#4 Ramadhan: Mughits, Barirah dan romantikanya


Bumi yang luas terhampar ini terasa sempit baginya kala itu. Putaran waktu seakan berhenti menyisakan kebisuan mendalam di hatinya. Kerumunan orang berlalu lalangpun tak diindahkannya, seakan hidup ini terpasung, terhenti bahkan detak jantungpun terasa beristirahat memompakan aliran darahnya.

Sebuah permintaan untuk berpisah dari sang istri tercinta. Istri yang sudah bertahun-tahun ia cintai namun tak pernah membalas cintanya dengan sepenuh hati.

Dialah Mughits. Seorang budak hitam yang sangat amanah, jujur dan bersemangat dalam berkhidmat kepada tuannya yaitu Abu Ahmad bin Jahsy. Ia sangat banyak membantu tuannya tersebut, sehingga apa saja yang diinginkan mughits selalu diupayakan untuk diringankan oleh tuannya. Sampai suatu ketika, Mughits meminta kepada tuannya untuk menikahkannya dengan seorang wanita yang sangat dicintainya, Barirah.

Meski demikian, tak ada sepercik butir-butir cinta yang dirasakan oleh Barirah atas cinta Mughits. Tak ada getar-getar kerinduang yang terekam dalam memori hatinya. Pada awalnya, Barirah tak mau menerima pinangan Mughits kepadanya, namun atas desakan yang terus menerus dari tuannya-karena Barirah juga adalah seorang budak-ia menerima pinangan Mughits. Secara lahirnya saja, namun bathinnya tersiksa , menolak cinta Mughits.

“Demi Allah, aku dipaksa oleh keluargaku untuk menikah dengannya. Dalam hatiku tidak ada kecondongan (kecintaan) sedikitpun kepadanya, dan aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat.”

Mughits amat bahagia pinangannya kepada Barirah sang gadis cantik pujaanya di terima, namun di sisi lain, isak tangis dan gundah gulana menghantui sosok Barirah yang terpaksa menerima pinangan Mughits.

“Demi Allah, aku tidak menginginkan dan tidak menyukainya, tapi apa yang bisa kuperbuat, takdir pastilah menang.”

Waktupun terus berlalu meninggalkan segala kesedihan yang ada, namun tetap saja tak terpercik sedikitpun  tetes-tetes cinta membasahi hatinya. Yang ada hanya tetes air mata yang semakin deras mengalir membasahi wajahnya.

“Demi Allah wahai ummul mukminin, sungguh hatiku ini sangat membenci Mughits, aku sudah berusaha mencintainya dan aku tetap tidak bisa. Aku tidak tahu apa yang bisa ku lakukan dalam hidup bersamanya.” Ungkap Barirah pada Bunda Aisyah.

Aisyah pun menasehatinya: ”Bersabarlah wahai Barirah, semoga Allah memberikan jalan keluar dari masalahmu ini.”  

“Demi Allah, aku tidak menginginkan dan tidak menyukainya, tapi apa yang bisa kuperbuat, takdir pastilah menang.”

Mughits amat terpukul, bertahun-tahun cintanya tak pernah terbalaskan, beratus bahkan beribu kata cinta selalu ia sampaikan pada istrinya, namun tak mampu menyentuh menggetarkan hati sang istri.

“Kenapa kamu ini wahai Mughits! Sepertinya kamu terlalu memikirkan Barirah, wanita selain dia kan banyak.” Ucap tuannya.

Mughits Menjawab: “Tidak, demi Allah, wahai tuanku, aku tidak bisa membencinya, aku tidak bisa mencintai wanita selainnya.”

 

Takdirpun berkata bahwa memang Mughits memang harus berpisah dari Barirah.

Setelah Barirah merdeka dari tuannya, ia segera meminta cerai dari Mughits dan memiih untuk hidup tanpanya. Bumi yang luas terhampar ini terasa sempit baginya kala itu. Putaran waktu seakan berhenti menyisakan kebisuan mendalam di hatinya. Kerumunan orang berlalu lalangpun tak diindahkannya, seakan hidup ini terpasung, terhenti bahkan detak jantungpun terasa beristirahat memompakan aliran darahnya.

Sebuah permintaan untuk berpisah dari sang istri tercinta. Istri yang sudah bertahun-tahun ia cintai namun tak pernah membalas cintanya dengan sepenuh hati.

Ah, cinta memang tak bisa dipaksakan. Cinta sang lelaki yang justru terbalaskan dengan kebencian sang wanita menjadi sebuah bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup dua shahabiyah tersebut. Cinta yang berbalas kebencian akan meninggalkan kesedihan mendalam dan menggerus luka yang semakin besar di dinding hatinya. Namun, cinta sejati sang lelaki takkan pernah hilang, meski kini ia tak tahu apakah cintanya itu akan terbalas. Ia hanya yakin bahwa masalah hati hanyalah masalah waktu. Karena al-qalb akan berbolak-balik sesuai dengan maknanya.

 

*Pukul 23.59, Malam ke-4 ramadhan

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: