Refleksi: Allah Mendidik Kami dengan Jalan ini


 

Pentingnya memahami kaidah pertengahan…

Sungguh terasa saat kita berbaur dengan berbagai macam warna. Saat perjuangan itu mulai membesar, Allah berikan masalah untuk menyaring & menyeleksi siapa di antara para pejuang yang tetap bertahan. Saat saringan itu mulai menampakkan hasilnya, Allah akan buka kembali berbagai kemudahan bagi perjuangan itu, jika mereka layak mendapatkannya. Saringan itu berupa bibit-bibit kekecewaan, ide yg tak terpakai, terpaan berita buruk, hingga harta & tahta. Tidak ada ujian yang terlalu mudah.

Tahun ‘99, kita telah menyaksikan ujian itu. Banyak yang bergelimpangan, terlempar ke luar karena tekanan yang begitu kencang pada perjuangan ini. Semangat yang begitu tinggi, harapan yang amat besar, benar-benar membuat syok jiwa-jiwa yang tak siap menerima kecilnya dukungan saat itu. Sebagiannya pun berlarian, bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Inikah jalan itu? Jalan yg diyakini itu? Ini terlalu berat…

Namun perlahan tapi pasti, keyakinan itu mulai tampil. Kita tidak berjuang sendiri dan berjuang tidak untuk diri kita sendiri saja. Ada yang berkata “bukan ini jalannya!” karena tak ingin menahan beban yang sama di kemudian hari. Namun ada yang tetap tersenyum dalam duka. Dan seleksi Allah pun berlaku. Tertatih-tatih, langkah-langkah perjuangan harus tetap dilakukan, meski sebagiannya memilih jalan berbeda. Kami sadar, jalan berbeda itu belum tentu salah. Namun inilah yang telah kami pilih. Tiada kata mundur, apalagi bubar. Tetap maju.

Belajar dari pengalaman, begitulah tauladan Rasul. Ternyata, saat itu, tidak banyak yang mengenal kami, dan apa yg ingin kami berikan tuk negeri. Tidak ada jalan lain, perjuangan harus menggunakan kelebihan sang pejuang. Maka, turunlah ribuan dari kami memperkenalkan gerakan ini. Kami pun mengetuk jutaan pintu, berkelana dari satu gunung ke yang lain, masuk pedalaman, menyeberangi perairan. Memperkenalkan diri. Kami keluarkan isi kantong untuk menghidupi perjuangan ini. Berusaha tabah atas beraneka sambutan masyarakat yang ingin kami perjuangkan. Tiada keharusan bagi siapa pun untuk menerima apa yang kami sampaikan, namun kami mengharuskan diri untuk menyampaikannya. Dengan berbagai resikonya.

Saat itu, optimisme itu begitu menggairahkan. Menyeruak, ingin sekali kami berikan apa yang kami punya untk negeri. Sebagiannya pun berlarian, bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Inikah jalan itu? Jalan yang diyakini itu? Ini terlalu berat…

Kami sadar, kami masih tampak sebagai anak kecil yang manis, polos dan lugu tanpa beban. Biarlah semua anggapan itu. Yang penting berjuang. Perlahan kami berjalan, tersaruk-saruk & berulang kali menabrak tembok. Belajar dengan tergagap-gagap, sungguh banyak jebakan tertebar di dalam. Setelah kesulitan, ada kemudahan…

Allah gerakkan kami melompat cukup jauh. Mengokohkan wujud, bersiap untuk semakin mewarnai. Dan kembali Allah terapkan seleksinya atas perjuangan ini. Berbagai masalah yang tak terbayangkan muncul tiba-tiba, mengejutkan semua orang. Makin tinggi pohon, makin kencang terpaannya. Kami tidak mengaku tinggi, namun terpaan itu makin kencang terasa. Anak kecil manis yang lugu itu mulai tumbuh dewasa. Ia mulai belajar bersikap. Dan sebagian orang mulai menganggapnya berbahaya. Para pimpinan kami, adalah beliau-beliau yang telah bertahun-tahun lamanya mengorbankan banyak hal untuk perjuangan. Kami mencintai mereka semua. Mudah menyalahkan saat tidak berada di dalam. Tapi ketika hati-hati itu berpadu dalam doa, sungguh rasa syukur itu takkan terlupa selamanya.

Cerita belum berakhir, yang masuk akan makin banyak, yang tersaring juga akan ada. Semoga kita diberi kebaikan, di mana pun kita berada. Partai hanyalah sarana. Dengan atau tanpanya, perjuangan tetap berjalan. Politik adalah pilihan yang telah diambil. Sekarang, waktunya berjuang!

 

oleh: admin @PKSJerman

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

2 responses to “Refleksi: Allah Mendidik Kami dengan Jalan ini”

  1. Yuana says :

    Reblogged this on Bosphorus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: