Antara Pejuang dan Pemberontak…


Musashi memillih jalan pedang bagi kehormatan dan harga diri
Ia jadi legenda dan orang berdecak kagum, dulu
dan sekarang saat membawa pedang dikeramaian
hanya mengundang keheranan dan kegelian

Pilihan lebih mencengangkan ialah ‘Jalan panah Antarah bin Syaddad’.
Satu dari tujuh pemilik pusisi panjang yang terpampang di pasar Uqazh, Mekkah ini, bertahun-tahun berjuang sendirian untuk mendapatkan kekasihnya Anlah dan selalu dihalangi.
Akhirnya setelah berhasil mengambil 100 unta paling mahal dari suku paling ganas dan ahli perang, sebagai syarat yang diajukan wali Ablah ia menggapai impiannya.

Pitung, jampang, Lagoa, Robin Hood dan kawan-kawan dengan semua kebesaran itu, mungkin juga menuai kutukan bahkan sesalan.
Paling tidak dari penjajah yang mereka repotkan.
Semua punya prinsip dan punya rasa sayang pada sesama.

Muhammad Toha bukan kekecualian, Bujang Bandung ini sirna bersama gudang mesiu kolonial Belanda yang diledakkannya.
Tetapi tak seorangpun diantara anak bangsa ini yang menggerutui Toha.

Diseberang sana, para penjajah juga membanggakan orang uang paling dikutuki bangsa jajahan. Van Mook, Daendels, atau Westerling di sini, atau Magelhan di Maharlika.
Mereka, pahlawan dari pihak penjajah dan bangsa jajahan -jadi simpul dua kekuatan saling tarung dan meilhat dari dua sudut berseberangan.

“Ekstrimis, teroris!” Kata yang merasa diganggu.
“Pahlawan!”. Kata yang merasa dibelas atau bernasib sama, sama-sama dijajah, dizalimi, dipinggirkan.
Dibenci atau disanjung, kedua belah pihak punya tujuan dan menjadikan jalan pedang, jalan panah, jalan bom sebagai bahasa paling fasih yang dapat mereka bunyikan.

Apakah mereka semacam bangsa Palestina yang telah lebih dari setengah abad dijajah Zionis ISrael tak lebih berhak untuk itu?

Bush, Blair, Sharon, Hawk juga menggunakannya, dengan pretensi mereka yang berhak, yang lain tidak.
Mereka masyarakat berada, yang lain biadab,
mereka moralis, yang lain teroris.
Yahudi bangsa pilihan Tuhan dan Palestina bangsa kutukan-Nya.
Merekapun dikucilkan, divonis sebagai bangsa teroris
serta dijajah saat kolonialisme menjadi barang kuno yang sangat tercela.

(Ust.Rahmat Abdullah, Warisan Sang Murabbi Pilar-pilar Asasi)

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: