#5 Ramadhan: Maaf dengan sangat…


“saya selaku imam masjid meminta maaf kepada para jamaah shalat maghrib, karena tadi di rakaat pertama ada kesalahan bacaan surat, yang harusnya dibaca sabiila Tadi saya baca saabila”

Tidak jarang saya mendengar permohonan maaf tersebut ketika sang Imam melakukan kesalahan bacaan dalam shalatnya. Sang Imam meminta maaf kepada jamaah di atas mimbar sesaat setelah zikir dilaksanakan, bahkan ada yang langsung meminta maaf sesaat setelah salam diselesaikan. Ya, meskipun ‘hanya’ salah baca tajwidnya,  sang Imam segera meminta maaf.

Begitulah kondisi di masjid Insan Cendekia. Masjid yang memberikan kesempatan kepada para santrinya untuk latihan menjadi Imam masjid. Di setiap tahunnya terekrut sekitar 8-10 orang Imam masjid yang telah diseleksi oleh para guru Pembina asrama dan di tes bacaannya oleh sang Syeikh utusan kedubes Mesir.  Meski demikian, kesalahan, kekhilafan tetap saja tak bisa dipungkiri. Kadang sang imam lupa bacaan surat-suratnya, kadang tajwidnya salah dan macam-macam kekhilafan lainnya. Namun yang unik adalah, baru kali itu saya mendapati para Imam langsung tergerak hatinya untuk segera meminta maaf kepada para jamaah. Budaya yang memang dibiasakan kepada para santrinya (meski banyak  yang tidak setuju kalau dibilang santri), budaya untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf atas kesalahan-kesalahan yang telah diperbuatnya.

 

 

 

 

———————————————————

Malam ini, malam ke-5 ramadhan, saya mendapati kejadian yang hampir sama, namun berbeda endingnya. Sang Imam lupa melakukan ruku’ , selesai I’tidal ia langsung sujud tanpa melakukan ruku’. Dan di akhir salam saya sempat bingun juga karena tidak juga dilakukan sujud syahwi. Al hasil, shalat tarawih dua rakaat terakhirpun diulang kembali. Tanpa sepatah katapun dari sang Imam.

Dua kondisi di atas hanyalah gambaran saja bahwa sebuah permintaan maaf seharusnya tidak mengenal apakah kesalahan-kesalahan itu kecil atau besar. Sekecil apapun kesalahan itu, seringan apapun efek yang ditimbulkannya, sesedikit apapun orang yang tersakiti olehnya, kata maaf adalah kata yang mujarab untuk mencairkan suasana. Meluluhkan segala kebekuan yang ada dan menjadikan orang lain merasa dihormati atas permintaan maaf kita.

Bangsa ini juga sedang menunggu-nunggu permintaan maaf dari para pejabatnya, dari para anggota dewan dan para pemimpin bangsa ini. Sebuah kata-kata yang senantiasa dinanti oleh rakyatnya. Permintaan maaf atas ketidakadilan yang menyiksa, permintaan maaf atas kesejahteraan rakyat yang hanya janji belaka, permintaan maaf atas konflik yang tak kunjung reda, permintaan maaf atas banyak kasus-kasus korupsi yang semakin menggurita, dan masih banyak lagi permintaan maaf yang ditunggu rakyat negeri merah jambu ini.

Itu dalam konteks kehidupan bernegara, bisa jadi para pemimpinnya enggan untuk meminta maaf atau bisa jadi ketidakpekaan mereka bahwa banya kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat. Begitupun diri kita, adakalanya meminta maaf itu berat sekali untuk dilakukan atau kadangkala ketidakpekaan kita menghalangi bashirah kita dalam mengenali masalah yang ada.

*Teruntuk semua sahabat-sahabatku, kalau ada salah (pasti ada) yang belum terlontar kata maaf dari lisan saya, mohon untuk dimaafkan. Maaf dengan sangat…..

“Do’a Malaikat Jibril menjelang Ramadhan “Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut: Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada); Tidak berma’afan terlebih dahulu antara suami istri; Tidak bermaafan terlebih dahulu dengan orang-orang ekitarnya” Maka Rasulullah pun mengatakan Amiin sebanyak 3 kali. Dapatkah kita bayangkan, yang berdo’a adalah Malaikat dan yang mengaminkan adalah Rasullullah dan para sahabat, dan dilakukan pada hari Jum’at”.

Pojok rumah di pinggir pematang, Bojong, Kulonprogo

Pukul 22.10 WIB

4 Agustus 2010

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Trackbacks / Pingbacks

  1. memutar waktu « .::PUTIH-KUNING-HITAM::. - September 27, 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: