Rehat akhir pekan


Tiga tahun di Jogja rasanya belum banyak sudut-sudut indah kota Jogja yang saya kunjungi. Paling hanya seputar kampus-kos. Eksotisme jogja dengan ‘never ending Asia’ nya menjadi daya tarik yang menjadi menu wajib untuk dikunjungi. Paling tidak sebelum saya menamatkan kuliah di kota ini.

Siang tadi, sehabis menghadiri undangan seminar di FTP UGM, saya berencana untuk mulai merealisasikan ambisi saya untuk menelusuri tempat-tempat bersejarah di kota gudeg ini. Dengan berbekal tiket trans Jogja, akhirnya saya bisa mengunjungi 3 Museum sepanjang siang tadi 🙂

Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Benteng Vredeburg.

Museum Benteng Vredeburg adalah sebuah benteng yang dibangun tahun 1765 oleh VOC di Yogyakarta selama masa kolonial VOC. Gedung bersejarah ini terletak di depan Gedung Agung (satu dari tujuh istana kepresidenan di Indonesia) dan Istana Sultan Yogyakarta Hadiningrat yang dinamakan Kraton. Benteng ini dibangun oleh VOC sebagai pusat pemerintahan dan pertahanan gubernur Belanda kala itu. Benteng ini dikelilingi oleh sebuah parit yang masih bisa terlihat sampai sekarang.

saat ini beberapa Diorama masih dalam tahap renovasi, sehingga ketika tadi saya kunjungi, hanya ada beberapa Diorama yang dibuka dan boleh dikunjungi.

Tempat kedua, tak jauh dari Lokasi Benteng Vredeburg adalah Taman Budaya Yogyakarta. Sebenarnya lokasinya hanya kurang lebih 50 meter dari Benteng, 9lonjcat saja dari atas benteng sepertinya juga bisa) tapi saya harus memutar jalan dulu melewati Pasar Beringharjo. Lantai Pertama Taman Budaya itu diisi dengan anek karya lukisan seniman-seniman Jogja yang belum lama ini dipublikasikan. Figura-figura lukisan berjejer di setiap sudut ruangan dengan ukuran kira-kira 2×2 meter.

Di lantai dua, terdapat Museum anak Kolong tangga, dimana kita bisa mendapatkan berbagai jenis koleksi mainan anak-anak, mulai dari mainan tradisional anak Indonesia (yang bahkan sayapun baru tahu hari ini) sampai  mainan tradisional dari berbagai negara di dunia yang sudah berumur puluhan tahun. Di sebut Museum Anak Kolong Tangga, karena letak museumnya ini terletak persis di bawah kolong tangga menuju concert hall Taman Budaya Yogyakarta.

Museum ini sangat bagus untuk dikunjungi oleh anak-anak (tapi kenapa saya kesini ya? -.-‘). Selain dapat memberikan informasi mengenai dunia anak-anak di masa lampau, juga bisa merangsang anak-anak untuk tetap melestarikan budaya anak-anak yang kini sudah mulai tergusur begitu dahsyat dengan pengaruh budaya remaja masa kini yang turut menjadikan anak-anak kecil sebagai korbannya.

Setelah menyaksikan keanggunan sudut kota Jogja selama beberapa jam tadi, menjelang matahari terbenam, saya segera pulang untuk kembali ke kontrakan. Cukup rasanya untuk sedikit melepas penat selama 5 hari aktifitas di kampus dan lembaga. hari sabtu adalah hari libur untuk merehatkan diri dan me refresh segala kejenuhan yang melanda. 

Masih banyak tempat bersejarah lain yang belum saya kunjungi, tunggu saja laporannya. 🙂

*malemnya langsung dapat ‘kabar baik’ dari Madiun lagi.

Barakallahu laka untuk personel kedua laskar andromeda 17 yang akan menggenapkan dien-nya.

Iklan

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: