#1 Ramadhan: Cover…


“Don’t judge the book by the cover.”

Kalimat itu mungkin sering kita dengar dalam kutipan-kutipan artikel, status atau bahkan twit dari teman-teman di dunia maya. Sebuah kata mutiara (entah ini kata mutiara atau bukan 🙂 )yang singkat namun mempunyai pesan begitu dalam bagi kita.

Jangan menilai buku hanya dari sampulnya saja, begitulah arti sederhana dari kalimat tersebut. Sampul merupakan bagian tak terpisahkan dari sebuah buku. Ketika kita mempertimbangkan untuk membeli atau membaca sebuah buku, tentu salah satu aspek yang dinilai adalah seberpa menarik atau seberapa baguskah sampul dari buku tersebut. Kadang dari sampul itu menjadi penentu apakah seseorang jadi membeli atau meninggalkan buku tersebut.

Saat kunjungan ke sebuah tempat percetakan buku di bilangan Depok, Jawa Barat, saya sempat berdiskusi dengan seorang teman mengenai sampul buku-buku yang baru saja keluar dari mesin cetak. Sampulnya begitu monoton dan tidak menarik (itu persepsi kami sebagai anak muda J) padahal buku-buku tersebut mengangkat tema-tema remaja dan anak muda banget gitu lah.

“sayang ya, buku-buku buat remaja, tapi sampulnya ‘bapak-bapak’ banget.”

Atau pernah suatu ketika seorang teman juga bertanya,

“Jup, loe di jogja tinggal dimana?”

“Di asrama ***SENSORED****”

“kayak nama penerbit bukuh tuh?”

“emang”

“tapi gue belum pernah baca sih he2, habis kayaknya buku-bukunya tuh berat banget, covernya ‘menyeramkan’.”

Ya, itu seputar cover atau sampul buku. Kalau boleh menganalogikan dengan manusia, bisa diganti kalimatnya menjadi “Jangan menilai seseorang hanya dari penampilannya saja.”

Jika penilaian kita kepada seseorang diselimuti lembaran-lembaran persepsi dan prasangka yang tidak proposrsional, maka kemungkinan besar apa yang dilihat dari orang tersebut menjadi sebuah judgement bahwa memang seperti itulah sifat aslinya. Saat mendapati sifat-sifat yang kurang berkenan darinya, seharusnya kita harus mencari lebih jauh lagi kenapa ia berbuat seperi itu. Mungkin ada banyak sisi-sisi kehidupannya yang tidak kita ketahui darinya.

Ada dua kemungkinan saat prasangka negatif memenuhi ruang-ruang pikiran manusia, pertama bisa jadi memang secara kasat mata apa yang dinilainya memang buruk atau yang kedua persepsi di otaknya memang sudah mendahului penglihatannya dari objek yang dinilai. Sehingga apapun objek penilaiannya,  entah itu bagus ataupun jelek, bila persepsinya sudah terframe dalam otaknya, maka itulah yang akan keluar sebagai penilaiannya.

Pun, saat penilaian terhadap seseorang itu ‘sporadis’ hanya berdasarkan kasat mata penglihatannya, sesungguhnya kita telah menzhaliminya. Menilai dia itu begini, dia itu begitu, dia egois, dia penghianat atau apalah penilaiannya tanpa mengetahui kondisi yang sebenarnya.

Ya, setelah muter-muter tentang buku dan covernya, sebenarnya malam ini saya cuma mau bilang, kadang orang baik itu tidak sebaik fisiknya dan kadang orang jelek itu tidak sejelek fisiknya.

Malam pertama Ramadhan 1432 H

Diiringi ‘alunan’ suara SUTET di ubun-ubun kepala….. 😀

Iklan

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Trackbacks / Pingbacks

  1. memutar waktu « .::PUTIH-KUNING-HITAM::. - September 27, 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: