Isti’ab tarbawi


Orang yang besar tanpa tarbiyah, orang yang meningkat tanpa komitmen,dan orang yang mengemban berbagai tanggung jawab tanpa keahlian dan kelayakan, akan menjadi beban berat bagi dakwah dan seringkali menjadi bencana bagi pergerakan.

Ada seorang da’i yang “memanjat tembok dakwah” tanpa keahlian sehingga ia menjadi da’i sebelum waktunya. Akibatnya ia menderita banyak “penyakit”. Salah satunya dan yang paling ringan adalah rasa ‘ujub di samping banyak bicara dan kasar. Setelah meningkat mencapai posisi yang tinggi, rasa ‘ujub, banyak bicara dan kekasarannya pun meningkat, hingga ia tidak bisa mengendalikannya dan akhirnya menjadi penyebab kerugian dan kejatuhannya.

Ada juga da’i lain yang gerakan dakwah punya andil atas kematiannnya karena mendorongnya ke jalan terjal sebelum dipersiapkan dengan matang. Gerakan dakwah menugasinya dengan suatu tugas yang tidak dikuasainya dan mempersingkat tahapan sebelum waktunya. Bisa dibayangkan bagaimana hasilnya? Karena itu jika proses pembentukan tidak dilakukan secara benar dan cukup waktu, maka kegagalan yang akan didapat. Bahkan akan menjadi produk yang cacat hingga produsennya pun akan menuai aib dan akhirnya bangkrut (baca: hancur).

Jika berbagai produk tidak diketahui kualitasnya, sebelum diuji terlebih dahulu, maka demikian juga kondisi seorang da’i. Ia tidak akan tampak kemampuan dan kualitasnya hingga menghadapi ujian dan mengecap berbagai pengalaman. Untuk itu, sebelum dibebani tanggung jawab ia terlebih dahulu harus diuji dan diberikan berbagai pengalaman, aggar dakwah tidak dirugikan.

Mengabaikan suatu cacat yang ada pada satu orang akan menyebabkan pengabaian cacat ini atau lainnya yang ada di dalam barisan secara keseluruhan. Dengan demikian barisan ini menjadi tidak punya patokan dan kendali.

Memang benar kemampuan manusia untuk komitmen dan memikul beban berbeda-beda antara masing-masing orang. Namun hal ini tidak berarti harus memperlonggar dasar-dasar dan prinsip-prinsip yang menjadi landasan tegaknya kepribadian Islam. Rambu-rambu kepribadian harus tetap satu, karena jika tidak demikian, maka akan memunculkan kepribadian yang tidak Islami.

Sesungguhnya isti’ab tarbawi (kapasitas tarbiyah) tidak boleh didikte oleh suatu fase atau situasi. Kapasitas tarbiyah mutlak diperlukan, baik bagi para pemula atau bagi para senior. bahkan bagi para senior lebih memerlukan, karena penyebab penyimpangan mereka lebih banyak.

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

2 responses to “Isti’ab tarbawi”

  1. almeohad says :

    waaah.,yg dah selesai baca buku isti’ab(meningkatkan kapasitas dan rekurutmen dakwah)..,sepertinya dah siap ini…

    insya Allah jup..,semoga selalu saling menguatkan…^^

  2. wina says :

    kapasitas harus selalu diasah, Uthlubul ‘ilma minal mahdi ilallahdi. Jangan bosan menuntut ilmu. Trims ulasannya…buat mengingat kembali karya Fathi Yakan n diamalkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: