#27 Ramadhan: LPK


akhirnya setelah menempuh 5 hari perjalanan (tadi ngelewatin pasar senen, pasar rebo, pasar kemis, pasar jum’at, sama pasar minggu), akhirnya saya sampe juga ke kampung halaman…. alhamdulillah….

setelah kemarin kejar-kejaran sama LPK KKN, kini saya bisa bebas dari yang namany laporan. Entah mengapa LPPM mengharuskan mahasiswa KKN supaya membuat laporan yang njelimet, mulai dari Lembar K1, K2, K3, R1, bahkan untuk kormasit dan kormater juga ada lembar R2, dan R3.

Memang, bagian yang paling menyebalkan dari KKN ini adalah cuma laporan. itu tok… sisanya, semuanya menyenangkan. Bahkan pertengkaranpun menyenangkan. Diem-dieman pun menyenangkan. Saling ejek-ejekan pun menyenangkan. Cuma satu itu yang menyebalkan, LAPORAN.

Itu pandangan saya selaku mahasiswa yang udah kebelet pengen liburan segera, tapi bisa jadi ada manfaatnya juga kali ya kita disuruh bikin laporan sebanyak itu.

Saya jadi terpikir, untuk membuat laporan ‘perjalan hidup’ kita selama 2 bulan saja udah ribet. Apalagi nanti kalau diminta laporan pertanggungjawaban kita selama hidup di dunia ini.

Kalau jatah usia saya hingga tahun ini (hikss), berarti saya harus melaporkan catatan lembar K1, yaitu program tema saya selama diamanahkan jadi hamba Allah (hablumminallah), saya juga harus melaporkan ‘catatan amal’ K2 saya yang berhubungan dengan manusia (hablumminannas), dan juga lembar K3 berisi track record seluruh amalan yang saya lakukan selama hidup di dunia ini.

Bisa kebayang pusingnya dan malunya kita kalau di sidang satu per satu di yaumil hisab nanti. Dan saat nanti di sidang, kita gak mungkin bisa menambah-nambah jam catatan amal kebaikan kita, memanupilasi dan mengurangi jam ‘kesia-siaan’ kita. Apalagi nanti yang akan melaporkan seluruh anggota badan kita. Mulut akan melaporkan sejumlah kata-kata yang keluar terucap darinya, mata akan melaporkan berapakali ia memicingkan atau memelotot sesuatu yang allah haramkan, telinga juga akan melaporkan apa saja yang ia dengar. Tangan, kaki, pun akan melaporkan segala yang telah ia perbuat.

Udah ah, semoga pelajaran berharga dari menunda-nunda LPK bisa jadi pelajaran bagi kita untuk terus mengevaluasi diri tiap hari, catatan amal kebaikan yang kita lakukan selama ini sudah berapa jam?

Seperti yang Umar bin Khattab contohkan, beliau selalu mengingat-ingat (a.k.a mencatat/memuhasabahi) amalannya setiap hari menjelang ia tidur. Dan, semoga kita pun seperti itu…

Parung, 27 Ramadhan 1432 H
*hari pertama di rumah, menjalani aktivitas tanpa beban kampus😀

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Trackbacks / Pingbacks

  1. memutar waktu « .::PUTIH-KUNING-HITAM::. - September 27, 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: