Archive | Mei 2012

klarifikasi


klarifikasi terhadap klarifikasi:

untuk masalah “itu” yang terjadi  pada saya, gk usah dikomentari ya…

dan sayapun gak akan ngomentari masalah itu dengan nyetatus atau ngetwit….

biarlah semuanya berkembang sesuai koridornya masing-masing.

saya, masih saya yang dulu…

gak ada yang berubah kok, cuma sekarang tanpa label saja 🙂

karena saya lebih nyaman tanpa label.

udah ah, yang pasti, ini hanya masalah label saja, titik…. sisanya semuanya masih sama dan tetap sama…

Cmunggudh kk!! \\(^_^)//

 

menghibur diri


udah, yg kemarin-kemarin dilupain aja,

klw kata kungfu panda: yesterday is history, tomorrrow is mistery and today is gift…

Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya: Allah swt menyeru manusia: “Wahai manusia, siapakah yang lebih baik perkataannya selain orang yang mengatakan Rabb kami adalah Allah, kemudian istiqamah dengan keimanan itu, berhenti pada perintah dan larangan-Nya, dan berdakwah (mengajak) hamba-hamba Allah untuk mengatakan apa yang ia katakan dan mengerjakan apa yang ia lakukan.” (Tafsir Ath-Thabari, Jami’ul Bayan Fi Ta’wil Al-Quran, 21/468).

random 3


kriek..kriek..kriekkk…

satu… baut telah copot…

dug…duggg..duggggg…

Alhamdulillah dua baut udah copot…

kreeek…krekk..kreeeekkk…

Nah, tinggal satu lagi bautnya…

Tapi, pas saya nyoba untuk mencopot baut keempat, seseorang berseloroh.

“ngapain mas?”

“ini kunci kamar saya ketinggalan di dalem, jadi tak bongkar paksa deh.”

“oh gitu, kenapa gak pake kunci kamar ane aja.”

“Hah, emang bisa???”

si empunya kunci langsung mengambil kunciya.

“nih mas… coba aja, kan gembok kita sama :)”

 

eleuhhh, kenapa gak dari tadi, padahal udah 15 menitan bongkar gembok kamar pake besi seadanya. -,-”

 

Media #1: Dakwah via Twitter


udah pada tau kan kalau kemarin itu pengumuman SNMPTN jalur undangan? Udah tau juga kan berapa yang diterima di UGM lewat jalur itu?

Hah, belum pada tau, hadeeeeh.

wis, kita lewatin aja bahasan ini itu. krn saya juga sebenernya gatau jumlah pastinya berapa. he2..

Tapi ada satu hal menarik dari semenjak sore kemarin sampai hari ini ngeliatin TL yang berseliweran di akun twitter. Sadarkah kita bahwa jumlah ribuan maba yang diterima oleh UGM kemarin itu adalah ladang-ladang dakwah yang siap untuk dibuka???

Mereka sedang butuh-butuhnya info tentang UGM, tentang kos-kosan, tentang sekelumit jogja yang mungkin banyak diantara mahasiswa baru belum pernah menginjakkan kakinya di tanah mataram ini.

Apa hubungannya mahasiswa baru dengan dakwah dan juga twitter? Ya jelas, mereka adalah iron stock yang tersedia untuk melanjutkan estafet dakwah ini. Bukankah orang-orang tua di kampus sebentar lagi akan pergi. Lalu akan tergantikan oleh tunas-tunas dakwah yang baru.

Saya di sini cuma mau menyampaikan bagaimana perspektif dakwah dalam media nya saja. Meskipun pengalamannya sedikit di sini. Tapi tak ada salahnya yang sedikit itu bisa saling melengkapi. Dan saya jug gak ngebahas akun pribadi saya yang followernya segitu-gitu aja. Tapi klo urusan dakwah ada akun lain yang lebih bermanfaat 🙂

gini ya, sederhana saja: misalkan ada akun (pribadi/lembaga) yang tiap hari kultwit. ampe lebih dari lima seri hashtag tiap harinya dengan tema berbeda. Tapi followernya cuma SATU (ini sih ekstrim kirinya, he2). Nah, loh. gimana mau menyampaikan kebenaran dan gagasan briliannya klo followernya aja sedikit.

Analogi lain, buat apa ada radio dakwah atau TV dakwah atau Majalah-majalah dakwah?? Salah satu ekses yang diharapka kan adalah makin banyak orang yang tershibgah oleh dakwah Islam.

Asumsi saya, klo qt udah bahas follower atau bahasa kerennya jamaah. berarti bab niatnya udah beres. Dalam artian fokus utama kita sebenarnya bukan untuk menambah follower atau menambah jamaah yang mengikuti kita. Tapi “tsawabitnya’ tetap terjaga. Kata ustadz Solihun pas kajian manhaj tadi sore beliau mengatakan bahwa. Maqasid Asy-Syariah itu sifatnya Tsawabit sedangkan metode, sarana dan turuna-turunan tujuannya adalah mutaghayyirat. Yang bisa disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Analogi lain, Khatib, klo gak pake mic bisa aja sih. Toh zaman nabi dulu juga gak ada mic. Nah, tapi kan mic itu digunakan supaya orang-orang yang ada dimasjid itu ngedengerin semua. Apalagi seperti di istiqlal, sampe ujung-ujung masjid yang jaraknya puluhan meter juga masih ada ada jamaah. Dan mempebesar ruang kemungkinan tersyiarkannya dakwah adalah sebuah keniscayaan.

Artinya, bukan berarti orientasi dakwah kita pada follower. Tapi follower itu hanyalah sarana yang kita gunakan untuk memperluas cakupan kebaikan yang tersebar. Contoh misalnya akun pak @tifsembiring yang merupakan akun politisi nomor satu terbanyak followernya di Indonesia, ketika mengeluarkan statement yang isinya kebaikan atau me RT sebuah hadits, bayangkan 400 ribuan orang bisa membaca dalam satu waktu. Dan yang membacanya bukan hanya aktifis dakwah yang memang sehari-harinya akrab dengan hadits atau ayat-ayatu alqur’an. Tapi lihat followernya pak tif ini. Gak cuma aktifis dakwah, para politisi dari partai lain, akademisi, mahasiswa, pebisnis, buruh, karyawan dan dari segala macam kelas masyarakat ikut membaca twitnya.

Coba bandingkan ekstrim kiri dan kanannya. Seorang yang kicauannya bejibun tiap hari tapi yang memfollow cuma satu dengan seorang yang cuma sekali ngetwit tapi followernya 400 ribu. Lagi-lagi saya ulang. Dan penting untuk diulang-ulang terus BAHWA bab niat sudah beres dalam hal ini.

Penting untuk diingat kembali, bahwa tugas kita sebagai seorang yang ‘katanya’ aktifis adalah memperbesar ruang kemungkinan orang-orang yang tersentuh oleh dakwah. sehingga indahnya ber Islam itu gak cuma dirasakan oleh kalangan tertentu saja. Saya khawatirnya mereka yang selama ini antipati dengan dakwah itu disebabkan karena mereka belum tau bagaiman Islam mengatur dengan begitu terperinci dalam segala aspek kehidupan ini. Dan itu menjadi tugas para aktifis untuk lebih kreatif dalam memodifikasi sarana yang di gunakan. Ingat kreatif dalam memodifikasi SARANA, bukan memodifikasi TUJUAN.

Pahala kebaikan itu kan, seperti MLM. Makin banyak yang mengikuti, makan kitapun akan mendapat pahala kebaikan itu. Hatta, sampai kita sudah  meninggalpun pahala itu akan terus mengalir. Saat kata-kata kita mampu mengubah 1 orang itu adalah sebuah amal baik.  Saat kata-kata kita mampu menginspirasi 10 orang itu juga baik. Saat kata-kata kita mampu menggerakkan 1000 orang itu jauh lebih baik. Dan, ruang kemungkinan untuk tersebarnya kebaikan juga jauh lebih luas. Dan begitulah amal jariyah, 1000 orang akan mampu menginspirasi seribu orang lagi dan begitu seterusnya. Sehingga pesan-pesan kebaikan akan tersebar merata kepada mereka yang selama ini belum tersentuh dakwah. Jadi misalkan ada satu dua orang yang futur, dan gak meneruskan aktifitas kebaikannya itu, masih jauh lebih banyak orang yang istiqomah dalam ibadahnya.

Terakhir deh, karena sy juga udah ngantuk. Masalah hidayah itu, bukan domain manusia untuk memberikannya. Manusia hanya bertugas menyampaikan dan mengenalkan Islam kepada objek dakwahnya. Perkara orang itu kemudian tergerak untuk bergabung dalam jamaah dakwah itu bukan menjadi domain manusia. Kan dakwah itu salah satu untuk menguji siapa sih diantara hamba-hambNya yang serius dan istiqomah mengajarkan kebaikan pada orang lain. Nah, jadi dalam hal berkicau di twitter, poin terakhir ini jug perlu diperhatikan.

Jogja, 27 Mei 2012

Pukul 20.30 WIB

menokohkan orang yang siap untuk ditokohkan…


kadang ribet juga ya ketika kita mau menokohkan orang, tapi orang yang mau ditokohkan itu tidak siap dan tidak mau untuk ditokohkan. Jadinya ya ibarat cinta yang bertepuk sebelah tangan. Satu sisi orang tersebut ingin diorbitkan, tapi di sisi lain ianya sendiri merasa tidak pantas untuk diorbitkan.

He2, sebenernya ini sih hanya masalah citra. Bagi kita yang ngakunya ‘aktivis’ memang  nggak lazim kalau melalukan ini itu hanya untuk pencitraan.

Tapi pencitraan yang saya maksud di sini bukan mengarah ke sana. Pencitraan yang dimaksud lebih pada syiarnya. Beda kan antara citra dengan syiar. Orang yang melaksanakan ibadah tapi sembunyi-sembunyi itu baik. Orang yang berbuat-baik tapi sembunyi-sembunyi itu baik. Orang yang sedekah dengan tangan kanannya tapi tangan kirinya gak tau itu juga baik.

Nah, masalahnya kan bukan si orang itu yang memberitahu ke orang lain tentang amalnya. Tapi kita menyebarkan kebaikannya karena kita yang melihat dan merasakan manfaat kebaikan dari orang tersebut.

Orang itu mah gak usah tau kalau kebaikan-kebaikannya telah kita syiarkan ke orang lain (nah ini sembunyisembunyi juga kan? :)). Biarkan ia ikhlas dengan amalnya, dan kita yang turut mengajak orang lain agar seperti dia.

Misalnya, ada dosen yang tiap malam tahajud, paginya duha, tilawah 1 juz perhari, tapi jurnalnya bejibun di google scholar, nah kalau amal istimewanya itu gak disyiarkan, ya orang-orang mungkin hanya tau dia dosen yang semalam suntuk belajar, aktivitasnya hanya untuk ngajar, ngampus, neliti. itu tok….

Padahal ada sisi-sisi ruhani yang sebenarnya menjadi fondasi utama atas kesuksesan yang diraihnya.

dan hari ini, alhamdulillah kami menemui orang yang siap untuk ditokohkan. artinya di memang punya kapasitas yang layak untuk ditokohkan, bukan sekedar menokohkan tapi kosong isinya.

Blimbingsari, 26 Mei 2012

23.48 WIB

Jakarta Pagi ini


Awalnya indah sekali..

Kerlip lampu warna-warni menghiasi puncak menara-menara indah di pusat ibukota ini. pukul 3 pagi, jalan-jalanan pun masih sepi. Tentunya sepi dalam ukuran jakarta, berbeda dengan standar kota lainnya.

Sahut-sahutan adzan dari menara-menara itu kini mulai terdengar menyambut datangnya waktu subuh.Hilir mudik orang-orang yang katanya orang metropolis ini, ternyata masih banyak yang memadati shaf-shaf pertama masjid yang menjadi kebanggan Indonesia, Istiqlal. Ratusan orang tua, ibu-ibu sampai anak-anak pun turut memadati barisan terdepan shalat subuh.

Selang beberapa waktu kemudian, langit jakarta mulai membuka tabirnya. Lingkaran berwarna keemasan mulai tersingkap menyapa jutaan warga jakarta pagi ini.

Masih indah….

Dan saat matahari mulai meninggi, birunya langit yang indah dengan dihiasi puncak-puncak menara kebesaran jakarta berubah menjadi kelam. Bukan karena mendung pertanda akan turun hujan. Akan tetapi polusi yang bertebaran menggerogoti indahnya awan.

Masih indahkah??

Ah, ternyata menurutku masih indah. Apalagi jumat ini adalah hari terindah diantara hari-hari yang lain. Masih indah bila terdengar sayup-sayup murattal dari menara-menara masjid di tengah kepadatan dan kesibukan jakarta. Masih indah bila majelis-majelis ilmu tetap dipadati oleh banyak orang.

Karena jakarta masih indah, izinkan aku untuk merasakan indahnya jakarta hari ini. Meski indah bagiku mungki tak seindah orang lain.

Tetap berjuang #AyoBeresinJakarta.

Semoga ikhtiar hari ini indah pada akhirnya.

Masjid istiqlal, dengan panorama indah puncak monas memanjakan pagi.
07.42 WIB

Saksikan Bedah Buku #DilemaSkripsi


Saksikan Bedah Buku #DilemaSkripsi: Antara Amanah dan Kuliah 🙂

 

Pembicara: yang nulis buku

Tempat: masih nyari

Waktu: masih disyurokan

HTM: Gratis lah…

 

*Untuk Pemesanan buku, mohon maaf belum bisa dilayani… karena bukunya masih dalam tahap penulisan….

 

#hoho #gakjelassss

pindah ke lain hati


pertama kali ngeblog pas SMA pake ~> blogspot (tapi bukan blog pribadi).

karena bosen, dengan templatenya (masih amatiran) ~> ganti blogsome  (masih blog lembaga)

menjelang wisuda, terpikir untuk membuat blog pribadi ~> WordPress

Di tengah perjalanan, nemu ~> Multiply , yang lebih interaktif

awal tahun ke-4, nyoba blogspot yang lebih advance, lagi-lagi untuk lembaga.

Dan akhirnya, di penghujung masa studi ini, ketemu sama ****** lebih keren dan beda dari yang lain.

nge-WP sementara disedikitkan dulu, sambil mencoba rumah baru 🙂

Praaaaak!!!


“Innalillahi wa inna ilaihi Raaji’un, Kullu Nafsin dzaa-iqatul maut.”

Kalimat itulah yang menjadi pembuka bagi ustadz Hidayat saat melepas kepergian ibundanya, Ibu Hj. Siti Rahayu di rumah duka tak jauh dari stasiun Brambanan.* Seperti yang dikutip oleh tribunnews.com “Ibunda merupakan sosok yang menyayangi putranya dan mendukung kami dalam beragam kegiatan. Hingga usianya lanjut, dia masih aktif berorganisasi. Meski peduli dengan organisasi tapi dia tidak memiliki pembantu untuk mengurusi anak-anaknya.”

Ratusan orang terlihat menghadiri pelepasan jenazah dan juga ikut mengiringinya hingga ke lokasi pemakaman. Ada banyak karangan bunga dan ucapan belasungkawa dari berbagai instansi dan pejabat yang turut berduka cita atas meninggalnya ibunda ustadz Hidayat dalam usianya yang ke-79 itu. Iring-iringan Kepanduan juga mengawal mobil jenazah selama dalam perjalanan dari rumah duka menuju pemakaman.

Almarhum dimakamkan berada satu baris dengan keluarganya yaitu ayah dan istri ustadz Hidayat. Prosesi pemakaman berlangsung cukup khidmat meskipun dalam kondisi cuaca yang teramat terik.

Alhamdulillah, saya dan beberapa rombongan berkesempatan untuk kembali menyaksikan ke-Maha Besar-an Allah yang Maha Kuasa atas hamba-hambaNya, Ia Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan, atas kehendakNya lah kita semua pasti akan dipanggil di waktu yang sudah ditentukan. Kematian merupakan suatu hal yang pasti. Pasti akan menimpa seluruh makhluk-Nya di bumi. Sesehat apapun dan sebugar apapun tubuh kita saat ini, tak ada yang menjamin bahwa kematian masih jauh menghampiri kita.

Dan, dalam perjalanan pulang dari Prambanan menuju kampus siang ini, saya jugaa diingatkan olehNya akan kematian yang bisa saja menghampiri kita sewaktu-waktu. Di saat motor sedang melaju kencang bersama iringan kawan-kawan mahasiswa yang lain, tiba-tiba ada motor yang melintas mengambil jalur kanan, tanpa memberi isyarat terlebih dahulu. Dan akhirnya, Praaaaak!!!!!

Ah, sudah sampai di sini saja ceritanya. Semoga tiap diri kita senantiasa mengambil hikmah atas segala kisah yang terangkai dalam kepingan waktu yang tersisa ini.

*) saya baru ngeh klo ternyata yang bener itu Stasiun Brambanan, bukan Stasiun Prambanan.

Jogja, 21 Mei 2012

22.08 WIB

Berharap Napas yang Panjang


dakwatuna.com – Di antara gejolak-gejolak kejiwaan yang berpotensi untuk mengganggu jalannya dakwah adalah gejolak heroisme. Di sini, bukan berarti heroisme adalah salah satu sikap yang harus dihindari. Akan tetapi dalam buku Tegar di jalan dakwah-nya Ust. Cahyadi Takariawan, yang dimaksud Gejolak Heroisme adalah semangat heroisme yang sudah tidak proporsional. Menjadikan ghirah sebagai bahan bakar utama dakwah yang tak henti-hentinya dipacu tanpa mempedulikan apakah ketersediaan bahan bakar itu cukup untuk menjalankan roda estafet dakwah yang telah dirintis oleh para pendahulu kita.

Jalan ini masih panjang. Karenanya butuh energi yang cukup agar keberlanjutan proses transformasi masyarakat minazh zhuumaati ilannuur tak berhenti saat ini juga. Boleh jadi apa yang diusahakan pada saat ini, belum bisa dirasakan keberhasilannya pada saat ini juga, namun setahun, dua tahun atau bahkan baru sampai pada generasi selanjutnya keberhasilan dari sebuah proses bernama dakwah ini akan bisa dirasakan.

Banyak mungkin yang terlihat saat ini, mereka yang begitu aktif dalam dakwah kampus, setelahnya tak terlihat lagi pendar semangat yang terlihat dari aktivitas dakwahnya, tak ada lagi retorika dan strategi cemerlang yang pernah menjadi senjatanya dalam dunia kampus dulu. Bahkan kini tenggelam tertutup serpihan-serpihan kehidupan yang menutupi aura kebaikannya.

Adakalanya hak-hak raga ini juga perlu diperhatikan, agar tak layu sebelum berkembang, agar tak ada yang gugur sebelum kemenangan dicapai, dan agar tak ada yang berhenti saat perjalanan baru saja menapaki jejak yang masih sangat pendek.

Bukankah Rasulullah SAW juga pernah mengatakan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang sedikit namun terus menerus dilakukan. Tidak membumbung tinggi semangat di awal, namun hanya terjadi beberapa saat, setelahnya tak terlihat lagi.

Napas panjang, sangat dibutuhkan. Capek? memang…. karena perjuangan dakwah memang panjang. Dan tak ada istirahat sebelum kaki kita menginjak Jannah….

Semoga kita semua dikuatkan untuk memiliki napas panjang itu,, Untukmu para pejuang dakwah, perjuangan kita bukan kerja-kerja satu atau dua minggu saja, melainkan sepanjang hayat  selalu ada amanah dalam meniti jalan kebaikan ini. Ada banyak pekerjaan yang membutuhkan energi dan napas yang panjang. Oleh karenanya, tetaplah berjamaah dan terus isi nutrisi hati agar setiap derap langkah kita diberkahi. Semoga Allah menguatkan kita di jalan dakwah ini…. Aamiin…

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/05/20158/berharap-napas-yang-panjang/