Archive | Juni 2010

Surat Cinta untukmu Mahasiswa baru.


Surat Cinta untukmu Mahasiswa baru.

Seperti petak-petak sawah kering yang merindukan turunnya hujan……

Seperti ujung dedaun yang merindukan sentuhan angin……

Seperti malam-malam dingin yang merindukan sang mentari….

Seperti bibir pantai yang senantiasa menanti datangnya buih ombak….

Seperti itulah kami menantimu….

Assalamu’alayukum warahmatullahi wabarakatuh….

Salam terindah dan salam tertinggi kami sampaikan kepadamu wahai pemuda-pemudi terpilih. Salam penuh cinta yang akan menyejukkan segala kegersangan hati dan kehampaan jiwa. Salam yang senantiasa menjadi pembuka pintu keberkahan dan kasih sayang Nya.

Tahukah kawan.., bahwa setiap tahun, hati kami selalu diliputi rasa cemas, hati kami tidak tenang saat-saat dimana adik-adik baru kami menapakkan kaki di bumi gadjahmada ini. Pun begitu pula saat wajah-wajah baru yang hadir di tanah grafika ini, kami selalu khawatir, seperti apakah nantinya calon-calon penerus bangsa yang akan menjadi bagian dari keluarga besar kami.

Kami tak kuasa menahan haru bercampur bahagia, saat kalian kami menjadi bagian dari mutiara-mutiara indah yang akan siap menghiasi kawah candradimuka ini. Juga, rasa sesak dan gelisah terlintas di hati kami, ketika kami menyaksikan berbagai drama keangkuhan anak-anak muda yang sudah terpoles zaman globalisasi ini menyeruak memenuhi pemandangan bumi teknik ini.

Ah.., tapi kami selalu bersyukur, bahwa setiap tahun ada saja para penyeru kebaikan yang datang dan menjadi bagian dari perjuangan kami. Selalu saja ada orang-orang baik yang membersamai kami dalam meniti jalan kebaikan ini. Kami berharap secercah harapan kembali muncul dan menguatkan tekad kami untuk membangun teknik menjadi lebih baik lagi. Kami yakin, bahwa harapan itu datang bersama kalian, mahasiswa baru.

Saudaraku, tahukah engkau bahwa kami sangat mencintaimu?. Benar, kami sangat mencintaimu. Tidakkah engkau mendengar sabda Nabi kita tercinta, “Tidak sempurna iman seseorang sebelum ia mencintai orang lain seperti ia mencintai dirinya sendiri.” Bagaimana kami tidak mencintaimu, jikalau Rasulullah saja selalu memikirkanmu. “Ummati…Ummati…” Jauh sebelum kau dilahirkan. Berabad-abad yang lalu.

Saudaraku, selembar surat ini adalah salah satu wujud cinta kami pada kalian. Memang tidak seberapa arti selembar kertas, namun yang kami inginkan adalah agar kalian tahu betapa kami sangat mencintaimu. Kami ingin agar kalian pun selalu mencintai Nya.

Pun, jika cinta kami ditolak. Kami akan tetap mencintai kalian. Tidaklah mengapa kalau kalian membuang selembar surat ini, asalkan kalian tetap mencintai Nya. Tidaklah mengapa kalian mengacuhkan cinta kami, asalkan kalian tetap mencintai Nya. Tidaklah mengapa kalau kalian tidak mengenal kami, asalkan kalian tetap mengenal Keagungan Nya.

Saudaraku, di kampus ini banyak yang bisa kalian lakukan. Banyak ilmu yang bisa kalian dapatkan. Banyak teman yang bisa kalian jadikan sahabat seperjuangan. Tidaklah mengapa jika kalian aktif di Lembaga Dakwah, juga tidak mengapa kalian aktif di BEM, juga tidak mengapa kalian aktif di Kelompok Studi, pun juga tidak mengapa kalian mengikuti lembaga ekstra kampus atau bahkan sama sekali tidak mengikuti kesemuanya. Asalkan kalian tetap mencintai Nya. Asalkan kalian tetap menjadi kekasih Nya.

Wahai sudaraku, betapa kami ingin memanjatkan doa dalam sujud-sujud panjang kami, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan cinta hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru di jalan-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, Ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tak pernah redup, lapangkanlah dada kami dengan limpahan iman dan keindahan tawakkal kepada-Mu, hidupkanlah dengan ma’rifat-Mu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu.

Bagimu saudaraku yang sedang membaca surat ini, salam cinta nan hangat dari kami, Sahabat seperjuanganmu, KELUARGA MUSLIM TEKNIK.

Wassalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh

SMS Power Rangers


Monster akan segera menyerang kota, 2000-an warga kota harus segera diselamatkan. Power Rangers memang punya kekuatan super, memang bisa melawan monster.Tapi tahukah kawan-kwan mereka juga manusia, dan kalau nggak salah mereka juga mahasiswa.

Jadi, kadang power Rangers juga harus memanusiakan dirinya. Bagilah beban jika memang berat bagila kerjaan kalau memang sempat, bagi keresahan kalau sedng penat. Dan berdamailah dengan diri kita. Kita memang pengennya maksimal di semua hal. Tapi kita punya limit. Maka dari itu yuk belajar berbagi. Salam “Power Rangers”

Para pewaris nabi (ulama adalah kafilah panjang yang akan terus menerus mengisi ruang kehidupan manusia dan mempertahankan jejak kenabian dalam narasi zaman (Anis Matta).

(Sender: Ranger Hijau)

Ketahuilah, kemenangan seiring dengan kesabaran. Jalan keluar seiring dengan cobaan, dan kemudahan seiring dengan kesulitan.

(Sender: Ranger Biru)

Jadilah mutiara-mutiara peradaban yang tak pernah lekang tergerus oleh pahitnya zaman namun keindahannya tak akan pernah pudar sampai kapanpun.

(Sender: Ranger Hijau)

Hidup adalah proses pembelajaran. Belajar untuk bersyukur meski tak cukup. Belajar untuk ikhjlas meski tak rela. Belajar untuk taat meski berat. Belajar memahami mesti tak sehati. Belajar setia meski banyak godaan. Belajar dan terus belajar. Karena dengan belajar akan semakin mendewasakan diri kita. (Sender: Ranger Kuning)

Hidup ini harus diahadapi. Terus dihadapi, jangan fokus pada masalah, tapi fokus pada solusi. Kalau kita berlarut-larut dalam masalah, kita akan jadi orang yang hanya bisa menyerah, pasrah. Dan akhirnya mati.

(Sender:  Ranger Hitam)

“Laa tuthalib Rabbaka bi ta-akhkhuri muthlabikawalakin thalib nafsaka bi ta-akhkhhuri adabika.” (Al-Hikam, Syaikh Ibnu ‘Athaiallah). Janganlah menuntut Rabb mu, karena permohonanmua belum dikabulkan olehNya. Akan tetapi tuntutlah dirimu sendiri yang mungkin belum memenuhi syarat bagi suatu permohonan.

(Sender: Ranger Hijau)

Siapa suruh jadi ikhwah??!! Tidak ada. Tidak ada siapapun. Menjadi ikhwah adalah panggilan jiwa yang terkolaborasi pada diri yang ingin mengabdi bagi dakwah dan ummat dengan seluruh daya dan upaya yang dimiliki. Dia akan menjadi sosok lembut terhadap sesama, tegar terhadap godaan serta sabar dalam menghadapi godaan dan musibah. Sekecil apapun, insya Allah peran kita dalam dakwah akan menjadi anugerah yang dinantiikan ummat.

(Sender: Ranger Hitam)

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu menghianati amanat-amanat yang dipercayakan padamu, sedangkamu mengetahui. (Q.S. Al-Anfal: 27-28). (Sender: Ranger Kuning)

Biarlah Allah yang menyemangati kita sehingga tiap peristiwa menjadi teguran atas kemalasan kita. Cukuplah Allah yang mengetahui amal-amal kita, karena perhatian manusia terkadang menggerogoti keikhlasan. Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang saat berbaur mampu menyemangati yang lain, dan saat sendiri mampu menguatkan diri sendiri. Semoga istiqomah dan dimudahkan segala urusan.

(Sender: Ranger Hijau)

Pinta Kami…


Robb, pinta kami jika dakwah adalah pilihan

Maka biar hati ini memilihnya

Jika dakwah adalah kewajiban

Maka kuatkan kami menjalaninya

Jika dakwah adalah kecintaan

Maka ikhlaskan kami merasakannya

Jika dakwah adalah nada dalam hidup

Maka ijinkan kami memainkan iramanya

Jika dakwah adalah badai kesulitan

Maka kuatkan kami untuk bisa bertahan

Jika kemenangan dakwah adalah tadhiyah dan tha’at

Maka ilhamkanlah semuanya pada jiwa ini…

Robb, kami yakin Engkau berkuasa mengabulkan doa kami..

Amin..

Jalan Dakwah


Jalan dakwah itu berat, jangan memintanya menjadi ringan

Dakwah itu sulit, jangan memintanya menjadi mudah

Jalan dakwah itu panjang, jangan minta menjadi pendek

Tapi mintalah punggung yang kuat

Agara mampu memikul amanah ini

Mintalah kaki yang kokoh

Agar nampak menampaki jalan ini

Dan mintalah hati yang bersih agar ikhlas selalu menyertai…..

Kader Steril & Kader Imun


Dalam sebuah qadhaya rowa’ie seorang al-akh mengeluhkan tentang kondisi liqo’atnya yang sudah jauh berbida dengan kondisi semasa SMA nya dulu. Ada kekeringan ukhuwah yang ia rasakan ketika memasuki dunia kampus ini? Format agenda pekanan tersebutpun dirasa lebih nyaman ketika waktu SMA dulu. Lalu apa sebenarnya yang salah dari kondisi yang berubah itu?

Sebenarnya apa yang dirasakan oleh beliau adalah sama seperti yang dirasakan (mungkin) hampir semua kader yang pernah terbina sejak awal ketika di SMA. Ada kondisi yang berbeda, suasana yang berubah dan lingkup kajian yang lebih luas yang menuntut adanya perubahan tersebut.

Nostalgia masa lalu memang akan menjadi kenangan yang indah. Siapapun pasti akan mengenang masa-masa yang pernah dilewatinya. Ketika pikirannya teringat akan masa-masa kelam, maka dia tak ingin mengingatnya lebih lama lagi. Pun begitupula ketika yang terlintas dalam bayangan kenangannya waktu itu adalah sesuatu yang sangat indah, maka sudah menjadi kecenderungan manusia menginginkan agar masa-masa indah itu kembali hadir seperti dahulu. Bahkan tidak jarang yang mengatakan, “ana mau kembali pada kondisi yang seperti dulu, nuansanya yang takkan pernah terlupakan sampai kapanpun.”

Wajar memang, bila ada keinginan-keinginan seperti itu. Tapi yang perlu diingat adalah kita hidup pada zaman ini, bukan zaman dahulu. Segala sesuatunya telah berubah. Dan perubahan zaman itu akan menuntut pula perubahan penyikapan kita atas kondisi yang berubah tersebut. Karena sejatinya tidak akan ada yang pernah berubah kecuali perubahan itu sendiri. Kita pasti akan berubah. Suasana halaqah pasti akan berubah. Materi kajian akan berubah. Murabbi akan berubah. Interaksi dengan sesama temanpun akan berubah. Intensitas pertemuan juga akan berubah. Dan semuanya akan berubah.

Namun, disamping perubahan itu, ada yang perlu kita perhatikan yaitu bahwa kita harus siap untuk menerima dan menjalani perubahan tersebut. Seorang al-ustadz pernah menyampaikan bahwa “Proses Tarbiyah ini harus bisa menghasilkan kader yang imun bukan sekedar kader yang steril“. Artinya adalah kader dakwah harus mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan barunya, bukan malah bernostalgia dengan masa lalu. Kader yang steril adalah kader yang sudah terbiasa dengan lingkungan yang sudah terjaga, terisolasi dan jauh dari pengaruh pencemaran lingkungan sekitar. Sehingga ketika ia sudah keluar dari masa ‘inkubasi’ itu, maka ia akan terkontaminasi dengan lingkungan sekitar yang bisa jadi tidak sesuai dengan apa yang ia rasakan sebelum keluar dari masa inkubasi itu. Jadilah ia seorang kader yang hanya menuntut untuk “kembali ke masa lalu”. Sedangkan kader yang imun adalah kader yang sudah dipersiapkan untuk bisa menjaga dan membentengi diri dari pengaruh lingkungan luar yang bisa jadi akan membuat kondisinya mengalami perubahan ke arah yang lebih buruk. Kader yang imun sudah terbina untuk tetap terjaga dalam kondisi dan situasi seperti apapun. Ia sudah siap untuk menatap masa depan sambil menjalani masa kini yang sedang dihadapinya. Kalau dulu seorang kader merasakan ukhuwah yang telah terkondisikan, sekarang saatnya belajar untuk memulai dan menciptakan ukhuwah itu.

Walahu a’lam bish showab

Daftar Sebaran Alumni Insan Cendekia Serpong Angkatan 13


Berikut adalah data sebaran alumni MAN Insan Cendekia Angkatan 13 “Nozomi Hikari” tahun pelajaran 2009/2010.
Alumni IPA

Alumni IPS

sumber: http://ic.sch.id

Dan ‘Atid pun menangis (bagian 1 dari 2)


Di malam yang sepi, di mana Fulanah sedang tidur,
Rakib dan Atid tetap terjaga untuk terus berzikir dan bermunajat kepada Allah seraya memanjatkan puja dan puji bagi Sang Pemilik alam semesta raya.
Di keheningan malam, hewan dan tumbuhan mendengarkan zikir mereka,
mengalun syahdu sambil menunduk, mengakui bahwa mereka hanyalah makhluk.
Hanya senyap yang tersisa,
di antara hingar bingar siang yang panas terasa.
Di antara zikir mereka, Rakib bergumam, “Wahai Atid, mengapa dulu kita diharuskan menyembah Adam, padahal mereka adalah orang-orang yang fasik?”
“Ah, hal itu karena hanya merekalah yang sanggup menjadi khalifah di muka bumi ini. Gunung pun menyerah ketika harus menjadi pemimpin. Hanya makhluk berakal sajalah yang patut menjadi pemimpin, Rakib!”
“Tapi aku tahu, engkau tidak buta Atid. Lihatlah catatanmu, penuh dengan catatan-catatan kejelekan yang Fulanah lakukan. Padahal, kita baru menukar dengan catatan yang baru saat Sya’ban menjelang dan dibersihkan oleh Allah kembali saat Syawal. Sekarang sudah Dzulhijjah dan kulihat tulisanmu lebih banyak daripada tulisanku. Aku percaya kalau janji Allah itu pasti benar tapi…” Rakib memutus perkataannya.
Atid pun terlihat bingung,”Iya, benar juga katamu tadi. Baiklah, bagaimana kalau esok hari kita buktikan bahwa janji Allah itu benar adanya. Kita buktikan, apakah manusia pantas menjadi sosok khalifah di bumi atau tidak. Sekarang lebih baik kita lanjutkan zikir kita yang terputus tadi.”
Pukul 00.00.
Gemerlap kota yang masih tersisa,
tidak menyurutkan semangat mereka untuk merasakan dekat dengan Allah.
Dekat dengan Sang Khalik, Sang Maha Pencipta yang Agung.
Sementara di samping mereka,
Fulanah tidur dengan pulas,
terbang dengan mimpinya,
melintasi waktu dan tempat,
melupakan realita yang menunggu di balik kelopak matanya yang terpejam.
Menunggu hingga azan Subuh menjelang…
Pukul 04.00
“Laa ilaaha illallah…”
“Teet… teet… teet…”
Bunyi bel asrama membangunkan Fulanah. Dengan terburu-buru, ia menuju kamar mandi dan berpakaian. Bergegas, menuju Masjid agar tidak mendapat poin.
Dan Rakib pun bertanya, “Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang ketika bangun tidur tidak mengucap syukur kepada Allah dan berangkat menuju Masjid hanya karena poin, bukan karena mengharap ridha Allah semata?”
Atid terdiam. Ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Di Masjid, saat pembacaan wirid.
Fulanah yang masih terkantuk-kantuk meraih kertas catatannya,
membaca catatan tersebut alih-alih memohon ampun kepada Allah,
karena akan ada TB pada jam pertama.
Sementara di samping kiri dan kanan,
semua orang khusyu’ menikmati setiap kata dari doa yang dipanjatkan.
Sambil berharap mendapatkan kemudahan yang Allah janjikan dalam hidup mereka.
Dan Rakib pun bertanya, “Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang ketika waktu untuk mengingat Allah tersedia sekalipun, ia tetap menggunakannya untuk urusan duniawi?”
Atid terdiam, ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Pukul 05.00
Semua orang sedang mengantre di kantin untuk mendapat sarapan.
Saling menyapa dengan cerah, secerah sambutan fajar pagi yang bersinar di ufuk timur.
Saling melempar senyum, saling melempar tawa bersama.
Begitupun dengan Fulanah.
Dengan riang ia dan teman-temannya duduk menghadapi meja panjang.
Mengoper bakul nasi, mengoper botol kecap.
Sembari mengobrol, bersenda gurau melempar bahan candaan.
Seakan-akan keadaan seperti itu akan berlangsung selamanya.
Tibalah saat di mana mereka selesai sarapan.
Teman-teman Fulanah terus mengobrol,
tanpa menyadari bahwa ada yang terjadi di sana.
Fulanah tidak menghabiskan makanannya.
Padahal sejak mengambil, ia tahu itu adalah makanan yang ia tidak sukai.
Namun ia tetap mengambilnya.
Entah apa yang ia pikirkan, hanya Allah yang tahu.
Dan Rakib pun bertanya, “Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang menyia-nyiakan pemberian Allah, padahal di luar sana berjuta-juta orang memohon, menangis kelaparan demi sesuap nasi?”
Atid terdiam, ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Pukul 06.45
Sampailah Fulanah di apel pagi.
Lagi-lagi sapaan riang menyambut udara pagi.
Bertanya tentang PR, berbagi cerita,
apa saja.
Danton menyuruh mereka untuk berdoa,
agar hari itu mereka dirahmati oleh Allah.
Dan doa pun berlangsung dengan khidmat.
Namun ada satu yang mengganggu.
Fulanah tertawa cekikikan bersama teman-temannya.
Tidak besar namun cukup menyebalkan.
Saat ada teman yang mendiamkan,
mereka malah tertawa dan melanjutkan bercerita.
Dan Rakib pun bertanya, “Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang harusnya mengemban amanah sebagai khalifah untuk seluruh makhluk di muka bumi namun untuk menjadi teladan bagi teman-temannya saja ia tidak mampu? Ia malah mencontohkan hal yang buruk! Bercanda di mana teman-teman yang lain sedang menghadap Allah! Allah, Atid! Bukan orang tuanya, bukan gurunya, bukan temannya, bukan siapa-siapa! Allah, Atid! Menghadap Sang Pencipta mereka dan Sang Pemilik tubuh mereka! Mengapa ia begitu sombong, Atid? Mengapa?
Atid pun terdiam, ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Pukul 09.00
Kala guru menerangkan pelajaran,
semua sibuk menyimak.
Tak ada suara, tak ada canda tawa.
Mendengarkan ilmu yang diberikan oleh guru,
demi berjihad di jalan Allah,
demi memajukan Islam dan mengembalikan kejayaannya seperti zaman dahulu.
Fulanah pun demikian.
Ia menyimak, mencatat,
dan menguap sesekali apabila setan datang menggoda.
Kemudian guru tersebut keluar karena ada sesuatu.
Dan Fulanah berbicara,
sungguh kasar bicaranya tentang guru tersebut.
Sambil menjulukinya dengan sebutan yang tidak pantas bagi seorang guru,
kembali ia tertawa bersama dengan teman-temannya.
Ia tidak sadar,
sungguh ia tidak menyadarinya,
bahwa Rakib dan Atid selalu setia mengawalnya hingga liang lahat.
Dan Rakib pun bertanya, “Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang tidak menghormati gurunya sendiri padahal guru tersebut adalah pintu ilmu baginya? Ia menjadi tahu karena adanya guru. Padahal Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang begitu hebatnya mau menjadi budak bagi seseorang yang mengajarinya satu huruf. Ia adalah orang yang merugi karena tidak memuliakan guru! Bukankah begitu, wahai temanku Atid?”
Atid terdiam, ia tidak sanggup berkata apa-apa.
Pukul 09.45
Bel istirahat berbunyi.
Tanda melepas lelah dan penat setelah belajar.
Fulanah pergi ke luar kelas untuk jajan,
tentu saja seperti teman-teman yang lain.
Oh, ternyata ia lupa membawa dompet.
Kemudian ia berkeliling,
mencari temannya yang mempunyai uang lebih untuk ia pinjami.
Ketika ia menemukannya dan mengutarakan maksudnya,
kening sang teman berkerut.
Maksudnya apa?
Bukankah kemarin Fulanah baru meminjam uang yang cukup besar pula?
Lalu, sembari lalu Fulanah berkata,
bahwa ia lupa dan ia meminta maaf untuk itu.
Tapi ia harus meminjam uang lagi saat ini,
karena ia lapar sekaligus akan menggantinya dengan hutang yang lalu.
Temannya dengan setengah ikhlas akhirnya meminjamkan.
Ia mendesah dan membuka dompetnya.
Kalau orang sudah berjanji seperti itu, mau dibilang apa lagi?
Dan di antara kerumunan orang yang sedang jajan,
Di antara canda tawa yang tiada putus,
Dua makhluk ciptaan Allah dari cahaya itu tetap berzikir,
sembari berzikir mereka tetap melaksanakan tugas mereka.
Dan Rakib pun bertanya, “Inikah yang pantas menjadi khalifah, yang lupa akan janjinya sendiri dan menyusahkan orang lain padahal orang lain sangat membutuhkan janjinya tersebut? Inikah orang yang pantas menjadi khalifah padahal sedari pagi ia lupa menyapa Allah? Inikah makhluk itu, Atid? Inikah makhluk itu? Engkau harus jawab pertanyaanku, Atid!”
Atid terdiam, ia tidak sanggup berkata apa-apa.
(…to be continued)

(Ini adalah edisi terakhir Qawat di semester ganjil ini, so nantikan edisi selnjutnya dari Qawat di semester depan ya!)

Insan Cendekia Serpong, 2006