Archive | Januari 2011

mungkin


mungkin perih…

mungkin luka…

mungkin sudah tertutup kata maaf…

 

mungkin pula ini hanya ego belaka…

mungkin pula suara hati yang sedang terluka…

 

tapi, mungkin hanya gemuruh sesaat yang akan melengkapi dinamika permainan dunia yang kadang senang, kadang sedih. Duka menhampiri dan Suka datang silih berganti…

 

mungkin…

entah siapa yang akhiri kemungkinan ini. menjawabnya dengan sebuah jawaban pasti. agar tak ada lagi mereka-mereka yang terzhalimi.

Iklan

Terima Kasih Guruku


Terima kasihku… kuucapkan
Pada guruku yang tulus
Ilmu yang berguna… slalu dilimpahkan
Untuk bekalku nanti…

Setiap hariku… dibimbingnya
Agar tumbuhlah bakatku
Kan kuingat selalu… nasihat guruku
Terima kasihku ucapkan…….

 

*teruntuk guru bahasa arabku, yang lewat perantaranya lah….aku mulai memahami dien ini lebih dalam, menggeluti setiap kata dalam bahasa arab yang indah dan menjalani 3 tahun bersamanya sebagai guru dan anak asuh…

Terima kasih guruku, meski kini engkau telah dipindah tugaskan ke Pandeglang. Jauh dari hiruk-pikuk gema nas-aluka yang berdentang tiap maghrib dan subuh.

Isti’ab tarbawi


Orang yang besar tanpa tarbiyah, orang yang meningkat tanpa komitmen,dan orang yang mengemban berbagai tanggung jawab tanpa keahlian dan kelayakan, akan menjadi beban berat bagi dakwah dan seringkali menjadi bencana bagi pergerakan.

Ada seorang da’i yang “memanjat tembok dakwah” tanpa keahlian sehingga ia menjadi da’i sebelum waktunya. Akibatnya ia menderita banyak “penyakit”. Salah satunya dan yang paling ringan adalah rasa ‘ujub di samping banyak bicara dan kasar. Setelah meningkat mencapai posisi yang tinggi, rasa ‘ujub, banyak bicara dan kekasarannya pun meningkat, hingga ia tidak bisa mengendalikannya dan akhirnya menjadi penyebab kerugian dan kejatuhannya.

Ada juga da’i lain yang gerakan dakwah punya andil atas kematiannnya karena mendorongnya ke jalan terjal sebelum dipersiapkan dengan matang. Gerakan dakwah menugasinya dengan suatu tugas yang tidak dikuasainya dan mempersingkat tahapan sebelum waktunya. Bisa dibayangkan bagaimana hasilnya? Karena itu jika proses pembentukan tidak dilakukan secara benar dan cukup waktu, maka kegagalan yang akan didapat. Bahkan akan menjadi produk yang cacat hingga produsennya pun akan menuai aib dan akhirnya bangkrut (baca: hancur).

Jika berbagai produk tidak diketahui kualitasnya, sebelum diuji terlebih dahulu, maka demikian juga kondisi seorang da’i. Ia tidak akan tampak kemampuan dan kualitasnya hingga menghadapi ujian dan mengecap berbagai pengalaman. Untuk itu, sebelum dibebani tanggung jawab ia terlebih dahulu harus diuji dan diberikan berbagai pengalaman, aggar dakwah tidak dirugikan.

Mengabaikan suatu cacat yang ada pada satu orang akan menyebabkan pengabaian cacat ini atau lainnya yang ada di dalam barisan secara keseluruhan. Dengan demikian barisan ini menjadi tidak punya patokan dan kendali.

Memang benar kemampuan manusia untuk komitmen dan memikul beban berbeda-beda antara masing-masing orang. Namun hal ini tidak berarti harus memperlonggar dasar-dasar dan prinsip-prinsip yang menjadi landasan tegaknya kepribadian Islam. Rambu-rambu kepribadian harus tetap satu, karena jika tidak demikian, maka akan memunculkan kepribadian yang tidak Islami.

Sesungguhnya isti’ab tarbawi (kapasitas tarbiyah) tidak boleh didikte oleh suatu fase atau situasi. Kapasitas tarbiyah mutlak diperlukan, baik bagi para pemula atau bagi para senior. bahkan bagi para senior lebih memerlukan, karena penyebab penyimpangan mereka lebih banyak.

Ya Rabb…


Ya Allah,, berikanlah yang terbaik bagi kami, kuatkanlah kami agar kami bisa menjadi mukmin sejati yang slalu siap berkorban demi agama Mu dalam keadaan apapun, baik ketika kami dlm keadaan siap maupn tidak,. mantapkanlah hati2 kami untuk menerima sgala jalan yg telah Engkau tentukan,. lindungilah kami dari godaan2 yang meragukan hati2 kami, yang membuat berat langkah2 kaki kami untuk melangkah di Jalan Mu, lindungi kami atas ketidakpercayaan diri untuk menerima beban lebih dari Mu,,
aamiin,

*terimakasih untuk semua teman-teman yang telah menguatkanku….apapun yang terjadi nanti, semoga itu baik untuk kita semua

(Ketika) ‘Tarbiyah’ Melupakan Masjid


Dahulu kita sering mendengar kalimat ‘Di Masjid Hatiku Terkait’.
Implikasi popularitas kata-kata ini menjadikan kegiatan-kegiatan kita
berpusat pada masjid. Begitu banyak kader yang menjadi pengurus masjid
diberbagai tempat. Begitu banyak rapat-rapat yang diselenggarakan
dalam rumah Allah yang dipenuhi barakah. Begitu banyak pengajian
hingga TPA yang diampu kader diselenggarakan di masjid. Begitu banyak
hal yang kita lakukan sehingga masjid menjadi makmur dalam amal
shaleh.

Kini kita hampir tak pernah lagi mendengar istilah ‘Di Masjid Hatiku
Terkait’. Kader-kader kita disibukkan dengan berbagai aktivitas yang
menjauhkan mereka dari masjid bahkan untuk shalat berjamaah sekalipun.
Berapa sering kita meringankan diri untuk shalat berjamaah tidak di
masjid ketika sedang mengadakan acara atau rapat-rapat partai. Kita
beralasan demi efisiensi dan efektivitas acara, karena jika shalat ke
masjid akan memakan waktu yang lama, mulai dari perjalanan, antri
berwudhu, menunggu shalat dimulai, dan kemungkinan-kemungkinan
lainnya. Berapa sering kita memilih rapat di restoran mewah atau
tempat rekreasi demi kenyamanan peserta rapat, padahal ada kemuliaan
di masjid-masjid. Berapa sering kita melakukan pengajian di
gedung-gedung pertemuan, rumah-rumah atau di kos-kosan dengan peserta
yang terbatas dan publikasi yang nyaris tidak ada. Begitu banyak hal
yang kita lakukan sehingga hati kita dan kader kita menjadi jauh dari
masjid lalu keberkahan masjid tidak lagi meliputi diri kita.

Apa Yang Terjadi?
Pertanyaan ini selalu berkecamuk dalam kepala saya, dan sayangnya
sampai sekarang saya belum bisa menemukan alasan yang bisa membenarkan
semua ‘keanehan’ yang terjadi pada diri kita ini. Apakah dunia telah
melalaikan kita sehingga rumah Allah tak lagi terlihat menarik bagi
jiwa-jiwa kita yang kerdil. Ataukah kita telah menjadi begitu inferior
menghadapi budaya-budaya di luar Islam yang menuntut kita untuk
beraktivitas di gedung pertemuan atau di rumah makan mewah agar
terlihat modern dimata manusia yang lemah. Wahai para syaikh tegurlah
kami, jangan berdiam diri dalam dzikir yang khusu’. Wahai para ustadz
ingatkan kami, jangan asik berkutat dalam bisnis atau politik semata.
Wahai para aktivis saling menasehatilah, jangan sampai aktivitas
dakwahmu justru membuatmu makin jauh dari Dzat Yang Maha Mencintai.
Seorang ustadz yang baru saja kembali dari sekolah di al-Azhar
bercerita bahwa dia melihat aktivis dakwah disana jika bertemu saling
mengatakan “Kaifa imanuka?” atau dikesempatan lain begitu mendengar
kabar salah seorang kader dakwah tertimpa musibah maka mereka berebut
mengosongkan uang dalam saku mereka demi membantu saudaranya tersebut.
Bagaimana dengan kita?.

Dalil
Rasul saw bersabda: “Apabila seseorang pergi menuju masjid sebelum
adzan berkumandang, maka orang tersebut bersinar bagaikan matahari.
Apabila datang memenuhi panggilan shalat ketika adzan berkumandang,
maka orang tersebut seperti cahaya bulan. Dan apabila dia datang
segera setelah selesai adzan, maka dia bercahaya seperti
bintang-bintang” (al Hadits).

Saya suka dengan alasan-alasan untuk berbuat kebaikan. Dan untuk
bahasan yang sedang kita lakukan ini, hadits di atas saya rasa
seharusnya cukup untuk menggerakkan diri kita berpacu dalam
memakmurkan masjid. Lalu apa hal berat yang menggelayuti diri kita
sehingga masjid menjadi sepi dari aktivitas amal dan dakwah kita?.

Fakta
Ada sedikit gambaran yang dapat kita lihat dengan sangat mudah
bagaimana jauhnya kita dari masjid menjadikan dakwah ini ‘merugi’
dalam banyak hal. Datanglah ke masjid-masjid disekitar kampus UGM,
maka kita akan sedikit sekali menemukan kader yang shalat berjamaah di
masjid (atau jangan-jangan memang sudah tidak ada kader disekitar
kampus itu?!). Lebih sedikit lagi kader yang menjadi takmir atau
penunggu masjid. Dan lebih sedikit lagi yang aktif memakmurkan masjid
dengan berbagai kajian, tilawah, shalat wajib dan sunah. Namun, saya
tetap mengucap syukur karena ada gerakan Islam lain yang memakmurkan
masjid-masjid tersebut dengan berbagai kajian umum yang terbuka bagi
siapa saja, meskipun mereka terkadang menghujat kita atau gerakan
Islam lainnya, tetapi mereka tetap berjasa memakmurkan masjid.
Kesedihan tetap menyelimuti saya karena ternyata banyak kader kita
yang tidak lagi mencintai masjid seperti yang dikehendaki Allah dan
Rasul-Nya.

Berdirilah sejenak di jalanan sekitar kampus UGM, kita akan segera
dapat melihat sosok-sosok para ‘mantan akhwat’ dan ‘mantan ikhwan’
berseliweran dengan tampilan baru mereka. Para ‘mantan akhwat’
berjubah lebar dan memakai sapu tangan untuk menutupi wajah mereka,
atau bercadar tapi berjubah selebar kebanyakan akhwat kader kita. Para
‘mantan ikhwan’ terlihat bercelana cingkrang tapi dengan balutan jaket
jamaah mushalla fakultas, atau berbaju panjang tapi menaiki motor yang
sudah dimodifikasi. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang
sering ke masjid untuk memakmurkannya, dan yang mereka temui di masjid
serta membimbing mereka disana ternyata mendidik mereka menjadi
seperti fenomena di atas. Bahkan tak jarang mereka menjadi orang-orang
yang menghujat kita karena itulah yang diajarkan pada mereka di
masjid-masjid yang mereka datangi.

Perluasan Dakwah
Bukankah kita diajarkan untuk meluaskan skup dakwah. Jika pada awalnya
kita bergerak dikalangan kampus saja, lalu kita bergerak ke
masyarakat, dan sekarang memasuki dunia politik praktis. Namun,
ingatlah perluasan dakwah berbeda dengan perpindahan dakwah. Kita
diharapkan meluaskan skup dakwah dari sekedar berdakwah di kampus maka
kita meluaskannya dengan berdakwah juga di kampung, artinya dakwah di
kampus tetap berjalan dengan baik sementara dakwah di kampung mulai
kita jalani. Bukan dakwah kampus kita tinggalkan, lalu kita
berkonsentrasi dengan dakwah kampung saja. Jangan sampai kita menjadi
orang serakah yang ingin mengambil mutiara sebanyak mungkin sehingga
tidak menyadari bahwa kita telah membuang emas yang kita punya, dan
baru tersadar ketika melihat kenyataan emas kita telah ambil orang
lain.

Kembali ke Masjid
Saya teringat syair sebuah nasyid berjudul “Kembali ke Masjid”, yang
dipopulerkan oleh grup nasyid Nuansa.

Saat langkah tersendat di kehidupan
Letih karna debu kealpaan
Wajah tak lagi pancarkan keimanan
Tertatih tiada tujuan

Lembar demi lembar hari kulewati
Namun ketenangannya tiada pasti
Mencari kini tempat yang mencukupi
Tuk susun langkah yang lebih pasti

Reff:
Kembali ke masjid teduhkan hatimu
Basuhlah jiwa yang lusuh karena debu
Kembali ke masjid segarkan jiwamu
Sujudlah tawadhu di hadapan Robb-mu

Kembali ke masjid teduhkan hatimu
Basuhlah jiwa yang lusuh karena debu
Kembali ke masjid segarkan jiwamu
Tercurah hanya tuk keridhoan Robb-mu

Saudaraku semua, tulisan ini tidak bermaksud mematahkan dakwah yang
telah terbangun diberbagai gedung mewah, TV, Radio, gedung MPR DPR,
kantor-kantor pemerintahan dan swasta, atau dimanapun. Tulisan ini
hanya ingin mengingatkan bahwa masjid adalah tempat yang mulia yang
dipenuhi dengan keberkahan. Rumah Allah dimana pada awalnya kita
memulai semua usaha dakwah ini sebelum melakukan perluasan gerakan
dakwah keberbagai tempat. Dimana seharusnya masjid tetap menjadi titik
sentral dakwah kita sambil menyebarkan kader-kader ke tempat-tempat di
luar masjid, karenanya saya menyerukan agar kita KEMBALI KE MASJID.

diambil dari milis pksplus

Penulis: Aga (Pengurus Pesantren Mahasiswa Daaru Hiraa Yogya)
(Published at Tabloid Padi Emas DPW PKS DIY, Edisi 2/Tahun I/Mei-Juni 2007)

siapa cepat, dia dapat


Jangan menjadi orang besar dengan mengecilkan orang lain.

Jangan pula merasa tinggi jabatan, harta dan kedudukan dengan merendahkan martabat orang lain.

 

Bosan saya dengan semua ketidak jelasan ini. Perkara-perkara yang harusnya bisa dijelaskan dengan clear ternyata malah dipersulit dan semakin menggantung bahkan membingungkan.

Seperti pinangan, yang tidak hanya masalah kecocokan, akan tetapi juga masalah kecepatan ‘kecepatan’.

Jangan biarkan ‘mereka-mereka’ terombang-ambingkan dengan keputusan manusia ‘langit ketujuh’ yang tidak jelas dan semakin mengulur-ngulur waktu. Bahwa saya yang di langit pertama juga punya sikap, punya pilihan. Tak selamanya saya mau diatur.

Bukan saya membangkang bila tak mengikuti petuah langit ketujuh, akan tetapi saya juga punya pilihan. Dan saya lebih percaya putusan dan pilihan yang Allah berikan pada saya.

So, jangan salahkan keputusan saya. Siapa cepat, dia yang dapat…

antara kepala dan hati


seringkali komunikasi hanya antara “kepala”, tidak melibatkan yang dibawahnya,,, sedikit di bawahnya. yaitu HATI….

bukankah kepala hanya mampu berpikir, tidak merasa seperti hati.
adalah kepala tempat bermain logika, tak seperi hati yang mampu menerobos sisi terdalam nurani.

bila komunikasi seperti itu masih tetap saja terjadi,, katakanlah wahai hati, bahwa engkau sudah bosan dengan segala permainan ini.