kita hidup juga untuk orang lain…


Ukhuwah adalah salah satu nikmat Allah yang tidak dapat digantikan, tidak bisalah kita ini membeli ukhuwah, kita telah dipersatukan oleh Allah dalam pekerjaan dakwah yang tidak semua orang memilikinya, karena dakwah itu pilihan hidup, dan tidak terpaksa untuk melaluinya, ada yang memilih untuk masuk berdakwah? Kalo bisa memilih mungkin lebih baik ga usah aja ya, udah mending ngurusi giginya sendiri, orang belajar 4 tahun jadi dokter gigi saja belum tentu blh mencabut, itu baru mengurusi gigi orang, apalagi kita ketika berdakwah, kita mengurusi umat, kalo 4 tahun trs dadaaahh dakwah,… tak cukup dakwah itu hanya berada dikampus saja.

Perjalanan ukhuwah pun begitu, tidak cukup sampai di taaruf saja, sampai ke taawun bahkan itsar itu pun mempunyai masa waktu yang panjang… seumuran hidup kita, dalam mengarungi dakwah ini. Setiap tahapan hidup yang kita pilih, kita tidak mengetahui kapan kita dipanggil oleh Allah, maka kalo kita diamanahi maka bersunguh-sungguhlah, pergunakanlah hal itu untuk meningkatkan kapasitas diri kita, kapasitas itu ada potensi ada pengembangan ada kemanfaatan, kalo orang sibuk itu malah cepat selesai/produktif, tapi kalo ga sibuk terkadang kita malah menyia-nyiakan waktu yang ada… artinya kita tidak boleh menafikan pertolongan Allah, nah pertanyaannya adalah layakkah kita menjadi orang yang ditolong Allah??? Allah itu memilih hamba dari apa yang telah kita lakukan/hasilkan, kesungguhannya dalam bekerja.

Bismillahirahmanirrahim,…. kita telah diamanahi oleh Allah, maka harapannya amanah ini yang dapat membanggakan diri kita ketika dipanggil oleh Allah. Senantiasa kita berusaha meningkatkan kapasitas kita diri bukan malah menjadi turun, dan tentu saja menjaga hati kita dari “ghil” ghil itu baru coretan dalam hati… belum sampai pada action.. baru perasaan tidak suka… perasaan ga sreg.. “kenapa kok saya diberi amanah ini” “mengapa saya di timkan dengan orang ini”… perasaan2 ini lah yang akan menggrogoti jama’ah kita, maka gigitlah keistiqomahan itu seperti akar pohon, sama seperti hudzaifah bertanya “ya rasulullah, bagaimana bila tidak istiqomah?” jawab rasul “gigitlah akar pohon” maksudnya tetap bertahan dalam jama’ah dan dalam naungan alqur’an dan sunnah.

*terinspirasi dari milis tetangga, semoga keberkahan menaungi kita semua

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: