Ketika Penghambaan Itu Hanya Sebuah Skenario (Bagian 2-habis)


Lalu…
Apakah IC memberi pendidikan “kesadaran” mengenai hal ini? Aku akan menjawab: Ya, namun agak kurang maksimal. Kebanyakan siswa/I IC masih menganggap “hal-hal Islami” disini hanya sebagai budaya IC dan bukan budaya Islam. Ibadah-ibadah itu hanya dirasakan sebagai ritual tanpa memaknai spiritualnya. Namun aku yakin IC telah menggenapkan segala usaha agar sisi spiritual siswa/I terpenuhi. Terus terang aku sangat bahagia dan bersyukur atas diadakannya training ESQ in house angkatan pertama di IC. Aku berharap langkah IC ini merupakan salah satu usaha dalam pendidikan kesadaran bagi anak didiknya.

Tentang sistem pendidikan IC, memang ada sedikit gundah yang kurasakan saat aku masih duduk di kelas 2. Ada hal yang berbeda antara dunia sekolah dan dunia asrama. Dunia asrama diibaratkan sebagai rumah kita, kita punya orang tua (baca: pembina asrama) disini. Orang tua mendidik kita agar disiplin, taat beribadah, dan lain sebagainya. Jika kita tidak menurut, kita akan diberi sanksi oleh pembina atau seksi kesiplinan. Namun aku bisa memahami, pembina asrama memiliki tanggung jawab yang luar biasa besar tak hanya kepada orang tua kami tetapi juga kepada Allah swt. Aku sangat sedih ketika melihat bahwa banyak siswa/i tidak menganggap para pembina asrama adalah orang tua mereka melainkan hanya sebagai para pengawas. Oya kau menganggap dunia asrama ini sebagai dunia religius (SQ). Yang kedua adalah dunia sekolah. Dunia yang menuntut kita dari segi intelektualitas. Dunia logika (IQ). Dunia ”nilai”. Kita digembleng habis-habisan terutama di bidang MaFiKiBI. Apa yang terjadi disini? Bagi yang tidak memiliki prinsip tentu saja harus hati-hati, jangan sampai menuhankan ”nilai di papan hijau”. Memang ada yang disayangkan dari sistem pengajaran di ic, tapi saya berusaha berpikir positif. Menurut saya pelajaran matematika, fisika, kimia, dan biologi adalah mata pelajaran yang luar biasa. (Sejujurnya aku sendiri baru menyadari hal ini). Mengapa luar biasa? Karena pelajaran2 ini adalah salah satu gerbang bagi pelajar untuk memahami siapa Pencipta kita. Keajaiban penciptaan dan bagaimana Ketelitian Sang Penggenggam Jagat Raya terjabarkan didalamnya, tidak ada di buku-buku sosial atau buku Fiqih. DNA, sel-sel, gravitasi, atom-atom, teori Big Bang, sistem saraf tubuh, dan masih banyak lagi ayat-ayat-Nya yang tertulis dalam jagat raya dan di dalam tubuh kita. Apalagi sudah banyak ayat Al-Quran yang terbukti kebenarannya secara ilmiah di era modern ini. Setiap hari kita tahu akan kebesaran-Nya tapi seringkali hati kita tak bergetar, padahal Rasulullah saw dan para sahabat yang tidak pernah tahu dan melihat hal yang kita lihat hari ini, begitu cinta dan taat pada Sang Khaliq. Lalu bagaimanakah jika Rasulullah dan sahabat dapat melihat apa yang kita lihat? Sungguh aku sangat malu pada beliau-beliau. Tidakkah kau perhatikan apa yang ada di bumi dan di dalam dirimu sendiri sehingga teranglah bagimu bahwasannya Al-Quran itu benar? Seharusnya penggalan surat Fushilats ini bisa menjadi reminder kita ketika belajar mafikibi. Di dunia sekolah yang penuh tuntutan dan kurangnya pendidikan kesadaran membuat kita seringkali lupa apa tujan hakiki kita belajar. Untuk apa? Buat siapa? Mengapa? Salah-salah bisa jadi kita salah kiblat. Kita menghapal beragam teori, siapa pencetusnya, bagaimana prosesnya, tetapi KITA TIDAK SADAR SIAPA YANG MENCIPTAKAN..!

Nah, sayangnya guru-guru ic kurang maksimal dalam hal ini. Guru-guru belum memberikan atmosfir yang cukup untuk membuat kita yakin akan keberadaan-Nya saat pelajaran mafikibi. Pendidikan Kesadaran Sebagai Makhluknya Sang Kholiq sangat minim.. Hanya ada satu-dua guru yang sering melakukan demikian. Pendidikan Kesadaran Sebagai Makhluknya Sang Kholiq bukan hanya tugas ustadz, guru aqidah akhlaq, guru Qurdits, atau guru Bahasa Arab, tetapi tugas seorang khalifah Allah dan tugas penerus Rasulullah saw. Aku yakin sebenarnya guru-guru ic ingin melakukan hal demikian, tetapi mungkin masih ada belenggu yang menyebabkan mereka segan melakukan hal tersebut. Mungkin malu karena tidak biasa atau merasa belum pantas melakukan hal tsb. Wallahu alam bisshawab…

Ada kalimat yang sering tersebut jika aku bersama teman atau alumni sedang ngomongin ic adalah ”IC itu steril namun tanpa imun..”. Kami setuju akan kalimat itu, tapi kemarin pandanganku sedikit berubah. Ada seorang alumni yang mengatakan bahwa ”Silakan direnungkan baik2. Sebenernya kalo ada alumni yg melenceng, aku jg ga tau ini sepenuhnya alumninya yg salah, atau emang ada yg kurang dalam sistem pendidikan di IC. Tapi gimanapun juga, introspeksi diri sndiri lebih baik drpada nyalahin pihak lain”. Aku mengangguk atas pendapat kakak yang satu ini. Aku mulai berpikir lagi, ini setelah berbicara dengan alumni yang lain, bahwa kesadaran itu pun butuh proses. Ada yang sewaktu di ic ia rebel dan tidak mau ambil pusing dengan tata tertib namun setelah lulus ia malah menyadari hikmah di balik semua itu. Namun alangkah baiknya jika sistem pendidikan ic memenuhi janji visi-misinya: memadukan imtaq dan iptek. Alangkah baiknya jika guru-guru ic memfasilitasi kita dalam mengenal-Nya.

Lalu apakah solusi bagiku yang tadinya berada dalam gundah? Kini aku sadar bahwa aku termakan pula ke dalam skenario IC. Aku kebagian peran sebagai tim Tata Tertib sewaktu MOS dan anggota Kedisiplinan OSIS 05/06. Aku menuntut diri untuk tidak telat atau absent shalat ke masjid padahal di rumah terkadang aku tidak terbangun saat adzan Shubuh. Di IC aku merasa nikmat beribadah namun di rumah, shalat kering kerontang. Di IC aku sangat bersemangat tadarus –kadang termotivasi ketika melihat teman-teman yang sedang tadarus- namun di rumah aku tetap mengaji tanpa ghirah. Aku pun bertanya, adakah hal ini terjadi karena ada motivasi lain selain karena-Nya atau hanya karena lingkungan IC yang mendukung? Aku pun mau tak mau harus jujur pada diri sendiri.

Kini, aku mempunyai suatu tekad yang akan ku-share pada teman-teman semuanya bahwa dimanapun kita berada disitulah sajadah terbentang. Tak berbeda antara di rumah maupun di IC. Keduanya adalah buminya Allah, maka tidak ada alasan untuk bermalas-malasan ketika kita (siswa/I IC) berada di luar lingkungan kampus IC. Aku tak mau lagi termakan skenario, aku ingin tulus karena-Nya tak peduli dimanapun. Dan tugas kita selanjutnya adalah mempertahankan kesadaran, yang jika kita telah bisa melakukannya maka tidak ada lagi ucapan “Ini kan bukan di IC! Nyantai aja kali..”.

oleh: Yurisa Nurhidayati

*sedang mengumpulkan tulisan kakak angkatan di IC

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: