Gejolak


Ah siapa bilang saya tidak boleh marah, tidak boleh kecewa, tidak boleh menggerutu. Saya hanya manusia biasa, suatu saat punya kecenderungan pula untuk berlaku seperti itu. Orang-orang itu terkadang lupa dengan label yang disematkan kepada kawan terdekatnya, bahwa ketika mereka ‘mengharamkan’ orang lain untuk kecewa atas segala keputusan yang mereka keluarkan, maka saat itu pula mereka telah memasung kunci-kunci ukhuwah. Membelenggu setiap sendi-sendi ketsiqohan yang disuarakannya sendiri.
Ada saat sebenarnya kita harus belajar untuk memahami orang lain. Melihat bagaimana hak-hak orang lain yang diabaikan, padahal disatu sisi ia hanya menuntut kewajiban-kewajiban orang lain yang seharusnya dilakukan.

Dakwah (kampus), yang katanya untuk menyeru manusia, tidak lebih dari sekedar strategi-strategi yang menumpuuk dalam rutinitas syuro. Berharap ideal dalam setiap pengejawantahannya, namun melupakan sisi-sisi humanisme dimana para pelakunya adalah manusia juga, bukan robot yang mudah dikendalikan oleh pemegang remotenya. Sebenarnya ini juga salah, karena dakwah itu hakikatnya mengajak manusia ke jalan Allah dan dilandasi dengan niat untuk mencari ridho Allah serta dengan metode-metode yang sudah menjadi ajaranNya dimuka bumi ini.
Ketika dakwah hanya berorientasi kepada kepentingan kelompok, atau kelompok dalam kelompok, atau lebih parah lagi hanya untuk kepentingan individu, lalu apalagi nilai-niai mulia yang seharusnya ada dalam dakwah itu sendiri.

Adakalanya ketimpangan para aktifis terjadi ketika aktivitas yang dilakukannya hanya berkutat pada opersional keteknisan yang tidak diimbangi dengan pemahaman landasan gerak dan peningkatan muatan ruhiyah yang seharusnya menjadi bahan bakar utama dalam bergerak di dalam medan dakwah ini.

Mereka yang sudah mengabaikan substansi dakwah dan hanya mementingkan sarana-sarana dakwah, kemungkinan memiliki masalah dalam kondisi ruhiyahnya, hatinya kering dari basuhan embun-embun keimanan dan sejuknya keimanan yang menghembus dalam dan merasuk ke dalam setiap sendi-sendi raganya.
Lagi-lagi, jangan sampai terjebak dalam rutinitas yang tidak terupgrade, apalagi hanya mengulang kesalahan-kesalahan masa lalu yang tanpa sadar dari tahun ke tahun kesalahan tersebut selalu berulang. Ingatlah bahwa dakwah itu bukan hanya masalah akal, tapi juga masalah hati. Bahkan hati itulah yang terpenting. Bagaimana mungkin hati kita dapat berbicara dengan objek dakwah yang lain bila karat-karat keangkuhan selalu menutupi sentuhan langsung keindahan Islam.

Seseorang yang memupuk kesombongan dan ketidakpekaan terhadap sudaranya cenderung akan lebih mudah merendahkan orang lain dan menganggapnya tak memiliki arti apa-apa dibandingkan dengan dirinya sendiri.

Ya,, adakalanya saya boleh marah, boleh kecewa dan boleh menggerutu. Tentang ketimpangan ini. Tentang kekeringan ini. Tentang segala aktifitas yang tak melihat bagaimana perasaan manusia juga perlu diperhatikan. Saya juga punya perasaan yang bila pada kondisi tertentu tersentuh dengan begitu kasarnya, maka ia akan bergejolak memunculkan apa yang disebut dengan kekecewaan.

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

One response to “Gejolak”

  1. Aji says :

    mantab jup ^^ ,terus solusi terkait itu gimana?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: