#13 Ramadhan: Ujian kapasitas dan kesabaran dalam menikmati setiap prosesnya…


Di sebuah mushola  saat TPA menjelang berbuka seorang anak bertanya, “kak, an-Nahl itu artinya apa?”

“Hmm, an-Nahl itu artinya lebah.”

Saat, masih ada gurat-gura kebingungan dalam wajahnya, kakaknya pun segera melanjutkan, “Lebah itu adalah sejenis serangga yang bisa menghasilkan madu dek.”

“Owwh….”

Sang anak usia 4 tahun yang ingin informasi tentang lebah, ternyata ‘hanya’ cukup diberi informasi mengenai lebah dalam penjelasan yang sederhana. Ia tak diberikan penjelasan mengenai apa fungsi dan manfaat lebah dalam tataran ilmiaah, nama ilmiahnya apa, apakah temasuk jenis serangga??????.”

Mungkin ia tak memerlukan penjelasan seperti:                       

“Lebah Adalah sejenis hewan serangga Hymenoptera (serangga bersayap selaput) dan termasuk ke dalam suku/familia Apidae. Ia mempunyai tiga pasang dan dua pasang sayap. Makanan sehari-harinya adalah nectar bunga dan serbuk sari.”

“Dalam menjalani metamormosisnya, lebah termasuk kategori serangga holometabola. Adek tahu apa artinya holometabola nggak?”

“Holometabola itu proses perubahan bentuk lebah yang terbagi menjadi 4 tahap, pertama telur, kedua larva, ketiga pupa (kepompong), dan terakhir imago.”

Sang anak, mungkin tak perlu penjelasan penjang lebar mengenai apa itu Hymenoptera, apa itu Apidae, apa itu Holometabola, apa itu pupa, apa itu imago dan lain sebagainya. Ia cukup diberitahu bahwa lebah adalah sejenis serangga penghasil lebah.

Informasi-informasi tambahan,  mengenai sesuatu yang lebih detail tentang lebah, mengenai proses perkembangbiakannya, mengenai familinya serta penamaan ilmiahnya belum saatnya untuk disampaikan kepada anak-anak usia 4 tahun. Mereka belum butuh informasi itu.

Kalaupuna ada pernyataan, “Lha kan  lebih baik disampaikan saja, toh itu adalah ilmu kok.”

Pertanyaannya adalah apakah urgent untuk disampaikan pada anak-anak. Memori mereka masih harus banyak digunakan untuk merekam dunia anak-anak yang penuh keceriaan dan keluguan, bukan dibebani dengan informasi ‘para ilmuan’ yang memberatkan. Toh, nanti juga dalam perjalanan menuju kedewasaa, sang anak akan terus belajar dan mendapat informasi yang lebih detail mengenai sesuatul.

Sebagai contoh, kita tak perlu menjelaskan berapa harta kekayaan Negara yang di salah gunakan oleh Nazaruddin, tokoh yang sering muncu di layar kaca saat ini. Kita belum saatnya menjelasakan unsur politik dalam permasalahan tersebut. Kita hanya perlu menjelaskan kepada anak-anak bahwa nazaruddin adalah seorang koruptor. Dan Mengambil uang Negara untuk kepentingan pribadi itu adalah perbuatan tercela.

Penjelasan kita, pada seorang balita, pada seorang anak-anak, remaja, dewasa dan orang tua akan berbeda. Tergantung bagaimana kapasitas lawan bicara kita. Memilah dan  memilih bahasa penyampaian informasi bukan berarti merahasiakan informasi tersebut kepada orang yang kita ajak bicara. Hanya saja, pembatasan informasi yang disampaikan dalam tataran apakah si objek penerima informasi itu akan menerimanya dengan baik atau hanya sambil lalu saj informasi itu terbuah percuma karena dipaksa memenuhi ruang-ruang memori yang belum saatnya dipergunakan olehnya.

Ada sebuah parameter yang berpengaruh untuk menentukan seberapa jauh informasi kita berikan pada orang lain, yaitu kapasitas.  Mungkin tak ada ukuran secara mendetail bagaimana menilai kapasitas seseorang, kita hanya bisa menilai secara global saja apakah kapasitasnya sudah memenuhi syarat untuk menerima sebuah informasi atau belum .Dalam bahasa sederhananya, apakah orang tersebut sudah layak menerima informasi yang akan kita berikan.

Banyak orang yang menuntut untuk diberikan informasi-informasi penting tentang sebuah ‘rahasia’. Akan tetapi tak mengimbanginya dengan meningkatkan kapasitasa atau kelayakan dalam dirinya. Ia hanya ingin,“pokoknya saya mau tahu ini dan itu.”

Tentang kelayakan, tidak semua penjelasan mengenai sesuatu bisa disampaikan secara langsung saat ini juga, adakalanya informasi-informasi tertentu harus ditunda penyampaiannya sambil menunggu momen yang tepat dan ‘kelayakan’ si penerima informasi terebut.

Kapasitas seseorang, bukannlah sesuatu yang tidak bisa diubah. Ia bisa ditingkatkan levelnya seiring dengan perjalanan hidupnya. Karena hidup senantiasa bergerak, hidup senantiasa berubah. Bila kapasitas internal tak ditingkatkan, pada akhirnya kedewasaan usia seseorang akan mendahului kedewasaan berpikirnya.

Berbicara apakah kapasitas itu bisa ditingkatkan adalah pasti. Berikanlah ruang dan daya tamping pada diri kita untuk menerima semua kemapuan yang bisa dimiliki. Perluaslah cara berpikir, perluaslah sudut pandang dan cakrawala ilmu pengetahuan, Ambillah semua kesempatan untuk terus meng-upgradekemampua kapasitas kita.

Sebuah contoh, saat masih SD, mungkin permasalahan bagi seorang anak hanya sebatas mengerjakan PR sekolah dan saat tidak diberi uang jajan oleh orang tua. Anak itu menangis Cukup dengan menangis saja, kadang masalah bisa selesai. Butuh uang jajan nanti juga dikasih sama orang tua, butuh bantuan mengerjakan PR, nanti juga ada kakak yang membantu. Beda pula ketika sang anak memasuki masa SMP, problem-problem baru semakin banyak bermunculan dan masalah-masaalah yang datang sudah tidak bisa selesai lagi dengan menangis. Apalagi meningkat jenjang sampai SMA, perguruan tinggi, kehidupan rumah tangga, kehidupan bermasyarakat, bangsa dan Negara. Semakin banyak saja permasalahan yang harus dihadapi.

Di sinilah lagi-lagi kapasitas itu penting untuk ditingkatkan. Jangan hanya menuntut beban lebih tapi tak mau meningkatkan kapasitas diri. Hanya menuntut diberikan sebuah informasi, tapi tak jelas apa yang selanjutnya ia kerjakan setelah mendapat informasi tersebut.

Perjalanan waktu menjadi ujian bagi peningkatan kapasitas seseorang, ia butuh banyak waktu untuk belajar, menyerap infomasi, meng-upgrade kemampuan diri dan wawasan berpikirnya.Diperlukan kesabaran untuk menikmati setiap prosesnya. Mengapa meikmati? Karena proses menuju peningkatan kapasitas seseorang itu adalaah sebuah keniscayaan yang akan kita jalani sebagai manusia. Setiap orang akan menjalani proses yang bernama ujian kapasitas. Bagi mereka yang tidak menikmatiny dan hanya ingin instan, segera mencapai level tertinggi tanpa melewati ujian kapasitas, tak akan bisa menimatinya.

Layaknya mendaki sebuah gunung, ujian kapasitas ibarat terus mendaki dan mendaki. Kita harus melewati tapak-demi tapak setiap langkah yang harus dilalui. Jangan pernah menuntut untuk bisa melihat pemandangan dari puncak gunung tanpa mau berlelah-lelah meniti setiap terjal tebih-tebing dan panasnya terik matahari. Jangan pernah menuntut untuk bisa melihat edelweiss tanpa mau berusaha mendaki setiap tanjakan-tanjakan curam dan menghalau dinginnya udara yan menusuk-nusuk kulit.

Nikmati saja setiap prosesnya, jalani ujian kapasitas yang ada dengan penuh kesabaran. Jangan pernah menuntut instan ingin ini ingin itu. Karena sebuah informasi hanya akan diberikan kepada orange yang kapasitasnya memenuhi kriteria dan layak untuk mendapatkanya. Saat ada yang bertanya, “kenapa banyak yang dirahasiakan kepada saya?”, jawabannya adalah “apakah saya sudah layak untuk menerimanya.”

“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberikan-Nya kepada kamu apa yang kamu kerjakan”. (At-Taubah: 105)

 

 Saat-saat menjelang sahur, Pukul 03.20 WIB

Bojong, 13 Ramadhan 1432 H


About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Trackbacks / Pingbacks

  1. memutar waktu « .::PUTIH-KUNING-HITAM::. - September 27, 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: