-iseng aku membaca selembar buletin yang sudah kuambil sebulan lalu di MasKamp. (ngambilnya udah lama…baru dibaca sekarang? Hmm…). Yah, masih lebih baik daripada buletin yang kiita ambil hanya dijadikan kipas-kipas saat sholat jum’at atau buat corat-coret rumus. (Kalo yang ini ga deh…).
Selembar buletin bernama “Ikhlas News” kubaca dengan perlahan. Sebuah judul di halaman pertamalah yang paling membuatku tertarik untuk membaca buletin itu. Kisah dengan judul “Akankah Akhir kita seperti Burung Beo itu?” menjadi pengisi halaman pertama. Mau tau isinya….? Nih tak tuliskan isinya…

Dari sebuah pesantren di daerah Jawa Tengah, cerita hikmah ini berhulu. Beberapa tahun yang lalu pemilik pesantren, Pak Kiai, memelihara seekor burung Beo.
Kita mafhum, beo adalah jenis burung yang mampu menirukan suara-suara manusia. Bertahun-tahun Kiai mengajarkan sebuah kalimat kepada beo itu. Kalimat yang sering kita baca dalam sholat, kalimat tauhid, “Laa ilaha illallah, Muhammadurrasulullah” terus diajarkan kepada beo. Baca Lanjutannya…

Salah Persepsi


Ada 3 orang pemuda yang buta sejak ia masih kecil. Ketiga pemuda tadi diajak oleh seorang kakek-kakek untuk memperkirakan seperti apa bentuk hewan yang bernama gajah. Pemuda pertama lalu disuruh memegang bagian perut gajah. Pemuda kedua memegang belalainya dan pemuda yang ketiga diperintah untuk memegah kuping gajah tanpa diberitahu sebelumnya oleh sang kakek mengenai bagian-bagian tubuh gajah itu.

Setelah beberapa lama, sang kakek lalu bertanya kepada masing-masing pemuda tadi.

“Seperti apa bentuk gajah yang kalian bayangkan?””Gajah itu hewan yang panjang melingkar dan bisa mengeluarkan air dari dalam tubuhnya”. Jawab pemuda pertama.

“Kamu salah…Gajah itu hewan yang sangat besar, tubuhnya bulat dan sangat keras permukaan tubuhnya.” Pemuda kedua mengelak.

“Ah., kalian ini mengada-ada saja. Gajah itu tubuhnya sangat lentur, dan tidak besar seperti yang kamu bilang. Justru tubuhnya itu lebar dan pipih.” Pemuda ketiga menimpali.

“Kenapa jawaban kita bertiga jauh berbeda, padahal kita memegang hewan yang sama? Bukankah seyogyanya apa yang kita katakan tentang gajah itu pasti sama antar persepsi kalian masing-masing?” salah seorang pemuda tadi mengajukan pertanyaannya.

Sang kakek pun memberi penjelasannya kepada pemuda itu.

“Memang benar, kalian memegang hewan yang sama. Tapi ada yang perlu kalian pahami bahwa kalian memegang bagian tubuh yang berbeda-beda dari hewan bernama gajah tadi. Yang menjawab gajah itu panjang memegang belalainya, yang menjawab gajah itu bulat memegang perutnya, dan yang menjawab bahwa gajah itu lebar, ia memegang telinganya. Tidak ada yang bisa saya salahkan. Karena kalian menjawab sesuai dengan persepsi yang kalian dapatkan.”

——————————-
Itulah penggalan pendek cerita yang kudengar dalam sebuah diskusi dirumah temanku. Kisah yang sangat singkat, namun memberi begitu banyak kesan dan hikmah yang mendalam bagiku.
Hidup ini memang penuh dengan berbagai problematika kehidupan. Kadang kondisi bahagia, senang dan penuh canda tawa menghiasi perjalanan hidup ini. Namun…tak jarang pula duka bercampur lara menghinggapi kita silih berganti.

Manusia sering menilai bahwa problematika itu adalah bagian dari hidup yang menyulitkan. Ada pula yang sampai berani mengakhiri hidupnya hanya karena tidak sanggup menghadapi ujian bertubi-tubi yang menimpanya.

Ujian…, adalah sebuah kondisi yang sering disalah persepsikan oleh manusia. Berat ringannya ujian bukanlah terletak dari besar kecilnya masalah yang menimpa. Akan tetapi berat ringannya ujian bergantung pada kesiapan diri kita dalam menghadapinya serta lamanya ujian itu.

Ada sebuah analogi yang saya dapatkan dalam sebuah daurah di kampus.
Ketika kita mengangkat sebuah buku, maka kita akan mengatakan bahwa buku itu ringan. Ketika buku yang kita angkat sangat banyak, sampai belasan tumpuk, maka ucapan yang akan kita keluarkan adalah , “Aku tidak bisa mengangkatnya, terlalu berat untukku tahan sendiri.”
Namun bila sebuah buku yang kita pegang, terus menerus dipegang sampai satu jam, maka kitapun akan merasa lelah dan mengatakan ” Aku tak sanggup lagi menahan buku ini”.

Artinya, daya tahan dalam menghadapi sebuah masalah amat di butuhkan. Karena masalah sudah pasti akan menimpa kita. Tinggal bagaimana kita mempersiapakan energi yang cukup untuk menghadapi masalah tersebut. Jangan sampai energi yang kita keluarkan terbuang untuk hal yang sia-sia dan tak berguna.

Satu lagi yang bisa menjadi bahan evaluasi dari analogi terebut adalah bahwa masalah itu akan terasa ringan bila dipikul bersama dengan sahabat kita. Begitu penting arti seorang sahabat sejati sehingga ketika temannya sakit atau tertimpa musibah ia menjadi orang di garda terdepan dalam membela dan mengayomi temannya itu.

Menjadi penting bagi kita untuk bisa menilai sebuah masalah secara bijak. Karena berbagai realita telah mengajarkan kita bahwa hidup ini akan lebih bermakna bila kita mampu menemukan solusi terhadap masalah yang ada dengan cara yang tepat. Meluruskan persepsi…Itulah yang harus kita upayakan agar hidup ini tidak kita anggap sebagai kumpulan waktu yang penuh ujian semata, tapi hidup ini adalah karunia terindah yang telah Dia berikan pada kita.

“Seorang Pahlawan boleh salah, boleh gagal, boleh tertimpa musibah. Akan tetapi ia tidak boleh kalah. Dia tidak boleh menyerah kepada kelemahannya. Dia tidak boleh menyerah kepada tantangannya. Dia tidak boleh menyerah kepada keterbatasannya. Dia harus tetap melawan, menembus gelap, supaya dia bias menjemput fajar. Sebab kepahlawanan adalah piala yang direbut, bukan kado yang dihadiahkan.” (Anis Matta)