Archive | Oktober 2011

Istiqamah: Konsisten, Persisten, Konsekuen


dakwatuna.com – Ketika membicarakan apa itu istiqamah, akan banyak sekali interpretasi yang muncul berkaitan dengan maknanya. Satu kata ini memang memiliki makna yang sangat dalam sehingga ketika ada seorang sahabat yang bertanya kepada Rasulullah. “Ya Rasulullah, ajarilah aku tentang Islam yang aku tidak akan menanyakan ini lagi kepadamu?”. Maka Rasul pun menjawab “Berislamlah, berbuat baiklah lalu istiqamah”. Karena amalan yang paling disukai oleh Allah bukan sekedar amalan yang besar semata. Tapi juga amal yang dijalankan secara kontinyu dan terus mengalami peningkatan.

Saya teringat dengan sebuah kajian yang disampaikan oleh Ust. Arief Munandar beberapa tahun yang lalu di Masjid Fakultas Kehutanan UGM, beliau menjelaskan bahwa ada beberapa makna Istiqamah yang bisa kita ambil hikmahnya, di antaranya adalah, Konsisten, Persisten, dan Konsekuen. Ketiga unsur makna ini adalah bentuk dari perwujudan sebuah makna keistiqamahan dalam berjuang dengan idealisme dakwah yang tinggi., yang akan tetap memperjuangkan dakwah dengan keistiqamahan idealisme hingga syahid menjadi penutup akhir hidup seorang manusia.

1. Konsisten

Idealisme  tidak dibatasi oleh waktu. Ia tak hanya berumur 4 atau 5 tahun dan bersemayam di jiwa hanya ketika berada di kampus. Idealisme harus dibentuk dengan penuh pemahaman bahwa apa yang selama ini diperjuangkan dan diyakini adalah memang sebuah kebenaran. Bukan hanya sekedar taklid, mengikut tanpa tahu maksud. Idealisme tidak akan bertahan lama bila dibangun di atas fondasi pemahaman yang rapuh. serta tidak ditegakkan secara konsisten. Karena hanya orang-orang beridealisme tinggilah yang mampu menghadapi berbagai gelombang ujian kehidupan. Konsisten berarti apa yang dikatakannya hari ini adalah juga merupakan perkataannya hari esok.

2. Persisten

Ketika sebuah usaha mengalami kegagalan atau menemui berbagai macam benturan kepentingan yang saling melemahkan, maka persistensi seseorang yang memiliki idealisme tinggi harus menjadi senjata ampuh untuk bisa menjadi tameng dalam menghadapi beratnya cobaan itu. Ketika terjatuh, ia harus kembali bangkit, bukan sekedar menyesali kesalahannya. Introspeksi memang penting, tapi jauh lebih penting lagi bila kita tak hanya menyesali kesalahan, akan tetapi juga mampu mencari solusi untuk bangkit dari kegagalan. Karena orang yang kuat bukan hanya yang mampu melewati terpaan ujian semata, tapi mampu kembali mendongakkan wajah saat raganya mulai tersungkur dan mampu mengepalkan kembali semangat juang dari keterjatuhan. Persisten harus dibangun dalam diri setiap mujahid-mujahid dakwah karena akan banyak sekali tenaga yang dibutuhkan dalam memperjuangkan kalimatullah dan kemenangan dakwah di muka bumi ini.

3. Konsekuen

Hal yang menjadi penting bagi seseorang yang memiliki idealisme adalah ia harus konsekuen dengan apapun yang ia perbuat. Ia harus mampu berada di garis terdepan ketika banyak orang yang mencela. Bukan sembunyi dibalik ketakutan yang menghantui. Apapun yang telah kita perjuangkan pasti ada konsekuensinya. Memperjuangkan dakwah berarti kita harus siap dengan segala macam hambatan dan musuh-musuh dakwah yang pasti akan selalu mencari celah untuk menghancurkan kita. Memperjuangkan dakwah berarti kita harus rela mengorbankan segala potensi yang kita miliki, selama itu masih bisa kita lakukan. Harta, waktu, tenaga bahkan jiwa adalah potensi-potensi itu. Dakwah ini membutuhkan orang-orang yang tetap tegar memperjuangkan dakwah sehingga ia mampu menjadi seorang pejuang yang tak kenal lelah. Karena kelelahan hanya akan membuat kita semakin terpedaya untuk meminimalisir waktu perjuangan yang ada. Kelelahan hanya akan membuat produktivitas dakwah ini menurun. Oleh karena itu sangat dibutuhkan sekali energi pembaharu semangat dakwah yang akan menjadi obat bagi kelelahan menyusuri jalan Perjuangan ini.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2011/10/15696/istiqamah-konsisten-persisten-konsekuen/#ixzz1bxjMaAl0

Iklan

Jiwa-jiwa permaafan


Jiwa-jiwa permaafan.

 

Loyalitas, sebuah kata yang menjadi penggerak beribu massa tumpah ruahmamadati sepanjang jalan malioboro. Tua muda, dari kalangan rakyat manapun membuktikan ikrar seia mereka pada sang raja. Memang, mobilisasi paling efektif bukan pada ta’limat ataupun qoror. Akan tetapi berdasarkan pada loyalitas yang tersimpul dalam ikatan ukhuwah. Mampu tergerak dan menggerakan. Memenuhi setiap kebutuahn medan-medan perjuangan.

Tentu, bagi setiap jiwa-jiwa permaafan takkan bisa seperti mereka. Bukti loyalitas dan kesetiaan yang terangkum indah dalam sebuah kerja nyata. Mampu merangkai ide-ide menjadi sebuah karya. Mampu membuktikan cinta dalam sebentuk kerja.

Jiwa-jiwa permaafan akan mudah kalah dengan kemalasannya dalam berkarya, memenuhi tugas sebagai abdi kuasa. Jiwa-jiwa yang lemah tak berdaya dengan nafsu yang ingin selalu terpenuhi.

 

—-Yogyakarta, 24 Oktober 2011—-

Rehat akhir pekan


Tiga tahun di Jogja rasanya belum banyak sudut-sudut indah kota Jogja yang saya kunjungi. Paling hanya seputar kampus-kos. Eksotisme jogja dengan ‘never ending Asia’ nya menjadi daya tarik yang menjadi menu wajib untuk dikunjungi. Paling tidak sebelum saya menamatkan kuliah di kota ini.

Siang tadi, sehabis menghadiri undangan seminar di FTP UGM, saya berencana untuk mulai merealisasikan ambisi saya untuk menelusuri tempat-tempat bersejarah di kota gudeg ini. Dengan berbekal tiket trans Jogja, akhirnya saya bisa mengunjungi 3 Museum sepanjang siang tadi 🙂

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Benteng Vredeburg.

Museum Benteng Vredeburg adalah sebuah benteng yang dibangun tahun 1765 oleh VOC di Yogyakarta selama masa kolonial VOC. Gedung bersejarah ini terletak di depan Gedung Agung (satu dari tujuh istana kepresidenan di Indonesia) dan Istana Sultan Yogyakarta Hadiningrat yang dinamakan Kraton. Benteng ini dibangun oleh VOC sebagai pusat pemerintahan dan pertahanan gubernur Belanda kala itu. Benteng ini dikelilingi oleh sebuah parit yang masih bisa terlihat sampai sekarang.

saat ini beberapa Diorama masih dalam tahap renovasi, sehingga ketika tadi saya kunjungi, hanya ada beberapa Diorama yang dibuka dan boleh dikunjungi.

Tempat kedua, tak jauh dari Lokasi Benteng Vredeburg adalah Taman Budaya Yogyakarta. Sebenarnya lokasinya hanya kurang lebih 50 meter dari Benteng, 9lonjcat saja dari atas benteng sepertinya juga bisa) tapi saya harus memutar jalan dulu melewati Pasar Beringharjo. Lantai Pertama Taman Budaya itu diisi dengan anek karya lukisan seniman-seniman Jogja yang belum lama ini dipublikasikan. Figura-figura lukisan berjejer di setiap sudut ruangan dengan ukuran kira-kira 2×2 meter.

Di lantai dua, terdapat Museum anak Kolong tangga, dimana kita bisa mendapatkan berbagai jenis koleksi mainan anak-anak, mulai dari mainan tradisional anak Indonesia (yang bahkan sayapun baru tahu hari ini) sampai  mainan tradisional dari berbagai negara di dunia yang sudah berumur puluhan tahun. Di sebut Museum Anak Kolong Tangga, karena letak museumnya ini terletak persis di bawah kolong tangga menuju concert hall Taman Budaya Yogyakarta.

Museum ini sangat bagus untuk dikunjungi oleh anak-anak (tapi kenapa saya kesini ya? -.-‘). Selain dapat memberikan informasi mengenai dunia anak-anak di masa lampau, juga bisa merangsang anak-anak untuk tetap melestarikan budaya anak-anak yang kini sudah mulai tergusur begitu dahsyat dengan pengaruh budaya remaja masa kini yang turut menjadikan anak-anak kecil sebagai korbannya.

Setelah menyaksikan keanggunan sudut kota Jogja selama beberapa jam tadi, menjelang matahari terbenam, saya segera pulang untuk kembali ke kontrakan. Cukup rasanya untuk sedikit melepas penat selama 5 hari aktifitas di kampus dan lembaga. hari sabtu adalah hari libur untuk merehatkan diri dan me refresh segala kejenuhan yang melanda. 

Masih banyak tempat bersejarah lain yang belum saya kunjungi, tunggu saja laporannya. 🙂

*malemnya langsung dapat ‘kabar baik’ dari Madiun lagi.

Barakallahu laka untuk personel kedua laskar andromeda 17 yang akan menggenapkan dien-nya.