Archive | Mei 2010

Dulu kala di sebuah penjara suci Insan Cendekia


Dulu… ada ‘mereka’ yang begitu rajinnya puasa senin kamis, sampai-sampai selalu berebut untuk mendaftarkan dirinya. lalu meminta dibangunkan dengan penuh harap. “plisss…. bangunin gw yah”

Dulu… ada ‘mereka’ yang tiap pagi dan petangnya selalu membasahi bibir dengan tilawah qur’an dan hafalan hadits-hadits dari buku pelajaran.

Dulu… ada ‘mereka’ yang begitu disiplinnya membangunkan mereka-mereka lain yang masih terlelap dalam mimpinya untuk bangun dan shalat subuh.

Dulu… ada ‘mereka’ yang begitu fasihnya menjadi imam masjid dan khatib saat tugas bergiliran tiba.

Dulu… ada ‘mereka’ yang bahkan anginpun tak dibiarkan untuk menyibakkan jilbabnya. Ada sepasang peniti yang selalu merekat erat di ujung jilbabnya.

Dulu… ada ‘mereka’ yang merah bibirnya selalu menyapa dengan salam penghormatan tertinggi. “Assalamu’alaikum.”

*kangen dengan suasana itu

SATURASI


mau kemana akh?”. tanya seorang teman. “Mau Syuro”. Besok paginya ia bertanya kembali, “pagi-pagi gini udah rapi banget, mau kemana?”. “Syuro lagi”. jawabku. Begitu hampir tiap hari, di beberepa pekan terakhir ini. Sampai-sampai saya pun malu untuk menjawab dengan jawaban yang sama hampir tiap hari. “ Antum ni ahli syuro banget, tiap jam 6 pagi udh berangkat syuro.”

Sejenak saya berpikir. Iyakah seperti itu? Atau selama ini saya dan teman-teman lainnya hanya berkutat pada rapat-rapat yang tidak jelas, syuro-syuro yang sering molor waktunya , dan hanya membahas masalah-masalah yang tidak esensial untuk dibahas.

Ketika agenda-agenda dakwah semakin banyak, memang kebutuhan akan syuro menjadi sejalan bertambah banyak pula. Dan dari satu agenda ke agenda lain membutuhkan persiapan dan konsolidasi yang matang serta terarah. Namun seringkali, agenda-agenda tersebut menjadi terkotak-kotak, terpsah dan tidak saling berhubungan denga satu sama lain.

Pernah suatu ketika, kami harus menunda pembahasan suatu agenda karena “judul” syuronya tidak membahas itu. “gimana kalau pekan depan kita rihlah lembaga?”. “nanti kita syuro dulu pas rapat PH. takutnya ada agenda PH pekan depan, kalau ps rapat PH ga ada agenda, nanti syuro selanjutnya kita rencanakan untuk rihlah pekan depan.” . Kemudian stelah syuro yang satu itu selesai, kami mulai membahas tema yang tadi sempat tertunda. Lucunya lagi, orang-orang yang berada di dalam syuro itu, ya.. yang tadi-tadi juga. Bahkan tempat syuronya pun tidak bergeser sedikitpun. Padahal seandainya agenda syuro pertama tadi langsung diselesaikan, mungkin tidak akan memngambil waktu cukup banyak hingga sampai menundanya berlarut-larut.

Ah…, efektifitas syuro seakan mulai terkikis. Pembahasan agenda tidak lagi berjalan sinergis dan komprehensif. Hanya sekedar memenuhi waktu agar menjadi rutinitas pekanan. sehingga ketika ada evaluasi lembag, kita bisa menjawab.” kami sudah syuro sebanyak sekian…rutin sekali dalam sepekan. Agenda yang dibahas ini-itu, dll”. Tapi yang seharusnya jadi bahan pertanyaan adalah. “Sudahkah syuro-syuro yang antum lakukan itu bisa memberikan manfaat untuk orang lain? atau selama ini hanya menambah beban dakwah dengan dalih syuro padahal apa yang dibahas tak lebih dari sekedar pembicaraan yang sebenarnya bisa terselesaikan dalam obrolan biasa.

Saturasi…jenuh…atau apalah itu namanya. Yang pasti, saat ini saya mulai sedikit jenuh dengan agenda-agenda yang menumpuk tapi kemanfaatannya masih dipertanyakan…

Saat diri mulai saturasi, ribuan pertanyaan seakan membuncah menggelora memenuhi ruang yang tertampug di kepala. seluruh sendi-sendi waktupun menuntut untuk menjawabnya. Apakah yang telah dilaukan diri ini? untuk dirimu sendiri, untuk umat, untuk bangsa dan untuk Tuhanmu?

Mobil itu…


Kulihat empat buah roda terpasang kokoh mendampinginya. Tertaut indah menghiasi keanggunan besi-besi nan gagah. Pasti mobil itu siap untuk dijalankan oleh pengemudinya. Melintasi keperkasaan jalan kota dan keheningan jalan desa bertabur keramahan. Namun apa jadinya bila tak ada teman setia menemani putaran roda? Apa jadinya bila hanya ada SATU buah roda terpasang di sela besi-besi itu? Biarpun roda itu sudah ditambahi dengan ban yang sudah dipompa dan mengembang sangat bagus. Tak akan ada artinya bagi sang mobil. Roda itu takkan bisa menggerakkan mobil untuk berjalan apalagi melaju dengan kecepatan yang tinggi. Bahhkan untuk menahan beban mobil itupun sangat berat. Bisa jadi, lama kelamaan BAN itu akan semakin MENYUSUT semangatnya untuk menggerakkan mobil. Bisa jadi BAN itu akan KEMPES tak mampu menahan beratnya seonggok besi-besi yang menuntutnya untuk berlari. Dan kini BAN itu pun sudah kehilangan semangatnya untuk memutarkan roda agar mobil itu bisa melaju, bahkan untuk bergerak satu meterpun tak lagi seperti dulu ketika ia masih berteman ketiga ban lainnya. BAN itu butuh TEMAN….. Ia menantikan teman yang siap untuk memikul beban besi-besi itu dan melaju bersama ke tempat impian.

*Jangan salahkan satu BAN itu bila setelah dipompa ia kembali KEMPES dan tidak bisa menggerakkan MOBIL, karena mungkin ada yang turut andil dalam memisahkan ia dengan ketiga roda yang lainnya.

Mahasiswa Kampus & Perubahan Sosial


Sebagai bagian dari elemen masyarakat yang sedang menempuh alur pendidikan tertinggi, dengan sendirinya mahasiswa dipandang sebagai kaum intelektual, kaum yang deiharapkan dapat memberi peran lebih dalam mengatasi berbagai permasalahan bangsa. Oleh karena itu sudah selayaknya, mahasiswa sadar akan peran yang harus diembannya dan amanah yang dibebankan masyarakat kepada mereka begitu besar.Bahkan Jack Newfield menyebut mahasiswa adalah kelompok minoritas sebagai a prophetic minority meskipun mahasiswa adalah kelompok minoritas dalam masyarakat bangsa. Namun mereka bisa memainkan peranan profetik. Mereka melihat jauh kedepan dan memikirkan apa yang tidak dan belum dipikirkan oleh masyarakat umum. Dalam visi mereka, nampak ada kesalahan mendasar dalam masyarakat dan mereka menginginkan perubahan melalui jalan tranformasi masyarakat.

Lingkungan kampus merupakan lingkungan paling kondusif untuk membentu sebuah ideologi pemikiran ataupun pergerakan. Betapa banyak tokoh-tohoh besar bangsa ini lahir dari sebuah lingkungan bernama kampus. Aktualisasi nilai-nilai pergerakanpun akan semakin nyata muncul ketika seseorang berada dalam lingkungan kampus tersebut. Sehingga begitu pentingnya masa-masa keberadaan kita di kampus untuk bisa menjadikannya sebagai sarana untuk berkontribusi menebar benih-benih kebaikan kepada masyarakat kampus juga kebermanfaatan bagi umat dan bangsa. Bangsa yang sedang membutuhkan orang-orang yang tidak hanya matang secara akademis tapi juga tajam dalam pemikiran dan progresif dalam pergerakan. Bangsa yang semakin lama semakin terpuruk ini sudah menanti peran dan kontribusi yang nyata bagi generasi muda terutama mahasiswa yang notabene adalah kaum intelektual yang jumlahnya masih sangat sedikit sekali dibandingkan dengan total penduduk negeri ini. Oleh karena itu perubahan ke arah yang lebih baik merupakan impian negri ini agar bisa bangkit dari keterpurukan. Dan perubahan itu sendiri bisa dimulai dari tatanan kehidupan bermasyarakat yang terkondisikan dalam sebuah struktur sosial yang baik.

Sedangkan perubahan sosial itu sendiri adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.

Namun, yang perlu dipahami, adalah bagaimana konsep perubahan itu sendiri . Perubahan seperti apakah yang diharapkan? Kita tidak bisa menutup mata bahwa, arus glogalisasi saat ini sedikit banyak telah memberi efek pada pola kehidupan masyarakat terutam adi kalangan remaja. Narkoba, seks bebas, gaya hidu hedonisme, materialisme merupakan ancaman yang serius yang melanda generasi muda kita. Oleh karena itu, disinilah peran mahasiswa yang memiliki potensi lebih untuk bisa memperbaiki kondisi masyarakat saat ini. Dengan semangat ideologinya yang masih membuncah dan jiwa-jiwa perjuangan yang masih melekat di dada para mahasiswa seharusnya menjadi bekal untuk bisa melakukan transformasi atau perubahan sosial.

Tak hanya itu, perang ideologi saat ini juga harus menjadi perhatian an merupakan PR besar bagi para penggerak perubahan sosial agar ideologi-ideologi yang berkembah tidak menggangu tatanan kehidupan bangsa dan saling menjatuhkan antar ideologi yang berkembang. Terutama umat Islam yang harus wasapada terhadap virus-virus libelarisme, sekularisme dan pluralisme yang bisa mengancam aqidah umat Islam. Perubahan adalah suatu keniscayaan, atau sunnatullah. Artinya suka atau tidak, kita akan menemui perubahan. Kalaupun kita diam, maka ada banyak pemikiran lain yang mencoba mengubah masyarakat sesuai dengan kehendak mereka. Oleh karena itu, diamnya kita berarti membiarkan ‘kekalahan’ ideologi yang kita yakini kebenarannya dan membiarkan terjadinya perubahan ke arah yang tidak kita kehendaki. Dalam Ar Ra’du:11, Allah berfirman bahwa Allah tidak akan mengubah kondisi suatu kaum hingga mereka mengubah kondisi dirinya sendiri, dan.

Melakukan perubahan adalah perintah di dalam ajaran Islam, sebagaimana dalam suatu hadits Rasulullah saw menyatakan bahwa orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung, orang yang hari ini sama dengan kemarin berarti rugi, dan orang yang hari ini lebih buruk dari kemarin adalah celaka. Artinya kalau kita membiarkan kondisi statis tanpa perubahan – apalagi membiarkan perubahan ke arah yang lebih buruk – berarti kita tidak termasuk orang yang beruntung. Juga di dalam Ali Imran:104 Allah memerintahkan agar ada kaum yang menyeru kepada kebaikan – sebagai sebuah perubahan

Saya jadi ingat perkataan tokoh Masyumi M. Natsir, bahwa kampus adalah benteng umat Islam yang ketiga setelah masjid dan pesantren. Seharusnya, mahasiswa bisa menjadi pionir revolusi di Indonesia. Semoga…!!!

Refleksi diri di lembaga


Memasuki tahun kedua di kampus, amanah seakan datang menghampiri tak peduli apakah kita siap untuk mengembannya atau tidak. Memang amanah itu ibarat musuh yang tidak perlu dicari, tapi ketika ia sudah datang, maka kitapun harus menghadapinya. Paling tidak mengemban amanah itu dengan sebaik-baiknya.

Awalnya sebgai staf, kita yang dibina, diarahkan dan dikader untuk siap diterjunkan langsung untuk mengurusi sebuah lembaga. Namun, lama kelamaan, tahun pun berganti, kepengurusan sudah harus berlanjut dan diteruskan oleh generasi sesudahnya, maka kita pun mempunyai beban tambahan untuk tidak sekedar mengurusi lembaga. Akan tetapi ada peran lain yang harus dilakukan ketika sudah berada dalam tataran PH. Yaitu bagaimana mengkader staf dan anggota baru agar mereka bisa lebih terjaga dan bisa maksimal perannya dilembaga tersebut.

Beberapa poin penting yang harus dipikirkan oleh para penggerak lembaga, baik itu lembaga da’wy, siyasi ataupun ilmy adiantaranya adalah: kejelasan visi dan arahan kerja yang akan dicapai dalam masa kepengurusan, kaderisasi dan pencitraan lembaga baik ke dalam maupun keluar.

Kejelasan Visi

Ketika awal-awal masa perekrutan ataupun pendaftaran anggota baru, biasanya lembega-lembaga di kampus menggembar-gemborkan visi dan misi yang dimilikinya. Baik itu dalam bentuk media berupa leaflet, buletin ataupun melalui media internet. Lalu, setelah anggota baru terekrut, kadang pengurus itu sendiri bingung mau dibawa kemana angoota-anggota baru yang sudah terdafrar itu. Karena biasanya di awal masa perekrutan itu, anggota yang terdafatar jumlahnya sangat banyak dan melimpah. Bila pengurus-pengurus di lembaga tidak mampu untuk mentansfer nilai-nilai lembaga, baik itu visi dan misi, arahan dan target yang akan dicapai, maka anngota baru akan kebingungan dengan lembaga yang sedang diikutinya. Apa yang mereka lihat ketika mendaftar ternyata tak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Pengurus sendiri bahkan masih bingung dengan visi yang dicantumkannya di banner-banner stand pendaftaran, karena tidak ada sharing value yang berkelanjutan dari pengurus sebelumnya. Pada akhirnya, lama-kelamaan, lembaga itu berjalan tidak berdasarkan visi yang sudah ditetapkan dan bisa jadi nilai-nilai yang diharapkan bisa terealisasikan di lembaga tersebut tidak dapat terwujud.

Kaderisasi

Bisa dikatakan, fungsi kaderisasi adalah ujung tombak bagi sebuah lembaga. Karena proses pengkaderan dan pewarisan nilai-nilai bertumpu pada fungsi kaderisasi ini. Betapa banyak lembaga-lembaga di kampus yang akhirnya mati dan tidak berjalan karena fungsi kaderisasinya tidak berjalan dengan baik. Hampir disemua lembaga yang saya ikuti, ketika di awal pendaftaran anggota baru jumlahnya sangat banyak, namun lama-kelamaan terjadi seleksi alam yang menyebabkan jumlah anggota di lembaga tersebut mengerucut,. Bahkan, ada yang asama sekali kehilangan staf di sebuah departemen. Kondisi ini bisa terjadi karena alur kaderisasi yang dijalani tdak tersampaikan ke anggota dengan baik, atau penjagaan dari pengurus sendir yang kurang terhadap anggotanya. Karena kaderisasi tidak sekedar menjalankan upgrading ataupun daurah-daurah semata, akan tetapi penjagaan dan pendekatan personal lebih dibutuhkan untuk menjamin bahwa akan ada penerus sesudahnya di lembaga ttersebut yang memiliki visi yang sam, semangat yang sama dan militans iyang sama. Lebih bagus lagi bisa melebih yang ada saat ini.

Pencitraan

Hal ini berkaitan dengan peran humas dan media yang sangat penting untuk mencitrakan lembaganya kepada publik. Karena publik kadang hanya melihat sebuah lembaga dari kulit terluarnya saja. Sebagus apapun program kerja yang dilaksanakan, secemerlang apapun ide dan konsep kaderisasi yang dilakukan, tidak akan bernilai lebih jika citra lembaga di mata publik itu buruk. Oleh karena itu fungsi pencitraan ini juga penting menurut saya, agar bisa menyampaikan kepada publik apa-apa saja yang sudah dilakukan oleh lembaga tersebut.

*Ditulis sebagai salahsatu prasyarat untuk mengikuti SPE Partai Bunderan UGM