Akankah Akhir hidup Kita seperti Burung Beo itu?


Setelah selesai Praktikum Fisika aku langsung kembali ke kos. Sore menjelang maghrib praktikum baru itu selesai. Ini kali pertama praktikum Fisika dilaksanakan yang tempatnya harus ‘numpang’ di Fakultas MIPA. Untungnya sih ga terlalu jauh dari kosanku. Cape bercampur peluh membuat sore ini sangat cocok digunakan untuk bersantai, tidur-tiduran. Tapi jangan sampai tidur lho… Karena menurut ilmu kesehatan juga menurut sunnah Rasul bahwa tidur itu dilarang pada 2 waktu, yaitu waktu setelah subuh sampai matahari terbit dan waktu setelah ashar sampai matahari terbenam. Tau kenapa alasannya?? Tugas tmn2 lah untuk mencari jawabannya.
Sambil merebahkaan diri di kamar, iseng-iseng aku membaca selembar buletin yang sudah kuambil sebulan lalu di MasKamp. (ngambilnya udah lama…baru dibaca sekarang? Hmm…). Yah, masih lebih baik daripada buletin yang kiita ambil hanya dijadikan kipas-kipas saat sholat jum’at atau buat corat-coret rumus. (Kalo yang ini ga deh…).
Selembar buletin bernama “Ikhlas News” kubaca dengan perlahan. Sebuah judul di halaman pertamalah yang paling membuatku tertarik untuk membaca buletin itu. Kisah dengan judul “Akankah Akhir kita seperti Burung Beo itu?” menjadi pengisi halaman pertama. Mau tau isinya….? Nih tak tuliskan isinya…

Dari sebuah pesantren di daerah Jawa Tengah, cerita hikmah ini berhulu. Beberapa tahun yang lalu pemilik pesantren, Pak Kiai, memelihara seekor burung Beo.
Kita mafhum, beo adalah jenis burung yang mampu menirukan suara-suara manusia. Bertahun-tahun Kiai mengajarkan sebuah kalimat kepada beo itu. Kalimat yang sering kita baca dalam sholat, kalimat tauhid, “Laa ilaha illallah, Muhammadurrasulullah” terus diajarkan kepada beo. Hingga begitu lancarnya dilafadzkan oleh si beo setiap hari.
Selama beberapa lama, pondokan semakin ramai oleh ucapan kalimat tauhid yang diucapkan si burung beo. Memberikan suasana dzikir para santri semakin berwarna. Ada kebanggan sendiri melihat seekor burung bersuara kalimat tauhid.
Tahun berganti tahun. Suatu pagi, saat Kiai memberikan makan seperti biasa untuk beo kebanggaan itu, ada yang aneh pada si beo. Biasanya ia berputar-putar 360 derajat, makan-minum dan mengucapkan kalimat tauhid. Kali ini beo itu begitu lunglai. Lama kelamaan beo menunduk, tiba-tiba beo terjatuh dari tenggerannya. Plakkk!!! Si beo terjatuh di dasar sangkar luasnya.
Kontan Kiai sedih dan menangis. Sejak saat itu belau selalu menangis, bahkan saat mengajar. Beberapa hari tak reda sedih beliau. Hal ini membuat santri khawatir akan kondisi Pak Kiai. Suatu hari seluruh santri berkumpul untuk membicarakan solusi agar Kiai tidak lagi bersedih. Mereka sepakat untuk mengumpulkan sebagian uang jajan untuk membelikan seekor burung beo untuk Pak Kiai. Mereka mengira kesedihan Pak Kiai disebabkan matinya beo yang sangat dibanggakan oleh seantero pondok.
Suatu pagi seusai sholat subuh berjamaah, seorang perwakilan santri memberanikan diri untuk berbicara, mengutarakan rencana santri sepondok yang akan mengganti beo yang sudah mati. Uang yang telah terkumpul dirasa cukup untuk membeli seekor burung beo.
“Kemarin kami semua berkumpul dan bermusyawarah, bagaimana mencari solusi agar Kiai tak bersedih lagi, karena beo yang telah mati. Kita bisa menggantinya Insya Allah,” tutur wakil santri.
“Alhamdulillah. Hari ini saya melihat persaudaraan antar santri yang semakin erat. Walaupun kalian dari berbagai suku, tetapi dapat disatukan menjadi saudara dengan balutan iman kepada Allah. Tidak ada lagi sekat karena golongan darah atau saudara sedarah. Kalian telah menunjukkan persaudaraan berdasarkan cinta kepada Allah. Subhanallah. Jagalah itu.” Jawab Sang Kiai.
Santri jadi bingung. Kiai meneruskan bercerita, tentang kenapa beliau bersedih. “Kalian tahu kenapa aku bersedih? Kalian menyaksikan aku mengajarkan kalimat tauhid kepada beo itu bertahun-tahun, dan dia lancar mengucapkannya selama itu juga. Tahukah kalian yang sangat membuat aku sedih hingga kini? Aku sedih karena burung beo yang kuajarkan kalimat tadi ternyata ketika sakaratul maut hanya berbunyi “Kheeeeeeek!” Ya. Itu saja yang disuarakan beo itu,” ungkap Kiai.
“Padahal aku mengajarkannya bertahun-tahun mengucapkan kalimat tauhid. Inilah yang membuat aku bersedih dan melakukan introspeksi diri, Apakah nanti di penghujung sakaratul maut aku juga akan seperti beo itu? Padahal aku selalu mengajarkan kalimat tauhid dan selalu beribadah.” sambung Kiai.
“Hari ini aku berpesan kepada kalian semua untuk terus meningkatkan ibadah kita secara sungguh-sungguh. Dan jangan ada penyakit dalam hati kita,”tegas Kiai.
Serentak warga pondok hening. Seluruhnya menunduk dan menangis tersedu. Beberapa santri berpelukan dan saling meminta maaf kepada saudara lainnya. “Bagaimana dengan kita semua?????”

Semoga hidup kita berakhir dengan indah dan orang-orang tercinta di sekitar kita mampu mendengar sebuah kalimat Laa Ilaha Illallah Muhammadurrasulullah keluar dari lisan yang sudah memutih ini. Tak ada pilihan lain selain kita isi hari demi hari, jam demi jam bahkan detik demi detik untuk bisa menjalani segala perintah yang telah Allah gariskan kepada kita semua. Karena hidup di dunia ini adalah persiapan untuk hidup yang lebih abadi, mempersiapkan bekal sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya agar kita sanggup mencapai negeri akhirat bernama surga bersama orang-orang yang kita cintai……Amiin

::Masjid asy-Syifa::Sore menjelang Maghrib::

Iklan

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: