Tabiat Jalan Dakwah & Urgensi Qudwah


Ibnu Mas’ud berkata: “Rasulullah SAW membuat satu garis lurus dengan tangannya kemudian bersabda, “Ini adalah jalan Allah yang lurus”, kemudian mebuat jalan di sebelah kanan dan kirinya seraya bersabda, “Setiap jalan dari jalan-jalan ini terdapat setan yang mengajak kepadanya”, kemudian nabi SAW membaca ayat, “Ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia dan jangan mengikuti yang lain.” (H.R. Ahmad).

 

Adalah sebuah perumpamaan yang begitu visioner dari Rasulullah, ketika men-tarbiyah para sahabat untuk mengenal medan dakwah, bahwa dakwah Islam ini adalah jalan menuju kepadaNya. Banyak godaan tentunya. Di kiri dan kanan banyak tarik-menarik kepentingan. Di berbagai medan juga ada begitu banyak keindahan-keindahan semu yang akan menjauhkan manusia dari jalan yang lurus, Shirath al-Mustaqiim.

Manusia memiliki fithrah untuk menjadi baik, hanya saja dalam perjalanan kehidupannya, peran lingkungan sangat berpengaruh bagi terbentuknya kepribadian Islami (Syakhsiyyah Islamiyyah). Proses pembentukan kepribadian itulah yang menjadi titik concern sebuah rekayasa besar dakwah ilallah, yang akan mengantarkan manusia untuk lebih mengenal Tuhannya, Rabb semesta alam. Melalui dakwah itulah, manusia akan dibawa untuk mengenal dirinya sendiri dan untuk mengenal siapa penciptanya. Proses yang terintergrasi dalam sebuah pola yang benar harus pula diimbangi dengan keteladanan.

Menjadi seorang penyeru dakwah (baca:da’i), memiliki konsekuensi besar akan pentingnya keteladanan pada diri seoranga da’i. Amat banyak manusia yang begitu mudahnya untuk melafalkan sebuah kerja bernama dakwah, namun teramat berat untuk menjaga komitmen unttuk memanifestasikan nilai-nilai dan spiritnya dalam pelbagai aktifitas kehidupannya. Kita bisa berkaca dari shirah Nabawiyah yang menggambarkan dengan begitu jelas bahwa dakwah Rasulullah tidaklah semata-mata menyeru manusia dengan lisan saja. Tapi yang lebih penting adalah melalui sebuah keteladanan. Melalui keteladanan itulah, banyak orang-orang Mekkah yang tertarik untuk mempelajari ajaran Nabi Muhammad SAW untuk kemudian bergabung menjadi bagian dari pendukung dakwah Rasulullah.

 

Akhlak yang baik dan dicintai masyarakat merupakan “senjata ampuh”’ untuk menarik orang lain. Akhlak adalah kunci pembuka katup hati, betapapun kerasnya. Akhlak jualah yang akan menjauhkan seorang da’i dari reaksi pada saat timbul sifat negatif terhadap dakwah. Setiap hati memiliki “gembok” pengunci tersendiri. Karena itu, tugas seorang da’i adalah berusaha untuk memiliki kunci dari gembok-gembok tersebut dan mengetahui dari mana ia harus memasukinya, sampai hati itu menyambutnya. Dengan demikian seorang da’i tidak boleh mengesampingkan keteladanan dalam proses “menyeru” kepada manusia. Karena disitulah letak kekuatan yang akan menjadikan seorang da’i akan lebih mudah untuk mengajak manusia ke jalan kebenaran.

Abbas as-Siisy dalam bukunya Bagaimana Menyentuh Hati menjelaskan bahwa tugas kita sebagai da’i adalah seperti tugas para pegawai elektrik, mengalirkan kekuatan ini dan sumbernya ke setiap hati orang-orang muslim agar senantiasa bersinar dan menerangi sekelilingnya. Agar hidup ini lebih terarah maka serulah perbaikilah tatanan kehidupan manusia melalui dakwah, agar dakwah menjadi lebih indah, maka mulaiah dengan Qudwah. Teladan dalam diri masing-masing penyeru dakwah..

Kesalahan terbesar adalah bila engkau berusaha meluruskan dan membenahi kehidupan yang ada di sekitarmu tapi engkau meninggalkan kekacauan dalam hatimu. (Mustafa Shadiq ar-Rafi’i)

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: