Archive | November 2010

Gejolak


Ah siapa bilang saya tidak boleh marah, tidak boleh kecewa, tidak boleh menggerutu. Saya hanya manusia biasa, suatu saat punya kecenderungan pula untuk berlaku seperti itu. Orang-orang itu terkadang lupa dengan label yang disematkan kepada kawan terdekatnya, bahwa ketika mereka ‘mengharamkan’ orang lain untuk kecewa atas segala keputusan yang mereka keluarkan, maka saat itu pula mereka telah memasung kunci-kunci ukhuwah. Membelenggu setiap sendi-sendi ketsiqohan yang disuarakannya sendiri.
Ada saat sebenarnya kita harus belajar untuk memahami orang lain. Melihat bagaimana hak-hak orang lain yang diabaikan, padahal disatu sisi ia hanya menuntut kewajiban-kewajiban orang lain yang seharusnya dilakukan.

Dakwah (kampus), yang katanya untuk menyeru manusia, tidak lebih dari sekedar strategi-strategi yang menumpuuk dalam rutinitas syuro. Berharap ideal dalam setiap pengejawantahannya, namun melupakan sisi-sisi humanisme dimana para pelakunya adalah manusia juga, bukan robot yang mudah dikendalikan oleh pemegang remotenya. Sebenarnya ini juga salah, karena dakwah itu hakikatnya mengajak manusia ke jalan Allah dan dilandasi dengan niat untuk mencari ridho Allah serta dengan metode-metode yang sudah menjadi ajaranNya dimuka bumi ini.
Ketika dakwah hanya berorientasi kepada kepentingan kelompok, atau kelompok dalam kelompok, atau lebih parah lagi hanya untuk kepentingan individu, lalu apalagi nilai-niai mulia yang seharusnya ada dalam dakwah itu sendiri.

Adakalanya ketimpangan para aktifis terjadi ketika aktivitas yang dilakukannya hanya berkutat pada opersional keteknisan yang tidak diimbangi dengan pemahaman landasan gerak dan peningkatan muatan ruhiyah yang seharusnya menjadi bahan bakar utama dalam bergerak di dalam medan dakwah ini.

Mereka yang sudah mengabaikan substansi dakwah dan hanya mementingkan sarana-sarana dakwah, kemungkinan memiliki masalah dalam kondisi ruhiyahnya, hatinya kering dari basuhan embun-embun keimanan dan sejuknya keimanan yang menghembus dalam dan merasuk ke dalam setiap sendi-sendi raganya.
Lagi-lagi, jangan sampai terjebak dalam rutinitas yang tidak terupgrade, apalagi hanya mengulang kesalahan-kesalahan masa lalu yang tanpa sadar dari tahun ke tahun kesalahan tersebut selalu berulang. Ingatlah bahwa dakwah itu bukan hanya masalah akal, tapi juga masalah hati. Bahkan hati itulah yang terpenting. Bagaimana mungkin hati kita dapat berbicara dengan objek dakwah yang lain bila karat-karat keangkuhan selalu menutupi sentuhan langsung keindahan Islam.

Seseorang yang memupuk kesombongan dan ketidakpekaan terhadap sudaranya cenderung akan lebih mudah merendahkan orang lain dan menganggapnya tak memiliki arti apa-apa dibandingkan dengan dirinya sendiri.

Ya,, adakalanya saya boleh marah, boleh kecewa dan boleh menggerutu. Tentang ketimpangan ini. Tentang kekeringan ini. Tentang segala aktifitas yang tak melihat bagaimana perasaan manusia juga perlu diperhatikan. Saya juga punya perasaan yang bila pada kondisi tertentu tersentuh dengan begitu kasarnya, maka ia akan bergejolak memunculkan apa yang disebut dengan kekecewaan.

Menginterpolasi hari


Satu hal yang membuat saya sempat bingung hari ini adalah ketika harus menentukan mana diantara proyeksi masa depan yang harus saya ambil. Ketika ladang-ladang yang ingin saya tanami benih-benih kebaikan sangat banyak sekali, namun di satu sisi saya belum mampu untuk bisa menjaga ladang-ladang yang sudah tertanam benih itu untuk bisa menyemaikan hasilnya suatu saat nanti. Iya memang, manusia berhak untuk memutuskan jalan mana yang akan ia ambil. Karena konsekuensinya akan dirasakan dari setiap keputusan yang diambilnya.
Suatu saat, dosen saya pernah bercerita untuk memotivasi mahasiswa baru, bahwa belajar di jurusan teknik fisika itu bisa dianalogikan dengan usaha seorang penggali sumur. Ketika berada di jurusan ini, maka ia seperti penggali sumur yang mampu menggali sumur dalam jumah yang lebih banyak dibandingkan dengan penggali sumur dari jurusan lain. Akan tetapi, lanjut dosen saya itu menjelaskan, penggali sumur teknik fisika itu hanya menggali sampai kedalaman yang tidak terlalu dalam. Artinya, mereka memang mampu mempelajari berbagai konsep pelajaran yang dipelajari di semua jurusan, akan tetapi tidak sedalam apa yang dipelajari bila berada dalam jurusan aslinya. Berbeda dengan jurusan lain yang ilmunya sangat spesifik, namun bila dikaitkan dengan disiplin ilmu lain, maka mereka akan kesulitan menghubungkannya.

Manusia kadang diberikan begitu banyak pilihan-pilihan. Agar mereka bisa memanfaatkan daya nalar logika yang sudah Allah berikan, agar setiap pilihan yang mereka pilih setidaknya sudah mengalami proses seleksi kecenderungan hati.

Dalam setiap takdirnya, Allah pasti akan memberikan yang terbaik kepada hamba-hambaNya. Meski, seringkali Ia dilupakan dan diacuhkan, namun Rahmannya menyelimuti seluruh jiwa-jiwa yang ada di alam semesta ini.
Perkara hasilnya itu sesuai dengan keinginan kita atau tidak, maka itu diluar nalar manusia. Bahwa ada kehendak lain yang meminanya untuk menjalani takdir yang mungkin justru akan berbanding tebalik dengan yang diinginkannya.

Dalam surat al-baqarah: 216 Allah SWT berfirman;
“”Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.””

Oleh karena itu perbuatlah sebaik-baiknya agar kita bisa menjemput takdir baik itu. Berbuatlah yang terbak pada hari ini, karena itu bisa jadi akan berdampak pada hari-hari kita selanjutnya.

Kita bisa melihat masa depan melalui hari ini, seberapa besarkan perjuangan kita hari ini, maka sebesar itu pula kesuksesan yang akan kita peroleh. Kaena akan ada interpolasi hari yang akan kita temukan dalam setiap takdir kahidupan dariNya.

Kerendahan Hati (Taufik Ismail)


Kalau engkau tak mampu menjadi beringin yang tegak di puncak bukit

Jadilah belukar,

tetapi belukar yang baik, yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,

Jadilah saja rumput,

tetapi rumput yang memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya

Jadilah saja jalan kecil,

Tetapi jalan setapak yang Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten

tentu harus ada awak kapalnya….

Bukan besar kecilnya tugas

yang menjadikan tinggi rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu…. Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

Download Rekaman Serial Cinta by Anis Matta


Serial Cinta Anis Matta

1. Cinta Tanpa Definisi Download

2. Cermin Kebenaran Download

3. Puncak Iman Download

4. Mata Air Keluhuran Download

5. Rahasia Keajaiban Download

6. Kekuatan Perubahan Download

7. Perang dan Cinta Download

8. Sepenggal Firdaus Download

9. Negeri Cinta Download

10. Do’a Cinta Sang Imam Download

11. Di Rumahku Ada Cinta Download

12. Panggilan Belahan Jiwa Download

manhaj haraki-karakteristik periode pertama


KARAKTERISTIK PERIODE PERTAMA

(BERDAKWAH SECARA SEJMBUNGI-SEMBUNYI DAN MERAHASIAKAN STRUKTUR ORGANISASI) (Disarikan dari buku “Manhaj Haraki” karya Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban)

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi mereka yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Yusuf [12]:111)

 

Periode ini dimulai dari Gua Hira (kenabian) dan berakhir tiga tahun setelah kenabian, ketika turun firman Allah, “wa andzir ‘asyiiratakal aqrabiin” (asy-Syu’ara’ [26]: 214) dan firman Allah, “Fashda’ bimaa tu’maru wa a’ridh ‘anil musyrikiin” (al-Hijr [15]:94).

 

1. Dakwah Secara Rahasia

Rentang waktu periode ini selama tiga tahun, kendatipun demikian penulis tidak menjadikan rentang waktu ini sebagai patokan. Penulis juga tidak berpendapat bahwa gerakan Islam sekarang harus menempuh tahapan sirriyah selama tiga tahu. Menyangkut masalah ini, tidak ada nash yang memerintahkan agar kira mengikuti secara demikian. Tetapi, penulis memahami bahwa berakhirnya tahapan ini (sirriyah) telah terwujudkan, sebab kaum muslimin telah memiiki basis kuat yang dapat melindungi mereka dari pemusnahan. Ini bila dinilai dari sisi ualitasnya dan kaitannya dengan masyarakat Mekkah pada waktu itu. Dari aspek inilah kita harus meneladani. Rentang waktu bukan sesuatu yang penting. Tetapi, yang penting adalah hasil operasional da’wah dan kemampuannya untuk menghadapi masyarakat yang ada melalui para pendukung, tokoh-tokoh, dan lembaga-lembaganya.

2. Pelaksanaan Da’wah atas Dasar Pilihan

Pada periode ini, da’wah tidak dilakukan secara terbuka di pertemuan-pertemuan dan majelis-majelis umu. Tetapi dilakukan berdasarkan pilihan pribadi-pribadi da’i tentang karakterristik mad’u (orang yang didakwahi)

3. Berda’wah Melalui Intelektualitas Da’i dan Status Sosialnya

Akhlak yang baik dan dicinttai masyarakat merupakan “senjata ampuh” untuk menarik orang lain. Akhlak adalah kunci pembuka katup hati, betapapun kerasnya. Akhlak jualah yang akan menjauhkan seorang da’i dari reaksi pada saat timbul sifat negatif terhadap da’wah.

Pengetahuan juga tidak kalah penting dari akhlak. Yang dituntut dalam masalah ini bukan segala macam pengetahuan. Tetapi pengetahuan mengenai masyarakat dan kecenderungan-kecenderungannya. Pengetahuan yang menjeaskan tentang karakteristik jiwa manusia. Penggetahuan inilah yang akan memberikan daya gerak kepada da’i. Juga merupakan pintu masuk ke dalam hati mad’u. Setiap hati memiliki “gembok” tersendiri. Tugas seorang da’i iaah berusaha memelii kunci dari gembok-gembok tersebut dan mengetahui dari mana ia harus memasukinya, sampai hati tersebut menyambutnya.

Status sosial seorang da’i menjadikan dia “didengar” di tegah masyaraktnya sehingga akan meninggikan derajatnya. Status ini akan membebaskannya dari “meminta-minta” dan menginginkan apa yang dimiliki orang lain. Ia juga akan memberikan prestise ditengah masyarakat yang nilai tertingginya adalah harta dan popularitas. Status sosial secara alami memiliki hubungan yang erat dengan manusia yang menyebabkannya lebih berpengaruh terhadap mereka. Sebab, hubungan tersebut tampak lebih wwjar dan tidak dipaksakan, sehingga seorang da’i tidak perlu mencari faktor lain untuk berhubungan dengan mereka. Seorang guru atau pedagang misalnya, lebih mampu untuk bergerak daripada seorang pegawai yang terkungkung di dalam suatu struktur tertentu. (bersambung)

membohongi hati


Hati memang takkan pernah bisa dibohongi.

Biarpun beragam indera telah dipaksa untuk membohoginya, namun apa daya.
Biarpun berjuta alasan telah kucari pembenarannya. Ternyata hati berkata lain.

Sekarang, biarlah hati itu yang bicara. Bukan tangan, bukan lisan apalagi pikiran.

Bersihkan hati, sucikan ia……
Agar ia selalu bisa menangkap makna lain ketika banyak indera yang membohonginya.

Pelihara ia, dan simpanlah dengan rapi……
Agar tak ada debu-debu kealpaan yang menodai.

Sleman::18-11-10::8.17 a.m

seuntai hikmah manhaj haraki (bag-1)


KARAKTERISTIK PERIODE KEEMPAT
(NEGARA DAN PENGUATAN PILAR-PILARNYA)

(Disarikan dari buku “Manhaj Haraki” karya Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban)

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi mereka yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Yusuf [12]:111)

Periode Madinah terbagi menjadi dua tahapan besar yang berbeda:
Tahap pertama: Tahap Mendiriikan Negara dan Berakhir dengan Perang Khandaq
Tahap Kedua: Tahap Pertolongan Allah dan Kemenangan. Bermula dari perjanjuan damai Hudaibiyah hingga wafat Nabi SAW.

1. Gencatan Senjata Bersama Musuh-Musuh selain Kaum Quraisy dan sekutu-sekutunya
a. Piagam Madinah dan Genvatan Senjata bersama Yahudi
b. Hubungan dengan orang-orang Musyrik
c. Perjanjian damai dengan Bani Dhamrah
d. Perjanjian Menghentikan Agresi dengan Bani Mudlij
e. Berdamai ddengan Penduduk Daumatul Jandal

2. Membangun Basis yang Kokoh
Tahap Pertama: Perjanjian antara masyarakat Muhajirin dan Anshar
Tahap kedua: Mempersaudarakan antarpribadi dari kalangan Muhajirin dan Anshar
Tahap ketiga: Mempersaudarakan antarsesama kaum Muhajirin

3. Deklarasi Negara Islam
a. Pembangunan Masjid
Masjid sebagai basis operasional segala urusan dan tempat memulainya pergerakan.
b. Pengumandangan Adzan
c. Pemerintahan

4. Opsi Perang

Saat kekuatan thagut di beberapa negeri memaksa agar sebagian tokoh pergerakan Islam deiserahkan kepada mereka, dengan kompensasi kesertaan negeri itu dalam sebuha pergaulan atau perkumpulan antarnegara, kita tidak punya pilihan lain selain perang melawan jahiliyah.

5. Komunitas Kaum Paganis di Madinah

Disaat para pemimpin negara Thagut mengancam akan membantai penduduk yang selama ini aman dan damai jika mereka berani melindungi Mujahidi, mereka juga sangat antusias untuk mengirim antek-anteknya guna menegaskan bahwa perang, peenumpahan darah, dan rasa takut itu muncul karena keberadaan para Mujahidin itu serta semua sepak terjang mereka melawan kekuasaan yang semena-mena. Orang-orang umum biasanya sangat mementingkan kepentingan jangka pendek mereka dan ini membuat mereka serta merta menyambut propaganda semacam ini. Mereka lalu memihak kepada kekuasaan yang semena-mena untuk melawan saudara-saudara mereka, yaitu para Mujahidin.

6. Menceraiberaikan Komplotan itu dengan sentimen Nasionalisme dan kekeluargaan

Pemuda daakwah harus belajar pada sikap nabi dalam karakteristik ini, saat mereka melihat para qiyadah (pimpinan) dakwah dalam salah satu periodenya sedang mencari kepentingan bersama dengan musuh-musuhnya agar mereka berada dalam satu barisan dalam menghadapi musuh yang lebih berbahaya dan lebih besar. Saat mereka melihat para qiyadah dakwah menerima dialog dengan sentimen nasionalisme dan kebangsaan, atau ketika mereka sedang berbicara tentang kaum dhu’afa dalam salah satu strata masyarakat yang terzhalimi, diman akepentingan bersama itu dibicarakan dalam pertemuan berkala dengan satu musuh untuk melawan musuh lainnya.

7. Upaya pemecahbelahan Barisan Islam

Kita akan terjerembab ke dalam penghianatan jika membenarkan apa yang disebarkan oleh musuh-musuh tentang kita, baik itu merupakan kebenaran atau kebatilan, lalu dengan itu kita putuskan duduk perkaranya.
Penanganan terhadap kelompok-kelompok yang sedang diadu domba haruslah sesuai dengan tingkat pemahaman mereka dan rasa kepemilikan mereka terhadap barisan Islam.

8. Musuh Melecehkan Norma-Norma dan Kepentingan Sendiri

Perilaku musuh-musuh Allah dalam peperangan mereka melawan Islam dan kaum Muslimin, membuat mereka mulai berseberangan dengan nilai-nilai paling sederhana dan kebiasaan baik yang selama ini mereka jaga.
Para pemuda Islam harus tetap menyampaikan kalimat kebenaran dengan penuh kekuatan, disaat mereka tidak menemukan alternatif lain di hadapan mereka kecuali harus mengatakan keberadaan itu, sedangkan penyebutan kebenaran itu akan menjadi perang psikologis yang dapat menciutkan nyali musuh.

9. Bahaya Mengancam Qiyadah

Semua pemuda Islam harus selalu siaga untuk menghadapi serangan mendadak walaupun mereka sekelas qiyadah, khususnya ketika musuh kemungkinan berada diantara barisan prajuritnya.
Gerakan islam yang telah banyak kehilangan qiyadah dan para pemimpinnya karena pembunuhan, harus memahami permasalahan ini, sebagai bentuk pengamalan terhadap Sunnah Rasulullah SAW. Harus ada yang menjaga qiyadah-nya untuk menyelamatkan mereka dari serangan musuh karena penjagaan Allah hanya diberikan kepada Rasulullah SAW.
Jika para pimpinan dalam gerakan Islam mengandalkan keadilan, kesalehan dan ketaqwaan, maka mereka lebih memerlukan penjagaan, sebab musuh tidak tahan terhadap keberadaan mereka. Akan tetapi, mungkin diantara barisan kaum muslimin sendiri ada yang menentangnya, lalu mereka terbunuh di tangan anggota barisan kaum muslimin sendiri.

10. Kondisi Perang dan Bersatunya semua kekuatan

Tidak berarti bahwa ketika negara Islam sudah berdiri, maka urusan dengan musuh Islam selesai. Sesungguhnya pertempuran melawan musuh untuk mendirikan negara Islam baru merupakan tahapan awa di jalan ini. Ia hanyalah pertempuran pembukaan dalam sejarah peperangan dan merupakan titik tolak. Semua peperanga, pertempuran dan operasi militer terjadi setelah berdirinya negara Islam. Jika gerakan Islam perlu mengerahkan sebagian kekuatannya sebelum berdirinya negar Islam, ia lebih perlu mengarahkan kekuatannya untuk menjaga kaumMuslimin dari dunia Timur dan Barat untuk menjaga negar Islam.
Qiyadah Islam harus mempersiapkan segala kemungkinan, tidak boleh ada asumsi di kalangan ppemuda bahwa keberhasilan dalam pertempuran pertama adalah dengan selesainya persoalan dengan musuh. Akan tetapi, keberhasilan perang adalah dengan selsesainya satu babak lalu dilanjutkan dengan semangat tinggi kepada babak kedua. Jihad akan terus berlangsung hingga hari kiamat daan pada rambut kepala kuda terdapat ikatan kebaikan hingga hari kiamat. Karenanya, qiyadah Islam harus mempersiapkan kekuatannya untuk menghadapi musuh secara kontinu dengan semua yang dibutuhkan dalam sebuah konfrontasi: senjata, prajurit, harta benda dan amunisi.

 

untuk membaca Karakteristik Periode Ke Tiga silahkan klik https://salamic.wordpress.com/2010/11/15/sekarat-hikmah-manhaj-haraki-bersambung/

sleman::17-11-10::12.35