Independensi TvOne dan MetroTV


Media adalah salah satu elemen penting yang bisa mempengaruhi persepsi atau pola pikir masyarakat dalam menilai sebuah informasi yang didapat. Begitu penting arti media sehingga perangkat informasi ini sangat rentan disalahgunakan oleh pihak-pihak yang berkepentingan untuk mempolitisasi arus informasi yang mengalir.
Namun apa jadinya bila media yang apa disalahgunakan. Sebut saja persaingan antara TvOne dan MetroTV yang akhir-akhir ini semakin memanas. Apalagi menjelang Munas Golkar yang akan digelar awal bulan ini. Kedua stasiun televisi tersebut lebih menokohkan salah satu calon ketua Umum Golkar yang akan masuk dalam bursa pencalonan ketua Umun Golkar. Apalagi kedua calon ketua Umum Golkar itu adalah pemilik stasiun-stasiun Televisi tersebut. Sudah bisa dipastikan bahwa tayangan berita yang dimuatpun sarat dengan muatan politis. TvOne yang merupakan milik Aburizal Bakrie tentunya akan lebih mewacanakan bahwa Aburizal Bakrie adalah sosok yang didukung oleh mayoritas elemen Golkar di seluruh Indonesia, dengan menampilkan survey-survey tentang keunggulannya dari calon-calon ketua Umum Golkar yang lain. Sedangkan MetroTv yang merupakan bagian dari Media Group pimpinan Surya Paloh juga lebih menonjolkan sosok beliau dengan keunggulan dan daya tarik sekelompok masyarakat terhadapnya.
Dalam kasus Lumpur Lapindo, TvOne memberitakan tentang kisah sukses korban Lumpur Lapindo yang telah berhasil membangun usahanya kembali setelah ditimpa musibah tersebut. Berbeda sekali dengan MetroTV yang menyampaikan berita tentang banyaknya hak-hak warga sekitar Luapan Lumpur Lapindo yang belum terselesaikan. Hal yang paling terlihat dari kurang independennya kedua stasiun televisi tersebut adalah ketika mengadakan sebuah acara spesial dengan menampilkan satu calon saja dalam kemasan yang bisa dibilang sangat eksklusif.
Komposisi berita yang tidak berimbang inilah yang menunjukkan kurang independenya kedua stasiun televisi tersebut.Meskipun kedua Stasiun Televisi itu adalah milik calon-calon yang akan memperebutkan kursi ketua Umum Golkar, namun seyogyanya mereka tidak menjadikan menjadikan media yang menggunakan jaringan publik tersebut untuk kepentingan politis pribadi semata. Masyarakat harusnya dididik melalui media bagaimana menempuh cara yang bersih dan sportif dalam persaingan politik. Bukan malah sebaliknya, mempertontonkan persaingan yang tidak menunjukkan kedewasaam berpolitik.
Awalnya kita sangat berharap lahirnya kedua stasiun televsi tersebut bisa memberikan informasi atau berita-berita yang dapat mendewasakan cara berpikir masyarakat Indonesia, namun bila melihat fenomena yang baru saja terjadi, kita semakin sulit untuk menemukan media informasi yang independen yang jauh dari politisasi kepentingan kelompok tertentu yang pada akhirnya akan mengaburkan objektifitas informasi yang disampaikan kepada masyarakat.
Dalam dunia jurnalistik, memang sangat sulit untuk menemukan objektifitas berita atau informasi yang disampaikan oleh media. Namun, kesan yang dimunculkan oleh kedua TV yang notabene adalah TV berskala nasional sangatlah tidak profesional. Pengemasan acara yang terlalu vulgar menyajikan berita yang berat sebelah untuk mendukung salah satu tokoh akan mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap pemberitaan lain yang dikeluarkan.
Semoga saja, dengan banyaknya kritikan yang masuk ke kedua stasiun televisi itu dapat menjadikan mereka lebih berhati-hati dalam hal politisasi berita serta mampu menjadi kontrol sosial bagi dunia jurnalistik agar berita-berita yang diterima oleh masyarakat lebih objektif dan jauh dari kepentingan pihak-pihak tertentu yang hanya ingin meraih keuntungan pribadi.

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

One response to “Independensi TvOne dan MetroTV”

  1. Satria says :

    Saya sangat setuju dengan isi artikel di atas. Bahkan, hal ini masih saja terjadi dikala “skandal Century” menyeruak belakangan ini. Kedua stasiun tv tersebut seolah-olah mengarahkan persepsi atau setidaknya membentuk argumen di tengah masyarakat bahwa tokoh-tokoh yang yang dikatakan “terlibat” di dalamnya memang benar-benar bersalah dan patut untuk dipersalahkan tanpa memberikan pemahaman kepada masyarakat apa yang sebenarnya terjadi (ingat bahwa tidak semua konsumen berita di Indonesia pandai dalam “mencerna” berita).

    Saya harap kedepannya perkembangan teknologi informasi di Indonesia benar-benar bersih dan putih dari praktek-praktek politisasi media informasi itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: