Ikhlaskan semuanya…


Ikhlaskan semuanya. Luruhkan semua lintasan niat bukan untuk Allah yang dalam hati untuk melakukan semua pekerjaan. Biarkan semua peluh, usaha dan kepayahan yang telah dan sedang kita lakukan saat ini, hanya untuk Allah SWT. Benar-benar untuk Allah SWT…

Dahulu, Imam Malik rahimahullah pernah mengatakan, “Apa yang aku inginkan hanyalah keridhaan Allah SWT. Apa yang sudah kutuliskan dalam buku itu, aku anggap seperti aku membuang sesuatu ke sumur.” Sungguh dahsyat perkataan Imam Malik rahimahullah tersebut. Karena kata-kata itu ia ucapkan saat ia berpeluh dalam keletihan menuliskan lembar demi lembar kitab Al-Muwattha’ yang berisi lebih dari 10 ribu hadits. Kelak, kitab Al-Muwattha’ menjadi rujukan ilmu fiqih yang sangat penting bagi para ulama setelahnya.
Kedahsyatan perkataan Imam Malik ada pada inti perkataan Imam Malik bahwa apa yang ia lakukan semata ikhlas mencari keridhaan Allah SWT. Imam As-Suyuti meriwayatkan, suatu ketika Imam Malik pernah ditanya, “Untuk apa engkau menuliskan kitab itu?” imam Malik rahimahullah menjawab, “sesungguhnya sesuatu yang dikerjakan untuk Allah itu akan abadi.” Mathraf bin Abdullah An Nisaburi, sahabat Imam Malik pernah bertanya padanya, “Apa komentar orang tentang Muwattha’ yang kutulis?” Dijawab, “Mereka ada yang menyukai dan ada yang membencinya.” Imam Malik lalu mengatakan, “Jika engkau diberikan usia panjang, engkau akan melihat apa yang dikehendaki Allah dari kitab itu.”
Saudaraku,
Selama berpuluh bahkan berates tahun setelah itu, kitab Muwattha’ Imam Malik dikagumi banyak ulama. Imam Abdurrahman bin Mahdi bahkan memuji kitab Muwattha dengan perkataannya, “Kami tak mengenal satu kitab dalam Islam setelah Kitabullah, yang lebih baik daripada kitab Muwattha Malik.” Imam Asy-Syafi’I bahkan mengatakan, “Taka ada kitab yang lebih bermanfaat setelah kitabulah, daripada kitab Muwattha yang ditulis Imam Malik rahimahullah.” (At Tamhiid li Ibni Abdil Barr, 1/77)

 

Ada banyak kitab Muwattha’ selain Muwattha Imam Malik, yang juga ditulis oleh para ulama setelah itu. Tapi tebalnya tidak setebal Muwattha’ Imam Malik. Dan yang paling penting, kitab-kitab Muwattha’ selain karya Imam Malik, tidak lama beredarnya, atau tidak beredar sama sekali. Ada Muattha’ Ibnu Abi Dzaib. Imam Daru Quthni mengatakan, “Imam Abu Dzaib menuliskan buku Muwattha’, tapi tidak dipublikasikan. “Ada juga Muwattha’ Ibnu Wahab, milik Imam Malik. Adz Dzahabi mengatakan, “Muwattha’ Ibnu Wahab cukup tebal tapi saya tidak pernah melihatnya.”
Apa rahasianya? Menurut Imam Abdul Barr, rahasia dibalik kelanggengan manfaat kitab Muwattha’ Imam Mali kembali pada niat awal sang Imam menuliskan lembar demi lembar kitab tersebut sebagaimana yang dikatakannya, “Sesungguhnya apa yang dilakukan karena Allah itu akan abadi.” Itulah yang kemudian disimpulkan oleh Imam Abdul Barr, bahwa semua perbuatan yang dilandasi keikhlasan karena allah SWT, karakternya bermanfaat dan tak mudah lekang.
Saudaraku,
Barangkali, ita pernah berpikir saat ingin memulai pekerjaan baik. Apakah pekerjaan yang kita lakukan akan berguna nantinya? Atau pekerjaan ini akan hilang begitu saja, tanpa arti? Bila hati kita sakit-semoga Allah SWT tidak menjadikan hati kita sakit-, mungkin akan menyuarakan pertanyaan lain, bagaimana reaksi orang lain yang melihat kebaikan yang kita kerjakan?
Apa yang dilakukan Imam Malik rahimahullah saat menulis Al- Muwattha’ menjadi pelajaran besar tentang rahasia yang terjadi dalam korelasi antara hasil suatu pekerjaan, manfaat dan eksistensi kebaikan yyang dilakukan. Amal apapun yang kita inginkan besar manfaatnya dan ama eksistensinya, seiring sejaan dengan bobot keikhlasan pelakunya. Allah SWT berfirman, “Adapun buih, maka ia akan segera hilang. Sedangkan sesuatu yang bermanfaat bagi manusia itu akan tetap dimuka bumi…” (QS. Ar Ra’d: 17). Al Jahiz mengatakan, “Perhatikanlah wahai para penulis. Jika engkau melakukannya tanpa keikhlasan, tuisanmu akan menjadi seperti buih yang hilang. Seperti tumbuhan di musim buah, yang akan terbakar oleh angin musim panas.”


Seperti apa yang dilakukan oleh Al Imam Al Bukhari, ketika meletakkan bab tentang niatt di awal kitab shahihnya. Penempatan bab tersebut, antara lain agar semua orang yang membacanya, tahu bahwa kitab itu sendiri ditulis dengan niat karena Allah SWT, juga agar siapapun yang membacanya mengetahui bahwa pertama kali yang harus diingatkan saat membaca kitab itu adalah mengikhlaskan niat karena Allah SWT. Hal yang sama juga diikuti oleh Imam An Nawawi saat menyusun hadits dalam kitab Riyadlus Shalihin.

 

Saudaraku,
Ketika para sahabat radhiyallahu anhum, para ulama dan para juru dakwah rahimahumullah, bahkan kita melakukan amal kebaikan dengan ikhlas, kita akan melihat bagaimana pengaruh dan usia manfaat amal itu. Sungguh banyak kitab dan peninggalan bersejarah yang ditinggalkan para ulama yang ikhlas, yang tetap terkenang dan berlanjut kegunaanya sampai sekarang. Terlalu banyak perkataan para sahabat, dan perbuatan mereka yang tetap terekam dan dijadikan panduan saat ini karena mereka dahulu melakukan semuanya dengan keikhlasan. Arti lebih jauhnya, niat ikhlas yang ternoda, akan mengurangi kualitas sebuah amal shalis, meringankan bobot pekerjaan yang kita lakukan, dan memperpendek rentang waktu manfaatnya.

 

Seperti ungkapan Imam Ibnul Jauzi dalam shaidul khatir, “Ketika seseorang yang melakukan perbuatan baik mulai melihat pada kegandrungan hati manusia terhadapnya, berarti ia telah memasukkan factor ‘syirik” di dalam niatnya. Karena dengan demikian ia pasti mulai merasa puas dengan apa yang dilihat orang dari amal dan perbuatan yang dilakukannya. Dan diantara keniscayaan dalam keikhlasan adalah seseorang sama sekali tidak melihat kecenderungan hati manusia kepada dirinya. Seandainya kondisi itu terjadi, harus menjadi keadaan yang tidak disukai, dan bukan menjadi tujuan. Orang yang melalui amalannya ia ingin dilihat oeh makhlik, berarti telah menyia-nyiakan amalnya. Karena amalnya tak diterima di sisi Allah Al Khaliq, dan juga tidak berarti bagi makhluk. Hati manusia akan berpaling darinya, dengan begitu sia-sialah amanya dan hilanglah usianya.” (Shaidu al Khatir/122)

 

Saudaraku,
Ikhlaskan semuanya. Luruhkan semua lintasan niat bukan untuk Allah yang dalam hati untuk melakukan semua pekerjaan. Biarkan semua peluh, usaha dan kepayahan yang telah dan sedang kita lakukan saat ini, hanya untuk Allah SWT. Benar-benar untuk Allah SWT…

Dikutip dari buku: “Allah, kokohkan kaki kami di atas jalan-Mu.” (M. Lili Nur Aulia)

 

Jum’at :: 4 April 2011

Iklan

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: