Ketika Penghambaan Itu Hanya Sebuah Skenario (Bagian 1)


*sedang mencoba mengumpulkan tulisan-tulisan dari alumni MANICS untuk dijadikan satu buku….Tulisan kali ini dibuat oleh alumni  IC angkatan 10 (Morganaxis).

oleh: Yurisa Nurhidayati (Psikologi UGM 07)

Insan Cendekia? Madrasah Aliyah Negeri berasrama ini kini telah berumur 12 tahun. Umur yang masih sangat muda, namun kualitas dan prestasinya tidak kalah dari sekolah-sekolah unggulan lain, SMAN 8 Jakarta misalnya. Nama Insan Cendekia pun tak asing lagi dikalangan pendidik dan telah terdengar gaungnya hingga ke seberang pulau di Nusantara. Hampir tiap bulan ada saja yang study banding ke madrasah yang didirikan oleh Pak Habibie ini, dari Sumatra, Kalimantan, Cirebon, Bandung, dan masih banyak lagi.

Tak hanya segudang prestasi yang dimiliki, namun Insan Cendekia (IC) juga terkenal dengan kemuliaan akhlak siswa/i-nya. Benarkah? Tidak heran kok, bibit awal IC adalah kalangan pesantren dan budaya-budayanya terus dijaga sampai saat ini. Lihat saja visi dan misi IC, yaitu untuk membentuk siswanya tak hanya cerdas dari segi IPTEK namun juga Imtaq-nya. Keren ya?

Indahnya…
IC, menurutku, bagaikan oase di tengah-tengah hingar-bingar kehidupan remaja saat ini. Bayangkan saja, jika Anda ke IC Anda akan disapa dengan salam. Tidak ada siswi yang berpakaian minim alias miskin bahan, longgar, dan jilbab menutup dada. Setiap hari kami melangkahkan kaki menuju masjid. Shalat berjamaah lima kali sehari dilanjutkan dengan wirid dan tadarus. Tidak ada siswa/i yang menyontek! Untuk ini aku sangat bersyukur, karena dari SD pun aku sudah berprinsip No Nyontek! Sebuah kebiasaan yang sangat langka dimana hampir semua SMA di Indonesia menganggap lumrah hal contek-menyontek ini, bahkan dilegalkan dengan adanya “tim sukses” saat UAN. Tidak ada narkoba, merokok, tawuran, kasus pornografi/aksi, dan lainnya di wilayah kampus IC! Ya iyalah, wong bersentuhan lawan jenis aja tidak ada. Bahkan ada yang dikeluarkan akibat pacaran.
IC seperti pesantren ya? Hmmm…

Analogi Kuda Liar?
Karena gaungan keindahan IC sudah merebak kemana-mana, maka tak heran jika siswa/i nya berasal dari berbagai wilayah nusantara. Ada yang dari Riau, Aceh, Lampung, Pontianak, Bontang, Papua, Jabotabek, Purwokerto, Solo, Banten dan masih banyak lagi. Yang mengikuti test menjadi siswa baru bisa mencapai 700 calon siswa untuk 120 kursi. Test yang diberikan pun sangat sulit, terdiri dari Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Agama Islam. Psikotest juga diberikan demi mendapatkan siswa/I yang tidak hanya “pandai” tetapi juga cerdas/smart dan berbakat. Bahkan sekarang IC sudah dicanangkan sebagai Madrasah Aliyah Khusus Berstandar Internasional (SK Dirjen Pendidikan Islam nomor DJ.II/438A/2006)!

Bagaimanakah kabar IC sekarang? Yaa begitulah, yang jelas keharuman akhlaknya mungkin tak semerbak dahulu pada saat pertama didirikan. Aku merasakannya.. Hehe..sok tau nih, kayak udah bertahun-tahun tinggal di ic aja.. Semula IC memang diperuntukkan bagi kalangan pesantren yang memiliki kemampuan intelektual yang sangat baik, namun semakin lama kadar kalangan pesantren semakin berkurang dan didominasi oleh kalangan umum. Otomatis keindahan akhlak islami IC yang berbasis kesadaran semakin berkurang. Siswa/i nya kini banyak yang berasal dari kalangan berduit yang lingkungannya seperti remaja Indonesia secara umum -tidak begitu islami dan cenderung hedonis. Budaya IC semakin lama semakin terkikis dan hal ini tidak terlihat secara kasar dan mencolok. Pelan tapi pasti.

Tentang kesadaran. Masih ingat dalam benakku, setahun yang lalu, waktu itu sedang ada penerimaan siswa baru. Aku dan seorang teman sedang duduk-duduk di warung Bu Ali. Tiba-tiba seorang bapak dari calon siswa baru mengajak kami berdialog. Awalnya mungkin pertanyaaan standar, kelas berapa, enak-tidak sekolah disini, bagaimana cara belajar disini, bagaimana kehidupannya sehari-hari, dsb. Namun, aku mulai tersadar mengenai sisi abu-abu IC ketika beliau berbicara tentang “kuda liar”, kata beliau “Siswa/i yang masuk kesini itu bagaikan kuda liar yang dikurung di sebuah kandang. Ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, kuda liar tersebut menjadi jinak dan ketika dikeluarkan bisa bermanfaat bagi manusia. Atau yang kedua, kuda liar itu justru semakin liar ketika dikeluarkan karena merasa terkekang”. Cukuplah hal tersebut menjadi sebuah perenungan bagi kami.

Pada waktu yang lain, aku berdialog dengan kakekku. Walau beliau sudah tua namun perhatiannya pada umat tidak serta-merta menjadi luntur. Beliau bertanya mengenai keadaan sekolahku. Dan beliau menanggapi bahwa mungkin akar menurunnya budaya islami IC adalah input.

Sebuah Keganjalan…
IC itu indah. Indaaaaaaaah sekali. Banyak yang kudapatkan dari bersekolah disini. Kegiatan yang sangat padat melatihku untuk disiplin. Nilai-nilai yang sering tidak memuaskan melatihku untuk bersyukur atas perjuangan yang telah kulakukan. Pergaulan dengan teman-teman yang sepaham maupun tidak, mengajarkanku arti kebersamaan dan toleransi. Kejenuhan dan banyaknya tuntutan melatihku untuk sabar dan ikhlas. Mengenal guru-guru, pegawai kantin, cleaning service, security, anak-anak ahad, dan lainnya melatihku untuk menghargai dan berempati. Fasilitas yang sangat teramat mencukupi, mulai dari kelas ber-AC, kantin, poliklinik, perpustakaan yang lengkap, lab komputer -walaupun internetnya ngadat-, dan guru-guru yang luar biasa, membuat aku yakin bahwa tidak ada alasan untuk mengeluh sebelum aku bisa mensyukuri seluruh nikmat-Nya.
Namun ada satu hal yang mengganjal pada benakku -yang kusadari ternyata bukan aku saja yang mengalami-. Yakni sebuah kesadaran yang terlupa. Apa maksudnya?

Dahulu aku memincingkan mata melihat para alumni yang tidak konsisten terhadap apa yang mereka sudah dapatkan di IC. Aku menjawab fenomena ini dengan analogi kuda liar yang kusebutkan di atas. Mereka yang tidak konsisten bagaikan kuda liar yang semakin liar. Tapi, teori ini tidak bisa menjawab ketika seorang alumni yang dahulunya adalah seorang teladan dan sangat alim justru berubah ke arah sebaliknya (termasuk kuda liar yang mana, ya? Hehe..). Tidak sedikit pula alumni yang dahulunya baik di IC begitu mudah berubah. Saat itu aku hanya bisa menjawab: itu karena lingkungannya tidak sekondusif di IC.

Tidak perlu jauh-jauh! Aku mengalihkan pikiranku pada teman-teman dan adik-adik kelas. Di luar kampus: tidak sedikit yang pakaiannya tidak seperti yang ia pakai di IC. Jilbabnya tak menutup dada atau pakaiannya sudah nge-press di badan. Shalatnya tidak serajin di IC. Pergaulannya tidak seaman di IC. What’s goin’ on? Alumni atau sebagian teman akan menjawab “Ini kan bukan di IC! Nyantai aja kali..” Ya, di luar IC tidak ada lagi pembina asrama, tidak ada lagi seksi kedisiplinan, hanya nurani yang bisa mengontrol akhlak kita. Aku pikir aku tidak seperti itu, aku bertekad akan istiqomah di jalan-Nya seperti apa yang kupelajari di IC.

Namun…
Aku sadar, ternyata aku terlalu sombong pernah merasa bahwa aku bisa terus istiqomah. Aku melupakan satu hal.

Waktu itu 10 hari terakhir Ramadhan. Hari-hari dimana Allah begitu mengobral ampunan dan rahmat-Nya. Beberapa hari sebelum pulang aku sudah berdoa pada-Nya supaya diberi kemudahan dalam beribadah di rumah. Beberapa planning sudah ku siapkan untuk menjaga ghirah Ramadhan di rumah besok. Tapi apa yang terjadi? Sepuluh hari terakhir tersebut kuisi dengan ibadah tapi tanpa GHIRAH/semangat! Aku benar-benar pusing. Gundah. Ya Robb ada apa dengan hati ini? Tadarus, sholat, I’tikaf terasa kering kerontang. Seolah-olah Allah memberikan sebuah clue pada aku, tiba-tiba sebuah SMS masuk dari seorang sahabat. Sahabat yang selama ini kupandang amat sholeh.
“Bagaimana sih caranya biar ikhlas dalam beribadah? Tolong dijawab.ya”
Aku terdiam membacanya dan stuck tidak tahu harus jawab apa. Aku tertohok, apa mungkin aku belum memurnikan ketaatan pada-Nya? Pertanyaan ini justru seperti sedang menyindirku.
Esoknya adalah puncak kefuturanku. Aku hanya bisa menangis. Aku ceritakan pada seorang sahabat. Aku katakan bahwa aku seperti orang yang munafik, keadaan hatiku jauh lebih buruk daripada ketika di IC. Kebaikan-kebaikan aku di IC hanyalah topeng belaka dan kini topeng itu hilang entah kemana. Ia pun menjawab,
“Ini mungkin adalah PR besar buat kita, Yur. Di IC kita terkondisikan untuk semangat ke masjid, shalat, dan lainnya. Sedangkan disini cuma ada kita dan Allah… Seharusnya hanya Allah sumber motivasi kita..”
Mata pun semakin menderas. Aku mengingat-ingat apa yang terjadi setiap liburan di rumah dan memang aku baru menyadari bahwa aku yang di IC berbeda dengan aku yang di rumah.
Usai Idul Fitri pun tiba dan aku tidak merasakan suatu kemenangan, alih-alih sebuah kesedihan. Sangat.

Kesadaran Itu…
Sesampai kembali di sekolah, kutumpahkan semua gundah kepada sahabat dekat. Kami berbicara terus mengenai kehidupan IC. Akhirnya aku menemukan suatu titik temu: kehidupan IC hanyalah sebuah skenario! Tunggu dulu, aku tidak bermaksud menyalahkan IC atau semacamnya, aku hanya menggambarkan “kehidupan IC” ini adalah seperti panggung sandiwara.

Skenario. Sebenarnya kata ini merupakan saduran dari seorang teman (thx to him). Mengapa aku menyebutkan kehidupan IC seperti skenario –khususnya bagi siswa/I nya? Ya, setiap siswa/I baru yang masuk ke dalam lingkungan IC harus mengikuti skenario yang ada. Berpakaian rapi islami, shalat berjamaah setiap waktu di masjid, memberi salam kepada sesama, dan lainnya. Sekali lagi tanpa kesadaran –pada umumnya. Tanpa kesadaran bahwa budaya IC adalah aturan Islam dalam rangka menghamba pada-Nya. Semua berlangsung karena dilihat oleh pembina asrama atau tim tata tertib. Semua berlangsung karena lingkungan. Semua berlangsung karena takut dicatat sebagai pelanggaran. Karena ingin terlihat alim. Karena ingin terlihat sempurna. Berlomba, tapi adakah kita lakukan semata-mata karena-Nya? Dan yang perlu dicatat adalah hal ini terjadi begitu saja dan dapat terjadi pada siapa saja. Termakan skenario. Ketika di luar panggung IC maka ia tidak lagi memainkan skenario itu lagi. (bersambung)

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: