#3 Ramadhan: Jangan sepelekan yang kecil


Setelah sepanjang  siang tadi saya sedikit merasakan peradaban Jogja, menikmati hilir mudik anak- anak kecil di sepanjang ringroad barat, berpeci dan berselempang mukena di pagi hari sambil meledakkan petasan di kanan kiri jalan, menjenguk kamar yang sudah 3 minggu tidak dikunjungi, berkeliling kampus UGM, UNY dan UIN, ikut ujian dan presentasi tugas sampai buka puasa bersama di ‘gedung’ MPR, malamnya saya harus segera kembali ke habitat sementara ini. Pondokan KKN.

Saat menjelang isya sayapun mencari masjid terdekat dari jalan wates, masuk ke gang-gang dan agak sedikit memilah-milih, (*kira-kira yang rakaatnya 11 yang mana ya :-)) biar cepet maksudnya. Dan supaya nggak kemaleman balik ke tempat KKN nya. Selepas tarawih, perjalanan pulangpun berlanjut. Menelusuri kelamnya jalan tanpa marka, yang sewaktu-waktu cahaya spion truk-truk besar dan bus malam cepat bermunculan secara tiba-tiba. Agak sport jantung memang ketika melewati jalan wates itu. Apalagi kemarin pas perjalanan ke Jogja ada 2 truk yang terguling akibat saling bertabrakan.

Di tengah perjalanan, teringat sesuatu…… Kayaknya tadi ada yang nitip pesenan deh. …. Dan…Haduh lupa klw ada yg nitip beliin sesuatu di apotek. Untung apotek ada di mana-mana, jadi bisa sekalian nyari di dekat patung kuda. Sesampainya di sana biasalah terjadi percakapan antara si penjual dan si pembeli (apa sih?), si mbak2nya pun memberikan apa yang saya cari. Tapi kok ada yang aneh lagi ya,,,,, merogoh kantong kanan dan kiri, membuka tas dan membolak-balikkan buku, ternyata dompetnya gak saya bawa. Gubrakzzz…

Jadi-nggak-jadi-nggak…. Mikir dulu. Dan ternyata saya masih bawa uang receh ‘celengan’ yang selalu saya bawa-bawa di tas (makanya itu tas selalu saya jaga baik2  dan nggak boleh lepas :-)),  

“sebentar ya mbak, mau ngitung uang recehnya dulu… errrr tapi mau kan mbak uang receh?”

Eh ternyata, si mbaknya malah nawarin

“kalau ada banyak, sekalian tukerin recehnya di sini aja mas.” (widih.. kebetulan. sekalian buat ngisi bensin juga nih)

Dan….. setelah diitung, 38.000. TIGA PULUH DELAPAN RIBU. (kebayang nggak uang recehan seratusan ada segitu di dalem tas :-)). Segeralah saya tukarkan uang receh itu ke penjaga apotek, sambil berlalu dengan uang penggantinya.

Tidak terpikirkan sebelumnya, kalau uang seratusan yang saya simpen tempo hari dulu itu bakalan bermanfaat disaat dompet ketinggalan, dan bisa beli obat-obatan dan juga ngisi bensin.

Uang yang terkumpul sedikit demi sedikit itu mengajarkan pada saya bahwa, tidak ada yang sepele di dunia ini. Bahkan dengan nilainya yang bahkan mungkin orang tidak menganngap uang seratus itu bernilai. Dan juga bahwa apa yang saya kumpulkan dulu manfaatnya baru bisa dirasakan dikemudian hari.

Pun, begitulah hidup kita yang singkat di dunia ini. Tidak semua yang kita lakukan pada hari ini, manfaatnya  dapat kita rasakan hari ini juga. Tidak semua yang kita lakukan pada minggu ini, manfaatnya dapat kita rasakan minggu ini juga. Tidak semua yang kita lakukan pada tahun ini, manfaatnya dapat kita rasakan tahun ini juga. Adakalanya manfaatnya baru dirasakan dikemudian hari Selain itu, sekecil apapun amal yang kita lakukan hari ini, kalau itu dilakukan secara kontinyu, maka ia akan menjadi amalan besar dikemudian hari. Begitupun sebaliknya, perbuatan buruk yang diulang-ulang sekecil apapun itu, maka akan menjadi sebuah dosa besar yang tanpa sadar telah menggerogoti berkah kehidupan kita.

Sepanjang manusia hidup, proses untuk menjadi baik adalah sebuah keniscayaan. Menggapai rahmatNya, merasakan cintaNya dan menyelami samudera kasihNya adalah sebentuk harapan yang pasti ingin dirasakan oleh setiap hamba-hambaNya yang beriman.

Amalan kita adalah saksi dikemudian hari, baikkah atau burukkah ia, banyakkah atau sedkitkah ia, ikhlas atau tidakkah amal itu dilakukan, semuanya akan menjadi pengiring kita kelak. Semoga di bulan ramadhan ini, menjadi momentum untuk terus berusaha memperbanyak amalan baik dan belajar untuk meng-istiqomah-kannya,baik itu amalan baik yang besar maupun yang kecil. Wallahu a’lam bish showwab.

*Bojong, Malam ke-3 Ramadhan, ditemani siaran langsung Tabligh Uje

Pukul 23.50 WIB

 

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: