Kader Steril & Kader Imun


Dalam sebuah qadhaya rowa’ie seorang al-akh mengeluhkan tentang kondisi liqo’atnya yang sudah jauh berbida dengan kondisi semasa SMA nya dulu. Ada kekeringan ukhuwah yang ia rasakan ketika memasuki dunia kampus ini? Format agenda pekanan tersebutpun dirasa lebih nyaman ketika waktu SMA dulu. Lalu apa sebenarnya yang salah dari kondisi yang berubah itu?

Sebenarnya apa yang dirasakan oleh beliau adalah sama seperti yang dirasakan (mungkin) hampir semua kader yang pernah terbina sejak awal ketika di SMA. Ada kondisi yang berbeda, suasana yang berubah dan lingkup kajian yang lebih luas yang menuntut adanya perubahan tersebut.

Nostalgia masa lalu memang akan menjadi kenangan yang indah. Siapapun pasti akan mengenang masa-masa yang pernah dilewatinya. Ketika pikirannya teringat akan masa-masa kelam, maka dia tak ingin mengingatnya lebih lama lagi. Pun begitupula ketika yang terlintas dalam bayangan kenangannya waktu itu adalah sesuatu yang sangat indah, maka sudah menjadi kecenderungan manusia menginginkan agar masa-masa indah itu kembali hadir seperti dahulu. Bahkan tidak jarang yang mengatakan, “ana mau kembali pada kondisi yang seperti dulu, nuansanya yang takkan pernah terlupakan sampai kapanpun.”

Wajar memang, bila ada keinginan-keinginan seperti itu. Tapi yang perlu diingat adalah kita hidup pada zaman ini, bukan zaman dahulu. Segala sesuatunya telah berubah. Dan perubahan zaman itu akan menuntut pula perubahan penyikapan kita atas kondisi yang berubah tersebut. Karena sejatinya tidak akan ada yang pernah berubah kecuali perubahan itu sendiri. Kita pasti akan berubah. Suasana halaqah pasti akan berubah. Materi kajian akan berubah. Murabbi akan berubah. Interaksi dengan sesama temanpun akan berubah. Intensitas pertemuan juga akan berubah. Dan semuanya akan berubah.

Namun, disamping perubahan itu, ada yang perlu kita perhatikan yaitu bahwa kita harus siap untuk menerima dan menjalani perubahan tersebut. Seorang al-ustadz pernah menyampaikan bahwa “Proses Tarbiyah ini harus bisa menghasilkan kader yang imun bukan sekedar kader yang steril“. Artinya adalah kader dakwah harus mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan barunya, bukan malah bernostalgia dengan masa lalu. Kader yang steril adalah kader yang sudah terbiasa dengan lingkungan yang sudah terjaga, terisolasi dan jauh dari pengaruh pencemaran lingkungan sekitar. Sehingga ketika ia sudah keluar dari masa ‘inkubasi’ itu, maka ia akan terkontaminasi dengan lingkungan sekitar yang bisa jadi tidak sesuai dengan apa yang ia rasakan sebelum keluar dari masa inkubasi itu. Jadilah ia seorang kader yang hanya menuntut untuk “kembali ke masa lalu”. Sedangkan kader yang imun adalah kader yang sudah dipersiapkan untuk bisa menjaga dan membentengi diri dari pengaruh lingkungan luar yang bisa jadi akan membuat kondisinya mengalami perubahan ke arah yang lebih buruk. Kader yang imun sudah terbina untuk tetap terjaga dalam kondisi dan situasi seperti apapun. Ia sudah siap untuk menatap masa depan sambil menjalani masa kini yang sedang dihadapinya. Kalau dulu seorang kader merasakan ukhuwah yang telah terkondisikan, sekarang saatnya belajar untuk memulai dan menciptakan ukhuwah itu.

Walahu a’lam bish showab

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: