#9 Ramadhan: Pertengahan…(bag-1)


Beberapa hari yang lalu saya menonton salah satu tayangan di sebuah stasiun televisi swasta yang katanya, edisi ‘spesial’ ramadhan. Sebuah tabligh akbar yang mengundang ustadz yang sedang naik daun. Awalnya terlihat sepintas sangat bagus, lihat saja para jama’ahnya bukan orang-orang berpeci atau berkoko dan bahkan ada para remaja putri tak berjilbab. Hebat bener ni ustadz bisa menarik perhatian kalangan orang-orang yang jarang tersentuh oleh dakwah.

Namun,,, iklan berselang,,, kamera berpaling ke panggung seberang dan dimulailah aksi tak karuan,,,loncat-loncatan, teriak sampai suara gak kedengeran, hah…. Band-band-an pun mengalihkan perhatian. Yang semula khusyuk ikut pengajian, tapi kini tertutupi lagi oleh nyanyian. Duh, memang zaman sudah edan.

Mungkin niatan awalanya pihak stasiun televisi itu adalah ingin menggambarkan bahwa dakwah bisa untuk kalangan yang seperti itu. (Bagi saya itu sudah bagus, bahkan sangat bagus bila dibandingkan dengan stasiun tv yang sama sekali tidak menyiarkan dakwah Islamnya selama Ramadhan). Tapi, kok rasanya justru suasana hura-hura lebih terasa kental ketimbang dakwahnya ya… Dakwah dikemas lebih komersil, mendatangkan ustadz bukan dari kapabilitas dan kedalaman ilmunya, tapi karena ketenaran dn ‘kelucuan’nya yang menarik hati jamaah.

Tabligh akbar yang seharusnya diisi lantunan ayat suci al-qur’an malah diisi band-band-an. Udah gitu pemuda-pemudi histeris teriak menakjubkan.

Pertengahan itu bukan menarik kanan ke tengah, akan tetapi mengajak yang kiri agar semakin mendekat ke tengah…

Atau dalam sebuah lembaga ‘dakwah’, yang kental dengan bahasa ana antum akhi ukhti, yang ingin melebarkan sayap dakwahnya ke semua kalangan. Al hasil syuro pun tanpa hijab lagi, bahasa loe gue mulai bermunculan, tilawahpun tergantikan dengan candaan tak bermutu yang semakin mengkhawatirkan.

Logikanya, sepertinya harus dibalik, bukang men-umum-kan lembaga dakwah akan tetapi  meng-islam-kan lembaga umum tersebut.

Pertengahan itu bukan menarik kanan ke tengah, akan tetapi mengajak yang kiri agar semakin mendekat ke tengah…

Terakhir, saya juga melihat sebuah majalah Islami khusus untuk remaja. Yang sekarang tampilannya anak muda banget. Wanita-wanita tak berjilbab pun bermunculan disana.

Dulu, ketika pertama kali bersentuhan dengan majalah tersebut, saya sangat berharapa agar nilai-nilai Islaminya tetap terjaga. Terjaga agar tidak terkontamnasi dengan budaya ikut-ikutan globalisasi. Tapi kini, kok gayanya mengikuti majalah-majalah anak muda lainnya ya, hanya berbeda nama Islami dan tidaknya.

Logikanya, lagi-lagi harus dibalik. Bukan membuat majalah Islam menjadi lebih ‘bebas’, akan tetapi membuat majalah-majalah ‘gaul’ menjadi lebih Islami.

Yang kanan, ya sudahlah tetap di kanan. Jangan ikut-ikutan ke kiri dengan alasan Cuma mau ke tengah khawatirnya nanti pergerakannya kebablasan, niatannya ke tengah tapi nanti keterusan ke kiri Na’uzubillah…

Pertengahan itu bukan menarik kanan ke tengah, akan tetapi mengajak yang kiri agar semakin mendekat ke tengah…

wallahu a’lam bish showwab..

Malam ke-9 Ramadhan 1432 H Pukul 00.00 WIB

Bojong, Panjatan, Kulonprogo

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Trackbacks / Pingbacks

  1. memutar waktu « .::PUTIH-KUNING-HITAM::. - September 27, 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: