Lelaki Paruh Baya


Jangan pernah menunda untuk mengucapkan terimakasih atau menunda untuk silaturahmi, karena kita takkan pernah tahu apakah masih ada kesempatan untuk melakukannya.

Kemarin malam, tepatnya setelah sholat isya di masjid Al-Inayah, tiba-tiba ban motor yang saya naiki bocor. Padahal ba’da isya nya ada kajian bahasa arab di Asrama. Setelah menuntun motor itu, 15 menit kemudian akhirnya saya bisa menemui tempat tambal ban. Sesampainya disana ternyata juga udah banyak motor-motor yang antri untuk ditambal bannya. mungkin karena letaknya cukup strategis di samping GOR UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) ditambah lagi mungkin karena para pengguna motor itu lagi bernasib sama seperti saya, akhirnya saya harus antri cukup lama.

Setelah ditunggu dan ditunggu, ternyata cukup lama juga antriannya. Sekejap mata saya melirik sebuah warung sate yang terletak di sebelah barat tukang tambal ban itu. Insting ‘kelaparan’ saya pun muncul apalagi setelah mendorong motor cukup jauh he2… Langsung, tanpa menunggu lama, saya segera menuju warung sate tersebut.

“Pesen satu mas.”

“Pake lontong atau nasi”

“hmm.. Lontong aja”

sayapun segera mengambil tempat duduk. Entah mengapa saya mengambil posisi duduk di samping seorang bapak-bapak paruh baya padahal masih banyak meja dan kursi yang kosong di sebelahnya.

“kuliah dimana mas?” tanya bapak itu.

mungkin wajah saya yang masih kelihatan mahasiswa, makanya bapak itu langsung men-judge bahwa saya adalah mahasiswa.

“Di Teknik UGM pak”.

“Jurusan?”

“Teknik Fisika.”

“Udah semester berapa?”

“Semester 7”.

Belum sempat saya balik nanya, macam-macam pertanyaanpun ia lontarkan.

“Asli mana mas?”

“Bogor Pak.”

“Bogornya dimana?” (tuh kan, si bapaknya nanya terus)

“Di Parung.”

“Ooooo…”

“Kenapa pak? pernah kesana?”

“nggak….” (Gubrak)

Kirain si bapaknya itu tahu. Sambil ditanya ini-itu saya pun segera memakan sate yag sudah dari tadi tersedia. Belum lama saya makan, si bapak itu berdiri dan membereskan mejanya.

“Saya duluan ya mas.”

“oh,, iya pak.”

Seperti biasa, setelah satenya habis, si bapak langsung ke kasir untuk membayar satenya. Sambil makan, saya memperhatikan bapak itu. Kok ada yang aneh ya. Dia nunjuk-nunjuk saya dihadapan kasir itu.

“satenya sudah saya bayarin mas.”

ujar bapak itu sambil berseloroh pergi meninggalkan warung sate itu.

Jleb…kenapa rasanya saya diam saja tak bergerak??? Seketik saya langsung mengejar bapak itu. (Cepet banget jalannya si bapak)…

“Pak..tunggu..”

akhirnya bapak itu menghentikan langkahnya.

“biar saya aja yang bayar pak, berapa tadi?”

“gak usah buat mas aja.”

“nama bapak siapa?”

“Muttaqin” jawabnya dengan terburu buru.

“Kalau begitu, terimakasih pak,, boleh minta nomor hpnya?”

Disebutkanlah nomor hpnya itu sambil memberi tahu bahwa ia adalah orang asli Solo yang tinggal di Aceh.. (hmm..Bingung.. Kok ada di Jogja???)

Setelah saya ketik nomornya, bapak itu segera pergi.

“saya duluan ya,, wassalamu’alaikum”

“wa’alaikumsalam.. makasih pak”

Setelah bapak itu pergi dengan berjalan kaki, saya kembali ke warung untuk menghabiskan sate itu yang sempat tertunda.

Keesokan harinya,saya berniat untuk menghubungi bapak itu lewat nomor hp yang kemarin beliau berikan. Namun sayangnya, belum sempat saya hubungi, siang tadi hp saya terlindas oleh keganasan mobil-mobil dan motor di Jalan Kaliurang. hikss…. Sewaktu pulang dari kampus, hp itu jatuh terseloroh dari tas saya dan jadilah ia mangsa kendaraan-kendaraan itu hingga tak berbentuk lagi.

Satu hal yang bisa saya ambil pelajaran diantar banyak hikmah yang Allah berikan lewat tekdirnya itu adalah, jangan pernah menunda untuk mengucapkan terimakasih atau menunda untuk silaturahmi, karena kita takkan pernah tahu apakah masih ada kesempatan untuk melakukannya.

Ya, benar sekali. Rencananya saya sekaligus mau mengucapkan terimakasih ke bapak itu meskipun kemarin sudah sempat terucap, tapi mungkin kemarin ibarat angin lalu karena bapak itu terburu-buru pergi. Siapapun dia, semoga Allah membalas kebaikannya entah di dunia ataupun di akhirat. Dan semoga suatu saat nanti, saya bisa menghubungi beliau kembali, entah lewat apa, karena semua kontak yag ada di hp itu sudah hilang.

Dari Abu Hurairah rodhiallohu ‘anhu, Nabi sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa melepaskan seorang mukmin dari kesusahan hidup di dunia, niscaya Alloh akan melepaskan darinya kesusahan di hari kiamat, barang siapa memudahkan urusan (mukmin) yang sulit niscaya Alloh akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutup aib seorang muslim, maka Alloh akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Alloh akan menolong seorang hamba, selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya. Barang siapa menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, maka Alloh akan memudahkan jalan baginya menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Alloh untuk membaca Kitabulloh dan mempelajarinya bersama-sama, melainkan akan turun kepada mereka ketenteraman, rahmat Alloh akan menyelimuti mereka, dan Alloh memuji mereka di hadapan (para malaikat) yang berada di sisi-Nya. Barang siapa amalnya lambat, maka tidak akan disempurnakan oleh kemuliaan nasabnya.”

Sleman, 29 Oktober 2010, sambil menunggu pemberangkatan ke Posko BEM di Muntilan



About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

One response to “Lelaki Paruh Baya”

  1. gizhworld says :

    saya mengerti bagaimana rasanya ban bococr *sangat mengerti* karena terlalu sering -_-“

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: