Archive | Oktober 2010

Mengejar Hikmah


Selayaknya kita harus belajar untuk mengetahui apa-apa yang tersembunyi dabalik iradahNya. Kadang manis terasa pahit. Pun begitu juga hambar serasa memeliki kekuatan kecapan di lidah. Ah, terkadang manusia harus berjalan lebih cepat untuk bisa mengejar berlarinya hikamh yang tak kunjung diperhatikan. Ada banyak hikmah –sebenarnya- yang terangkum dalam setiaop episode kehidupan kita. Ia merangkai serak-serak mozaik yang terpisah dan menyusunnya menjadi ukiran perjalana hidup yang kadang terlihat indah, kadang pula terlihat justru menyebalkan.

Ya, penglihatan manusia memang terbatas. Kadang hikmah tak mampu untuk dipetiknya, padahal kan Allah sudah menebarkanberjuta hikmah di pohon-pohon takdirnya di muka bumi ini. Mengejar hikmah, berarti kita harus cepat-cepat untuk bisa menemukannya. Segera mendapatkannya adalah keberuntungan yang besar. Karena bisa jadi, bila hikmah itu tidak dikejar maka ia akan mengalir tak berbekas dan menghempas tak terasa. Ia sambil lalu melewati drama kehidupan manusia karena manusianya itu yang tak memiliki bashirah bahwa ada hikmah yang sedang menunggu untuk di jemputnya. Karena Hikmah adalah barang hilang orang beriman, dia mengambilnya jika menemuinya.

Terkadang, apa yang sulit bagi kita untuk melepasnya karena sudah terlampau jauh sesuatu itu merasuk ke dalam jiwa kita, Allah memberikan cara lain agar kita bisa melapasnya. Ketika berat rasanya untuk mengikhlaskan, Allah memberikan cara lain agar kita belajar untuk ikhlas. Ketika terasa sulit untuk bersabar, Allah menunjukkkan jalan kesabaran yang lebih indah. Namun semua itu lagi-lagi tergantung pada seberapa besar dan bersih hati kita untuk menjemput jalan-jalan Allah tersebut.

Saat apa yang kita cintai harus dikembalikan kepadaNya, maka bukanlah sedih dan murung duka yang harusnya tertampak dalam raut wajah kita. Dia sebenarnya hanya mengambil apa-apa yang tidak kita butuhkan dan apa-apa yang menjadi penghalang bagi manusia untuk lebih ikhlas dalam beribadah kepadanya. Menjadi hambaNya yang benar-benar Ikhlas adalah salah satu kunci untuk mendapatkan bashirah atas setiap takdir indahNya yang ditiupkan dalam alam raya ini. Manusi, sesosok jiwa yang memiliki kemampuan interpretasi yang lebih baik dengan makhluk lainnya di muka bumi ini, setidaknya harus lebih paham atas setiap interpretasi takdir kehidupan yang mengiringinya.

Bahwa akan ada suatu hikmah yang tersembunyi yang seharusnyaa kita dapatkan dari setiap peristiwa-peristiwa dalam rangkaian perjalanan hidup ini. Akan ada sejumput kasih sayang yang sama sekali belum pernah kita dapatkan dari seseorangpun di dunia ini. Kasih sayang yang bahkan langitpun merindi kasihsayang itu tiap pagi dan petang. Kasih sayang yang didamba seluruh makhluk di muka bumi. Kasih sayang yang akan membangkitkan energi bagi kehidupa. Itulah kasih sayang Allah.

Setiap hikmah yang terserak di bumi ini adalah bentuk kasih sayang Allah. Tinggal bagaimana manusia itu yang harus serius untuk mencari dan menjemput hikmah tersebut, meski harus berlari, berlarilah untuk mengejar hikmah. Karena disitulah kita akan semakin merasakan betapa besarnya kasih sayang Allah pada hambaNya.

Musim ‘Salju’ di UGM


*Di Depan Fakultas Teknik UGM

Foto ini diambil pada tanggal 30 Oktober 2010, saat abu Vulkanik Merapi menghujani bumi Ngayogyakarto.

Yogyakarta-Ebiet G. Ade


Seperti debu
Tajam menerpa mata
Aku tersentak dari lamunan
Ketika ku buka tirai jendela

Seperti angin
Lembut menyusup jiwa
Aku terpejam ku hirup nafas dalam
Di gerbang kotaku Yogyakarta

Hari ini aku pulang
Hari ini aku datang
Bawa rindu bawa haru
Bawa harap-harap cemas
Masihkah debu jalanan
Menyapa akrab langkahku
Masihkah suara cemara
Mengiringi nyanyianku

Seperti bintang
Diam menunggu fajar
Aku berfikir untuk membangunkanmu
Bergumul dengan gelora nafasmu

Di sini aku ditempa
Di sini aku dibesarkan
Semangatku keyakinanku
Keberadaanku pun terbentuk
Masih aku pelihara
Kerinduanku yang dalam
Setiap sudutmu menyimpan
Derapku Yogyakarta
Setiap sudutmu menyimpan
Langkahku Yogyakarta.

 

Michi wa Nippon Ni-2


O-ikutsu desu ka (umurnya berapa?)

Ungkapan ini digunakan ketika anda ingin menanyakan umur seseorang. Cara lain untuk menanyakan umur adalah “nan-sai desu ka”. Perbedaan antara ke-2 ungkapan tersebt adalah “o-ikutsu desu ka” lebih sopan daripada “nan-sai desu ka”.

A: O-ikutsu desu ka.
おいくつですか。
Umurnya berapa?
B: 23 desu.
23です。
23.
A: Mada wakai desu ne.
まだわかいですね。
Masih muda ya..
Versi Kanji
A: お幾つですか。 Umurnya berapa?
B: 二十三です。 23.
A: まだ若いですね。 Masih muda ya..

Lelaki Paruh Baya


Jangan pernah menunda untuk mengucapkan terimakasih atau menunda untuk silaturahmi, karena kita takkan pernah tahu apakah masih ada kesempatan untuk melakukannya.

Kemarin malam, tepatnya setelah sholat isya di masjid Al-Inayah, tiba-tiba ban motor yang saya naiki bocor. Padahal ba’da isya nya ada kajian bahasa arab di Asrama. Setelah menuntun motor itu, 15 menit kemudian akhirnya saya bisa menemui tempat tambal ban. Sesampainya disana ternyata juga udah banyak motor-motor yang antri untuk ditambal bannya. mungkin karena letaknya cukup strategis di samping GOR UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) ditambah lagi mungkin karena para pengguna motor itu lagi bernasib sama seperti saya, akhirnya saya harus antri cukup lama.

Setelah ditunggu dan ditunggu, ternyata cukup lama juga antriannya. Sekejap mata saya melirik sebuah warung sate yang terletak di sebelah barat tukang tambal ban itu. Insting ‘kelaparan’ saya pun muncul apalagi setelah mendorong motor cukup jauh he2… Langsung, tanpa menunggu lama, saya segera menuju warung sate tersebut.

“Pesen satu mas.”

“Pake lontong atau nasi”

“hmm.. Lontong aja”

sayapun segera mengambil tempat duduk. Entah mengapa saya mengambil posisi duduk di samping seorang bapak-bapak paruh baya padahal masih banyak meja dan kursi yang kosong di sebelahnya.

“kuliah dimana mas?” tanya bapak itu.

mungkin wajah saya yang masih kelihatan mahasiswa, makanya bapak itu langsung men-judge bahwa saya adalah mahasiswa.

“Di Teknik UGM pak”.

“Jurusan?”

“Teknik Fisika.”

“Udah semester berapa?”

“Semester 7”.

Belum sempat saya balik nanya, macam-macam pertanyaanpun ia lontarkan.

“Asli mana mas?”

“Bogor Pak.”

“Bogornya dimana?” (tuh kan, si bapaknya nanya terus)

“Di Parung.”

“Ooooo…”

“Kenapa pak? pernah kesana?”

“nggak….” (Gubrak)

Kirain si bapaknya itu tahu. Sambil ditanya ini-itu saya pun segera memakan sate yag sudah dari tadi tersedia. Belum lama saya makan, si bapak itu berdiri dan membereskan mejanya.

“Saya duluan ya mas.”

“oh,, iya pak.”

Seperti biasa, setelah satenya habis, si bapak langsung ke kasir untuk membayar satenya. Sambil makan, saya memperhatikan bapak itu. Kok ada yang aneh ya. Dia nunjuk-nunjuk saya dihadapan kasir itu.

“satenya sudah saya bayarin mas.”

ujar bapak itu sambil berseloroh pergi meninggalkan warung sate itu.

Jleb…kenapa rasanya saya diam saja tak bergerak??? Seketik saya langsung mengejar bapak itu. (Cepet banget jalannya si bapak)…

“Pak..tunggu..”

akhirnya bapak itu menghentikan langkahnya.

“biar saya aja yang bayar pak, berapa tadi?”

“gak usah buat mas aja.”

“nama bapak siapa?”

“Muttaqin” jawabnya dengan terburu buru.

“Kalau begitu, terimakasih pak,, boleh minta nomor hpnya?”

Disebutkanlah nomor hpnya itu sambil memberi tahu bahwa ia adalah orang asli Solo yang tinggal di Aceh.. (hmm..Bingung.. Kok ada di Jogja???)

Setelah saya ketik nomornya, bapak itu segera pergi.

“saya duluan ya,, wassalamu’alaikum”

“wa’alaikumsalam.. makasih pak”

Setelah bapak itu pergi dengan berjalan kaki, saya kembali ke warung untuk menghabiskan sate itu yang sempat tertunda.

Keesokan harinya,saya berniat untuk menghubungi bapak itu lewat nomor hp yang kemarin beliau berikan. Namun sayangnya, belum sempat saya hubungi, siang tadi hp saya terlindas oleh keganasan mobil-mobil dan motor di Jalan Kaliurang. hikss…. Sewaktu pulang dari kampus, hp itu jatuh terseloroh dari tas saya dan jadilah ia mangsa kendaraan-kendaraan itu hingga tak berbentuk lagi.

Satu hal yang bisa saya ambil pelajaran diantar banyak hikmah yang Allah berikan lewat tekdirnya itu adalah, jangan pernah menunda untuk mengucapkan terimakasih atau menunda untuk silaturahmi, karena kita takkan pernah tahu apakah masih ada kesempatan untuk melakukannya.

Ya, benar sekali. Rencananya saya sekaligus mau mengucapkan terimakasih ke bapak itu meskipun kemarin sudah sempat terucap, tapi mungkin kemarin ibarat angin lalu karena bapak itu terburu-buru pergi. Siapapun dia, semoga Allah membalas kebaikannya entah di dunia ataupun di akhirat. Dan semoga suatu saat nanti, saya bisa menghubungi beliau kembali, entah lewat apa, karena semua kontak yag ada di hp itu sudah hilang.

Dari Abu Hurairah rodhiallohu ‘anhu, Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa melepaskan seorang mukmin dari kesusahan hidup di dunia, niscaya Alloh akan melepaskan darinya kesusahan di hari kiamat, barang siapa memudahkan urusan (mukmin) yang sulit niscaya Alloh akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Alloh akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Alloh akan menolong seorang hamba, selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya. Barang siapa menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan memudahkan jalan baginya menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Alloh untuk membaca Kitabulloh dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan akan turun kepada mereka ketenteraman, rahmat Alloh akan menyelimuti mereka, dan Alloh memuji mereka di hadapan (para malaikat) yang berada di sisi-Nya. Barang siapa amalnya lambat, maka tidak akan disempurnakan oleh kemuliaan nasabnya.”

Sleman, 29 Oktober 2010, sambil menunggu pemberangkatan ke Posko BEM di Muntilan



Michi wa Nippon ni-1


~ ga hoshii (Ingin ~)

Dalam bahasa Jepang, ada 2 cara untuk mengungkapkan rasa keinginan. Yaitu:

1. ~ ga hoshii desu (saya ingin ~), digunakan untuk menyatakan keinginan untuk memiliki sesuatu. Misalnya: Saya ingin mobil, saya ingin kamera dst.

2. K.kerja (stem) tai desu, digunakan untuk menyatakan keinginan untuk melakukan sesuatu. Misalnya, saya ingin membeli mobil, saya ingin pergi ke Bali dst.

Pada bagian ini saya hanya akan menjelaskan point ke-1, yaitu keinginan untuk memiliki sesuatu.

Pola Kalimat
• ~ ga hoshii desu Saya ingin ~
• Kaban Tas
• Kaban ga hoshii desu Saya ingin tas
• Kaban ga hoshikunai desu Saya tidak ingin tas.

Note: Untuk membuat bentuk negatif, anda tinggal menghilangkan i dan kemudian tambahkan kunai.

Pola Kalimat
1. Atarashii kamera ga hoshii desu.
あたらしいカメラがほしいです。
Saya ingin kamera
2. A: Nani ga hoshii desu ka.
なにがほしいですか。
A: Mau apa?
B: Kuruma ga hoshii desu.
くるまがほしいです。
B: Saya ingin mobil.
3. Nani mo hoshikunai desu.
なにもほしくないです。
Saya tidak mau apa-apa.

Selamat Jalan Mbah..


Berbulan-bulan gunung itu menahan beban. Berbulan-bulan bergolak, akhirnya Gunung Merapi meletus. Melepaskan gemuruh perutnya untuk mengurangi lava yang dikandungnya. Gunung teraktif di dunia ini muntah. Muntahan itu yang membawa korban jiwa, termasuk Mbah Maridjan.

Sosok yang dengan pengabdiannya bertahun-tahun ‘menjaga’ merapi telah dikultuskan oleh sebagian orang, juga di’selebritis’kan melalui iklan salag satu produk jamu.

Ya, sosok fenomenal ini telah pergi. Terlihat bagaimana rasa simpati masyarakat, tidak hanya masyarakat jogja yang mengenalnya, tapi juga Indonesia bahkan dunia. Iring-iringan jenazah beliaupun tadi pagi berderet memanjang dari Rumah Sakit Sardjito melewati fakultas teknik UGM dan sampai memanjang di jalan Kaliurang. Banyak orang yang telah kehilanga, tapi yang tetap harus diingat bukanlah sosoknya, tapi ingatah pengabdiannya pada masyarakat Jogja selama 20 tahun terakhir ini.

 

Selamat Jalan mbah…

 

si pembajak


sebuah pesan singkat masuk.

 

“Assalamu’alaykum,,, jup, antum tlg segera ganti password email antum. tadi ane dpt email dari antum yang isinya link ke situs-situs yang gak bener. dan itu dikirim ke semua alamat temen-temen antum. Sepertinya ada yang membajak. ”

 

sontak saja saya membuka email itu dan meminta kepada teman yang memberikan informasi tadi untuk memforward link yang katanya berasal dari email saya itu.

Dan ternyata benar, si pengirim menggunakan email saya untuk mengirim link situs tersebut ke seluruh teman yang ada di friendlist saya. Sempat berpikir, kok bisa seperti itu? Jangan-jangan sudah banyak tema saya yang terpengaruh untuk percaya bahwa link tersebut adalah saya yang mengirimkan.. semoga saja itu tidak benar.

 

Dunia maya memang membuat seseorang harus berhati-hati dengan masalah privsinya. Karena akhir-akhir ini banya cyber crime yang terjadi dan sanga merugikan pengguna dan peselancar dunia maya. terutama mereka yang sering terhubung dengan akun jejaring sosial.

 

segera setelah mendapat sms itu, langsung saya ganti password email dan akun-akun yang lain. Semoga tak ada lagi yang iseng-iseng menyalahgunakan akun saya untuk hal-hal yang tidak baik. Kalau kata pak Tifatul berinternetlah yang sehatjangan gunakan untuk hal-hal yang bisa merugikan orang lain.

Getaran Kerinduan


“Aku bermimpi melihat saudaraku, Ahmad Hathibah sedang bermain bola. Lalu aku melihat kakinya terluka. Aku segera terbangun dan merasa cemas mengingat meimpi yang baru saja kualami. Istriku yang pada saat itu juga terbangun menyarankan agar aku menulis surat kepadanya, menanyakan tentang kesehatannya dan mendoakan agar dia dalam keadaan sehat wal afiat.” Ungkap Abbas As sisi dalam Fii Qafilah Ikhwan.

Mendengar saran dari istrinya tersebut, Abbas As Sisi segera menulis surat kepada Ahmad Hathibah. Ia telah mengenal Ahmad hathibah sejak mereka berdua berada dlam penjara rezim pemerintah Mesir pada tahun 1949. Pertama kali, ia melihatnya di pintu penjara Armeidan Mesir. Setelah beberapa kali bertemu dan berinteraksi, ikatan ukhuwah diantara mereka mulai terjalin. Saat itu penjara-penjara Mesir memang menjadi ruang tamasya jiwa bagi para anggota Ikhwanul Muslimin. Di sanalah jiwa mereka diuji dan diistirahatkan sejenak untuk mendaki lagi keterjalan dan liku jalan dakwah.

 

Setelah Abbas As Sisi keluar dari penjara, demikian pula Ahmad Hathibah, mereka tetap berinteraksi melalui surat. Ahmad Hathibah juga mengirimi Abbas As Sisi foto-foto Ikhwan yang dipenjara pada kasus yang sama dengannya. Saat itu Abbas As Sisi tinggal di Asiyuth. Sementara Ahmad Hathibah tinggal di Kairo. Jarak yang cukup jauh dari keduanya. Namun, jarak yang memisahkan itu tak menyurutkan Abbas As Sisi untuk sesekali datang berkunjung ke kediaman Ahmad Hathibah. Ini berlangsung hingga Ahmad Hathibah melanjutkan studinya di fakultas kelautan.

 

Mendapat surat dari Abbas As Sisi, Air mata Ahmad Hathibah tak dapat tertahankan. Derai airmata mengalir membasahi wajahnya saat ia membaca keseluruhan isi surat itu. Pasalnya Ahmad Hathibah menerima surat itu saat berada di rumah sakit Angkatan Laut di Iskandariyah. Ia pun memperlihatkan surat yang diterimanya itu kepada kepada kawan-kawan yang menjenguknya. Mereka pun sangat terkejut serta kagum akan ukhuwah yang terjalin di antara dua ikhwan ini. Dua hati saling menyatu karena cinta kepada Allah.

 

Jiwa atau ruh itu, yang kata Rasulullah, adalah sebagian dari tentara-tentara Allah akan menyatu dan menguatkan barisan dalam medan perjuangan. Namun bila diantara kedua jiwa itu tidak saling mengenal dan memahami, maka yang terjadi adalah perpecahan dan saling ketersinggungan. Adalah sebuah kisah yang sangat menyentuh dari Abbas As Sisi tatkala mampu merasakan kondisi yang diaami oleh saudaranya di belahan bumi lain.

 

Terpisah jarak bukan berarti getaran jiwa tak mampu menembus keterbatasan itu. Ia sudah membuktikan, bahwa jiwa yang terikat oleh ikatan ukhuwah tak akan terpisah oleh jarak. Bahwa hati-hati yang telah menyatu karena Allah akan merasakan manisnya sebuah persaudaraan.

 

Bahkan, seringkali segumpal kerinduan itu meradang sangat kuat ketika dua orang sahabat yang terpisah jarak dan bertahun-tahun tak pernah bertemu. Bukan karena tak ada getar jiwa di dalam hatinya, akan tetapi ada sinyal yang selalu terkirimkan kepada sahabatnya itu. Sinyal itu bernama kerinduan. Rindu yang teramat sangat, akan membangkitkan kembali getaran jiwa seseorang, sehingga bila dua orang sahabat mampu merasakan getaran kerinduan dalam jarak yang cukup jauh, mereka memiliki tangkapan frekuensi yang sama. Dua hatinya memancarkan getaran dan menerimanya dengan fase gelombang yang sama. Seorang dosen saya pernah mengatakan bahwa gelombang itu akan mengalami interferensi atau penguatan bila ia bertemu dalam fase yang sama.

 

Seseorang bisa memancarkan getar kerinduan bila ada sesuatu yang mengalami perubahan kondisi dibandingkan kondisi biasanya. Kondisi itu bisa berupa sakit,sedih, suka,duka, harap dan cinta. Dan yang bisa merasakan getaran kerinduan itu adalah mereka-mereka yang memiliki sinyal frekuensi kerinduan yang sama.

 

 

Getar kerinduan, sebuah rasa yang merupakan anugerah dariNya. Mampu merasakan, menginterpretasi dan menyikapi sebuah kondisi dalam sebuah perasaan yang hanya bisa dirasakan dan diketahui antara dua insan dan RabbNya. Jiwa-jiwa yang saling mencinta dan merindu karena Allah akan tetap merasakan bahwa ternyata jarak takkan mampu menjadi penghalang untuk tersampaikannya sinyal dan getar kerinduan itu. Ia meyakini bahwa biarpun tanpa ada kata yang terucap mengalir dari bibirnya, getar kerinduan itu akan tetap tersampaikan kepada hati yang lain nun jauh disana. Dan yakinlah, bahwa Allah telah menjadikan getar kerinduan itu sebagai anugerah sekaligus uujian bagi manusia agar mampu menjaganya dalam wilayah penghambaan kepadaNya. Bahwa suatu saat rindu itu tak harus selalu bergetar, karena akan ada suatu masa dimana rindu itu telah terobati dengan pertemuan yang sudah Allah gariksan.

“dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka. Akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Anfal: 63)

Sesungguhnya engkau tahu, bahwa hati ini t’lah berpadu
Berhimpun dalam naungan cintaMu.
Bertemu dalam ketaatan, bersatu daam perjuangan
Menegakkan syari’at dalam kehidupan.

Kuatkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Terangilah dengan cahayaMu yang tiada pernah padam.
Ya Rabbi bimbinglah kami.

Lapangkanlah dada kami, dengan karunia iman.
Dan indahnya tawakkal padaMu.
Hidupkan dengan ma’rifatMu, matikan dalam syahid di jalanMu.
Ya Rabbi,,, bimbinglah kami.

Sleman, 26 Oktober 2010
Di sebuah sudut asrama peradaban, LPI Yogyakarta
Saat iringan sirine ambulans evakuasi korban Merapi terus melintasi gendang telinga ini.

Merapi


Keringat meluncur deras membasahi setiap kerutan wajahnya. Dengan setumpuk ranting-ranting kering terselampir di atas kepala dan samping kanan pundaknya ia berjalan tertaih menuruni batu-bebatuan terjal. Tak bisa dibayangkan betapa lelahnya ia menjalani rutinitas seperti itu.

Di sudut lain, deretan truk-truk pengangkut pasir menelusuri sepanjang tepi aliran sungai. mengeruk pasir yang merupakan berkah tersembunyi dibalik bencana.

teringat bayangan-bayangan itu. menggelayuti malam dingin ini, sambil mendengar hiruk pikuk sirine ambulans yang melewati jalan kaliurang.

Merapi, semoga batukmu memberi berjuta hikmah…

Sleman, 26 Oktober 2010