Archive | Juni 2009

Madrasahku


Barusan abis liat-liat web sekolah yang udh lama banget ga saya kunjungi. apalagi sekolahnya, udah setahun lebih ga diliat-liat. (nanti deh ya, kalo sempet, abisnya kalo mau berkunjung ke sana bisanya pas liburan, dana pasti sepi banget). Ada satu hal menarik yang saya baca dalam web sekolah saya dulu (tepatnya Madrasah a.k.a ‘Penjara Suci’), yaitu tentang pengumuan seleksi Olimpiade Sains Nasional (OSN). Meski hanya tingkat Kabupaten, namun inilah pertarungan yang sebenarnya. Pengalaman saya dulu waktu ikut, (yah, meski ga lolos jg), seleksi kabupaten ini (Tangerang) lebih ketat dan lebih menantang dibandingkan seleksi tingkat provinsi Banten. Kenapa? Karena di Kab. Tangerang inilah, tempat ‘berkumpulnya’ sekolah-sekolah unggulan di Banten. Sehingga kalau sudah lolos seleksi tingkat Kabupaten, maka langkah selanjutnya akan relatif lebih mudah, (tapi tetep aja susah, hehe)..
Apa yang telah ditoreh siswa-siswi Insan Cendekia telah mengangkat citra “Madrasah”. Tidak hanya tingkat nasional, namun juga Internasional. Terbukti dengan diraihnya emas Olimpiade Fisika Internasional dan Perunggu Olimpiade Biologi Internasional oleh siswa-siswa Insan Cendekia.
Salut juga, buat adik2 Nozomika, kalian telah membuktikan kepada kami selak kakak kelas, bahwa kalian BISA. Dulu, mungkin ada diantara kami yang meragukan itu, karena perubahan sistem administrasi sekolaha yang berubah sangat drastis. Namun saat ini, kalin mapu membuktikannya. Selamat berjuang, Jalan itu masih Panjang……

Berikut hasil dan Peringkat seleksi itu:

Matematika:

1. ARCHIE PUSAKA——SMA ORA et LABORA
2. CHRISTOPER ANDRIAN—SMAK PENA6UR GS(BC)
3. JEREMIAH RIKER GUNAWAN—SMAK PENABUR GS (RG)
4. JENNIFER SANTOSO—SMAK PENABUR GS (RG)
5. VINCENSIUS YANDI ARI PUTRA— SMAK PENABUR GS (BC)
6. THEO ARIANDI—SMAK PENABUR GS (BC)
7. SITI NURAINI —— MAN INSAN CENDEKIA
8. MUHAMMAD AGIL SAELAN —– MAN INSAN CENDEKIA

Komputer:

1. LUSIA KRISTIANA P—-SMAK PENABUR GS (BC)
2. FAIZ ILHAM M —- MAN INSAN CENDEKIA SERPONG
3. DIMAS JALALUDDIN AHMAD —– MAN INSAN CENDEKIA SERPONG
4. JAZILUL ATHOYA —— MAN INSAN CENDEKIA SERPONG

5. ANDRI RAHMAT WIJAYA—SMA KHARISMA BANGSA
6. HAFIDZ AlHAQ FATIH —- MAN INSAN CENDEKIA SERPONG

Fisika:

1. APRIMA DHEO D —– MAN INSAN CENDEKIA SERPONG
2. THEO ARIANTO——SMAK BPK PENABUR GS
3. YOUNGKY WANADI—SMAK BPK PENABUR GS
4. ERWIN WIBOWO—SMAK BPK PENABUR GS
5. AHMAD ARINALDI—SMA AL-AZHAR BSD
6. HAFIDZ INFRA G — MAN INSAN CENDEKIA SERPONG

Kimia:

1. KELVIN TIMOTIUS—SMAK BPK PENABUR GS
2. MANOEL YOHANES MANUPUTY—SMAK BPK PENABUR GS
3. ILONA CHRISTY—SMAK BPK PENABUR GS
4. RAYMOND ADRIEL—SMAK BPK PENABUR GS
5. VONNY CAROLINE—SMAK BPK PENABUR GS
6. GARDA YULADA ASY-SYUHUR — MAN INSAN CENDEKIA SERPONG
7. DHUHAA AUGA MULIACITA—SMA BINA NUSANTARA
8. OKKY HUSAIN—SMA BINA NUSANTARA

Astronomi:

1. MIRZA M. HANIF —- MAN INSAN CENDEKIA SERPONG
2. ADITYA KUSUMA W — MAN INSAN CENDEKIA SERPONG
3. MUHAMMAD DIBA AZMI SYARIF — MAN INSAN CENDEKIA SERPONG

4. DAVID GEOVANI—SMAK PENABUR
5. STEVEN SUWANA—SMAK PENABUR
6. EMIR HIDAYAT—SMAN 1 PAMULANG

Kebumian:

1. MUHAMMAD HASBI — MAN INSAN CENDEKIA SERPONG
2. NURUL SUKMA MUSTAFA HAJI—SMA KHARISMA BANGSA
3. KAMIL ISMAIL — MAN INSAN CENDEKIA SERPONG
4. WADATURRAHMAN — MAN INSAN CENDEKIA SERPONG

5. ALUTSYAH LUTHFIAH—SMAN 1 CISAUK

Ekonomi:

1. MUHAMMAD ARDITYA R — MAN INSAN CENDEKIA SERPONG
2. WALID ANANTE D — MAN INSAN CENDEKIA SERPONG

3. MAYA CHINTYA SALIM—SMA SANTA URSULA
4. PUTU DEA KARTIKA PUTRA—SMA SANTALAURENSIA
5. FARAH DIBA ARIANTIE — MAN INSAN CENDEKIA SERPONG
6. MUHAMMAD ANDIRA BERMANA — MAN INSAN CENDEKIA SERPONG
7. MERLYUN PERMATA MARTIN—SMA SANTA LAURENSIA

Iklan

Teruslah Berjuang…..


Masih hangat dalam ingatan ketika malam pukul 22.00 saat mempersiapkan Ujian yang tinggal sebentar lagi, sebuah pesan singkat masuk ¨Akhi, usahakan malam ini datang ke stadion, ada yang harus kita kerjakan untuk acara besok¨. Atau setiap minggu kita harus membelah kota Jogja, menelusuri jalan-jalan, dari rumah ke rumah dengan setumpuk kertas dan poster-poster padi emas. Itu semua adalah perjuangan, bukan paksaan. Biarlah beberapa bulan tak bisa merasakan indahnya hari ahad di sunmor kampus, atau futsal bersama kawan-kawan, karena ternyata kenangan itu jauh lebih indah da lebih bermakna dari pada hanya sekedar mengisi hari ahad dengan beralaskan selimut dikasur. Itu sudah berlalu, ya… memang sudah berlalu. Tapi spirit kemenangan itu harus tetap ada. Tidak boleh tergerus oleh waktu. Yang namanya Perjuangan tidak kenal waktu dan tidak kenal tempat. Karena kata Imam Hasan Al-Bashri, ketika ditanya oleh muridnya, ¨sampai kapan kita akan berhenti berdakwah?¨. Jawabnya: ¨sampai kaki kita menginjak Syurga¨.

Meskipun pada akhirnya, target itu tidak tercapai. Meskipun roundtext2 yang terpasang kini sudah usang, meskipun tempat kedua tak berhasil dicapai, tentu ada sebuah pesan yang ingin Allah sampaikan pada kita. Teruslah berjuang, kita sedang diuji sejah mana kemampuan maksimal kita,. Karena boleh jadi selama ini perjuangan kita belum maksimal atau banyak kemaksiatan yang kita lakukan sehingga Ia menunda kemenangan itu… Wallahu aĺam.

Akhir-akhir ini, mungkin kita merasa kecewa, kenapa para qiyadah harus mengambil keputusan seperti sekarang ini. Jawabannya adalah sebuah pertanyaan lagi. ¨sudah seberapa jauh dan seberapa dalam ilmu yang antum miliki hingga mampu memahami keputusan yang diambil para qiyadah.?¨ Kekecewaan mungkin saja muncul karena kita sebagai jundinya tidak mengetahui alasan kuat mengapa keputusan kontroversial itu harus diambil. Lagi-lagi, sudah saatnya kita belajar lebih dalam tentang ilmu syuro. Bukankah keputusan itu disepakati berdasarkan hasil syuro’para qiyadah. Bukankah dulu ketika perang Uhud pun Rasulullah bermusyawarah terlebih dahulu dengan para sahabat. Sang RAsul pun menerima kesepakatan hasil syuro’untuk berperang di luar kota Madinah meski pada awalnya Beliau menyarankan tetap bertahan di dalam kota Madinah. Itulah esensi syuro´. Bisa jadi kita tidak menyetujuinya. Namun ketika hasil syuro’sudah ditetapkan, tidak ada lagi alasan untuk menentangnya.

Dulu kita pernah berfikir bagaimana caranya 4X2= 20/100…. Tidak realistis memang. Tapi entahlah, itu sudah berlalu. Mungkin saat ini kita harus mengubah operator perkaliannya menjadi operator pembagian. 4:2 = 2…. Ya ´2´.

Bagaimana menurutmu kawan?

Bayanat PKS terkait Koalisi


NOMOR : 01/B/K/DPP-PKS/VI/1430

TENTANG

PILPRES 2009

1. Sidang Majelis Syuro PKS ke XI pada tanggal 25-26 April 2009 memutuskan :

a. Untuk berkoalisi dengan SBY dan Partai Demokrat dalam Pilpres 2009,

APABILA kontrak politik dapat disepakati bersama.

b. PKS Memperjuangkan Cawapres dari Internal dalam amplop tertutup, namun cawapres bukanlah merupakan syarat koalisi.

c. Jika syarat minimal koalisi (termasuk kerjasama berbasis platform dalam kabinet dan parlemen) tidak dipenuhi secara proporsional maka DPTP berhak mengambil kebijakan sesuai dengan kemaslahatan dakwah,umat, bangsa, dan Negara.

2. Kesalahpahaman sebelumnya terjadi karena tersumbatnya komunikasi dengan SBY paska pemberitahuan bahwa SBY memilih Boediono sebagai Cawapres. Sementara kita mengusulkan adanya keterwakilan umat.

3. Hasil pertemuan PKS dengan SBY pada tanggal 15 Mei 2009 di Bandung telah diklarifikasinya isu-isu seputar Boediono dan disepakatinya kontrak politik dengan SBY dan Partai Demokrat. Kontrak Politik berlandaskan platform terlampir.

4. Terkait pribadi Prof. Boediono, beliau adalah seorang muslim dan tidak berpandangan Neolib, bahkan Undang-Undang Perbankan Syari’ah dan Undang-undang Sukuk (Obligasi Syari’ah) digulirkan semasa ybs menjabat Menko Ekuin.

5. Atas dasar keputusan Majelis Syuro PKS ke XI, dan tercapainya kesepakatan dengan SBY dan PD, maka diwajibkan kepada seluruh kader memperjuangkan kemenangan pasangan SBY-Boediono untuk kemaslahatan dakwah,ummat, bangsa, dan Negara.

Jakarta, 1 Jumadil Akhir 1430 H

25 Mei 2009 M

PRESIDEN

IR. TIFATUL SEMBIRING

sumber: http://www.pk-sejahtera.org

——————————

“Ketika dalam hidup kita harus memilih antara dua perkara yang jaiz atau halal, tetapi tingkat atau dampak kemaslahatannya tidak sama, maka pilihan harus dijatuhkan kepada yang dikalkulasi lebih besar maslahatnya.”

TAUJIH SYAR’I

MENIMBANG KEMASLAHATAN LEBIH BESAR

1. Dinul Islam tidak semata-mata diturunkan melainkan untuk kemaslahatan semesta, sebagaimana firman Allah SWT tentang missi Rasul saw.

“Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS Al Anbiya: 107)

Dan firmanNya:

“…Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.” (Al Maidah: 6)

2. Apabila kemaslahatan untuk semua orang tidak dapat dicapai, maka perintah syara’ adalah agar mengupayakan kemaslahatan yang lebih besar. Sebagaimana firman Allah:

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah[134]. dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.“ (Al baqarah: 217)

Ayat ini mentoleransi atau bahkan mendispensasi untuk melancarkan peperangan di bulan haram, padahal status hukum asalnya haram, tapi untuk kemaslahatan yang lebih besar bagi da’wah Islamiyah (bahkan umat manusia) maka mengambil inisiatif menyerang sekalipun adalah langkah yang dibenarkan oleh syara’. Kemaslahatan yang lebih besar itu berupa dapat dilumpuhkan atau dihancurkannya kekuatan yang menghalangi da’wah fisabilillah. Zhuhurnya institusi kekufuran, penodaan terhadap tempat suci al Masjidil Haram, pengusiran kaum muslimin dari rumah dan kampung halaman mereka. Dan secara umum setiap bentuk upaya memesongkan manusia dari ‘aqidah Islamiyah merupakan “Fitnah” yang lebih dahsyat dari membunuh musuh di bulan terlarang.

3. Ketika dalam hidup kita harus memilih antara dua perkara yang jaiz atau halal, tetapi tingkat atau dampak kemaslahatannya tidak sama, maka pilihan harus dijatuhkan kepada yang dikalkulasi lebih besar maslahatnya.

Adalah Rasulullah saw manakala diberi pilihan antara dua perkara yang halal, tidak mengandung dosa di dalamnya, maka beliau memilih mana yang lebih maslahat, lebih ringan baik tenaga, waktu atau biayanya. Sebagaimana dinyatakan dalam Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah:

“Tidaklah Rasulullah saw. memilih antara dua perkara kecuali ia memilih yang paling ringan selama bukan dosa”.

4. Apabila kewenangan untuk mempertimbangkan dan memilih mana yang diperhitungkan akan dapat lebih membawa maslahat itu dimandatkan kepada seseorang melalui TAUKIL atau WAKALAH, maka pihak wakil berhak dan tidak boleh dipersalahkan ketika menjatuhkan pilihan tertentu yang masih dalam lingkup wakalahnya.

Ini berlaku untuk pemberian mandat khusus ataupun mandat umum, meskipun pihak penerima mandat sebagai perseorangan. Terlebih apabila mandat itu diberikan kepada suatu tim, satu majmu’ah atau grup dan struktur yang berposisi sebagai pemimpin (qiyadah) yang terpilih. Ijtihad individual/fardi dari anggota tidak boleh menjadi alternatif bagi ijtihad qiyadah, apalagi melikwidasinya. Di atas otoritas wakalah tersebut, ijtihad dan pilihan yang diambil qiyadah dalam menimbang (muwazanah) antara kemaslahatan, diperkuat pula dengan otoritas kewajiban ta’at (wujubul tha’ah) kepada ulil amri yang diperintahkan Al Quran Surah Annisa, ayat 59.

5. Kemaslahatan itu ada yang berupa khasiat/manfaat sesuatu yang kita pakai atau konsumsi secara fisik, hal ini dipertimbangkan berdasarkan empiric dan keahlian atau spesialisasi.

Taujih al Quran menegaskan sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw:

“(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.” (Al A’raf: 157)

6. Pilihan yang dibuat sering harus diberlakukan juga antara beberapa kemungkinan yang bakal terjadi, melalui analisis konsekwensi atau dampak kedepannya atau kajian “Fiqh al Maalat”. Perbuatan yang jaiz bahkan ada kebaikannya ternyata dilarang oleh al Quran jika berdampak langsung (dzari’ah) menimbulkan hal hal yang jauh lebih merugikan, lebih mafsadat atau madharat.

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (Al An’am : 108)

Dalam hal keniscayaan mempertimbangkan apa yang bakal atau diperhitungkan terjadi di masa yang akan datang, pembenaran terhadap tindakan Khidir dalam al Quran adalah relevan untuk dikemukakan.

“Dan Adapun anak muda itu, Maka keduanya adalah orang-orang mukmin, dan Kami khawatir bahwa Dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan Kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anaknya itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).” (Al Kahfi: 80 81)

Dalam konteks siyasah syar’iyah, imam Ibnu Taimiyah merekomendasikan pilihan figure untuk suatu pos jabatan public, baik berupa pasangan atau satu pos tertentu. Ia minta agar mencontoh pasangan para khularaurrrasyidin yang mendapat taufiq Allah. Sosok Abu Bakar yang lembut lebih maslahat berpasangan dengan sosok Umar yang streng. Model Umar yang strik lebih maslahat berpasangan dengan Abu Ubaidah, bukan dengan Khalid bin Walid. Untuk posisi qadhi ia menyarankan sosok ‘alim yang berani meskipun agak kurang amalan sunatnya, untuk mufti ‘alim yang wari’ meski kurang berani. Sedang untuk seorang panglima atau komendan mengajukan orang yang kuat pemberani meskipun kurang ke’aliman dan amalan sunatnya.

7. Contoh dari Ibnu Taimiyah di atas sekaligus cocok untuk wawasan tentang

mempertimbangkan mana yang dampaknya pribadi dan mana yang berdampak umum.

Kesalehan yang berfsifat pribadi maslahatnya terbatas untuk diri pribadinya, sedang

kesalehan atau kethalehan (ketidak salehan) yang akan berdampak umum harus lebih

dipertimbangkan. Ini sesuai dengan arahan Rasulullah saw tentang shalat dan jihad

bersama seorang imam betapapun juga akhlaqnya.

Jangan tinggalkan shalat berjama’ah bersama seorang sulthan meski ia seorang yang

tidak baik (fajir), karena bagi ma’mum tetap untung tidak ada ruginya. Sebab kefajiran pribadi Sulthan dalam hal shalat jama’ah- bisa jadi pengurang pahala bagi dirinya, sedang kemaslahatan serta pahala shalat jama’ah tetap didapat oleh ma’mum tanpa berkurang. Sama halnya dengan jihad besama Sulthan yang fajir, kefujurannya merugikan dirinya sedangkan kemaslahatan jihad melumpuhkan musuh da’wah adalah untuk umum.

Karena itu, fuqaha membuat kategorisasi antara kebaikan yang terbatas (al khairul qashir) dengan kebaikan yang berdampak luas (al khairul muta’addi). Dalam konteks

kemaslahatan umum yang luas “al khairul muta’addi” yang harus lebih dipertimbangkan,

sedangkan “al khairul qashir” kalau ada ya tentu lebih baik dan memperelok. Jika tidak terpenuhi kedua-duanya, kebaikan pribadi mungkin bisa diupayakan/didorong dengan perjalanan waktu bahkan bisa ditoleransi. Tidak demikian halnya dengan yang berdampak umum, kepositipan atau kenegatipan, bukan perkara yang bisa ditoleransi dan diserahkan kepada proses waktu.

8. Dalam menapaki “al jihadu sabiluna” menuju “Allahu ghayatuna”, ada keharusan

selalu memadukannya dengan do’a, sebaliknya do’a harus berpadu upaya. Di sektor

siyasah maka jihad siyasi yang kita tempuh dengan sabar punya target idaratul daulah (memperbaiki negara). Memang ada kesamaan dengan kekuatan politik lain, tapi kita wajib memastikan bahwa jihad siyasi ini berbeda. Sebagaimana arahan Kitabullah SWT:

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” (Assajdah: 24)

Ayat ini menegaskan bahwa imam adalah sulthan, sulthan adalah imam.

Keteladanan sebagai imam dalam hal bersih peduli dan professional, kita bina dengan segala kesabaran, untuk mampu membawa masyarakat pada kehidupan yang yang berjalan menurut guidance Allah, sehingga Allah ridha kepada kita dan kitapun ridha kepadaNya.

“Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Lanjutkan….dengan Lebih Cepat & Lebih Baik


Lanjutkan..!!!
Entah kenapa kata itu yang sering terdengar ditelingaku. Bahkan seorang anak kecilpun tak lagi terbata ketika mengucapkan kata Lanjutkan dengan Lantangnya. Ah… media memang begitu hebatnya. Sepotong kata bisa begitu cepat terekam dalam otak sebagian besar masyarakat hingga tak sadar apa yang sedang ia ucapkan. Sepotong kata begitu berarti ketika makna yang terkandung didalamnya begitu luas. Begitulah hebatnya pengopinian lewat media, entah di koran, televisi atau radio sama hebatnya dalam mempengaruhi masyarakat.

Seolah tak ingin tersaingi, sebuah kata kembali muncul akhir-akhir ini,,,“Lebih Cepat lebih baik.” Hmm… Pertarungan katapun dimulai. Pencitraan jargonpun mulai digembar-gemborkan. Tak peduli apakah masyarakat mengerti atau tidak makna yang sebenarnya terkandung dalam kata-kata tersebut. Sebuah dagelan politikpun menjadi tontonan ‘menarik’ untuk disaksikan. Seberapa kuatkah makna kata yang diucapkan dan seberapa besarkah esensi yang terkandung di dalamnya.

Bosankah kau mendengar kata-kata itu kawan??

Entah kenapa justru aku menikmati kata-kata itu berkeliling keluar masuk otakku. Tekadang kata lanjutkan sangat kusuka, namun terkadang kata lebih cepat lebih baik menggantikannya. Tidak ada paksaan memang untuk menerima kata-kata itu, karena boleh jadi banyak yang menganggap bahwa kata itu tidak terlalu penting. Kalau boleh memelintir sebuah pepatah, Apalah arti sebuah kata, toh yang kita butuhkan adalah perwujudan kata-kata itu. Banyak orang yang berkata panjang lebar namun tak mampu melaksanakan apa yang diucapkannya.

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (QS. ash-Shaff (61) : 3)

Yang terpenting kita doakan saja agar para calon-calon pemimpin negeri ini tak hanya sekedar mengumbar kata dan janji tapi mampu menjalankan amanah yang nantinya akan diembankan rakyat kepadanya.

Apa sebenarnya makna Lanjutkan itu? Entah mungkin engkau lebih mengetahui arti yang sebenarnya. Tetapi aku hanya ingin menerka saja, menurut pemikiranku bahwa melanjutkan berarti tetap konsisten terhadap apa yang pernah dilakukan sebelumnya serta berusaha komitmen untuk tetap berada dalam alur yang telah ditetapkan. Dalam Islam, konsisten adalah salah satu bentuk istiqomah disamping 2 makna lainnya yaitu persisten dan konsekuen.

“Sesunguhnya orang-orang yang mengatakan: “Rabb kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.” (QS. al-Ahqaf (46) : 13)

Amat indah makna istiqamah yang Allah gambarkan dalam ayat di atas. Bukan sekedar melanjutkan sesuatu yang pernah dilakukannya tanpa peduli apakah itu baik atau buruk, akan tetapi melanjutkan untuk tetap mengakui kebesaran Allah sebagai Rabb yang Maha Tinggi.

Tentu saja yang kita harapkan saat ini bukan hanya sekedar Lanjutkan!! tanpa tahu apa sebenarnya yang akan dilanjutkan. Tanpa mengerti hakikat sebenarnya dari kata itu. Apakah melanjutkan penindasan kepada rakyat, melanjutkan pembodohan kepada kaum terpingirkan ataukah melanjutkan penimbunan harta-harta negara oleh para penguasa untuk dinikmati sendiri??
Sekali lagi,Tentu kita harus mengamati dan mempelajari apa yang akan dilanjutkannya itu….

Pun dengan jargon lebih cepat lebih baik, juga harus ditelisik lebih jauh lagi. Lebih cepat apa? Lebih cepat memperkaya dirikah atau lebih cepat berkuasa?

Menarik juga untuk dipelajari lebih jauh, jargon kedua ini. salah seorang pencetusnya mengatakan bahwa makna jargon ini adalah “Fastabiqul Khairat”. Sebuah ungkapan dalam Al–Qur’an yang tentu sudah sering kita dengar.
Memang patut diacungi jempol, pencetus jargon ini. Ia berani menghubungkannya dengan sebuah istilah dalam agama yang mungkin tidak banyak orang berani menyatakannya.
Berlomba-lomba dalam kebaikan, itulah makna agung yang dinyatakan dalam sebuah ayat al-Qur’an:

“…maka berlomba–lombalah dalam berbuat kebaikan. Hanya kepada Allah lah kembali kamu semuanya…” (Q.S. Almaidah (5) :48)

Aku teringat sebuah kisah dimana Abu Bakar dan Umar bin Khattab saling berlomba-lomba untuk lebih banyak bersedekah. Suatu ketika, dalam perang Tabuk Rasulullah menganjurkan kepada seluruh kaum muslimin untuk menyedekahkan hartanya untuk berperang, karena kondisi ekonomi dan persediaan makanan kala itu sedang sulit. Kemudian datanglah Umar mengahadap Rasulullah dengan membawa sedekahnya. Rasulullah bertanya: “Apa yang kau tinggalkan untuk istri dan keluargamu?”. “Aku meninggalkan sebagian hartaku sama dengan jumlah yang akau sedekahkan saat ini”. Lalu datang Abu Bakar, juga membawa sedekahnya. “Apa yang kau tinggalkan untuk istri dan keluargamu?”. Tanya Rasulullah. “Aku sedekahkan semua hartaku dan aku tinggalkan untuk Istri dan keluargaku, Allah dan RasulNya.”

Subhanallah, sebuah perlombaan kebaikan yang begitu luar biasa dari para sahabat. Mereka dengan ikhlas mengeluarkan hartanya untuk dakwah dan jihad di jalan Dakwah ini.

Sebagai seorang rakyat biasa, tentunya kita mengharapkan elit-elit penguasa dinegeri inipun juga berlomba-lomba dalam mengusung program pemerintahan yang lebih baik sehingga dapat mengeluarkan bangsa ini dari keterpurukan.

8 Juli, sebentar lagi.. Masih ada waktu untuk menilai, menimbang dan meminta petunjuk kepada Allah, siapa yang benar-benar akan memperjuangkan kebaikan untuk tetap tegak di bumi pertiwi ini. Teruslah mengamati, jangan terkecoh dengan isu-isu murahan apalagi janji-janji bualan yang hanya muncul untuk memperbaiki citra diri mereka.

Lanjutkan…dengan Lebih Cepat dan Lebih Baik
Istiqomah dalam Fastabiqul Khairat
Untuk Indonesia yang lebih Adil dan Sejahtera.

Kita harus melanjutkan proyek besar peradaban umat dengan lebih cepat dan lebih baik, tentunya harus didukung dan digerakkan oleh kader-kader yang memiliki hati-hati yang Bersih, Jiwa-jiwa yang Peduli serta Kerja-kerja yang Profesional………..

Kusapa engkau wahai saudaraku….


“Hari ini kusapa dengan setangkai do’a untuk saudaraku agar selalu ceria. Rabb…Cintai dia dengan rangkuhan mahabbah pada-Mu, lindungi dia dengan sayap-sayap akhlak sesuai syariat-Mu, berkahi dia dalam detak-detak nafas untuk megemis ridho dariMu. Rabb…Ikhtilatkan hatinya atas cinta padaMu dan jadikan ukhuwah kami sebagai pelindung dari panas nerakaMu.”

Mungkin banyak salah dan khilaf yang telah kulakukan. Mungkin banyak kata yang salah kuucapkan dan menyinggungmu wahai saudaraku. Tapi ketahuilah, ku tak ingin ada jarak yang memisahkan persaudaraan ini.
Bila biduk persahabatan menghantam benteng karang perselisihan, bila kepakan sayap-sayap kebersamaan tak mampu bertahan diterpa angin keegoisan… Biarlah semua itu menjadi saksi betapa sebuah persahabatan itu memang berat untuk dilalui. Tapi kuyakin bahwa setelah emua ujian itu menerpa, akan lahir sebuah persahabatan sejati yang tak akan runtuh diterjang masalah dan tak akan goyah dengan berbagai fitnah.

Dakwah ini butuh kebersamaan, bukan keegoisan yang bisa melunturkan semangat juang kita. Bukankah Allah telah mengajarkan kita untuk membentuk barisan yang rapi dalam jamaah dakwah ini. Bukan perpecahan yang bisa memudahkan musuh-musuh Allah dengan leluasa melumat kita dengan mudah. Bukankah seekor kambing yang sendiri akan mudah diterkam singa dibandingkan dengan sekawanan kambing yang sedang digembalakan..

Kita butuh persatuan, bukan keberpecahbelahan, apalagi kemunduran dari barisan dakwah ini. Masih banyak kerja-kerja yang dinantikan umat ini, dan kita harus yakin bahwa kita mampu menjadi solusi problematika umat saat ini. Harus kita buktikan bahwa dakwah yang kita emban bukanlah pragmatisme sebuah komunitas, tapi komunitas itu hanyalah sebuah washilah agar kemenangan dakwah itu bisa segera terwujud.

Terus berjuang wahai saudaraku… Bersama kita bisa wujudkan dunia yang penuh harmonisasi antara keadilan dan kesejahteraan.