(Cerpen) Muwaffaqah…


“Jadi kesimpulan pertemuan kita hari ini adalah tidak ada cara baku dalam mengajarkan Islam. Perlu banyak inovasi dan penyesuaian dengan kondisi saat ini,” Ustad Alamsyah menyimpulkan mentoring kami hari ini dan menutup pertemuan dengan Hamdallah.

“Akhirnya selesai juga Wat, kita bisa main basket sekarang,” ujar Salim. Salim adalah teman baikku, teman di rohis, dan juga teman satu kelompok mentoring. Aku dan Salim adalah siswa di SMA N 4 Lahat, Sumatera Selatan. Aku baru 8 bulan kenal mentoring dan menurutku mentoring cukup efektif sebagai metode mengajarkan Islam, setidaknya aku diangkat menjadi kepala divisi di rohis SMA, lebih dikenal sebagai Rohis Ash-Shaff, belum lama sejak ikut mentoring. Aku mempunyai nama yang cukup asing, Kurenai Wataru, namun aku bangga dengan nama itu. Basket, menulis, dan mentoring adalah kegiatan rutinku setiap minggu. Aku dikenal cukup pintar, tidak begitu alim, ramah, dan usil, kombinasi sifat yang aneh memang.

Banyak yang bilang anak rohis itu tidak mengenal cinta semasa remaja. Pada saat mentoringpun Ustad Alam berulang kali mengingatkan untuk tidak terjebak cinta sampai kita benar-benar sudah siap. Seorang perempuan membuatku menjadi anak rohis yang merasakan anehnya cinta itu. Perempuan itu bernama Mio Fadlillah, adik kelasku sendiri.

Awal kisahnya adalah sekitar lima bulan yang lalu ketika siswa baru masuk kesekolahku. Saat itu baru lewat dua minggu aku diangkat menjadi kepala divisi media rohis Ash-Shaff dan aku mendapatkan sms dari seseorang yang tidak kukenal.

“Assalamualaikum kak, apakah siswa baru seperti saya boleh menyumbangkan tulisan di buletin Al Banna?”

Bukan hal yang mengherankan jika aku sering mendapatkan sms mengenai buletin Al Banna karena nomor hp ku tertera di bagian kanan bawah buletin sebagai pusat informasi. Buletin Al Banna adalah buletin mingguan yang diterbitkan oleh divisi media rohis SMA-ku, lebih tepatnya akulah yang memberikan nama Al Banna. Nama tersebut berasal dari nama ulama besar yang sangat memperhatikan pengajaran dan pendidikan Islam, Hasan Al Banna. Sengaja aku pilih nama itu karena aku sangat konsen dalam mencari metode pendidikan Islam yang efektif di zaman sekarang ini, dan media merupakan salah satu pilihan yang kurasa cukup baik.

Kubalas sms itu dengan penjelasan cara-cara mengirimkan tulisan untuk buletin dan kuakhiri smsku dengan menanyakan identitas pengirim. Namun tidak ada balasan sama sekali. “Paling orang yang iseng aja,” batinku.

Sabtu siang jam 1, seperti biasa, aku memimpin rapat koordinasi dan penyusunan buletin Rohis Ash-Shaff. Rapat koordinasi kali ini berlangsung cepat, dan memang selalu cepat. Penyusunan buletin lah yang cukup lama. Proses penyusunan dimulai dari pemilihan tulisan yang dikirim oleh para siswa. Salim membawa sebuah kotak yang biasanya menempel di dinding dekat pintu sekretariat rohis dan memeriksa isinya. Aku ingat sekali kotak itu sebenarnya adalah kardus supermie yang aku minta di warung pak hol, sebuah warung di pojok sekolah. Kardus tersebut telah disulap menjadi kotak cantik oleh perempuan-perempuan di divisi media yang memiliki kreativitas di atas rata-rata, itu pendapat subjektifku.

“Ada berapa tulisan yang masuk minggu ini?” tanyaku pada Salim.

“12 artikel dan 23 jawaban kuis”

“Seperti biasa” jawabku pelan. Jumlah artikel dan jawaban kuis yang masuk setiap minggunya memang berkisar di angka itu. Angka itu sudah lebih dari cukup bagi kami. Buletin yang mempunyai 6 halaman ini berisi 2 artikel kiriman, 1 artikel tetap dari ketua divisi media yang merangkap menjadi ketua redaksi (aku maksudnya), dan sisanya berbagai tulisan maupun hiburan non-artikel yang dikumpulkan tim media. Hasil wawancara terhadap beberapa orang yang artikelnya dimuat menunjukkan bahwa ada dua motivasi utama yang membuat mereka semangat mengirim tulisan. Motivasi yang pertama adalah hadiah menarik dari tim media, sebuah Alma’ Tsurat sumbangan alumni yang langsung didatangkan dari tempat kerjanya, Mesir. “Ingin eksis,” itulah motivasi lain para penulis artikel. Alasan yang masuk akal karena memang nama penulis tertulis jelas di bawah judul artikel, bahkan di bold.

“Akh Wataru, ini ada tulisan bagus, tapi tidak ada nama pengirimnya,” ucap Nurul, salah satu anggota divisiku, sambil menyerahkan secarik kertas. Kubaca tulisan itu, judulnya Qurotta Ayyun. Kubaca paragraf pertama dalam tulisan tersebut.

—————————————– Qurotta Ayyun Sudah kenalkah anda dengan identitas sebenarnya dari perempuan? Allah SWT menciptakan perempuan pertama, Hawa, dari tulang rusuk Adam. Hawa berasal dari kata hayyun yang artinya hidup atau bisa dimaknai bahwa pada hakikatnya penciptaan perempuan adalah untuk selalu menampakkan kehidupan, selalu menunjukkan semangat, selalu memperlihatkan keceriaan, dan poin utama adalah Qurotta Ayyun, menjadi penyejuk pandangan bagi lingkungan di sekitarnya. —————————————–

“Tulisannya diawali dengan kata-kata yang cukup menarik, namun terlalu cepat menyampaikan gagasan utama, pasti paragraf berikutnya akan kurang menarik” batinku. Setelah membaca sampai tuntas, aku sadar pendapatku tadi salah. Paragraf demi paragraf berisi tulisan dengan ide-ide segar yang baru namun tidak keluar konteks besar mengenai Qurotta Ayyun. Seni menulis yang digunakan bervariasi, mulai dari sastra elok yang membuatku mendayu-dayu, bahasa lugas dengan definisi-definisi singkat, sampai analisis mendalam dengan paduan kata-kata yang sangat efektif. Kekagumanku yang utama bukan pada gagasan dan seni menulis, namun sihir yang diciptakan yang memain-mainkan perasaanku seenaknya. Di paragraf-paragraf awal, perasaanku dibuat tersentak dengan masih sangat minimnya pengetahuanku mengenai perempuan, lalu aku dibuat bergetar dan merinding dengan caranya menginterpretasikan ayat-ayat Quran, kemudian hatiku dibuat berseri-seri dan mulutku dibuat tersenyum dengan humor ringan, dan bagian akhir, sungguh sangat mengharukan, aku tidak bisa menahan air mataku keluar.

“Hei Wat, ada apa?” tanya Salim yang juga membuat aku tersadar dari dunia perasaanku.

Tanpa menjawab aku mengumumkan, “Subhanallah, tulisan ini aku tetapkan masuk di bagian utama buletin kita edisi ini!”

“Bukannya gak ada identitasnya ya? Nanti kita tulis dari mana dong sumbernya?”

Aku segera memeriksa setiap sudut kertas itu, namun ternyata memang tidak ada nama pengirimnya. Hanya ada tulisan “dari seorang perempuan yang berharap mendapat petunjuk”. Setelah merenung sejenak, aku mendapatkan ide, “buat aja Muwaffaqah sebagai nama pengarangnya.” Muwaffaqah berasal dari bahasa Arab yang artinya yang mendapatkan petunjuk. Pemilihan nama itu sekaligus sebagai doa bagi pengirim supaya beliau mendapatkan petunjuk yang terbaik baginya.

Sejak saat itu, hampir setiap minggu tulisan perempuan misterius itu terbit dalam buletin Al Banna. Dulu pembaca hanya penasaran dengan nama Shabwah, sekarang ditambah lagi dengan Muwaffaqah. Ohiya, sejak awal aku tak pernah menggunakan nama Kurenai Wataru untuk tulisan-tulisan di buletin, aku hanya memperkenalkan nama Shabwah. Tentu seluruh anggota divisi media mengetahui hal itu, tapi aku minta dirahasiakan untuk menjaga keikhlasan dalam menulis.

Tidak terasa tinggal 2 bulan lagi aku akan menyelesaikan SMA-ku. Aku sudah tidak aktif lagi di rohis, mengirim tulisan di buletin pun sekali-sekali saja. Saat ini ada dua hal yang menyita konsentrasiku, ujian kelulusan SMA dan seleksi beasiswa kemitraan. Keduanya bisa dibilang sama pentingnya. Lulus SMA tentu tidak perlu ditanyakan lagi buat apa. Beasiswa kemitraan adalah program pemerintah daerah untuk menyekolahkan putera daerahnya ke salah satu dari tiga perguruan tinggi negeri, yaitu ITB, UGM, atau Unsri. Kondisi ekonomi keluargaku yang pas-pasan semenjak bapak meninggal 8 tahun yang lalu dan tekat bulatku untuk tidak membebani emak membuatku begitu mengharapkan beasiswa ini.

Pagi itu aku duduk di teras kelasku sambil menunggu waktu dimulainya tryout ujian akhir. Udara begitu sejuknya, beberapa teman sekelasku, seperti biasa, kebanyakan sedang membaca Alma’ Tsurat di dalam kelas. Kebetulan aku sudah membacanya usai sholat subuh tadi.

“Assalamualaikum” ada suara asing tapi merdu menyapaku dari belakang.

“Waalaikumsalam” jawabku sambil berbalik menatap sang penyapa. Hatiku tergetar, untuk beberapa detik mataku tak bisa lepas dari wajahnya sebelum akhirnya kutundukkan pandanganku. Perasaanku terasa aneh, siapa dia?, yang pasti dia adik kelasku karena aku yakin mengenal semua teman seangkatanku.

“Ini kak, saya mau nitip buletin Al Banna dibagikan di kelas kakak.” Kuambil buletinnya, sekarang aku yakin dia berasal dari divisi media rohis. Memang sejak keluar dari rohis aku tidak begitu memperhatikan organisasi tersebut.

“Baik dek, anggota divisi media ya?” kucoba membuka percakapan karena entah kenapa aku ingin lebih lama lagi didekatnya.

“Yupp, tapat sekali kak. Wah, mantan ketua divisi sudah tidak memperhatikan divisinya dulu toh.” Aku tersenyum simpul, kuberanikan menatap wajahnya kembali, kali ini lebih lama. Aku merasakan ketenangan dan kesejukkan luar biasa. Seumur hidup aku belum pernah merasakan seperti perasaan seaneh ini, apakah ini yang dinamakan jatuh cinta?

“Maaf kak, buletinnya jangan diremas gitu dong, nanti gak kebaca.” Mukaku merona merah, tanganku bergerak salah tingkah, dan tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku saking bingung dan malunya.

“Udah dulu ya kak, bentar lagi tryout-nya akan dimulai, saya juga harus segera ke kelas. Terima kasih atas bantuannya.”

“Eh iya, sama-sama.”

Perempuan itu pun berbalik dan baru dua langkah berjalan aku menghentikan langkahnya. “Maaf dek, namanya siapa ya?”

“Bisa dilihat di buletin, yang bikin artikel di halaman 3,” sahutnya kemudian melangkah kembali. Mataku mengikuti langkahnya sampai ia menghilang di belokan ruang matematika.

“Ngapain wat tadi berduaan aja dengan Mio?” tiba-tiba Salim menghampiriku.

“Mio?”

“Iya, Mio Fadlillah, kamu gak kenal dengan penerusmu sendiri?”

“Maksudmu lim?”

“Wah, kamu benar-benar terlalu fokus belajar nih, Mio itu kepala divisi media yang baru, penggantimu. Dia cantik kan?”

“Hush, kamu ngomong apa sih lim, astaghfirullah,” aku beristighfar halus, namun ada rasa senang di dalam hatiku, aku dan dia sama-sama pernah menjadi kepala divisi yang sama di rohis.

“Bercanda kok Wat, eh masuk yuk, bentar lagi tryout akan dimulai,” ujar Salim sambil melangkah ke dalam kelas.

Baru satu langkah mengikuti Salim aku baru ingat sesuatu, kubuka buletin halaman tiga. Judul artikel dan penulisnya tertera jelas di baris paling atas, “Sang Kekasih Allah by Muwaffaqah”. Kalau tadi aku heran dengan perasaan anehku ketika bertemu dia, sekarang aku benar-benar terkejut mengetahui bahwa dialah penulis misterius yang tulisannya membuatku menangis, bahkan nama yang kuberikan padanya masih ia gunakan dalam tulisannya, Muwaffaqah.

“Mio Fadlillah atau Muwaffaqah, tulisanmu dan dirimu, keduanya telah membuat hatiku terpikat pada saat pertama kali aku membaca tulisannmu dan pada saat pertama kali aku melihat wajahmu,” ucapku dengan sangat pelan.

Dalam hati aku berdo’a, “Ya Allah, jika aku jatuh cinta, labuhkanlah cintaku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu.” —————————————–

“Barokallah wat, kamu udah jadi sarjana nih,” ucap Froskhan, teman satu jurusanku di ITB.

“Benar, aku sarjana sekarang.” Aku menghela nafas panjang dan pikiranku menerawang jauh ke masa beberapa tahun yang lalu. Man jadda wa jada, barang siapa yang bersungguh – sungguh, maka akan mendapatkannya. Impianku untuk mendapatkan beasiswa kemitraan terwujud, bahkan peringkat pertama. Hasil ini membuatku disodorkan pilihan untuk dibiayai kuliah di salah satu dari 3 universitas, ITB, UGM, atau Unsri. Setelah meminta banyak saran, terutama pencerahan dari emak, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil ITB. Alasan utamaku berkaitan erat dengan ketertarikanku untuk mencari metode paling tepat dalam pengembangan metode pengajaran Islam. ITB, sebagai kampus teknologi, aku yakini bisa memberikan pencerahan.

“Hei Wat, kenapa kamu melamun? Aku tahu, memang berat wisuda tidak dihadiri emakmu, yang tabah ya bro.”

Aku membalas ucapan Froskhan dengan senyuman. Ada dua orang yang begitu ingin temui sekarang. Pertama adalah emakku di Lahat yang tidak bisa menghadiri wisudaku karena kondisi kesehatan beliau yang sedang tidak baik. Kedua adalah Salim, teman karibku di SMA, yang entah kenapa tidak bisa kuhubungi sejak tahun kedua kuliahku.

“Ayo khan, kita pulang,” ajakku. —————————————–

“Bismillahirrahmanirrahim”

Aku telah siap berangkat. Pakaian yang kukenakan pagi ini cukup berbeda, kemeja muslim khas Rabbani berwarna merah marun dipadukan dengan celana panjang hitam. Pagi ini, 4 bulan dari kelulusanku di ITB, aku memberanikan diri menemui Novri, mahasiswa S2 di Universitas Padjajaran. Tujuannya adalah untuk mengatakan bahwa aku mencintai dan ingin menikahi Mio Fadlillah, adik kandungnya. Aku memang berhasil menahan rasa cintaku pada Mio selama tiga tahun lebih. Aku tidak ingin terjebak dalam cinta yang tidak diridhoi Allah. Namun aku tetap tidak bisa melupakannya. Pertemuan tidak sengaja dengan Novri membangkitkan kembali harapanku padanya. Sekitar 1 tahun lalu, aku bertemu dengan Novri dalam pertemuan mahasiswa muslim asal Sumatera Selatan se-Bandung. Aku dari ITB dan Novri, yang 2 tahun lebih tua dariku, dari Unpad. Dari obrolan yang cukup singkat, ternyata Novri mempunyai adik yang pernah satu sekolah denganku yang bukan lain adalah Mio. Sejak saat itu kami cukup akrab, satu bulan sekali kami bersama-sama menghadiri pengajian Aa’Gym di Daarut Tauhid.

Kantin Masjid Salman ITB, itulah tempat aku dan Novri akan bertemu. Sengaja aku datang setengah jam lebih awal untuk mempersiapkan diri. Kupilih meja di pojok kiri karena disana nyaris tidak ada orang. Aku mulai berpikir mengenai diriku dan mencoba menguji apakah diriku layak untuk melamar Mio. Aku lulusan terbaik di SMA-ku, mendapatkan beasiswa kemitraan, belum pernah pacaran, cukup alim, sarjana dari salah satu kampus terbaik di Indonesia, sudah mendapatkan pekerjaan tetap, dan gemar menulis. Tanpa sadar aku senyum-senyum sendiri. Lalu kubuka ranselku dan kuambil beberapa lembar kertas dan itu adalah kumpulan tulisan Mio di buletin Al Banna. Setiap kerinduan datang aku pasti membaca tulisan-tulisan itu dan setiap membaca tulisan itu aku pasti menangis. Baru saja air mataku akan keluar, Novri datang menghampiriku.

“Assalamualaikum Akhi”

“Waalaikumsalam Warohmatullah,” jawabku.

Kami berbincang-bincang singkat mengenai kabar dan aktivitas masing-masing sampai akhirnya aku memberanikan diri menyampaikan maksud sebenarnya.

“Kak Novri, dengan mengharapkan ridho dari Allah, aku sebenarnya ingin melamar adikmu, Mio Fadlillah untuk kujadikan penyejuk hatiku.” Tidak kusangka kata-kata tersebut mengalir dengan tegasnya dari mulutku. Kulihat Novri terdiam dan menunjukkan wajah yang lebih murung. Hatiku bertanya-tanya, apakah aku tidak pantas untuk melamar adiknya?

“Subhanallah…Sungguh maha suci Allah. Aku sangat senang dengan kejujuran hatimu. Bagiku, tidak ada alasan untuk menolak lamaranmu. Aku kenal baik dirimu. Aku tahu keteguhan hatimu. Aku tahu perjuangan kerasmu dalam menegakkan Agama Allah. Aku tahu prestasimu-prestasimu. Hanya saja…” ucapan Novri terhenti.

“Ada apa kak?”

“Maafkan aku belum menceritakan ini padamu. Sekitar 3 minggu yang lalu, Mio sudah menerima lamaran dari orang lain. Pria ini adalah orang ketiga yang melamarnya.” Aku sungguh kecewa, hatiku sakit sekali rasanya. Walaupun suaraku bergetar, kucoba bertanya, “Siapa pria beruntung itu?”

“Aku belum pernah bertemu dengannya Wat. Dia melamar Mio langsung di rumah, sedang aku berada di Bandung. Dari kabar yang kuterima, namanya Salim Yuandi, dia satu SMA dengan Mio dan berarti saru sekolah denganmu juga. Mungkin kamu mengenalnya.”

Jika tadi aku terkejut mendengarkan Mio sudah dilamar, sekarang aku jauh lebih terkejut. Jika tadi hatiku sangat sakit, sekarang beribu kali lebih sakit bahkan tersayat-sayat. Betapa tidak, ternyata yang melamar Mio adalah Salim Yuandi. Siapa lagi alumni SMA N 4 Lahat yang bernama Salim Yuandi? Salim adalah teman paling baikku di SMA, teman mentoringku, teman satu tim basketku dan teman di divisi media rohis Ash-Shaff. Yang lebih menyakitkan adalah Salim tahu betul perasaanku pada Mio karena hanya kepadanyalah dulu aku berani menceritakan bahwa aku mencintai Mio. Apakah ini alasan Salim tidak pernah bisa kuhubungi selama ini? Sungguh rumit bagiku mengartikan makna cinta dan persahabatan saat ini. —————————————–

Satu bulan telah berlalu dari masa-masa suramku. Aku tidak mau terjerat terus dalam urusan cinta dan persahabatan. Aku mulai menekuni kembali aktivitasku. Selain bekerja dan mengembangkan usaha, aku cukup disibukkan dengan situs jejaring sosial yang kurintis sejak awal kuliah di ITB, mentoring online. Aku tidak pernah melupakan bahwa salah satu tujuanku masuk ke kampus yang terkenal dengan teknologi ini adalah untuk mencari metode pendidikan Islam yang sesuai perkembangan zaman. Dan di masa serba canggih seperti sekarang, aku memilih media internet sebagai sarana. Awalnya situs yang kubuat hanyalah tempat diskusi agama dan distribusi mentoring bagi yang membutuhkan. Sekarang mentoring online sudah berkembang. Selain diskusi agama yang semakin ramai, pengajian online yang selalu didengarkan ratusan pengunjung, distribusi mentoringpun semakin efektif. Minimal ada dua kelompok mentoring yang terbentuk setiap minggunya. Konsepnya sederhana, orang-orang yang mendaftarkan diri untuk mentoring aku gabungkan dan kucari satu orang sebagai mentornya. Memang pendaftar masih dibatasi daerah Bandung karena aku kesulitan mencari mentor. Biasanya aku mencari mentor dari jaringan-jaringan pengajian yang aku ikuti, Daarut Tauhid, Pusdai, Salman, dan Lembaga-lembaga dakwah kampus. Melelahkan memang, namun aku ingin menjadi jalan hidayah bagi sebanyak-banyaknya orang. Cita-citaku untuk memecahkan permasalahan pendidikan Islam sedikit banyak sudah mulai terwujud.

Aku baru pulang dari Daarut tauhid ketika kulihat sebuah surat yang tergeletak di dekat pintu. Saat itu hujan cukup deras membasahi perjalanan pulangku sehingga aku harus mengeringkan badanku dahulu. Ditemani secangkir teh hangat, aku membuka surat itu. Kubaca secara perlahan.

—————————————– Bismillahirahmanirrahim, Assalamualaykum Wr Wb,

Untuk Kak Kurenai Wataru

Bermula dari nama yang engkau berikan, Muwaffaqah, yang diberikan petunjuk. Berlanjut dengan membaca tulisan-tulisanmu di buletin Al Banna. Sampai akhirnya aku memberanikan diri untuk bertemu langsung denganmu dengan dalih mengantarkan buletin. Aku pikir aku jatuh cinta. Ditambah lagi sikap salah tingkahmu saat bertemu denganku, ketika itu, aku yakin Kakak mempunyai perasaan yang tidak jauh berbeda denganku. Itulah awal mula tumbuhnya rasa cintaku padamu. Sederhana dan singkat memang, namun jangan remehkan, rasa cintaku padamu terus berkembang, setidaknya sampai aku menulis surat itu. Harapanku padamu sangatlah besar, tapi aku tutup rapat rasa ini dalam hatiku dan menunggu saat dimana kau akan menjemputku dan mengakhiri penantianku. Tapi sampai kapan aku harus menunggu? Kudengar dari Kak Novri, Kakak sudah diwisuda, sudah mendapatkan pekerjaan, dan sudah tidak ada halangan lagi untuk mencari pendamping hidup. Tapi Kakak tidak kunjung menjemputku. Bahkan aku sampai ragu, jangan-jangan hanya aku yang merasakan ini, dan semuanya adalah harapan kosong. Jangan-jangan aku terlalu percaya diri dengan mengira kakak juga mencintaiku. Lamaran pertama kutolak dengan dalih yang dibuat-buat. Lamaran kedua kutolak dengan dalih yang lebih dibuat-buat lagi. Aku sudah tidak punya alasan lagi untuk menolak lamaran ketiga yang datang padaku. Aku tidak mungkin mengatakan bahwa aku menunggu Kurenai Wataru datang melamarku, mustahil! Tak lama setelah lamaran diterima dan persiapan pernikahan sudah dimulai, aku mendapatkan kabar bahwa kakak melamarku. Sedih kak! Aku lebih baik tahu bahwa kakak sama sekali tidak mencintaiku daripada aku tahu kakak mencintaiku namun waktunya sudah terlambat. Episode final penantian cintaku padamu telah berakhir. Aku memang mencintaimu namun aku lebih mencintai Allah. Jadi aku tidak akan membatalkan pernikahanku dengan Mas Salim karena itu akan menyakiti dan membuat malu banyak orang, dan itu akan membuat Allah murka. Terakhir, izinkan aku menyampaikan kalimat yang sesungguhnya sangat ingin aku dengarkan darimu, “Aku mencintaimu karena Allah.” Mohon bakar surat ini sekaligus bakar kenanganmu padaku, hal yang sama juga akan aku lakukan. Dan surat ini akan menjadi surat terakhir aku menggunakan nama Muwaffaqah.

Yang membutuhkan petunjuk, Muwaffaqah —————————————–

Kuambil korek api dan kupenuhi permintaan terakhir Mio. Saat itu hujan tidak sederas tadi, namun gemericik suaranya ketika beradu dengan seng atap kamarku cukup memikatku untuk keluar. Kugenggam abu sisa surat Mio dan kubawa berlari ke luar. Air hujan membasahi tubuh dan wajahku, namun aku tidak yakin air hujan yang menetes ke wajahku mengalahkan banyaknya air mataku saat itu. Kuhamburkan abu surat Mio ke udara. Aku terduduk lesu di tanah becek, tak peduli ada orang yang melihat apa tidak. Aku memang sedih, namun aku sangat lega. Aku tau Mio juga pernah mencintaiku. Hujan mulai menghilang membawa serta kesedihan, kekecawaan, dan cinta. Entah karena merasa bebas atau karena semangat baru sudah merasuki diriku, aku tersenyum.

“Selamat datang hari esok, antarkan aku pada hari-hari yang lebih indah.”

http://akhidenli.wordpress.com

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

3 responses to “(Cerpen) Muwaffaqah…”

  1. nashrilabdillah says :

    menusuk hati,
    mengguncang pikiran,.

    ya Allah kuatkan hamba….

  2. hidatte says :

    panjang amiiiiirr…tulisannya
    amir aja ga panjang
    kirain tulisan antum, trnyata punyanya orang Lahat..kakak kelasnya si Tetty kan ya

  3. jupz says :

    lha kalo ane yang buat bisa lebih panjang dari ini😀, bisa jadi novel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: