Archive | Agustus 2011

Kapan nikah?


Pertanyaan ini pasti sering muncuk pas lebaran kayak gini. apalagi kalau berkunjung ke rumah sodar-sodara…. langsung aja ditembak tuh sama engkong-engkong dan mbah-mbah. 😀

Kapan nikah? | Nunggu Soeharto turun#versiaktifisreformasi

Kapan nikah? | Klo MU juara Champions#versiManUmania

Kapan nikah? | Ntar klo udah S3#versiAkademisi

Kapan nikah?#kemudianHening | #versiGalau

Kapan nikah?#kemudianNangis | #versiGalauKuadrat

Kapan nikah? | *nunjukin bayi*#versiNggaUpdate

Kapan nikah? | Masih enak pacaran#versiWaspadalah

Kapan nikah? | Loe ndiri kapan?#versiTegar

Kapan nikah? | Sekarang aja yuk#versiNgarep

Kapan nikah? | Nunggu gaji gue 10jt per bln#versiNggaPuas

Kapan nikah? | Ntar, abis maen tuiter gue jawab#versiNgeles

Kapan nikah? | Mhn maaf lahir batin yaaa!#versiNggaMauJawab

Kapan nikah? | Pacar aja lom punya…#versiNggaNyambung

Kapan nikah? | Ngga penting!#versiJanganNanyaDong

Kapan nikah? | …gravitasi bulan itu seperenam dari bumi…#versiSiapaNih?

Kapan nikah? | Doain segera yaaaa!!?#versiFavoritPemirsa

Kapan nikah? | *pecahin piring*#versiSensi

Kapan nikah? | Ni, undangan buat loe#versiHappy

Kapan nikah? | Jodoh di tangan Tuhan#versiReligi

Kapan nikah? | Ntar, di adegan terakhir#versiSinetron

Kapan nikah? | *pura2nggadenger*#versiBerdoa

Kapan nikah? | Habis panen kopi#versimusimpanen

Kapan nikah? | Gue udah “menikah” dgn dakwah#edisiMujahid

Kapan nikah? | Siapa loe ngurusin moral gue?#edisiBigot

Kapan nikah? | Ntar klo gue udah evolusi jd transformer#edisiDarwiner

Kapan nikah? | Neraka itu hoax meeen#edisiLiberal

Kapan nikah? | Ntar klo 1 dibagi 0 udah ktmu jwbnya#edisiSaintisAmbisius

Kapan nikah? | kegalauan itu bukan untuk diumbar2 sih.., harus lebih pada konsentrasi dan munajat pada Allah :)) | #versiDiemDiemAja

Kapan nikah? | Emangnya kenapa? | Gue mau nawarin catering, tenda sekaligus organ tunggal | #versiEntrepreneur

Memang pertanyaan itu kdg bikin galau, bahkan bisa sampe emosi, tapi sesungguhnya itu wajar & manusiawi. Refleksi kepedulian sang penanya. Perempuan sering di pihak yg heran “mengapa para laki2 itu tdk sgra menikah” tp jarang yg berani nanya langsung. Takut salah tafsir. 🙂 Sebaliknya para laki2 itu sejatinya sdh berjuang siang-malam banting tulang muter otak buat sgra mencukupkan bekal utk menikah, habis2an, Jd pesan sayah utk yg laki2, trslah berjuang & berdoa. Jgn mikirin calon & deadline dulu, malah stres ntar. Kerahkan segenap kemampuan. Utk yg perempuan, mari jaga diri msg2. Tdk perlu resah bin galau dgn pertanyaan2 semacam itu. Berikan persiapan yg terbaik utk suami kelak. Contohlah nabi Adam as saat istrinya blm diciptakan, dlm Quran diceritakan bhw ia menyibukkan diri dgn belajar, tepatnya nama2 benda. Semakin byknya makna kata yg dikuasai menunjukkan makin tingginya kecerdasan. Itulah yg dilakukan moyang kita nabi Adam as. Setelah masing2 dipisah di muka bumi pun Adam as & istrinya galau, rindu & merasa sgt kehilangan. Sama persis spt msg2 yg bujang. 🙂 Bisa diartikan msg2 dr kita pasti sdh disiapkan pasangan sejak sebelum kita dilahirkan di muka bumi. Yakin, semua itu berpasang-pasangan. Klo sdh yakin dgn konsep jodoh, ada baiknya jg kita tdk “sembarangan” menempatkan seseorg ke sebuah posisi terhormat dlm hati kita. OK? 🙂 Kosongkan tempat spesial di hati itu sebisa mgkn, persembahkan kpd yg benar2 layak menempatinya. Istimewakanlah ia dgn istimewa. 😉 Bgmn kita tahu jodoh kita? Kita takkan tahu. Konon sampe nikah pun kita tdk tahu pasti. Kita hanya bisa merasakan & perasaan itu bs salah.

sumber: @PKSJerman

#edisi postingan refreshing pasca ramadhan 😀

Iklan

FAQ yang sering muncul pas lebaran…


sumber: @PKSJerman

Jadi tuips, kesimpulannya, pertanyaan org2 pas lebaran itu menyesuaikan penampakan usia… #FAQLebaran

Klo usia 0 – 4 thn ditanya “namanya siapa?” … walo msh bayi tetep ditanya gitu#FAQLebaran

Trus, 4 – 12 thn pertanyaannya “skrg kelas berapa?” gitu ~ #FAQLebaran

Berubah lagi, 12 – 17 thn ditanya “mau jadi apa?” atau “mau kuliah di mana?”#FAQLebaran

Makin sulit, 17 – 22 thn org nanya “mau kerja di mana?” ~ #FAQLebaran

Dan seringnya usia 20 – 24 thn dpt pertanyaan “kapan lulus?” ~ #FAQLebaran

Usia 23 – 28 thn yg byk ditanya adl “kerja di mana?” ~ #FAQLebaran

Ujungnya, 24 thn ke atas apalagi semcam tampak blm, FAQ -nya “kapan nikah?” #eaaa ~ #FAQLebaran

#edisi postingan refreshing pasca ramadhan 😀

10 Fakta Akun PKS Jerman


sekilas kalau kita ngebayangin akun ini, pasti yang terbayang adalah twit-twit berbau politik, bahasa-bahasa kalangan elit sampai agenda-agenda para pejabat terkait. Tapi ternyata…….ini akun pks paling gokil yang pernah saya follow 😀  (lebih jelasnya langsung ke TKP aja deh :D)

1. Akun ini dibuat pd tgl 18 Maret 2011#10FaktaAkunPKSJerman

2. Sejak dibuat hingga skrg, akun ini telah berganti avatar sebanyak 15 kali#10FaktaAkunPKSJerman

3. Akun ini dikelola dgn prinsip a la Jerman, yakni aturan yg tegas & mengikat#10FaktaAkunPKSJerman

4. Aturan tegas itu jg diterapkan pd identitas, tdk ada urusan personal admin yg diijinkan melalui akun ini ~ #10FaktaAkunPKSJerman

5. Di dlm koridor aturan tsb, admin (entah 1 atau byk) diijinkan berkreasi dlm prinsip2 kepatutan bersama ~ #10FaktaAkunPKSJerman

6. Admin (bisa 1 atau byk, bisa ce atau co) hrs sesuai dgn karakter di bio: “6Ok1L4b15 + aktifis + saintis” ~ #10FaktaAkunPKSJerman

7. Admin melayani segala topik yg menarik utk dibahas via tuit & tdk melayani tuitwar yg mengarah pd slg ejek ~ #10FaktaAkunPKSJerman

8. Sejauh ini, semua tuit diluncurkan dari wilayah Republik Federal Jerman di Eropa ~ #10FaktaAkunPKSJerman

9. Sejauh ini, di Jerman pun tdk ada yg bisa memastikan siapakah (atau siapa sajakah) admin, kecuali bbrp gelintir ~ #10FaktaAkunPKSJerman

10. Akun ini tunduk sepenuhnya pd instruksi PIP PKS Jerman (setingkat DPW propinsi) melalui “jalur khusus” yg ada ~ #10FaktaAkunPKSJerman

Bonus: admin akun ini (1 ataupun byk) wajib memahami dasar2 ilmu intelijen #eaaa #10FaktaAkunPKSJerman

 


#edisi postingan refreshing pasca ramadhan 😀

#30 Ramadhan: A moment to remember..


….sebab laut yang tenang takkan bisa menghasilkan pelaut yang tangguh…. (Ir. Zulhiswan)

Pagi tadi sekitar pukul 7-an, beberapa sms masuk, notifikasi facebook semakin banyak, termasuk juga milis dan twit tentang sebuah berita duka.

“Innalillahi wa innailaihi raajiun, telah berpulang ayahanda kita Bapak ZULHISWAN.
informasi mengenai pemakaman akan kami sampaikan kemudian, sampai detik ini kami masih mengumpulkan informasi terkait.”
 Mohon doa untuk beliau agar diberikan kelapangan didalam kuburnya dan digolongkan bersama orang-orang shalih. Semoga keluarga beliau diberikan ketabahan.”

Sampai sekitar jam 8 saya masih mencari-cari kebenaran berita tersebut sekaigus mencari alamat rumah duka beliau, karena beberapa bulan terakhir ini ia bersama istrinya sudah tidak tinggal lagi di Tangerang. Alhasil baru jam 9 saya berangkat dari rumah ke rumah duka.

Berangkat naik angkot sampe lebakbulus dilanjut naek transajakarta akhirnya bisa sampe juga ke alamat tujuan. Dan ternyata….. tempatnya itu baru saja dua hari kemarin saya lewati. Ya, hari sabtu kemarin, saat dari mangga dua mau ke senen, saya sempet muter lewat jalan itu. Mungkin kemarin itu sudah dikasih aba-aba supaya saya mampir ke tempat belaiu. Tapi, ah nyesel juga kenapa kemarin nggak mampir kesitu.

Sampai di lokasi, jenazah sudah selesai di mandikan. Alhamdulillah, saya masih diberikan kesempatan untuk melihat wajahnya untuk terakhir kalinya. Tepat menjelang adzan zuhur, jenazah sudah selesai dikafani dan siap untuk disholatkan. Hingga menjelang pukul 12.30, baru kemudian dibawa ke tempat pemakaman di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur.

Hmm, beliau benar-benar diberikan kasih sayangNya, ratusan anak-anak didiknya selama ini turut mendoakan kepergian belia yang wafat dipenghujung akhir ramadhan ini. Dan, saya baru inget. Ternyata tepat tanggal 29 Agustus 2010 yang lalu, saya berjumpa dengan beliau di Karawaci. Rumah sehari-harinya tempat bolak-balik istirahat usai mengajar di IC.

Saat itu, saya berangkat langsung dari Jogja untuk menemui beliau, karena mendengar kabar bahwa setelah tanggal itu, ia bersama istrinya akan mudik ke Padang dan langsung umroh. Waktu itu kondisi fisiknya Alhamdulillah sudah membaik pasca operasi pertama. Iapun masih sempat mengenali saya, meski bicaranya terbata-bata tak seperti dua tahun yang lalu, yang masih mahir mengotak-atik otak anak didiknya.

Bahkan, ketika saya jenguk, iapun meminta diantarkan ke sekolah hari itu juga dengan supirnya. Ingin sekedar silaturahim setelah sekian bulan tidak mengajar lagi. Dan lagi, ternyata perjuangan beliau pulang pergia mengajar sangat mengharukan. Melewati jalan-jalan pasar berkelok-kelok dan rute yang sangat panjang. Hingga tak terbayang, beliau waktu itu bisa sampai sekolah jam 6 pagi. Dan pulang kerumahnya jam 11 malam ketika harus memberika kuliah tambahan di asrama.

Tepat setahun setelahnya, hari ini 29 agustus 2011, saya dipertemukan lagi dengannya. Pertemuan yang juga merupakan pertemuan terakhir di dunia ini. Menatapnya yang sungguh jauh berbeda dengan ia ketika masa-masa sekolah dulu. Guru inspiratif yang telah mengantarkan murid-muridnya ke perguruan tinggi negeri. Guru matematika terbaik yang pernah saya kenal.

Selamat jalan pak, semoga kita nanti bisa bertemu lagi di surgaNya…  Aamiin

#22.30 WIB
Masa Injury time Ramadhan 1432 H

#29 Ramadhan: Endorsement..


Membaca adalah salah satu bagian penting dalam unsur pembelajaran, selain menulis, mendengar dan mengaplikasikan. Membaca juga membuka wawasan pemikiran yang tanpa sadar telah menambah jumlah kosakata pengetahuan dalm memori otak kita. Apa yang kita baca, itulah yang akan keluar dari lisan kita.

Pilihan bacaan kita juga akan menentukan informasi dan pengetahuan apa saja yang akan masuk dan terekam dalam otak. Bacaan yang baik tentu akan menghasilkan simpul-simpul memori kebaikan dalam syaraf otak kita, begitu juga sebaliknya.

Buku memang memiliki kemampuan sebagai tansformer pasif bagi pengetahuan manusia. Dengannya, segala apa yang belum diketahui manusia selama ini, bisa jadi terdapat dalam sebuah tulisan dalam buku. Untuk menilai apakah sebuah buku itu bagus ataupun jelek, biasanya kita mempertimbangkan komentar-komentar orang lain terhadap buku tersebut yang ada di sampul bagian belakang. Ini yang dinamakan endorsement.

Biasanya, untuk meningkatkan daya beli masyarakat kepada buku tersebut, biasanya endorsement yang ditampilkan adalah, komentar-komentar dari orang-orang berpengaruh dan memiliki posisi terhormat. Seperti public figur, artis,politisi, tokoh pendidikan, maupun orang-orang yang sekiranya mampu mengangkat daya jual buku tersebut. Bisa dibayangkan, misalnya saja da sebuah buku yang endorser nya adalah seorang presiden, dan ia menyatakan bahwa buku yang telah di reviewnya terbut memiliki kualitas isi yang bagus, maka akan semakin tinggilah nilai jual dn permintaan buku tersebut di masyarakat.

Namun, terkadang, si endorser itu tidak membaca keseluruhan isi buku yang direviewnya. Alhasil, tak jarang apa yang dikatakannya dalam endorsement tersebut tidak sesuai dengan kenyataan kualitas bukunya karena masyoritas endorsement yang ditampilkan diupayakan dalah bentuk ‘pujian’ terhadap keberadaan buku tersebut.

Penerbit hanya mengejar popularitas buku dengan memasukkan tokoh-tokoh penting sebagai endorsernya. Bahkan bisa jadi, penerbit hanya mencatut nama tokoh tersebut dan ‘membeli’ namanya kemudia isi endorsementnya dibuat sendiri oleh penerbit tersebut.

Kalau dulu saya bicara tentang cover. “Don’t judge the book by the cover”, sekarang “Don’t judge the book by the endorsement”.

Tak berguna bila awalan bukunya manis, tapi endorsementnya ternyata hanya tipuan belakan, biarlah ‘pembaca’ yang akan menilai isi bukunya sendiri. Jangan melihan cover ataupun endorsementnya Karena sekali lagi, itu hanya ‘kulitnya’ saja. Pelajarilah isi bukunya, ambillah manfaat dari setiap lembar-lembar tulisan yang dibuatnya, karena tulisan yang indah akan membawa kesan yang indah bagi pembaca.

Jangan mudah berprasangka dengan hanya menilai kulitnya saja, tetaplah berkarnya sebaik mungkin. Biarlah hanya Allah saja yang akan membalas segala niat baik kita.

“Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At Taubah : 105)

*Di Penghujung akhir Ramadhan
#07.30 WIB, 29 Ramadhan 1432 H
Sebuah sudut ruang kecil yang saya sebut warung.

#28 Ramadhan: Mencintai Sejantan Ali


Artikel yang ditulis ustadz Salim A. Fillah ini sudah sering diposting di berbagai web, blog pribadi, ataupun note-note facebook. Termasuk saya yang kali ini ingin me-repost kembali tulisan beliau. Mengingat kembali bahwa romantika antara ‘Ali dan Fathimah begitu berkesan dan memberikan banyak pelajran.

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah. Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya. Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya. Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta. Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta. Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.

Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya! Maka gadis cilik itu bangkit. Gagah ia berjalan menuju Ka’bah. Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam. Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali. Mengagumkan!

‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta. Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan. Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi. Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah. Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.

Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr. Kedudukan di sisi Nabi? Abu Bakr lebih utama, mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali, namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi. Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya.

Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah. Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab.. Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.

Lihatlah berapa banyak budak Muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud.. Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali? Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insya Allah lebih bisa membahagiakan Fathimah.

’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin. ”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.

”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.

Lamaran Abu Bakr ditolak. Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri. Ah, ujian itu rupanya belum berakhir. Setelah Abu Bakr mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum Muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh- musuh Allah bertekuk lutut.

’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. ’Umar memang masuk Islam belakangan, sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr. Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya? Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman? Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin? Dan lebih dari itu, ’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata, ”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”

Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah. Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya. ’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam. Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam. Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir. Menanti dan bersembunyi.

’Umar telah berangkat sebelumnya. Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah. ”Wahai Quraisy”, katanya. ”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah. Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!” ’Umar adalah lelaki pemberani. ’Ali, sekali lagi sadar. Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah. Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak. ’Umar jauh lebih layak. Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak. Lamaran ’Umar juga ditolak.

Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi? Yang seperti ’Utsman sang miliarderkah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah? Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah? Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.

Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka. Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka? Sa’d ibn Mu’adzkah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu? Atau Sa’d ibn ’Ubaidah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan. ”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi.. ”

”Aku?”, tanyanya tak yakin.

”Ya. Engkau wahai saudaraku!”

”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”

”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi. Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah. Ya, menikahi. Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya. Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya. Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap? Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap? Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.

”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan. Pemuda yang siap bertanggungjawab atas cintanya. Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan- pilihannya. Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya. Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!” Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.

Dan ia pun bingung. Apa maksudnya? Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan. Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab. Mungkin tidak sekarang. Tapi ia siap ditolak. Itu resiko. Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab. Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan. Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”

”Entahlah..”

”Apa maksudmu?”

”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”

”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,

”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua! Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya !”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah. Dengan menggadaikan baju besinya. Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan ke kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya. Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah. Dengan keberanian untuk menikah. Sekarang. Bukan janji-janji dan nanti-nanti.

’Ali adalah gentleman sejati. Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel, “Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!” Inilah jalan cinta para pejuang. Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggung jawab. Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti. Seperti ’Ali. Ia mempersilakan. Atau mengambil kesempatan. Yang pertama adalah pengorbanan. Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi, dalam suatu riwayat dikisahkan bahwa suatu hari (setelah mereka menikah) Fathimah berkata kepada ‘Ali, “Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu?”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kemudian Nabi saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla memerintahkan aku untuk menikahkan Fatimah puteri Khadijah dengan Ali bin Abi Thalib, maka saksikanlah sesungguhnya aku telah menikahkannya dengan maskawin empat ratus Fidhdhah (dalam nilai perak), dan Ali ridha (menerima) mahar tersebut.”

Kemudian Rasulullah saw. mendoakan keduanya:

“Semoga Allah mengumpulkan kesempurnaan kalian berdua, membahagiakan kesungguhan kalian berdua, memberkahi kalian berdua, dan mengeluarkan dari kalian berdua kebajikan yang banyak.” (kitab Ar-Riyadh An-Nadhrah 2:183, bab4)

#27 Ramadhan: LPK


akhirnya setelah menempuh 5 hari perjalanan (tadi ngelewatin pasar senen, pasar rebo, pasar kemis, pasar jum’at, sama pasar minggu), akhirnya saya sampe juga ke kampung halaman…. alhamdulillah….

setelah kemarin kejar-kejaran sama LPK KKN, kini saya bisa bebas dari yang namany laporan. Entah mengapa LPPM mengharuskan mahasiswa KKN supaya membuat laporan yang njelimet, mulai dari Lembar K1, K2, K3, R1, bahkan untuk kormasit dan kormater juga ada lembar R2, dan R3.

Memang, bagian yang paling menyebalkan dari KKN ini adalah cuma laporan. itu tok… sisanya, semuanya menyenangkan. Bahkan pertengkaranpun menyenangkan. Diem-dieman pun menyenangkan. Saling ejek-ejekan pun menyenangkan. Cuma satu itu yang menyebalkan, LAPORAN.

Itu pandangan saya selaku mahasiswa yang udah kebelet pengen liburan segera, tapi bisa jadi ada manfaatnya juga kali ya kita disuruh bikin laporan sebanyak itu.

Saya jadi terpikir, untuk membuat laporan ‘perjalan hidup’ kita selama 2 bulan saja udah ribet. Apalagi nanti kalau diminta laporan pertanggungjawaban kita selama hidup di dunia ini.

Kalau jatah usia saya hingga tahun ini (hikss), berarti saya harus melaporkan catatan lembar K1, yaitu program tema saya selama diamanahkan jadi hamba Allah (hablumminallah), saya juga harus melaporkan ‘catatan amal’ K2 saya yang berhubungan dengan manusia (hablumminannas), dan juga lembar K3 berisi track record seluruh amalan yang saya lakukan selama hidup di dunia ini.

Bisa kebayang pusingnya dan malunya kita kalau di sidang satu per satu di yaumil hisab nanti. Dan saat nanti di sidang, kita gak mungkin bisa menambah-nambah jam catatan amal kebaikan kita, memanupilasi dan mengurangi jam ‘kesia-siaan’ kita. Apalagi nanti yang akan melaporkan seluruh anggota badan kita. Mulut akan melaporkan sejumlah kata-kata yang keluar terucap darinya, mata akan melaporkan berapakali ia memicingkan atau memelotot sesuatu yang allah haramkan, telinga juga akan melaporkan apa saja yang ia dengar. Tangan, kaki, pun akan melaporkan segala yang telah ia perbuat.

Udah ah, semoga pelajaran berharga dari menunda-nunda LPK bisa jadi pelajaran bagi kita untuk terus mengevaluasi diri tiap hari, catatan amal kebaikan yang kita lakukan selama ini sudah berapa jam?

Seperti yang Umar bin Khattab contohkan, beliau selalu mengingat-ingat (a.k.a mencatat/memuhasabahi) amalannya setiap hari menjelang ia tidur. Dan, semoga kita pun seperti itu…

Parung, 27 Ramadhan 1432 H
*hari pertama di rumah, menjalani aktivitas tanpa beban kampus 😀