Cerpen


YANG TERDUSTAKAN

oleh: ILNa Andromeda

Pancaran sinar matahari pagi itu sudah mulai terlihat. Meski masih malu-malu untuk menampakan bentuknya secara utuh, namun cuaca jumat pagi itu memberikan pesan bahwa kecerahan akan meyelimuti pagi hingga sore di kota hujan ini. Yah, meskipun dibilang kota hujan, tapi tak selamanya sepanjang hari harus terguyur hujan. Dedaunan pun tak hanya butuh air untuk tumbuh dan berkembang. Pepohonan juga butuh kehangatan sinar mentari yang membuatnya berpacu untuk memberikan kesegaran bagi siapapun yang berada di sekitarnya. Di petala langit juga terlihat awan nan indah menghiasi beberapa sudut langit yang biru menyejukkan.

Aku langkahkan kakiku berangkat menuju terminal baranangsiang pagi itu. Dengan langkah gontai aku berjalan menyusuri jalan berbatu yang masih bercampur dengan merahnya tanah kampung. Sudah bertahun-tahun jalan desa ini dibiarkan seperti itu. Tak seperti kampung sebelah yang sudah beraspal, jalan desa margasari ini masih berlumur tanah. Pemerintah desa setempat hanya memberi bantuan berupa batu-batu kasar untuk memudahkan kendaraan berjalan terutama musim penghujan tiba. Itupun tidak semua sisi jalan tertutupi batu. Kiri dan kanan beberapa sudut jalan tetap saja masih berupa tanah merah yang kalau hujan tiba, sudah pasti akan menjadi arena kubangan lumpur yang tersebar di sepanjang jalan.

Berjalan sepanjang dua kilometer tak terasa melelahkan. Sepanjang perjalanan mata ini disuguhi pemandangan indah panorama alam desa margasari yang indah dan menyejukkan. Meski jalan desanya masih rusak, namun view disebelah utara itu akan menggetarkan bibir dan membuat decak kagum sesiapa saja yang melihat pemandangan itu. Puncak gunung Salak yang terlihat sangat jelas dari tempatku berjalan dihiasi padang sawah yang terhampar luar sepanjang perjalanan ditambah lagi laju hilir mudik warga yang pulang pergi ke pasar pagi itu, membuat nuansa sendiri yang membuatku merasakan betapa indahnya hidup di desa ini. Penuh kehangatan dan keunikan para penduduknya yang ramah serta jiwa pekerja keras yang kulihat dari raut wajah merka.

Sampai diterminal yang juga menyatu dengan pasar baranangsiang, aku lebih pelan berjalan. Genangan air di pasar, tumpukan sampah yang entah mengapa selalu ada tiap harinya serta padatnya jalan yang disesaki para penjual dan pengunjung pasar membuatku mencari celah-celah yang bisa ku lewati untuk tetap berjalan menuju terminal. Sambil kuangkat celana panjangku sampai di atas mata kaki, kadang kulangkahkan kakiku lebar-lebar untuk menghindari kubangan air. Mencari gundukan batu yang tak tergenang air comberan.

Kudengar paa pedagang itu menjajakan barang dagangannya masing-masing. Meraup rezeki dalam kerumunan orang banyak tentu bukan hal sulit. Namun tidak semudah yang kita bayangkan, karena banyaknya pedagang yang menyambung nasib di sana. Sepanjang pasar ini saja aku sudah ditawari jajanan kue oleh 5 orang ibu-ibu sambil menjunjung bakulnya. Belum lagi mereka yang membuka lapak dagangannya di kios-kios pasar. Waktu pagi, biasanya memang lebih didominasi oleh penjual makanan, sayur atau lauk pauk kebutuhan dapur lainnya.

Suara-suara pedagang yang menjajakan dagangannya ditambah riuh rendah suara anak-anak penual kantong kresek menjadi fenomena rutin yang kusaksikan tatkala melintasi pasar tersebt di pagi hari. Ah..anak-anak itu masih terlalu kecil untuk meraskan kerasnya persaingan mencari nafkah di pasar tersebut. mereka, yang seharusnya merasakan masa kecilnya dalam keceriaan, harus berjuang mengadu nasib ditempat kumuh tersebut. ironi memang, bangsa yang besar ini, yang katanya melindungi anak-anak miskin ternyata masih menyimpan dusta yang teramat dalam sampai menelantarkan mereka yang putus sekolah.

Memasuki area terminal, aku sudah melihat dari kejauhan, sekelompok ramaja berpakaian putih abu-abu mengerumuni basecamp tempat biasanya mereka untuk naik angkot menuju sekolah. Hal yang juga kulakukan beberapa tahun lalu saat masih berstatus sebagai pelajar SMA.

Huffh,,, aku jadi teringat masa-masa indah itu. banyak orang bilang, bahwa masa-masa di SMA adalah masa terindah dalam hidupnya, pun begitu yang aku rasakan. Tapi kini, duniaku sudah berbeda dengan mereka. Mereka yang masih memiliki harapan besar untuk menjadi orang sukses di kemudian hari. berbeda dengan aku, setelah lulus SMA, tak ada yang bisa kulakukan selain menjadi supir angkot ber strip putih biru ini. Tak ada lagi harapan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi lagi seperti teman-teman sekelasku dulu. aku hanya bisa menyesal, menggerutui diriku sendiri yang begitu bodohnya telah menyia-nyiakan kesempatan emas dulu. Parahnya lagi, bukan hanyak kesempatan emas yang kusia-siakan, melainkan juga aku telah membuat hati kedua orang tuaku terluka..

Aku yang kala itu disuruh untuk mendaftar kesebuah universitas tenama di kota ini, justru tidak mendaftarkan diri. Uang hasil keringatnya, dengan bercucur air mata dan berpeluh keringat yang membasahi kening dahinya tiap hari, aku gunakan untuk berfoya-foya. Bahkan uang yang seharusnya untuk membiayaiku melanjutkan kuliah, akau gunakan untuk membei sepeda motor di awal kelas 3. Betapa bodohnya aku kala itu, aku seakan tak peduli atas setiap tangis yang mereka rasakan, aku tak menghargai setiap senyum yang mereka berikan. Sungguh durhakanya aku…..

Membiarkan hati mereka tersayat-sayat saat membangunkanku shalat subuh tapi tak kunjung juga banguun. Membiarkan mereka yang tiap pagi harus pergi ke ladang, membajak sawah dan mengairinya. Membiarkan mereka bekerja disaat yang sama pula aku masih tertidur lelap. Tidur dengan nyenyak setelah semalaman bermain game di rental padahal izinnya untuk belajar bersama. Aku sangat zhalim.. . zhalim…

Kini, perasaan bersalah itu selalu menghantui pikiranku. Di saat aku mulai menyadari kesalahanku, disaat aku ingin kembali mencium kening kedua orang tuaku, di saat aku ingin bersimpuh sujud mohon maaf, aku terlambat.. Mereka telah pergi untuk selama-lamanya.

)I(

Kejadian itu bemula tepat setahun yang lalu. Sabtu malam, saat menjelang wisuda esok harinya, aku bersama teman-teman SMA ku melakukan balap liar di jalan raya yang baru saja di buka untuk umum. Saat malam hari, memang kendaraan yang melintas bisa dibilang cukup jarang bahkan dalam satu jam paling ada 2 atau 3 mobil yang melintas. Dengan motor yang baru saja kubeli aku ikut teman-temanku untuk balap liar di jalan tersebut. Tujuan kami memang hanya satu. melepas malam itu dengan kenangan yang tak terlupakan, karena mungkin setelah wisuda, kami tak bisa berkumpul bersama lagi. masing-masing akan melanjutkan ke kampus yang diingininya. Memang benar, malam itu adalah malam yang tak terlupakan bagiku. Bahkan hingga kini……

Beberapa ratus meter dari tempat kami start, aku merasa ada yang aneh dengan perasaanku. entah kenapa aku justru tidak tenang. tidak seperti biasanya aku merrasakan kegelisahan seperti ini. saat mendekati sebuah tikungan yang gelap, pikiranku semakin menerawang tak jelas, kendali emosiku juga semakin tidak stabil serta motor yang kukendaraipun tak bisa ku kendalikan dengan baik. Di saat yang bersamaan, mataku muali silau dengan sebuah cahaya terang dalam kegelapan tersebut. Awalnya hanya berupa sebuah titik kuning kecil. Lama-lama cahaya tersebut membesar dan semakin mendekatiku. Jantungku tersentak, darahku terhenyak ketika menyadari bahwa tepat satu meter di depanku, sebuah mobil truk pengangkut pasir melaju mendekatiku. entah apa yang selanjutnya terjadi….. aku tak sadarkan diri….. aku hanya merasakan seolah-olah darahku behenti mengalir. Sayup-sayup kudengar suara-suara orang mengengerumuniku. tapi aku tak mendengar apa ucapan mereka.Tak lama setelah itu, bunyi sirine yang biasa kudengar di puskesmas dekat rumahku makin jelas mendekati telingaku. Setelah itu, tak ada lagi raungan dan getar suara yang kudengar lagi, mataku berpejam. Gelap…..tak ada setitik cahayapun.

)I(

arya…kamu sudah siuman?”. Kudengar suara itu tepat beberapa jengkal saja dari telingaku. Kurasakan suara lembut itu mengisi kembali ruang-ruang jiwaku yang sempat hampa.

di….di..manaa?”. Itulah kata-kata yang aku ingat untuk pertamakalinya bisa kuucapkan.

kamu dirumah sakit, Nak”.

i-b-u-……..”

Sudahlah Nak, sekarang kamu istirahat dulu saja, tubuhmu masih lemah karene

banyak kehilangan darah.”

Sebuah belaian tangan seorang lelaki menyentuh dahiku, seraya berkata,

Jangan terlalu banyak bergerak Nak. kakimu baru saja dioperasi.”

Suara itu kukenal. Suara yang seringkali melantunkan surah ar-Rahman di sepertiga malam terakhir. Suara yang aku dengar sayup-sayup hampir tiap hari menjelang subuh itu dari kamarku. Suara yang sempat membuatku kesal karena menggangu kenyenyakanku saat tidur. Kini, suara serak itu semakin kukenal, menyapa telingaku dengan ucapan yang begitu lembut. Tangan itu…tangan itu juga kukenal. Tangan yang kasar yang dulu sering kucium ketika berangkat sekolah. Tapi itu sudah lama sekali. Ketika aku masih SMP. Semenjak SMA tak pernah lagi kucium tangan kasar nan bertenanga itu. Tangan yang setiap harinya harus berjibaku dengan traktor sawah itu kini, membelai keningku. Aku terisak sejadi-jadinya. menyesali perbuatanku selama ini pada orang yang selalu menyanyangiku. Bahkan pada saat yang seperti inipun, merekalah yang selalu berada di sampingku. Aku tertidur kembali sebelum sempat mengucapkan sesuatu pada mereka.

)I(

Subuh itu, mungkin sudah subuh keempat aku berada di ranjang putih rumah sakit ini. sebah lantunan ayat suci diperdengarkan dari masjid Rumah Sakit. entah kenapa, pagi itu yang kembali kudengar adalah surat ar-Rahman. Surat yang sering dibaca pula oleh ayahku ketika sholat tahajjud.

Fabiayyi AaLaa-i Rabbikuma tukadzdziban…..”

Aku masih ingat artinya saat dulu ikut pesantren kilat di SMP.

Maka nikmat yang manakah dari Tuhanmu yang kamu dustakan.”

Aku tersentak, merenungi tiap ayat-ayat terebut yang terus berulang-ulang sebanyak 31 kali. Menyadari betapa selama ini, aku sudah melupakan nikmt-nikmat yang Allah berikan padaku. Ia memberikan ornag tua yang begitu sayang padaku. Keluarga yang selalu mnyemangatiku untuk melanjutkan kuliah. Tapi betapa kufurnya aku, tak pernah mensyukuri nikmat-nikmat itu. Butiran air membentuk kawah di pelupuk mataku yang sudah siap untuk meneteskannya. Bibir yang tergentar tak mampu menghentikan isak tangisku mengingat semua perbuatan yang kulakukan pada orang tuaku. Aku menangis…

Ya, itulah tangis pertamaku menyadari kesalahanku pada orang tuaku. Aku ingat sudah berkali-kali membuat ayah yang setegar itu juga menitikkan air mata. Saat aku membuat ulah di sekolah. Berkelahi dan tawuran dengan anak SMA lain. Ayahku yang pagi itu harus memanen padinya, terpaksa harus memenuhi undangan kepala sekolahku untuk menerima surat teguran dan skorsing untukku selama dua minggu. Itulah untuk kali pertama, akau meliah ia menangis, setelah itu, mungkin ia sembunyikan air mata dalam hatinya.

Aku terpanggil dengan suara murottal itu. Aku ingin merasakan kembali sujud panjangku di sepertima malam ini. Aku ingin memohon ampun pada sang Khaliq. Dengan berjalan tertatih, disertai kruk penyangga, aku berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.

Kucuran air di sepertiga malam itu kini menjadi saksi bahwa aku ingin bertaubat. Kubasuhkan air yang cukup dingin itu ke wajahku. Terasa seluruh sendi-sendiku ikut tersejukkan dengan air itu. Aku membayangkan wajah kedua orang tuaku yang sering sembab bercucur air mata karena kelakuanku. Astaghfirullah….

Kumulai shalat malam itu dengan sajadah terhampar di samping ranjangku.

Allahu Akbar”

Maha Besar KeagunganMu yang telah memberi nafas setiap jiwa-jiwa yang benyawa di muka bumi ini. Maha Besar atas KuasaMu yang telah menundukkan angin, menyejukkan kening dan dahiku dari sudut jendela kamar Rumah Sakit itu. Maha Besar PenjagaanMu senantiasa mengawasi hamba-hamba nista berlumur dosa di mika bumi ini.

Kupanjangkan do’a dalam sujudku. Mungkin inilah sujud terpanjang yang pernah kulakukan saat bersimpuh dihadapanMu. Sujud yang kurasakan begitu indah dan menenangkan bathin dan jiwaku. Aku lanjutkan shalat malamku hingga empat rakaat dan diakhirkan dengan witir.

Tepat saat salam terkahirku, aku mendengar pintu kamarku terketuk, lalu perlahan terbuka. Kutolehkan pandangku ke arah pintu masuk itu. Sesosok pria telah berdiri di depan pintu.

arya…”. Baru kutahu sesaat kemudian bahwa lelaki itu adalah pamanku.

bisakah kamu ikut paman sekarang?”

kemana Paman?”

ikut saja sebentar.”

Aku merasakan ada sesuatu yang aneh. kenapa tiba-tiba paman datang menemuiku lalu memintaku untuk mengikutinya, padahal ia tahu sendiri aku masih belum boleh banyak bergerak. Dari raut wajahnya juga aku menangkap pesan kesediahan bercampur lara yang tak terbendungkan. Kami berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit dini hari itu. Aku melihat sebuah jam di sebuah sudut Rumah Sakit. Pukul 04.00 berarti sebentar lagi adzan subuh tiba. Biasanya ayah dan ibu sudah datang menemuiku saat ini. Mereka membawakanku makanan dan menemaniku paling tidak sampai pukul 06.00 pagi. karena setelah itu, mereka akan melanjutkan garapan sawahnya yang sudah terlantar semenjak menemaniku seharian selama dua hari pertama aku dirawat.

Sisi kanan dan kiri rumah sakit dipenuhi oleh keluarga pasien yang bermalam di Rumah Sakit tersebut, mereka menggelar tikar karena tidak diizinkan terlalu banyak keluarga yang menemani pasien di dalam kamar. Sesekali kudenganr raungan sirine ambulance yang seolah tak berhenti bekerja bahkan hingga dini hari itu. Setelah melewati lorong itu, kami kemudian berbelok ke kanan menuju arah bangsal Teratai. Namun sebelum sampai di bangsal itu, ada sebuah lorong kecil ke arah kiri. Aku tidak habis pikir kenapa pamanku berbelok ke arah kiri tersebut, padahal itu adalah kamar jenazah. kenapa pula aku pagi-pagi buta ini diajak ke ruang tersebut. Hatiku bertanya-tanya, apa maksud pamanku itu.

Pintu kamar jenazah dibuka oleh paman, lalu kami berdua masuk. Saat dibuka, kudengar kerumunan orang banyak dengan isak tangis menyelimuti seisi ruangan itu. Tapi anehnya, kenapa ada adik-adikku dan juga keluarga kedua orangtuaku. Tetangga sebelah rumah orangtuakupun juga ada di ruangan tersebut.

yang sabar ya, Nak…”

Bibiku mendekatiku. Kelihat adik-adikku menangis, dan matanya sudah sembab oleh linangan air mata. Aku semakin bingung. Firasatku mulai berkata aneh. Lalu dua sosok jiwa berselimut kain putih ditujukan kepadaku. Apakah mereka…? Apakah kedua sosok itu adalah…?

Belum sempat ku berpikir jauh. Paman memeluku dengan isak tangis.

Mereka ayah dan ibumu…..”

Tulang-tulangku serasa dicopt satu persatu, hentakan jantungku serasa berhenti memompa. Darahku seakan berhenti mengalir. Bibirku bergetar berucap “innalilllahi wa innna ilaihi raaji’un”. Tubuhku melemas sambil mataku sayu bercampur air mata yang tak terbendung lagi. Ya Allah secepat itukah mereka meninggalkanku?. Saat aku belum sempat meminta maaf pada keduanya.Kudekati dua sosok berselimut putih itu.

Mereka kecelakaan saat angkot yang ditumpanginya bertabrakan dengan bus malam Bogor-Tasikmalaya ketika berangkat menjengukku di Rumah Sakit ini. Ku tatap kedua wajah mereka dekat-dekat. Kucium kedua kening mereka.

Ya Rabb, ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku, dan sanyangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil. Allahummaghfir lahum, warham hum, wa akrim nuzuulahum, wa wasi’ mad kholahum, waghsil hum bil maa-i wats-tsalji wal barodi wanaqqihi minal khothooya, kamaa yunaqqos saubul abyadu minaddanaasi wa abdilhum daaron khyron min daarihim wa ahlan khoyron min ahliihim wa jauzan khoyron min jauzihim wa qiihim fitnatal qobri wa ‘azaabannnaar………

Adzan subuh berkumandang turut mengiringi kepergian mereka berdua…….

**di sudut perpus asrama, saat jingga petala langit tergantikan oleh kelam hitamnya malam

Selasa, 11 Mei 2010 Pukul 18.30 WIB.

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: