Archive | November 2010

Gejolak


Ah siapa bilang saya tidak boleh marah, tidak boleh kecewa, tidak boleh menggerutu. Saya hanya manusia biasa, suatu saat punya kecenderungan pula untuk berlaku seperti itu. Orang-orang itu terkadang lupa dengan label yang disematkan kepada kawan terdekatnya, bahwa ketika mereka ‘mengharamkan’ orang lain untuk kecewa atas segala keputusan yang mereka keluarkan, maka saat itu pula mereka telah memasung kunci-kunci ukhuwah. Membelenggu setiap sendi-sendi ketsiqohan yang disuarakannya sendiri.
Ada saat sebenarnya kita harus belajar untuk memahami orang lain. Melihat bagaimana hak-hak orang lain yang diabaikan, padahal disatu sisi ia hanya menuntut kewajiban-kewajiban orang lain yang seharusnya dilakukan.

Dakwah (kampus), yang katanya untuk menyeru manusia, tidak lebih dari sekedar strategi-strategi yang menumpuuk dalam rutinitas syuro. Berharap ideal dalam setiap pengejawantahannya, namun melupakan sisi-sisi humanisme dimana para pelakunya adalah manusia juga, bukan robot yang mudah dikendalikan oleh pemegang remotenya. Sebenarnya ini juga salah, karena dakwah itu hakikatnya mengajak manusia ke jalan Allah dan dilandasi dengan niat untuk mencari ridho Allah serta dengan metode-metode yang sudah menjadi ajaranNya dimuka bumi ini.
Ketika dakwah hanya berorientasi kepada kepentingan kelompok, atau kelompok dalam kelompok, atau lebih parah lagi hanya untuk kepentingan individu, lalu apalagi nilai-niai mulia yang seharusnya ada dalam dakwah itu sendiri.

Adakalanya ketimpangan para aktifis terjadi ketika aktivitas yang dilakukannya hanya berkutat pada opersional keteknisan yang tidak diimbangi dengan pemahaman landasan gerak dan peningkatan muatan ruhiyah yang seharusnya menjadi bahan bakar utama dalam bergerak di dalam medan dakwah ini.

Mereka yang sudah mengabaikan substansi dakwah dan hanya mementingkan sarana-sarana dakwah, kemungkinan memiliki masalah dalam kondisi ruhiyahnya, hatinya kering dari basuhan embun-embun keimanan dan sejuknya keimanan yang menghembus dalam dan merasuk ke dalam setiap sendi-sendi raganya.
Lagi-lagi, jangan sampai terjebak dalam rutinitas yang tidak terupgrade, apalagi hanya mengulang kesalahan-kesalahan masa lalu yang tanpa sadar dari tahun ke tahun kesalahan tersebut selalu berulang. Ingatlah bahwa dakwah itu bukan hanya masalah akal, tapi juga masalah hati. Bahkan hati itulah yang terpenting. Bagaimana mungkin hati kita dapat berbicara dengan objek dakwah yang lain bila karat-karat keangkuhan selalu menutupi sentuhan langsung keindahan Islam.

Seseorang yang memupuk kesombongan dan ketidakpekaan terhadap sudaranya cenderung akan lebih mudah merendahkan orang lain dan menganggapnya tak memiliki arti apa-apa dibandingkan dengan dirinya sendiri.

Ya,, adakalanya saya boleh marah, boleh kecewa dan boleh menggerutu. Tentang ketimpangan ini. Tentang kekeringan ini. Tentang segala aktifitas yang tak melihat bagaimana perasaan manusia juga perlu diperhatikan. Saya juga punya perasaan yang bila pada kondisi tertentu tersentuh dengan begitu kasarnya, maka ia akan bergejolak memunculkan apa yang disebut dengan kekecewaan.

Menginterpolasi hari


Satu hal yang membuat saya sempat bingung hari ini adalah ketika harus menentukan mana diantara proyeksi masa depan yang harus saya ambil. Ketika ladang-ladang yang ingin saya tanami benih-benih kebaikan sangat banyak sekali, namun di satu sisi saya belum mampu untuk bisa menjaga ladang-ladang yang sudah tertanam benih itu untuk bisa menyemaikan hasilnya suatu saat nanti. Iya memang, manusia berhak untuk memutuskan jalan mana yang akan ia ambil. Karena konsekuensinya akan dirasakan dari setiap keputusan yang diambilnya.
Suatu saat, dosen saya pernah bercerita untuk memotivasi mahasiswa baru, bahwa belajar di jurusan teknik fisika itu bisa dianalogikan dengan usaha seorang penggali sumur. Ketika berada di jurusan ini, maka ia seperti penggali sumur yang mampu menggali sumur dalam jumah yang lebih banyak dibandingkan dengan penggali sumur dari jurusan lain. Akan tetapi, lanjut dosen saya itu menjelaskan, penggali sumur teknik fisika itu hanya menggali sampai kedalaman yang tidak terlalu dalam. Artinya, mereka memang mampu mempelajari berbagai konsep pelajaran yang dipelajari di semua jurusan, akan tetapi tidak sedalam apa yang dipelajari bila berada dalam jurusan aslinya. Berbeda dengan jurusan lain yang ilmunya sangat spesifik, namun bila dikaitkan dengan disiplin ilmu lain, maka mereka akan kesulitan menghubungkannya.

Manusia kadang diberikan begitu banyak pilihan-pilihan. Agar mereka bisa memanfaatkan daya nalar logika yang sudah Allah berikan, agar setiap pilihan yang mereka pilih setidaknya sudah mengalami proses seleksi kecenderungan hati.

Dalam setiap takdirnya, Allah pasti akan memberikan yang terbaik kepada hamba-hambaNya. Meski, seringkali Ia dilupakan dan diacuhkan, namun Rahmannya menyelimuti seluruh jiwa-jiwa yang ada di alam semesta ini.
Perkara hasilnya itu sesuai dengan keinginan kita atau tidak, maka itu diluar nalar manusia. Bahwa ada kehendak lain yang meminanya untuk menjalani takdir yang mungkin justru akan berbanding tebalik dengan yang diinginkannya.

Dalam surat al-baqarah: 216 Allah SWT berfirman;
“”Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.””

Oleh karena itu perbuatlah sebaik-baiknya agar kita bisa menjemput takdir baik itu. Berbuatlah yang terbak pada hari ini, karena itu bisa jadi akan berdampak pada hari-hari kita selanjutnya.

Kita bisa melihat masa depan melalui hari ini, seberapa besarkan perjuangan kita hari ini, maka sebesar itu pula kesuksesan yang akan kita peroleh. Kaena akan ada interpolasi hari yang akan kita temukan dalam setiap takdir kahidupan dariNya.

Kerendahan Hati (Taufik Ismail)


Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit

Jadilah belukar,

tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,

Jadilah saja rumput,

tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya

Jadilah saja jalan kecil,

Tetapi jalan setapak yang Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten

tentu harus ada awak kapalnya….

Bukan besar kecilnya tugas

yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu…. Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

Download Rekaman Serial Cinta by Anis Matta


Serial Cinta Anis Matta

1. Cinta Tanpa Definisi Download

2. Cermin Kebenaran Download

3. Puncak Iman Download

4. Mata Air Keluhuran Download

5. Rahasia Keajaiban Download

6. Kekuatan Perubahan Download

7. Perang dan Cinta Download

8. Sepenggal Firdaus Download

9. Negeri Cinta Download

10. Do’a Cinta Sang Imam Download

11. Di Rumahku Ada Cinta Download

12. Panggilan Belahan Jiwa Download

manhaj haraki-karakteristik periode pertama


KARAKTERISTIK PERIODE PERTAMA

(BERDAKWAH SECARA SEJMBUNGI-SEMBUNYI DAN MERAHASIAKAN STRUKTUR ORGANISASI) (Disarikan dari buku “Manhaj Haraki” karya Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban)

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi mereka yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Yusuf [12]:111)

 

Periode ini dimulai dari Gua Hira (kenabian) dan berakhir tiga tahun setelah kenabian, ketika turun firman Allah, “wa andzir ‘asyiiratakal aqrabiin” (asy-Syu’ara’ [26]: 214) dan firman Allah, “Fashda’ bimaa tu’maru wa a’ridh ‘anil musyrikiin” (al-Hijr [15]:94).

 

1. Dakwah Secara Rahasia

Rentang waktu periode ini selama tiga tahun, kendatipun demikian penulis tidak menjadikan rentang waktu ini sebagai patokan. Penulis juga tidak berpendapat bahwa gerakan Islam sekarang harus menempuh tahapan sirriyah selama tiga tahu. Menyangkut masalah ini, tidak ada nash yang memerintahkan agar kira mengikuti secara demikian. Tetapi, penulis memahami bahwa berakhirnya tahapan ini (sirriyah) telah terwujudkan, sebab kaum muslimin telah memiiki basis kuat yang dapat melindungi mereka dari pemusnahan. Ini bila dinilai dari sisi ualitasnya dan kaitannya dengan masyarakat Mekkah pada waktu itu. Dari aspek inilah kita harus meneladani. Rentang waktu bukan sesuatu yang penting. Tetapi, yang penting adalah hasil operasional da’wah dan kemampuannya untuk menghadapi masyarakat yang ada melalui para pendukung, tokoh-tokoh, dan lembaga-lembaganya.

2. Pelaksanaan Da’wah atas Dasar Pilihan

Pada periode ini, da’wah tidak dilakukan secara terbuka di pertemuan-pertemuan dan majelis-majelis umu. Tetapi dilakukan berdasarkan pilihan pribadi-pribadi da’i tentang karakterristik mad’u (orang yang didakwahi)

3. Berda’wah Melalui Intelektualitas Da’i dan Status Sosialnya

Akhlak yang baik dan dicinttai masyarakat merupakan “senjata ampuh” untuk menarik orang lain. Akhlak adalah kunci pembuka katup hati, betapapun kerasnya. Akhlak jualah yang akan menjauhkan seorang da’i dari reaksi pada saat timbul sifat negatif terhadap da’wah.

Pengetahuan juga tidak kalah penting dari akhlak. Yang dituntut dalam masalah ini bukan segala macam pengetahuan. Tetapi pengetahuan mengenai masyarakat dan kecenderungan-kecenderungannya. Pengetahuan yang menjeaskan tentang karakteristik jiwa manusia. Penggetahuan inilah yang akan memberikan daya gerak kepada da’i. Juga merupakan pintu masuk ke dalam hati mad’u. Setiap hati memiliki “gembok” tersendiri. Tugas seorang da’i iaah berusaha memelii kunci dari gembok-gembok tersebut dan mengetahui dari mana ia harus memasukinya, sampai hati tersebut menyambutnya.

Status sosial seorang da’i menjadikan dia “didengar” di tegah masyaraktnya sehingga akan meninggikan derajatnya. Status ini akan membebaskannya dari “meminta-minta” dan menginginkan apa yang dimiliki orang lain. Ia juga akan memberikan prestise ditengah masyarakat yang nilai tertingginya adalah harta dan popularitas. Status sosial secara alami memiliki hubungan yang erat dengan manusia yang menyebabkannya lebih berpengaruh terhadap mereka. Sebab, hubungan tersebut tampak lebih wwjar dan tidak dipaksakan, sehingga seorang da’i tidak perlu mencari faktor lain untuk berhubungan dengan mereka. Seorang guru atau pedagang misalnya, lebih mampu untuk bergerak daripada seorang pegawai yang terkungkung di dalam suatu struktur tertentu. (bersambung)

membohongi hati


Hati memang takkan pernah bisa dibohongi.

Biarpun beragam indera telah dipaksa untuk membohoginya, namun apa daya.
Biarpun berjuta alasan telah kucari pembenarannya. Ternyata hati berkata lain.

Sekarang, biarlah hati itu yang bicara. Bukan tangan, bukan lisan apalagi pikiran.

Bersihkan hati, sucikan ia……
Agar ia selalu bisa menangkap makna lain ketika banyak indera yang membohonginya.

Pelihara ia, dan simpanlah dengan rapi……
Agar tak ada debu-debu kealpaan yang menodai.

Sleman::18-11-10::8.17 a.m

seuntai hikmah manhaj haraki (bag-1)


KARAKTERISTIK PERIODE KEEMPAT
(NEGARA DAN PENGUATAN PILAR-PILARNYA)

(Disarikan dari buku “Manhaj Haraki” karya Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban)

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi mereka yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Yusuf [12]:111)

Periode Madinah terbagi menjadi dua tahapan besar yang berbeda:
Tahap pertama: Tahap Mendiriikan Negara dan Berakhir dengan Perang Khandaq
Tahap Kedua: Tahap Pertolongan Allah dan Kemenangan. Bermula dari perjanjuan damai Hudaibiyah hingga wafat Nabi SAW.

1. Gencatan Senjata Bersama Musuh-Musuh selain Kaum Quraisy dan sekutu-sekutunya
a. Piagam Madinah dan Genvatan Senjata bersama Yahudi
b. Hubungan dengan orang-orang Musyrik
c. Perjanjian damai dengan Bani Dhamrah
d. Perjanjian Menghentikan Agresi dengan Bani Mudlij
e. Berdamai ddengan Penduduk Daumatul Jandal

2. Membangun Basis yang Kokoh
Tahap Pertama: Perjanjian antara masyarakat Muhajirin dan Anshar
Tahap kedua: Mempersaudarakan antarpribadi dari kalangan Muhajirin dan Anshar
Tahap ketiga: Mempersaudarakan antarsesama kaum Muhajirin

3. Deklarasi Negara Islam
a. Pembangunan Masjid
Masjid sebagai basis operasional segala urusan dan tempat memulainya pergerakan.
b. Pengumandangan Adzan
c. Pemerintahan

4. Opsi Perang

Saat kekuatan thagut di beberapa negeri memaksa agar sebagian tokoh pergerakan Islam deiserahkan kepada mereka, dengan kompensasi kesertaan negeri itu dalam sebuha pergaulan atau perkumpulan antarnegara, kita tidak punya pilihan lain selain perang melawan jahiliyah.

5. Komunitas Kaum Paganis di Madinah

Disaat para pemimpin negara Thagut mengancam akan membantai penduduk yang selama ini aman dan damai jika mereka berani melindungi Mujahidi, mereka juga sangat antusias untuk mengirim antek-anteknya guna menegaskan bahwa perang, peenumpahan darah, dan rasa takut itu muncul karena keberadaan para Mujahidin itu serta semua sepak terjang mereka melawan kekuasaan yang semena-mena. Orang-orang umum biasanya sangat mementingkan kepentingan jangka pendek mereka dan ini membuat mereka serta merta menyambut propaganda semacam ini. Mereka lalu memihak kepada kekuasaan yang semena-mena untuk melawan saudara-saudara mereka, yaitu para Mujahidin.

6. Menceraiberaikan Komplotan itu dengan sentimen Nasionalisme dan kekeluargaan

Pemuda daakwah harus belajar pada sikap nabi dalam karakteristik ini, saat mereka melihat para qiyadah (pimpinan) dakwah dalam salah satu periodenya sedang mencari kepentingan bersama dengan musuh-musuhnya agar mereka berada dalam satu barisan dalam menghadapi musuh yang lebih berbahaya dan lebih besar. Saat mereka melihat para qiyadah dakwah menerima dialog dengan sentimen nasionalisme dan kebangsaan, atau ketika mereka sedang berbicara tentang kaum dhu’afa dalam salah satu strata masyarakat yang terzhalimi, diman akepentingan bersama itu dibicarakan dalam pertemuan berkala dengan satu musuh untuk melawan musuh lainnya.

7. Upaya pemecahbelahan Barisan Islam

Kita akan terjerembab ke dalam penghianatan jika membenarkan apa yang disebarkan oleh musuh-musuh tentang kita, baik itu merupakan kebenaran atau kebatilan, lalu dengan itu kita putuskan duduk perkaranya.
Penanganan terhadap kelompok-kelompok yang sedang diadu domba haruslah sesuai dengan tingkat pemahaman mereka dan rasa kepemilikan mereka terhadap barisan Islam.

8. Musuh Melecehkan Norma-Norma dan Kepentingan Sendiri

Perilaku musuh-musuh Allah dalam peperangan mereka melawan Islam dan kaum Muslimin, membuat mereka mulai berseberangan dengan nilai-nilai paling sederhana dan kebiasaan baik yang selama ini mereka jaga.
Para pemuda Islam harus tetap menyampaikan kalimat kebenaran dengan penuh kekuatan, disaat mereka tidak menemukan alternatif lain di hadapan mereka kecuali harus mengatakan keberadaan itu, sedangkan penyebutan kebenaran itu akan menjadi perang psikologis yang dapat menciutkan nyali musuh.

9. Bahaya Mengancam Qiyadah

Semua pemuda Islam harus selalu siaga untuk menghadapi serangan mendadak walaupun mereka sekelas qiyadah, khususnya ketika musuh kemungkinan berada diantara barisan prajuritnya.
Gerakan islam yang telah banyak kehilangan qiyadah dan para pemimpinnya karena pembunuhan, harus memahami permasalahan ini, sebagai bentuk pengamalan terhadap Sunnah Rasulullah SAW. Harus ada yang menjaga qiyadah-nya untuk menyelamatkan mereka dari serangan musuh karena penjagaan Allah hanya diberikan kepada Rasulullah SAW.
Jika para pimpinan dalam gerakan Islam mengandalkan keadilan, kesalehan dan ketaqwaan, maka mereka lebih memerlukan penjagaan, sebab musuh tidak tahan terhadap keberadaan mereka. Akan tetapi, mungkin diantara barisan kaum muslimin sendiri ada yang menentangnya, lalu mereka terbunuh di tangan anggota barisan kaum muslimin sendiri.

10. Kondisi Perang dan Bersatunya semua kekuatan

Tidak berarti bahwa ketika negara Islam sudah berdiri, maka urusan dengan musuh Islam selesai. Sesungguhnya pertempuran melawan musuh untuk mendirikan negara Islam baru merupakan tahapan awa di jalan ini. Ia hanyalah pertempuran pembukaan dalam sejarah peperangan dan merupakan titik tolak. Semua peperanga, pertempuran dan operasi militer terjadi setelah berdirinya negara Islam. Jika gerakan Islam perlu mengerahkan sebagian kekuatannya sebelum berdirinya negar Islam, ia lebih perlu mengarahkan kekuatannya untuk menjaga kaumMuslimin dari dunia Timur dan Barat untuk menjaga negar Islam.
Qiyadah Islam harus mempersiapkan segala kemungkinan, tidak boleh ada asumsi di kalangan ppemuda bahwa keberhasilan dalam pertempuran pertama adalah dengan selesainya persoalan dengan musuh. Akan tetapi, keberhasilan perang adalah dengan selsesainya satu babak lalu dilanjutkan dengan semangat tinggi kepada babak kedua. Jihad akan terus berlangsung hingga hari kiamat daan pada rambut kepala kuda terdapat ikatan kebaikan hingga hari kiamat. Karenanya, qiyadah Islam harus mempersiapkan kekuatannya untuk menghadapi musuh secara kontinu dengan semua yang dibutuhkan dalam sebuah konfrontasi: senjata, prajurit, harta benda dan amunisi.

 

untuk membaca Karakteristik Periode Ke Tiga silahkan klik https://salamic.wordpress.com/2010/11/15/sekarat-hikmah-manhaj-haraki-bersambung/

sleman::17-11-10::12.35

Se-pa-si


Foto Gayus, Foto Mirip Gayus, Foto Mirip Gayus yang sedang menonton Pertandingan Tenis, Foto yang diduga mirip gayus…….

Ahhh… terlalu panjang membeberkan sebaris kata. Karena berbagai aturan tak boleh men-judge secara langsung sebelum  hukum berkata “YA”. Tidak bolehkah kalau hanya menuliskan FotoGayus? Tanpa spasi. Toh itu sudah cukup untuuk membedakan dengan Foto Gayus. Tak ada pelanggaran kode etik di situ. Cukup dengan menghilangkan spasinya saja, ia sudah terbentuk menjadi kata baru, yang secara gramatikal mungkin tak pernah ada dalam kamus manapun.

Karena Spasi… terbentang jarak antara 2 buah kata yang membuatnya menjadi bermakna. Bila spasinya dihilangkan, maka makna barupun akan tercipta.

Pun, begitu juga antara dua insan. Ketika dalam keadaaan berjarak saja sudah bermakna. Apalagi bila sudah tak ada jarak lagi yang memisahkannya.

Sleman::16-11-10::11.17

Khutbah Idul Adha 1431 H oleh: Muhammad Anis Matta, Lc.


ALLAHU AKBAR 3X
Pagi ini memori sejarah kita membuka dirinya kembali, membawa kita pada kenangan ribuan tahun lalu. Pagi ini kita kenang lagi manusia-manusia agung yang telah menciptakan arus terbesar dalam sejarah manusia, membentuk arah kehidupan kita, dan membuat kita semua berkumpul di lapangan besar ini untuk sholat dan berdoa bagi mereka. Pagi ini kita agungkan lagi nama-nama besar itu: Nabi Ibrahim dan istrinya Hajar, Nabi Ismail dan Nabi Muhammad saw.

Bayangkanlah bahwa lebih dari 4000 tahun lalu tiga manusia agung itu – Ibrahim, Hajar dan Ismail – berjalan kaki sejauh lebih dari 2000 km – atau sejauh Makassar Jakarta – dari negeri Syam – yang sekarang menjadi Syria, Palestina, Jordania dan Lebanon – menuju jazirah tandus – yang oleh Al Qur’an disebut sebagai lembah yang tak ditumbuhi tanaman apapun –.

Bayangkanlah bagaimana mereka memulai sebuah kehidupan baru tanpa siapa-siapa dan tanpa apa-apa.Bayangkanlah bagaimana mereka membangun ka’bah dan memulai peradaban baru. Bayangkanlah bagaimana 42 generasi dari anak cucu Ibrahim secara turun temurun hingga Nabi Muhammad saw. membawa agama Tauhid ini dan mengubah jazirah itu menjadi pusat dan pemimpin peradaban dunia.

Bayangkanlah bagaimana Ka’bah pada mulanya hanya ditawafi 3 manusia agung itu, kini setiap tahunnya ditawafi sekitar 5 juta manusia dari seluruh pelosok dunia yang melaksanakan ibadah haji – dan dalam beberapa tahun ke depan akan ditawafi sekitar 12 juta manusia setiap tahun, persis seperti doa Nabi Ibrahim:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ ..

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah membawa sebagian dari keturunanku untuk tinggal di sebuah lembah yang tak tertumbuhi tanaman apapun, di sisi rumahMu yang suci..Ya Tuhan kami, itu agar mereka mendirikan sholat.. maka penuhilah hati sebagian manusia dengan cinta pada mereka..” ( Surat Ibrahim: 37).

Bayangkanlah bagaimana jazirah yang tandus tak berpohon itu dihuni oleh hanya mereka bertiga dan kini berubah menjadi salah satu kawasan paling kaya dan makmur di muka bumi, persis seperti doa Ibrahim:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آَمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ

“Dan ingatlah tatkala Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berilah rezeki kepada penduduknya berupa buah-buahan yang banyak..”(Surat Al Baqarah: 126)

Bayangkanlah bagaimana Nabi Ibrahim bermunajat agar lembah itu diberkahi dengan menurunkan seorang nabi yang melanjutkan pesan samawinya, dan kelak Nabi Muhammad saw menutup mata rantai kenabian di lembah itu, lalu kini – 1500 tahun kemudian – agama itu diikuti sekitar 1,6 sampai 1,9 milyar manusia muslim, persis seperti doa Ibrahim:

رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat Al Baqarah 129)

Bayangkanlah bagaimana – dari sebuah kampung kecil di Irak bernama Azar – Nabi Ibrahim datang seorang diri membawa agama samawi ini, melalui dua garis keturunan keluarga; satu garis dari istrinya Sarah yang menurunkan Ishak, Ya’kub hingga Isa, dan satu garis dari istrinya Hajar yang menurunkan Ismail hingga Muhammad, dan kini setelah lebih dari 4 millenium agama samawi itu – Islam, Kristen dan Yahudi – dipeluk oleh lebih dari 4 milyar manusia.

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (Surat Al Baqarah: 132).

ALLAHU AKBAR 3X

Pagi ini kita kenang lagi perjuangan 4 milenium lalu itu. Dan akan terus kita kenang hingga riwayat kehidupan berakhir saat kiamat datang kelak. Begitulah agar kesadaran sajarah kita tetap terjaga, bahwa;

Pertama, pertumbuhan adalah ciri agama.

Berbagai kerajaan, dinasti, rezim dan imperium datang silih berganti dalam sejarah manusia. Ia lahir, tumbuh besar, berjaya, lalu menua, melemah dan akhirnya mati. Tapi agama yang dibawa Ibrahim datang dan terus bertumbuh tanpa henti hingga kini. Tak ada kekuasaan – sezalim dan setiran apapun ia – yang sanggup menghentikan laju pertumbuhannya. Agama ini membangun kerajaan dalam hati dan pikiran manusia, bukan bangunan megah di atas tanah yang akan segera punah oleh waktu. Agama terus bertumbuh karena memberi arah bagi kehidupan manusia, mengakhiri pencarian akalnya akan kebenaran, kebaikan dan keindahan, serta memenuhi dahaga jiwanya akan cinta, ketenangan dan kebahagiaan. Lihatlah bagaimana doa-doa Nabi Ibrahim menjadi kenyataan satu per satu dan terus menerus sepanjang waktu. Nabi Ibrahim mengajarkan kita sunnatullah yang menjadi hukum sejarah sebagaimana disebutkan dalam Al Qur’an:

فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ كَذَلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

“Adapun buih itu pasti akan pergi sia-sia. Sedang yang bermanfaat bagi manusia akan bertahan di muka bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan”.(Surat Ar Ra’du: 17)

Kedua, agama adalah narasi terbesar dalam sejarah manusia.

Arus sejarah yang digerakkan oleh narasi Barat lahir dari ruh Kristiani. Sementara arus sejarah yang digerakkan narasi Timur lahir dari Islam. Jadi di Barat maupun di Timur agamalah yang membentuk semua peradaban besar yang pernah menghiasi lembar-lembar sejarah manusia. Dan selamanya akan terus begitu. Semua pemberontakan manusia untuk keluar dari jalan agama – seperti yang kita saksikan di abad yang lalu melalui gelombang sekularisme dan ateisme, baik atas nama ilmu pengetahuan atau atas nama yang lain – hanya akan berujung dengan kesia-siaan dan kesengsaraan. Lihatlah misalnya bagaimana perang dunia pertama dan kedua mengorbankan sekitar 94 juta nyawa manusia. Pemberontakan itu lahir dari keangkuhan manusia yang terlalu rapuh, disusun oleh akal yang terlalu sederhana untuk melawan kebenaran abadi yang dibawah oleh agama.

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ..

“Allah adalah cahaya langit dan bumi…”(An Nuur: 35 )

Ketiga, Islam adalah agama masa depan manusia.

Rasio pemeluk Islam adalah sekitar 1 orang Muslim untuk setiap 1000 penduduk bumi di zaman Nabi Muhammad saw. Kini angka itu berkembang menjadi 1 orang Muslim untuk setiap 5 orang penduduk bumi, termasuk sekitar 100 juta muslim yang menghuni benua Eropa dan sekitar 100 juta muslim yang menghuni China daratan.

Semua perang yang ditujukan untuk merusak citra agama ini – seperti label fundamentalisme dan terorisme – demi mencegah manusia memeluknya tidak akan sanggup mencegah pertumbuhan dan penyebarannya, bahkan di jantung sekularisme seperti Eropa dan Amerika.

Sementara itu semua sistem dan ideologi lain mulai bangkrut satu per satu seperti komunisme. Dan kini kapitalisme pun sedang menyusul secara perlahan dan pasti. Semua sistem dan ideologi itu tidak akan mampu memenuhi tuntutan dan dahaga manusia akan kebenaran, keadilan dan kebahagiaan. Dunia membutuhkan pencerahan baru, dan hanya Islamlah yang bisa membawa cahaya. Dunia membutuhkan sumber solusi, dan hanya Islamlah yang bisa menawarkan jalan keluar.

ليبلغن هذا الأمر ما بلغ الليل و النهار ..

“Urusan (agama) ini pasti akan menjangkau seluruh manusia, sepanjang siang dan malam menjangkau (seluruh pelosok bumi)”.

Keempat, bekerja dan berkorban adalah tradisi kebangkitan dan kepemimpinan.

Bekerja itu seperti menanam pohon. Berkorban itu adalah pupuk yang mempercepat pertumbuhannya. Kita mengenang Nabi Ibrahim hari ini karena ia hanya bekerja menabur kebajikan di ladang hati manusia. Tanpa henti. Kita mengenang Nabi Ibrahim hari ini karena pengorbanannya yang tidak terbatas.

Makna hidup kita – baik sebagai individu maupun sebagai umat dan bangsa – terletak pada kerja keras dan pengorbanan tanpa henti dalam menebar kebajikan bagi kemanusiaan. Bekerja adalah simbol keberdayaan dan kekuatan. Berkorban adalah simbol cinta dan kejujuran. Itu nilai yang menjelaskan mengapa bangsa-bangsa bisa bangkit dan para pemimpin bisa memimpin. Hanya mereka yang mau bekerja dalam diam yang panjang, dan terus menerus berkorban dengan cinta, yang akan bangkit dan memimpin. Itulah jalan kebangkitan. Itulah jalan kepemimpinan. Itu nilai yang menjelaskan mengapa Islam – di masa lalu – bangkit dan memimpin peradaban manusia selama lebih dari 1000 tahun. Dan itu jugalah jalan kebangkitan kita kembali: bekerja keras dan berkorban tanpa henti. Dengarlah firman Allah swt:

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan katakanlah (hai Muhammad), bekerjalah kalian, nanti Allah yang akan menyaksikan amal kalian, beserta RasulNya dan orang-orang yang beriman”. (Surat At Taubah:105)

ALLAHU AKBAR 3X

Hari ini – sebagaimana kita mengenang manusia-manusia agung itu; Nabi Ibrahim dan istrinya Hajar, Nabi Ismail dan Nabi Muhammad saw – kita juga mendengar rintihan hati umat manusia dari berbagai pelosok dunia. Di belahan dunia Islam ada rintihan anak-anak Palestina, Irak, Afganistan, Sudan, dan Khashmir yang membutuhkan solidaritas dan bantuan kita untuk membebaskan mereka dari kezaliman dan penjajahan. Bahkan bumi pertiwi sedang berduka. Hampir setiap saat, kita dikagetkan dengan berbagai macam bencana dan musibah, tak ada ujungnya. Bencana ada di sekitar kita, lebih-lebih di bulan ini, mulai dari banjir lumpur Warior, tsunami Mentawai dan gunung Merapi, bahkan gempa bumi setiap hari. Ratusan jiwa meninggal.

Sementara di belahan dunia lainnya, ada milyaran jiwa manusia yang hidup dalam kehampaan dan juga menanti para pembawa cahaya kebenaran untuk menyelematkan dan mengeluarkan mereka dari himpitan hidup yang pengap kedalam rengkuhan cahaya Islam yang penuh rahmat. Tangis hati para korban kezaliman di Dunia Islam dan rintihan jiwa para pencari kebenaran di Dunia Barat sama-sama menantikan kehadiran kepemimpinan baru yang datang membawa cahaya kebenaran, cinta bagi kemanusiaan, tekad untuk bekerja keras serta kemurahan hati untuk terus berkorban.

Marilah kita bangkit membebaskan diri kita dari keserakahan dan kebakhilan, kesedihan dan ketakutan, kelemahan dan ketidakberdayaan, egoisme dan perpecahan. Marilah kita bangkit dengan semangat kerja keras dan pengorbanan tanpa henti, melupakan masalah-masalah kecil dan memikirkan serta merebut peluang-peluang besar bagi kejayaan umat dan bangsa kita. Marilah kita bangkit dengan kepercayaan penuh bahwa Islam adalah masa depan manusia dan bahwa masa depan adalah milik Islam. Marilah kita bangkit dengan semangat dan keyakinan penuh bahwa kita bisa memimpin umat manusia kembali jika kita mau bekerja keras dan berkorban demi cita-cita besar kita.

ALLAHU AKBAR 3X

http://www.dakwatuna.com

(lanjutan) sekarat hikmah manhaj haraki periode ketiga


KARAKTERISTIK PERIODE KETIGA (MENDIRIKAN NEGARA)
(Disarikan dari buku “Manhaj Haraki” karya Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban)

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi mereka yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Yusuf [12]:111)

(lanjutan dari….https://salamic.wordpress.com/2010/11/15/sekarat-hikmah-manhaj-haraki-bersambung/)

11. Pembentukan Pemerintahan Islam melalui Pemilihan

Konsep pemilihan dalam sistem pemerintahan Islam merupakan konsepsi yang sangat mendasar. Anehnya, ditengah barisan gerakan Islam ada orang yang mempertanyakan prinsip ini. Mereka yang mempertanyakan prinsip ini berpandangan bahwa amir dalam Islam adalah hakim mutlak yang tidak boleh dibantah kecuali jika ia bermaksiat kepada Allah. Jika pimpinan sudah menentukan pilihan maka pendangan-pandangan dari bawah (basis) tidak perlu digubris. Ini adalah pandangan-pandangan keliru.

12. Pemimpin Menentukan Pertempuran

Untuk melakukan pertempuran dilakukan persiapan. Kewajiban para prajurit adalah senantiasa siap membawa pedang di setiap saat.Sedangkan, kewajiban pemimpin adalah jauh lebih besar dari itu; mengkaji ribuan kemungkinan berhasil atau gagal dalam melancarkan pertempuran.

13. Pemimpin Menentukan Kelahiran Negara Islam

Mengumumkan suatu peperangan melawan negara kekadfiran atau mengumumkan berdirinya negara Islam sangat terkait erat dengan berbagai kapasitas yang dimiliki olleh jama’ah Islam yang bekerja secara terencana dan tertata rapi. Masalah seperti ini tidak boleh dilakuka secara emosional, tetapi harus dilakukan berdasarkan keputusan pimpinan yang telah mengkaji segala aspek dan kemungkinannya.

Sesungguhnya pengumuman berdirinya negara Islam terkat erat dengan kondisi-kondisi yang tersedia untuk itu, berdasarkan penilaian pimpinan, bukan berdasarkan penilaian individu.

Kemashlahatan politik kadang-kadang menuntut penundaan pengumuman identitas revolusi Islam atau gerakan Islam tersebut, sebulan kemuudian atau bahkan bertahun-tahun. Keterlambatan atau penundaan ini bukanlah bentuk penyimpangan dari Islam. Juga bukan merupakan sebuah kesalahn jika orang-orang yang melakukan revolusi tersebut tidak segera berbicara tentang Islam, bahkan mereka menyebutkan sebagian prinsip nasionalisme guna menutupi sampai tercapainya tamkin ‘kekuasaan’ secara mantap.

Jika pemimpin menyembunyikan sebagian masalah pada para prajuritnya, maka tidak boleh dituduh sebagai pendusta, menipu atau menyesatkan, sekalipun kondisi memungkinkan untuk menyampaikannya. Hal ini tercermin pada peristiwa ba’iat aqabah yang disembunyikan oleh Rasulullah kepada kaum Muhajirin kecuali hanya Abu Bakar dan Ali saja.

Tidak dapat disalahkan jika sebuah gerakan Islam tidak bisa bertindak secara langsung untuk melindungi salah seorang anggotanya. Mungkin karena kapasitas yang belum memadai atau karena kemashlahatan dalam perencanaan, supaya tidak diketahui hubungannya dengan orang yang bersangkutan.

14. Dimulainya Perang Informasi Antara Kedua Negara

Sebenarnya, media massa Islam telah siap sejak awal karena ia memiliki pengaruh yang sangat besar bahkan lebih tajam dari pedang.

15. Memilih Tempat Hijrah dan Membentuk Komunitas di dalamnya secara Sirriyah

Ketika gerakan Islam kontemporer di suatu negeri bertolak dalam jihadnya menegakkan negara, maka tidk ada pilihan dihadapannya selainnegara tetangga thagut kafir tersebut sebagai markas tajammu’ –nya. Gerakan Islam secara umum, dalam mencari tepat (bertolaknya pergerakan) tidak selalu memiliki kebebasan memilih. Kadang-kadang situasi dan kondisi memaksanya pada suatu tempat yang sama sekali tidak cocok. Tetapi ia harus menerimanya sampai ditemukan tempat yang lebih cocok.

16. Konspirasi Musuh untuk Membunuh Qiyadah

Pembunuhan qiyadah merupakan sasaran utama musuh. Para musuh itu beranggapan bahwa terbunuhnya seorang pemimpin berarti menupas secara total jihad dan revolusi. Kendatipun peran seorang amir dalam sebuah jama’ah sangat besar, tetapi anggapan para musuh itu tidak selamanya benar. Mungkin ia akan menimbulkan kendala dalam gerakan atau menggagalkan revolusi, tetapi nilai-nilai Islam yang telah masuk ke dalam jiwa-jiwa para pemuda da’wah tidak mungkin akan terkikis habis karena terbunuhnya pemimpin.

17. Kecerdasan Perencanaan Manusia dalam Hijrah

  • Tidurnya Ali di Tempat Tidur Nabi SAW

Jibril mendatangi Rasulullah SAW seraya berkata: “Jangan engkau tidur malam ini ditempat yang biasa kamu tiduri.”

Kita perlu menyadari kewajiban kita dalam melakukan persiapan untuk menghadapi musuh kendatipun kita bergantung sepenuhnya kepada Allah. Kita tidak boleh menoleransi kelemahan, kekurangan dan keteledoran dengan dalih takdir kemudian meratap karena pertolongan Allah tidak kunjung tiba kepada kita, padahal kita sendiri yang bertanggung jawab atas semuanya itu.

  • Keluar di Siang Hari

“Biasanya….” kata Aisyah “…Rasulullah SAW selalu datang ke rumah Abu bakar pada pagi hari atau sore hari, kecuali pada saat beliau diizinkan untuk berhijrah darii Mekkah meninggalkan kaumnya. Rasulullah SAW datang kepada kami di pertengahan kami, pada saat yang tidak biasanya beliau datang.”

Pada siang hari, orang-orang Mekkah sangat sedikit yang berkeliaran di luar rumahnya. Apalagi waktu itu merupakan bulan terakhir dari bulan-bulan musim panas.

  • Keluar dari pintu belakang

“…Kemudian keduanya keluar dari pintu belakang rumah Abu Bakar…”

Keluar dari ‘pintu rahasia’ yang jauh dari pengawasan berarti suatu keharusan untuk selalu menjaga sirriyah dan mempertimbangkan berbagai kemungkinan perencanaan musuh dan pengawasannya.

  • Menuju ke Gua

“…Kemudian keduanya berangkat menuju ke gua Tsuur lalu masuk ke dalamnya…”

Keberangkatan Rasulullah ke arah Gua iani telah mengecoh musuh dan menggagalkan rencana mereka karena musuh akan terfokus pada jalan menuju Madinah.

  • Gua terletak di Luar Jalur Madinah

Gua Tsur terletak di sebelah selatan Mekkah. Tidak terletak di antara jalur Mekkah-Madinah yang berada di sebelah utara Mekkah.

  • Intelijen di Mekkah

“Abu Bakar r.a memerintahkan anaknya, Abdullah bin Abu Bakar, supaya mendengarkan komentar penduduk Mekkah di siang hari, kmudian pada sore harinya ia sampaikan kepada Rasulullah SAW dan Abu Bakar.”

Semakin mengetahui realitas musuh dan rahasia-rahasianya, maka pimpinan akan semakin berhasil dalam melaksanakan program dan rencana-rencananya.

  • Jaminan Perbekalan

“…Seriap sore, Asma’ binti Abu Bakar berangkat membawa makanan untuk Nabi SAW dan Abu Bakar…”

Kemungkinan persinggahan di Gua ini akan memakan waktu yang lama, sehingga kalau perbekalan makanan merreka habis kemungkinan mereka akan meninggal karena kelaparan.

  • Menghilangkan Jejak

“…Abu Bakar memerintahkan Amir bin Fahirah, mantan budaknya supaya menggembalakan kambingnya di siang hari kemudian di sore harinya memerahkan susunya untuk keduanya.”

Para Mujahid harus mengenal segala sarana sirriyah yang diperlukan. Mengabaikan salahsatu unsur ini berarti akan mengakibatkan terbongkarnya basis itu oleh lawan.

  • Berlangsung selama tiga hari

Tinggal lebih lama lagi di dalam gua kemungkinan akan menarik perhatian orang lain mengingat Asma’ dan Abdullah setiap hari selalu naik turun bukit.

  • Kehendak Ilahi Bertindak

Tatkala upaya manusia pun telah optimal dikerahkan, maka Allah tidak akan menyerahkan Rasulullah SAW dan Abu Bakar kepada musuh.

Para da’i harus selalu menyadari dan meyakini bahwa pertolongan Allah senantiasa diberikan kepada mereka, setelah mereka mengerahkan segenap potensi daan usahanya. Mereka juga harus meyakini seyakin-yakinnya bahwa kemenangan itu sepenuhnya berada di tangan Allah.

  • Memanfaatkan Keahlian Kaum Musyrikin

“…kemudian keduanya membayar Abdullah bin uraiqith -seorang musyrik- untuk menjadi petunjuk jalan (ke Madinah)…”

Dalam rangka istifadah (memanfaatkan) potensi-potensi non-Muslim seperti itu, kadang-kadang terpaksa harus dimanfaatkan oleh gerakan islam selama dapat dijamin bahwa ia tidak akan membocorkan rahasia kepada musuh.

  • Melanjutkan Pengelabuan

Para da’i hendaklah memiliki kesadara, kecerdikan, kegesitan dan ketajaman pikiran sehingga mereka mampu mengelabui musuh mereka dan meloloskan diri dari cengkeramannya tanpa harus berdusta secara nyata, kecuali dalam keadaan darurat. Pada dasarnya, untuk mewujudkan tujuan ini mereka leluasa menggunakan bahasa kinayah (tidak langsung) dan majaz (bukan arti sebenarnya). Salah satu prinsip mengahadapi musuh, kata nabi SAW:

“Sesungguhnya ungkapan dengan bahasa yang tidak terlalu lugas dapat menghindarkan kedustaan.”

  • Berjalan ke arah Yaman

Berjalan di jalan yang tidak mungkin terjamah oleh musuh akan memudahkan para da’i untuk menghindari sergapan musuh.

  • Sikap tehadap Suraqah

Dalam gerakan Islam yang berjuang untuk mengembalikan kehidupan Islam di muka bumi, ada pelajarran penting harus kita pahami bahwa kita harus memiliki kemampuan untuk menentukan siapa kawan dan siapa lawan diantara barisan orang-orang kafir itu sendiri.

Gerakan Islam dalam perjalanannya menegakkan negara Islam kadang-kadang harus bersekutu dengan musuh yang dekat dan bekerja sama dengannya, bahkan mungkin meminta bantuannya sedikit ataupun banyak bila dapat dipercaya. Ukuran kepercayaan ini adalah sejauh mana musuh tersebut percaya terhadap kekuatan gerakan Islam. Untuk mengetahui kepercayaan ini, gerakan Islam melakukan berbagai upaya, dan setelah maksimal mengerahkan upayanya, tidak ada dosa atasnya jika salah dalam perkiraannya.

Fikrah memberikan keamanan kepada musuh yang telah mengubah sikapnya dan mengumumkan dukungan serta wala’-nya.

  • Kisah Ummu Ma’bad

Apa yang tejadi di luar kemampuan manusia merupakan salah sattu sisi rencana Ilahi

18. Basis Baru Bergabung kepada Islam

Da’wah kepada Allah harus tetap menjadi sasaran utam kaum Muslimin. Kendatipun suasana perjalan ke Madinah tidak memungkinkan untuk menggadakan pembicaraan secara rinci tentang islam, tetapi sasaran utama harus selalu diutamakan.

19. Pengumuman Pertama Untuk Syiar-Syiar Ibadah

Sasaran pertama bagi gerakan islam sekarang dalam upaya menegakkan negara Islam adalah kembalinya semangat Tauhid yang murni dan tasbih kepada-Nya ke dalam Masjid.

20. Keberhasilan Khittah dan Sampainya Pimpinan Tertinggi ke Puncak Pimpinan

Akhirnya berdirilah negara Islam yang pertama di permukaan bumi dengan kawalan para malaikat langit, setelah perjuangan jihad yang berat selama tiga belas tahun.

 

Sleman::16-11-10::10/52