Inspirasi pagi ini…


Pagi ini kami kajian rutin asrama diisi oleh tamu istimewa dari Jakarta. Beliau adalah ust. Ahmad Michdan, salah satu anggota TPM (Tim Pengacara Muslim) yang juga sekaligus inisiator terbentuknya tim tersebut pada tahun 1999 pasca tragedi Ambon. Sebenarnya beliau sudah datang dari hari Rabu kemarin, namun baru sempat untuk memberikan kuliah pada kami –santri LPI Jogja- ba’da shalat subuh tadi.

Kata-katanya begitu mengena sejak awal beliau memulai kuliah. Di awal, sebuah kata-kata meluncur begitu perkasanya dari mulut beliau saat menggambarkan bagaimana kondisi umat Islam Indonesia yang terjajah secara moral di negerinya sendiri. Umat islam Indonesia selalu menjadi kambing hitam yang berbuntut pada stigmatisasi teroris oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Ironisnya, tak sedikit dari kalangan umat islam sendiri yang turut memperkeruh stigma tersebut.

Penampilan beliau sangat sederhana dengan baju koko dan sarung serba putih serta peci yang turut menggambarkan bahwa ia bukan sembarang advokat, dimana saat ini mungkin sebagian besar kalangan advokat sangat rentan sekali dengan manipulasi dan gesekan berbagai kepentingan pihiak-pihak yang berkuasa. Beliau bercerita bahwa, sejak kelas 2 SMP, ia sudah memikul tanggung jawab layaknya seorang ayah, menafkahi keenam adiknya yang masih kecil-kecil serta berjuang untuk melanjutkan sekolah.

 

“7000-an umat Islam dibantai di Ambon, tapi tak banyak yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Bahkan terkesan kasus tersebut hanya konflik kecil antarsuku yang bisa dengan mudah diselesaikan. Duniapun tak bergeming. Tapi coba bandingkan dengan 250-an nyawa yang hilang pada kasus bom bali, atau 15 nyawa terenggut di J.W Marriot, Dunia gempar… Pemerintahpun langsung mengambil sikap, merespon peristiwa tersebut dan dinyatakan sebagai ancaman bagi keamanan nasional.”

 

Sesaat kata-katanya terdengar bergetar saat menyampaikan fakta-fakta di atas. Fakta yang selama ini tidak banyak ter expose oleh media, sehingga hanya menjadi angin lalu semata. Getar suaranya membuat pagi itu mata kami menjadi basah. Mendengar beberapa pengalaman beliau yang begitu istiqomah dalam membela hak-hak umat Isam yang terzhalimi.

“Hukum Islam adalah hukum yang terbaik, tarikh Islam adalah sumber inspirasi yang akan menambah wawasan dan pola pikir kalian, dan kalianlah yang harus melanjutkan perjuangan ini.”

Begitulah kata penutup yang beliau sampaikan kepada kami semua selaku santri asrama Lembaga Pendidikan Insani Yogyakarta. Waktu satu jam terasa begitu sangat singkat, padahal masih banyak yang ingin kami ketahui tentang kiprah dari Tim Pengacara Muslim, pun begitu juga yang beliau rasakan, sebenarnya masih sangat ingin berbagi lebih panjang lebar lagi kepada kami. Namun, mengingat hari ini, jadwal kuliah mahasiswa di fakultas masing-masing sangat padat ditambah lagi ada beberapa yang sedang Ujian Tengah Semester, maka kajian ba’da subuhpun diselesaikan.

Singkat memang, namun begitu membekas di hati kami, bahwa sebagai apapun kita, mahasiswa fakutas apapun, dengan diisiplin ilmu apapun, harus menjadikkan ilmunya bermanfaat. Tidak hanya untuk dirinya sendiri, akan tetapi juga harus mampu mengangkat martabat bangsa dan izzah umat Islam dan menyebarkan dakwah Islam sebagai Rahmatan lil ‘aalamin.

 

Ruang Kelas asrama LPI Jogja

Kamis, 21 Oktober 2010

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: