tentang Franchise Insan Cendekia


Akhir-akhir ini memang saya sering mempublish tema-tema yang berhubungan dengan almamater saya. Mengingat dalam beberapa bulan terakhir ini, saya melihat dikoran-koran dan media elektronik lainnya, nama Insan Cendekia sering disebutkan dan dibahas dalam rubrik khusus. Salah satu poster yang terpampang di sebuah koran nasional mengiklankan sekolah-sekolah unggulan mulai dari SD sampai SMA yang semuanya memakai label “insan cendekia.”  Padahal saya sendiri baru tahu kalau sekolah “insan cendekia” sudah memiliki cabang yang banyak. (apa saya sendiri yang kuper ya? ^^). Berikut ini  saya kutipkan pernyataan salah seorang guru kami yang dulu menjadi Pembina Asrama saya, sekaligus penggati orang tua di asrama selama 3 tahun.
“Sebenarnya secara substansial franchise tidak perlu dipersoalkan, bahkan harus dikembangkan.Dari awal saya sudah mengingatkan bahwa IC harus bermanfaat bagi madrasah-madrasah sekelilingnya sesuai cita-cita awalnya yakni sebagai Magnet School.Makanya bentuk yang paling tepat bagi IC bukan semata-mata menjadi sekolah unggulan, melainkan menjadi Lab School. Di laboratorium pendidikan inilah segala penemuan baru dalam bidang pendidikan diuji kesahihannya. Untuk selanjutnya didesseminasikan ke sekolah-sekolah lain. Dengan demikian IC bisa berperan sebagai ganda, baik sebagai media pengembangan inovasi dalam bidang pendidikan, juga sebagai sekolah unggulan.Cita-cita Jahya Umar (Dirjen Depag yang dulu), jadilah IC sebagi flag Ship bagi madrasah. Namun yang terjadi saat ini IC sangat sibuk bersolek bak gadis cantik yang aduhai. IC menjadi sebuah aquarium besar yang dikunjungi berbagai sekolah di Indonesia. Namun sayang sepulangnya dari IC tak ada manfaat yang bisa mereka dapatkan untuk dikembangkan di sekolah mereka masing-masing. Kenapa ? Karena yang kita perlihatkan adalah hal-hal yang bersifat fisik. Gedung dengan segala fasilitasnya yang luar biasa. Mereka hanya bisa berkata,”Kalau sekolah kita dikasih dana 17 milyar setahun, ya … kita juga bisa kayak gini”. Akhirnya yang lahir justru kecemburuan. Apa hak IC mendapatkan keistimewaan dari Depag Pusat dengan pembiayaan yang sedemikian besar ? Itukan tidak adil, IC melakukan pemborosan uang negara. Sebelum sistem beasiswa diberlakukan, IC sudah bisa running dengan mengambil dana dari orang tua siswa sekitar 2.000.000 per bulan. (Dihitung dari SPP 1.500.000 per bulan plus uang pangkal 17.000.000 dibayar satu kali ketika masuk). Dengan dana DIPA 17 milyar per tahun, kalau dibagi 360 siswa, maka perbulannya seolah-olah siswa membayar hampir 4.000.000 rupiah. Inilah yang sudah saya ingatkan dalam rapat bersama guru-guru dengan bagian perencanaan Kanwil Depag Banten Pak Sahlan bahwa IC tidak perlu dikucuri dana sebesar itu. Bisa berbahaya bagi IC sendiri. Kini IC kebingungan bagaimana mencairkan dana sebesar itu tanpa bertabrakan dengan aturan yang berlaku. Terjadilah tumpang tindih pembiayaan yang sebenarnya sudah dibayar lewat gaji. Dimana gaji PNS serta tunjangan sertifikasi sebenarnya sudah mengcover Tupoksi (tugas pokok dan administrasi) yang sudah seharusnya dilakukan oleh seorang guru. Dana sebesar ini juga rawan dari orang-orang yang kritis dan tahu ttg pengelolaan IC. Pak Menteri Agama yang sekarang ini saja sudah mewacanakan IC kembali lagi fifty-fifty, artinya pemerintah hanya berani membiayai setengahnya saja. Selebihnya IC harus bisa cari dana sendiri. Kalau saya sih usulnya, biarlah IC dapet dana secukupnya saja, asal jangan terus-terusan diganggu dengan berbagai macam perubahan kebijakan dari Depag Pusat. Tapi yah apalah artinya seorang Iskandar. Teriak sekeras apapun gak akan ada yang mau denger. Guru-guru IC sudah terlalu nyaman. Makanya jadi lupa kalau IC sedang dalam bahaya. IC in the DANGER. WOW
Ya. Itulah sekelumit dari kondisi almamater saya saat ini. Di bilang sekelumit, karena masih banyak lagi yang menjadi bahan diskusi terutama setelah sekolah tersebut di ‘ambil’ oleh Departemen Agama.
Wallahu a’lam

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: