SATURASI


mau kemana akh?”. tanya seorang teman. “Mau Syuro”. Besok paginya ia bertanya kembali, “pagi-pagi gini udah rapi banget, mau kemana?”. “Syuro lagi”. jawabku. Begitu hampir tiap hari, di beberepa pekan terakhir ini. Sampai-sampai saya pun malu untuk menjawab dengan jawaban yang sama hampir tiap hari. “ Antum ni ahli syuro banget, tiap jam 6 pagi udh berangkat syuro.”

Sejenak saya berpikir. Iyakah seperti itu? Atau selama ini saya dan teman-teman lainnya hanya berkutat pada rapat-rapat yang tidak jelas, syuro-syuro yang sering molor waktunya , dan hanya membahas masalah-masalah yang tidak esensial untuk dibahas.

Ketika agenda-agenda dakwah semakin banyak, memang kebutuhan akan syuro menjadi sejalan bertambah banyak pula. Dan dari satu agenda ke agenda lain membutuhkan persiapan dan konsolidasi yang matang serta terarah. Namun seringkali, agenda-agenda tersebut menjadi terkotak-kotak, terpsah dan tidak saling berhubungan denga satu sama lain.

Pernah suatu ketika, kami harus menunda pembahasan suatu agenda karena “judul” syuronya tidak membahas itu. “gimana kalau pekan depan kita rihlah lembaga?”. “nanti kita syuro dulu pas rapat PH. takutnya ada agenda PH pekan depan, kalau ps rapat PH ga ada agenda, nanti syuro selanjutnya kita rencanakan untuk rihlah pekan depan.” . Kemudian stelah syuro yang satu itu selesai, kami mulai membahas tema yang tadi sempat tertunda. Lucunya lagi, orang-orang yang berada di dalam syuro itu, ya.. yang tadi-tadi juga. Bahkan tempat syuronya pun tidak bergeser sedikitpun. Padahal seandainya agenda syuro pertama tadi langsung diselesaikan, mungkin tidak akan memngambil waktu cukup banyak hingga sampai menundanya berlarut-larut.

Ah…, efektifitas syuro seakan mulai terkikis. Pembahasan agenda tidak lagi berjalan sinergis dan komprehensif. Hanya sekedar memenuhi waktu agar menjadi rutinitas pekanan. sehingga ketika ada evaluasi lembag, kita bisa menjawab.” kami sudah syuro sebanyak sekian…rutin sekali dalam sepekan. Agenda yang dibahas ini-itu, dll”. Tapi yang seharusnya jadi bahan pertanyaan adalah. “Sudahkah syuro-syuro yang antum lakukan itu bisa memberikan manfaat untuk orang lain? atau selama ini hanya menambah beban dakwah dengan dalih syuro padahal apa yang dibahas tak lebih dari sekedar pembicaraan yang sebenarnya bisa terselesaikan dalam obrolan biasa.

Saturasi…jenuh…atau apalah itu namanya. Yang pasti, saat ini saya mulai sedikit jenuh dengan agenda-agenda yang menumpuk tapi kemanfaatannya masih dipertanyakan…

Saat diri mulai saturasi, ribuan pertanyaan seakan membuncah menggelora memenuhi ruang yang tertampug di kepala. seluruh sendi-sendi waktupun menuntut untuk menjawabnya. Apakah yang telah dilaukan diri ini? untuk dirimu sendiri, untuk umat, untuk bangsa dan untuk Tuhanmu?

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: