#30 Ramadhan: A moment to remember..


….sebab laut yang tenang takkan bisa menghasilkan pelaut yang tangguh…. (Ir. Zulhiswan)

Pagi tadi sekitar pukul 7-an, beberapa sms masuk, notifikasi facebook semakin banyak, termasuk juga milis dan twit tentang sebuah berita duka.

“Innalillahi wa innailaihi raajiun, telah berpulang ayahanda kita Bapak ZULHISWAN.
informasi mengenai pemakaman akan kami sampaikan kemudian, sampai detik ini kami masih mengumpulkan informasi terkait.”
 Mohon doa untuk beliau agar diberikan kelapangan didalam kuburnya dan digolongkan bersama orang-orang shalih. Semoga keluarga beliau diberikan ketabahan.”

Sampai sekitar jam 8 saya masih mencari-cari kebenaran berita tersebut sekaigus mencari alamat rumah duka beliau, karena beberapa bulan terakhir ini ia bersama istrinya sudah tidak tinggal lagi di Tangerang. Alhasil baru jam 9 saya berangkat dari rumah ke rumah duka.

Berangkat naik angkot sampe lebakbulus dilanjut naek transajakarta akhirnya bisa sampe juga ke alamat tujuan. Dan ternyata….. tempatnya itu baru saja dua hari kemarin saya lewati. Ya, hari sabtu kemarin, saat dari mangga dua mau ke senen, saya sempet muter lewat jalan itu. Mungkin kemarin itu sudah dikasih aba-aba supaya saya mampir ke tempat belaiu. Tapi, ah nyesel juga kenapa kemarin nggak mampir kesitu.

Sampai di lokasi, jenazah sudah selesai di mandikan. Alhamdulillah, saya masih diberikan kesempatan untuk melihat wajahnya untuk terakhir kalinya. Tepat menjelang adzan zuhur, jenazah sudah selesai dikafani dan siap untuk disholatkan. Hingga menjelang pukul 12.30, baru kemudian dibawa ke tempat pemakaman di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur.

Hmm, beliau benar-benar diberikan kasih sayangNya, ratusan anak-anak didiknya selama ini turut mendoakan kepergian belia yang wafat dipenghujung akhir ramadhan ini. Dan, saya baru inget. Ternyata tepat tanggal 29 Agustus 2010 yang lalu, saya berjumpa dengan beliau di Karawaci. Rumah sehari-harinya tempat bolak-balik istirahat usai mengajar di IC.

Saat itu, saya berangkat langsung dari Jogja untuk menemui beliau, karena mendengar kabar bahwa setelah tanggal itu, ia bersama istrinya akan mudik ke Padang dan langsung umroh. Waktu itu kondisi fisiknya Alhamdulillah sudah membaik pasca operasi pertama. Iapun masih sempat mengenali saya, meski bicaranya terbata-bata tak seperti dua tahun yang lalu, yang masih mahir mengotak-atik otak anak didiknya.

Bahkan, ketika saya jenguk, iapun meminta diantarkan ke sekolah hari itu juga dengan supirnya. Ingin sekedar silaturahim setelah sekian bulan tidak mengajar lagi. Dan lagi, ternyata perjuangan beliau pulang pergia mengajar sangat mengharukan. Melewati jalan-jalan pasar berkelok-kelok dan rute yang sangat panjang. Hingga tak terbayang, beliau waktu itu bisa sampai sekolah jam 6 pagi. Dan pulang kerumahnya jam 11 malam ketika harus memberika kuliah tambahan di asrama.

Tepat setahun setelahnya, hari ini 29 agustus 2011, saya dipertemukan lagi dengannya. Pertemuan yang juga merupakan pertemuan terakhir di dunia ini. Menatapnya yang sungguh jauh berbeda dengan ia ketika masa-masa sekolah dulu. Guru inspiratif yang telah mengantarkan murid-muridnya ke perguruan tinggi negeri. Guru matematika terbaik yang pernah saya kenal.

Selamat jalan pak, semoga kita nanti bisa bertemu lagi di surgaNya…  Aamiin

#22.30 WIB
Masa Injury time Ramadhan 1432 H

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Trackbacks / Pingbacks

  1. memutar waktu « .::PUTIH-KUNING-HITAM::. - September 27, 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: