Salah Persepsi


Ada 3 orang pemuda yang buta sejak ia masih kecil. Ketiga pemuda tadi diajak oleh seorang kakek-kakek untuk memperkirakan seperti apa bentuk hewan yang bernama gajah. Pemuda pertama lalu disuruh memegang bagian perut gajah. Pemuda kedua memegang belalainya dan pemuda yang ketiga diperintah untuk memegah kuping gajah tanpa diberitahu sebelumnya oleh sang kakek mengenai bagian-bagian tubuh gajah itu.

Setelah beberapa lama, sang kakek lalu bertanya kepada masing-masing pemuda tadi.

“Seperti apa bentuk gajah yang kalian bayangkan?””Gajah itu hewan yang panjang melingkar dan bisa mengeluarkan air dari dalam tubuhnya”. Jawab pemuda pertama.

“Kamu salah…Gajah itu hewan yang sangat besar, tubuhnya bulat dan sangat keras permukaan tubuhnya.” Pemuda kedua mengelak.

“Ah., kalian ini mengada-ada saja. Gajah itu tubuhnya sangat lentur, dan tidak besar seperti yang kamu bilang. Justru tubuhnya itu lebar dan pipih.” Pemuda ketiga menimpali.

“Kenapa jawaban kita bertiga jauh berbeda, padahal kita memegang hewan yang sama? Bukankah seyogyanya apa yang kita katakan tentang gajah itu pasti sama antar persepsi kalian masing-masing?” salah seorang pemuda tadi mengajukan pertanyaannya.

Sang kakek pun memberi penjelasannya kepada pemuda itu.

“Memang benar, kalian memegang hewan yang sama. Tapi ada yang perlu kalian pahami bahwa kalian memegang bagian tubuh yang berbeda-beda dari hewan bernama gajah tadi. Yang menjawab gajah itu panjang memegang belalainya, yang menjawab gajah itu bulat memegang perutnya, dan yang menjawab bahwa gajah itu lebar, ia memegang telinganya. Tidak ada yang bisa saya salahkan. Karena kalian menjawab sesuai dengan persepsi yang kalian dapatkan.”

——————————-
Itulah penggalan pendek cerita yang kudengar dalam sebuah diskusi dirumah temanku. Kisah yang sangat singkat, namun memberi begitu banyak kesan dan hikmah yang mendalam bagiku.
Hidup ini memang penuh dengan berbagai problematika kehidupan. Kadang kondisi bahagia, senang dan penuh canda tawa menghiasi perjalanan hidup ini. Namun…tak jarang pula duka bercampur lara menghinggapi kita silih berganti.

Manusia sering menilai bahwa problematika itu adalah bagian dari hidup yang menyulitkan. Ada pula yang sampai berani mengakhiri hidupnya hanya karena tidak sanggup menghadapi ujian bertubi-tubi yang menimpanya.

Ujian…, adalah sebuah kondisi yang sering disalah persepsikan oleh manusia. Berat ringannya ujian bukanlah terletak dari besar kecilnya masalah yang menimpa. Akan tetapi berat ringannya ujian bergantung pada kesiapan diri kita dalam menghadapinya serta lamanya ujian itu.

Ada sebuah analogi yang saya dapatkan dalam sebuah daurah di kampus.
Ketika kita mengangkat sebuah buku, maka kita akan mengatakan bahwa buku itu ringan. Ketika buku yang kita angkat sangat banyak, sampai belasan tumpuk, maka ucapan yang akan kita keluarkan adalah , “Aku tidak bisa mengangkatnya, terlalu berat untukku tahan sendiri.”
Namun bila sebuah buku yang kita pegang, terus menerus dipegang sampai satu jam, maka kitapun akan merasa lelah dan mengatakan ” Aku tak sanggup lagi menahan buku ini”.

Artinya, daya tahan dalam menghadapi sebuah masalah amat di butuhkan. Karena masalah sudah pasti akan menimpa kita. Tinggal bagaimana kita mempersiapakan energi yang cukup untuk menghadapi masalah tersebut. Jangan sampai energi yang kita keluarkan terbuang untuk hal yang sia-sia dan tak berguna.

Satu lagi yang bisa menjadi bahan evaluasi dari analogi terebut adalah bahwa masalah itu akan terasa ringan bila dipikul bersama dengan sahabat kita. Begitu penting arti seorang sahabat sejati sehingga ketika temannya sakit atau tertimpa musibah ia menjadi orang di garda terdepan dalam membela dan mengayomi temannya itu.

Menjadi penting bagi kita untuk bisa menilai sebuah masalah secara bijak. Karena berbagai realita telah mengajarkan kita bahwa hidup ini akan lebih bermakna bila kita mampu menemukan solusi terhadap masalah yang ada dengan cara yang tepat. Meluruskan persepsi…Itulah yang harus kita upayakan agar hidup ini tidak kita anggap sebagai kumpulan waktu yang penuh ujian semata, tapi hidup ini adalah karunia terindah yang telah Dia berikan pada kita.

“Seorang Pahlawan boleh salah, boleh gagal, boleh tertimpa musibah. Akan tetapi ia tidak boleh kalah. Dia tidak boleh menyerah kepada kelemahannya. Dia tidak boleh menyerah kepada tantangannya. Dia tidak boleh menyerah kepada keterbatasannya. Dia harus tetap melawan, menembus gelap, supaya dia bias menjemput fajar. Sebab kepahlawanan adalah piala yang direbut, bukan kado yang dihadiahkan.” (Anis Matta)

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: