Archive | Juli 2011

#1 Ramadhan: Cover…


“Don’t judge the book by the cover.”

Kalimat itu mungkin sering kita dengar dalam kutipan-kutipan artikel, status atau bahkan twit dari teman-teman di dunia maya. Sebuah kata mutiara (entah ini kata mutiara atau bukan 🙂 )yang singkat namun mempunyai pesan begitu dalam bagi kita.

Jangan menilai buku hanya dari sampulnya saja, begitulah arti sederhana dari kalimat tersebut. Sampul merupakan bagian tak terpisahkan dari sebuah buku. Ketika kita mempertimbangkan untuk membeli atau membaca sebuah buku, tentu salah satu aspek yang dinilai adalah seberpa menarik atau seberapa baguskah sampul dari buku tersebut. Kadang dari sampul itu menjadi penentu apakah seseorang jadi membeli atau meninggalkan buku tersebut.

Saat kunjungan ke sebuah tempat percetakan buku di bilangan Depok, Jawa Barat, saya sempat berdiskusi dengan seorang teman mengenai sampul buku-buku yang baru saja keluar dari mesin cetak. Sampulnya begitu monoton dan tidak menarik (itu persepsi kami sebagai anak muda J) padahal buku-buku tersebut mengangkat tema-tema remaja dan anak muda banget gitu lah.

“sayang ya, buku-buku buat remaja, tapi sampulnya ‘bapak-bapak’ banget.”

Atau pernah suatu ketika seorang teman juga bertanya,

“Jup, loe di jogja tinggal dimana?”

“Di asrama ***SENSORED****”

“kayak nama penerbit bukuh tuh?”

“emang”

“tapi gue belum pernah baca sih he2, habis kayaknya buku-bukunya tuh berat banget, covernya ‘menyeramkan’.”

Ya, itu seputar cover atau sampul buku. Kalau boleh menganalogikan dengan manusia, bisa diganti kalimatnya menjadi “Jangan menilai seseorang hanya dari penampilannya saja.”

Jika penilaian kita kepada seseorang diselimuti lembaran-lembaran persepsi dan prasangka yang tidak proposrsional, maka kemungkinan besar apa yang dilihat dari orang tersebut menjadi sebuah judgement bahwa memang seperti itulah sifat aslinya. Saat mendapati sifat-sifat yang kurang berkenan darinya, seharusnya kita harus mencari lebih jauh lagi kenapa ia berbuat seperi itu. Mungkin ada banyak sisi-sisi kehidupannya yang tidak kita ketahui darinya.

Ada dua kemungkinan saat prasangka negatif memenuhi ruang-ruang pikiran manusia, pertama bisa jadi memang secara kasat mata apa yang dinilainya memang buruk atau yang kedua persepsi di otaknya memang sudah mendahului penglihatannya dari objek yang dinilai. Sehingga apapun objek penilaiannya,  entah itu bagus ataupun jelek, bila persepsinya sudah terframe dalam otaknya, maka itulah yang akan keluar sebagai penilaiannya.

Pun, saat penilaian terhadap seseorang itu ‘sporadis’ hanya berdasarkan kasat mata penglihatannya, sesungguhnya kita telah menzhaliminya. Menilai dia itu begini, dia itu begitu, dia egois, dia penghianat atau apalah penilaiannya tanpa mengetahui kondisi yang sebenarnya.

Ya, setelah muter-muter tentang buku dan covernya, sebenarnya malam ini saya cuma mau bilang, kadang orang baik itu tidak sebaik fisiknya dan kadang orang jelek itu tidak sejelek fisiknya.

Malam pertama Ramadhan 1432 H

Diiringi ‘alunan’ suara SUTET di ubun-ubun kepala….. 😀

Nol


“kalau wanita mempunyai akhlak baik dan cara berfikir positif, maka ia adalah angka 1.
kalau ia juga cantik maka imbuhkan 0, jadi 10.
kalau ia juga punya harta, imbuhkan lagi 0, jadi 100.
kalau ia pintar dan cerdas, imbuhkan lagi 0, jadi 1000.
kalau seorang wanita memiliki semuanya tapi tidak memiliki yang pertama maka ia hanya 000.” –Al-Khawarizmi

evaluasi


Mungkin ada yang salah,
Ah bahkan bukan sekedar mungkin, tapi memang pasti ada yang salah.

Kadang memang tidak terpikir,
Ah bahkan bukan sekedar kadang, tapi memang tidak pernah terpikir sama sekali.

Ada yang salah, ada yang tidak pernah terpikirkan, ada banyak yang harus diperbaiki, dikoreksi, dievaluasi, dinstrospeksi dan di-muhasabah-i.

*harusterusmengevaluasidirimenyambutramadhanini*

sms pagi hari


“Apa jawaban Ayah, nila teman kantor tanya mengapa Tuhan tidak menampakkan dirinya? Memperlihatkan dirinya?”

 

“Karena….karena, ya itu, kalai Tuhan menampakkan dirinya, berarti Tuhan tidak adil.”

 

“Kenapa?”

 

“Iya, berarti kasihan orang buta. dia tidak bisa melihat.”

(Pidi Baiq)

Biarlah hanya Allah yang tahu do’a-do’a kita…


engkau pasti sering mendengar bahwa do’a seseorang kepada saudaranya dibelahan bumi lain akan lebih mustajab bila dilakukan tanpa sepengetahuannya…

engkau pasti sering membaca itu, mengucapkannya pada orang lain dan mendengarnya dalam forum-forum rutinmu…

engkau pasti lebih paham dariku. Dan aku hanya berpesan, tetaplah berdo’a untukku dalam sunyimu, pun begitu juga aku akan tetap berdo’a dalam sunyiku. Biarlah hanya Allah yang tahu do’a-do’a kita……

 

merah jambu untuk pertiwi


Tatkala MERAHnya tak lagi menyala dan PUTIHnya tak lagi berkilau, paling tidak perpaduan keduanya bisa menghadirkan warna CINTA, MERAH JAMBU di hati semua rakyatnya. Cinta pada pemimpinnya, cinta pada negerinya dan cinta pada Tuhannya.

Negeri ini butuh cinta. Bukan cinta pemanis dibibir saja. Bukan gombalan janji-janji yang tak kunjung tertunaikan. Bukan pula debat-debat panjang tanpa ada aksi nyata dilapangan. Dan pertiwipun semakin menangis, melihat ibunya yang sudah renta dan teronggok tak berdaya. “Apa salah ibuku?”

350 tahun lebih ibuku dihina, diinjak-injak, dan dipermainkan bangsa-bangsa tak berkeprimanusiaan. Perih, sakit tak berdaya menahan siksaan-siksaan bertubi-tubi bertahun-tahun.

Bahkan, baru sebentar saja ibuku terbebas dari siksaan itu, datang lagi penindasan dari bangsa diujung timur bumi ini. Ah, bosan rasanya ibu pertiwi selalu tersiksa.

66 tahun katanya ibu pertiwi bebas dari siksaa, tapi kini ia semakin renta. Ia belum bisa merasakan indahnya hidup aman dan damai, indahnya hidup dalam keadilan dan kesejahteraan.

Dan kini, potret ibu pertiwi semakin renta, ia semakin renta. Pertiwi pun semakin menangis, tak tahu apalagi yang harus diperbuatnya.

Korupsi merajalela, narkoba mengantu generasi muda, seks bebas menjadi candu remaja, kemiskinan dimana-mana, kelaparan membunuh bayi-bayi yang papa, dan masih banyak lagi potret ibu pertiwi sekarang ini.

Namun, bila masih ada cinta, potret buram itu akan tergantikan dengan senyum simpul sang peritiwi yang akan menjaga ibunya, cinta itu pula yang akan menguatkan pertiwi untuk tetap berjuang agar ibunya juga bisa melukiskan senyum indah di bagi anak-anaknya…..

Tatkala MERAHnya tak lagi menyala dan PUTIHnya tak lagi berkilau, paling tidak perpaduan keduanya bisa menghadirkan warna CINTA, MERAH JAMBU di hati semua rakyatnya. Cinta pada pemimpinnya, cinta pada negerinya dan cinta pada Tuhannya.

blogwalking…


malam ke-17 kkn, nggak ada kerjaan dan kebetulan ada modem nganggur (*pinjem dulu ya ms wahyu :D) ,berikut ini blog2 yg jadi bacaan sy malam ini 🙂

 

Langkahku terhenti… Bukan b’arti mati… tapi aku bersiap tuk kembai… mewujudkan mimipi… tuk menjadi sesuatu yang kan terjadi… (http://aamawardhi.blogspot.com/)

 

Karena setiap loncatan besar, berawal dari langkah kecil.. (http://yuanapurnama.wordpress.com/)

 

Hidup di atas pentas pelataran fana ini hanyalah untuk mengarungi dua buah pilihan. Menjadi seorang idealis, atau pecundang kolot. Dan aku telah tetapkan pilihanku. Idealis. Ya, inilah pilihanku. (http://asfarid.blogspot.com/)

 

“Janganlah engkau jadikan hatimu seperti busa dalam hal menampung syubhat-syubhat, maka busa tersebut menyerapnya sehingga yang keluar dari busa tadi adalah syubhat-syubhat yang diserapnya tadi, tetapi jadikanlah hatimu itu seperti kaca yang kokoh dan rapat sehingga syubhat-syubhat tersebut hanya lewat di depannya dan tidak menempel di kaca. Kaca tadi memandang syubhat-syubhat tersebut dengan kejernihannya dan menolaknya dengan sebab kekokohan kaca tersebut. karena kalau tidak demikian, apabila hatimu menyerap setiap syubhat yang datang kepadanya, maka hati tersebut akan menjadi tempat tinggal bagi segala syubhat.” (http://arifdjuwarno.wordpress.com/)

 

Wanita dari Venus dan pria dari Mars seringkali menjadi simbol perbedaan kedua gender. Pria, seringkali memperlihatkan rasa tidak setuju dengan diam. Sebaliknya, wanita terkadang terlalu mengumbar cerita. Bila terjadi berulang kali. pria bisa jadi kehilangan rasa atau ilfil pada wanita. Meskipun seringkali tak mengungkapkannya, ada beberapa hal yang tidak disukai pria dari seorang wanita. (http://alivealone.wordpress.com/)

 

Sesungguhnya kesuksesan itu adalah hak setiap orang. Tetapi ada suatu hal yang menghambat kesuksesan, yaitu iri/dengki terhadap kesuksesan yang dimiliki orang lain. (http://hidatte.wordpress.com/)

 

Allah punya skenario yang unik untuk hamba-hambaNya… (http://tettyharahap.wordpress.com)

 

Nikmati saja apa yang ada saat ini.. Berusaha membuat kenangan indah dalam setiap aktivitas. Hingga kanvas hidup menjadi kaya akan warna. Tapi,,tetap saja jangan lupa minta maaf… (http://dimasagil.wordpress.com)

 

whuaaa,,udah dulu ya, udah malem……