Optimalisasi Peran KAMMI menuju UGM Madani


Optimalisasi Peran KAMMI menuju UGM Madani

(Masyarakat Kampus UGM yang ideal, dengan KAMMI  sebagai penggeraknya).


Kampus adalah lingkungan paling kondusif untuk membentu sebuah ideologi pemikiran ataupun pergerakan. Betapa banyak tokoh-tohoh besar bangsa ini lahir dari sebuah lingkungan bernama kampus. Aktualisasi nilai-nilai pergerakanpun akan semakin nyata muncul ketika seseorang berada dalam lingkungan kampus tersebut. Sehingga begitu pentingnya masa-masa keberadaan kita di kampus untuk bisa menjadikannya sebagai sarana untuk berkontribusi menebar benih-benih kebaikan kepada masyarakat kampus. Salah satunya adalah dakwah kampus. Dakwah Kampus adalah sebuah keniscayaan bagi pembentukan bi’ah kampus yang madani. Dakwah kampus adalah refleksi atas keinginan untuk menjadikan kondusifitas keberlangsungan syiar islam dan juga kaderisasi generasi penerus bangsa ini. Bangsa yang sedang membutuhkan orang-orang yang tidak hanya matang secara akademis tapi juga tajam dalam pemikiran dan progresif dalam pergerakan.

Dakwah kampus merupakan fase yang sangat penting bagi kaderisasi tersebut, untuk kemudian bisa men-supply kader-kader dakwah ke berbagai lembaga kemahasiswaan yang ada di lingkungan kampus. Tidak hanya dari segi kuantitas akan tetapi dari segi kualitasnya mampu menjadi kader produktif di medannya, hingga kader dakwahpun bisa berbicara dalam ranah kampus baik itu dalam lini da’awy, siyasi, maupun ilmy.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah….” (Q.S. Ali-‘Imran : 110)

UGM (Universitas Gadjah Mada), sebagai kampus terbesar dan tertua di Indonesia adalah contoh miniatur kehidupan bangsa beberapa tahun ke depan. Sebagai pencetak tokoh-tokoh bangsa tentu kampus ini menjadi lahan yang sangat potensial untuk bisa ter-shibghah-kan dengan dakwah Islam. Tentu bukan suatu hal yang mudah untuk menjadikan lembaga-lembaga kemahasiswaan di kampus ini sebagai washilah dakwah, mengingat kampus ini memang bukan kampus berlabel islam ataupun berkurikulum islam. Namun, tak ada yang tidak mungkin bila semangat berdakwah di kalangan aktivis bisa memberikan warna tersendiri bagi pergerakan dakwah di kampus, baik itu di lembaga kemahasiswaan yang sudah jelas-jelas menjadikan dakwah islam sebagai landasan geraknya, maupun di lembaga-lembaga lain yang masih bersifat sekuler.

Adalah sebuah kebutuhan yang sangat penting untuk bisa menghasilkan kader-kader potensial untuk keberlangsungan dakwah kampus itu sendiri. KAMMI sebagai sebuah lembaga pergerakan dengan Islam sebagai ideologi pergerakannya tentu memiliki peran dan posisi yang sangat penting untuk kaderisasi yang integral kepada seluruh kader-kader dakwah kampus, khusunya di UGM. Dengan semakin banyaknya kader yang terrekrut dan semakin besarnya tantangan-tantangan dakwah di masa kini, KAMMI harus memiliki andil yang besar untuk mengkondisikan medan dakwah yang akan ditempuh. Sebagai lembaga pergerakan mahasiswa yang lahir dari rahim Lembaga Dakwah Kampus (LDK), KAMMI muncul sebagai salah satu kekuatan alternatif Mahasiswa yang berbasis mahasiswa Muslim dengan mengambil momentum pada pelaksanaan Forum Silahturahmi Lembaga Dakwah Kampus (FS-LDK) X seindonesia yang diselenggarakan di Universitas Muhammadiyah Malang. Acara ini dihadiri oleh 59 LDK yang berafiliasi dari 63 kampus (PTN-PTS) diseluruh Indonesia. KAMMI lahir para ahad tanggal 29 April 1998 PK.13.00 wib atau bertepatan dengan tanggal 1 Dzulhijah 1418 H yang dituangkan dalam naskah Deklarasi Malang.

Secara historis, KAMMI memiliki potensi yang kuat untuk menyeimbangkan gerak dakwah di kampus-kampus di seluruh Indonesia, salah satunya UGM. Menjadi sebuah keinginan yang sangat besar di kalangan aktivis dakwah ketika lingkungan kampus ini yang notabene adalah kampus sekuler bisa dijadikan sebuah proyek besar peradaban islam menuju UGM yang Madani. Kampus Madani yang tidak hanya terlihat dari segi penampilan fisiknya saja, akan tetapi nilai-nilai kehidupannya pun tercermin dalam kesehariannya. Madani dalam artian semua aspek kehidupan kampus berlandaskan pada nilai-nilai keislaman. Mulai dari minimalisasi kegiatan-kegiatan mahasiswa yang hura-hura dan tidak bermanfaat, serta penguatan fikroh Islam dalam aspek akademis di kurikulum kampus. Sehingga mahasiswa yang terbentuk bukan hanya paham materi keilmuan di bidangnya saja, akan tetapi mampu memberikan solusi cerdas bagi perkembangan syiar Islam dengan kompetensi keilmuan masing-masing.

Dalam Islam, konsep masyarakat madani dipercaya sebagai warisan ideal Nabi Muhammad Saw., dalam memimpin ummatnya di sebuah kota bernama Yatsrib, yang kelak dikenal dengan nama Madinah. Madinah, secara bahasa berarti kota. Tetapi menurut ilmu kebahasaan, kata madinah mengandung arti peradaban. Dalam bahasa Arab, peradaban berasal dari kata madaniyah atau tamaddun. Masyarakat madani yang diterapkan Nabi itu, secara formal dimanifestasikan dalam piagam Madinah (Mitsaq al-Madinah) yang diproklamirkan bersama pendukungnya. Lewat piagam madinah itu, Nabi mengemukakan cita-cita besarnya mendirikan dan membangun mansyarakat beradab. Dengan memperkenalkan umat manusia tentang (wawasan) kebebasan baik di bidang agama dan politik, khususnya pertahanan, secara bersama-sama.

Sesuai dengan visi KAMMI bahwa KAMMI merupakan wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader-kader pemimpin masa depan yang tangguh dalam upaya mewujudkan masyarakat Islami di Indonesia, maka UGM adalah proyek percontohan bagi kampus-kampus di Indonesia untuk bisa menelurkan sebuah knsep masyarakat kampus yang madani melalui lembaga pergerakan mahasiswa ini. Sebuah PR besar bagi KAMMI untuk bisa memanage kembali perangkat-perangkat dakwahnya. Optimalisasi kaderisasi dan syiar sangat diperlukan untuk mengimbangi perubahan pola pikir mahasiswa yang terlalu cepat berubah. Sehingga KAMMI membutuhkan kader-kader profesional dan inovatif dalam menyusun kembali metode-metode dakwah yang mungkin selama ini belum optimal.

Dari tahun ke tahun selalu ada perubahan karakter mahasiswa baru yang masuk UGM. Semakin ke sini, tingkat kepedulian mahasiwa terhadap lembaga pergerakan semakin rendah. Fenomena ini juga terjadi di kalangan aktivis dakwah sendiri yang mulai enggan terjun langsung dalam ranah pergerakan ini. Terlepas dari semakin lebarnya sayap-sayap dakwah berusaha di bentangkan di kampus ini, aktivis dakwah pun harus punya ideologi yang kuat terhadap pergerakan dakwah yang mengalami dinamika ini, baik itu yang terjun langsung di siyasi atau kader-kader yang aktif dalam ranah da’awy ataupun ilmy.

Politik (siyasah dalam istilah Islam) adalah segala urusan yang ditujukan untuk mendatangkan kemaslahatan masyarakat. Sehingga, tidak terbersik sedikitpun di dalam hati para pelakunya untuk menjadikan kekuasaan sebagai tujuan akhir dari politik. (Yusuf Qordhowi)

Mengambil kutipan di atas, dapat kita pahami bahwa sarana-sarana dakwah ini tidak terbatas pada lingkungan masjid atau surau-surau. Berbagai aspek kehidupanpun menjadi bernilai sebagai sarana dakwah bila dimanfaatkan untuk kepentingan umat ini. Yang perlu digarisbawahi adalah dakwah kampus hanyalah satu di antara sekian banyak fase-fase dakwah yang harus kita lalui sebagai generasi muda. Sudah saatnya bagi kita untuk bisa berkontribusi bagi jalannya dakwah dan tegaknya panji Islam di bumi Indonesia, khususnya di Kampus Biru ini.


KAMMI adalah bagian kecil dari Dakwah Islam, namun bukan berarti tidak ada karya besar yang bi dihasilkannya untuk membentuk masyarakat kampus yang Madani. Semoga….

-Jupri Supriadi-

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: