Archive | Juni 2012

Hidup Adalah Kumpulan Pertanggungjawaban


Ketika Sang Pemberi Nyawa kemudian menagih pertanggungjawaban atas setiap detik waktu yang digunakan. Ketika Sang Pemberi nafas menagih pertanggungjawaban atas setiap hentakan kembang kempisnya nafas yang berulang. Ketika Sang Pemberi rizki menagih pertanggungjawaban atas setiap lembaran hari-hari yang dimanfaatkan. Adakah kita siap untuk menjawabnya dihadapan Sang Pemilik Segala tersebut….

Jum’at kemarin bukan saja hari yang istiwewa seperti pekan-pekan sebelumnya. Akan tetapi jauh lebih istimewa dari yang pernah saya alami. Hidup mengajarkan kita untuk selalu bersyukur, meresapi setiap celupan nikmatNya yang seringkali menghampiri,  namun kita sendiri jauh tersadar akan nikmatnya tersebut.

“Ini sepeda untuk antum. Dari temen-temen.”

JegeRrrr.. Belum pernah sebelumnya terbayang dan terlintas dalam pikiran akan mendapatkan nikmat dari cara yang seperti ini. Saat saya harus ‘dijebak’ untuk mengantarkan sepeda baru ke rumah Sang Pemilik sepeda yang baru saja membelinya dari sebuah toko di kawasan Brigen Katamso. Saat ketika sepeda itu sudah sampai dirumah sang pemilik, namun seketika ada sms yang masuk. “Itu udah jadi milik antum.” DI saat itu pula saya tak bisa mengambil keputusan dengan cepat antara menerima dan menolak.

“lho, itu kan rezeki.. Kenapa ditolak?” .

Karena pasti dari setiap rezeki itu akan ada pertanggungjawaban besar yang harus ditunaikan. “Bukankah memang seperti itu ya, setiap rezeki, nafas, dan nikmat-nikmat lain yang Allah berikan pada manusia, pasti akan dimintai pertanggungjawabannya?”

Hmm, kemudian saya berpikir ulang untuk menerima pemberian tersebut. Ada dua konsekuensi pertanggungawaban yang harus saya tunaikan, yaitu pertanggungjawaban vertikal (Hablumminallah) dan Horizontal (Hablumminannaas). Berat ketika menerima pemberian yang bisa dikatan “itu uang ummat.” Berarti setiap waktu yang digunakan, bila terbuang sia-sia adalah juga menyia-nyiakan uang ummat. Astaghfirullah.

Padahal, memang seharusnya manusia itu menyadari bahwa dari setiap nikmat yang ia miliki, ada pertanggungjawaban vertikal dan horizontal. Tentang bagaimana, untuk apa dan dengan apa nikmat itu digunakan.

Seorang manusia itu akan berhenti pada pengembaraan hidupnya, suau saat nanti. Ia akan menghentikan semua amanah yang selama ini diemban. Ia akan melepaskan semua harta dan kepunyaan yang ia pegang. Harta yang dipegang lho, bukan dimiliki. Karena sejatinya, memang harta, kedudukan dan penghormatan manusia itu bukan dimiliki, tapi hanya dititipkan sebentar, kita mungkin hanya memegang, menyentuh atau bahkan sekelebat melintas dalam alam jiwa manusia.

Bukankah hidup manusia itu seperti tukang parkir?. Berpuluh-puluh bahkan berates-ratus hilir mudik kendaraan melintasi lahan parkirnnya, namun dalam sekejap, sewaktu-waktu kendaraan itu akan dibawa pulang oleh pemiliknya sendiri. Dan, sang tukang parkir tak bersedih atas kembalinya kendaraan itu pada pemiliknya. Saat kendaraan itu datang, sang tukang parkir tersenyum bahagia, ia masih bisa menyaksikan deratan mobil-mobil indah. Dalam kondisi selanjutnya ia juga tetap bahagia jika mobil itu dibawa kembali  karena ia merasa lega, mobil itu telah aman dalam penjagaannya selama dititipkan oleh sang pemilik.

Disetiap nikmat, pasti ada konsekuensi amanahnya. Menerima pemberian orang lain, berarti menerima konsekuensi untuk menjalankan amanah sang pemberi dan juga Sang Maha Pemberi. Semoga saya dikuatkan untuk selalu mempergunakan setiap apa yang diberikan olehNya selalu dalam kebaikan. Aamiin…

Jazakumullah Khair atas pemberian antum saudara-saudaraku… Saya mungkin belum bisa membalas dengan kebaikan yang berlpan, tapi yakinlah ALLAH pasti yang akan membalas kebaikan antum dengan berlipat ganda.

Depok, 1 Juli 2012. 

06.45 WIB

Menjemput yang Istimewa dalam Kondisi Istimewa


Kata seorang ustadz, menjemput sesuatu yang istimewa itu harus dalam kondisi yang istimewa dengan cara yang istimewa dan di waktu yang istimewa.

Seringkali, kita berhadapan pada kondisi dimana iman itu naik dan dalam waktu sekejap bisa turun berbuah kefuturan. Dan, itu memang sunnatullah , al iimanu uaziidu wa yanqus. Iman itu bertambah dan berkurang. Bertambah karena keimanan dan berkuraang karena kemaksiatan. Proses perwujudan amal manusia tak bisa terlepasa dari dua kondisi yang sangat berbeda ekstrim. Dalam kondisi baik ataupun dalam kondisi buruk. Begitulah setiap waktunya kita dihadapkan pada dua kondisi tersebut.

Masa keberlangsungan hidup manusia pun, hatta ia seorang alim, pasti adakalanya pernah tergoda dan terjerembab dalam lubang kemasiatan. Namun, bukan berarti mewajarkan sunnatullah tersebut. Sebagai seorang yang beriman, tentunya aplikasi dalam keyakinan hati berwujud menjadi amal nyata dalam perbuatan. Setiap detak waktu yang berputar sebisa mungkin merupakan proses penambahan amal kebaikan dan menambah keberkahan di seriap aktivitas kita. Sehingga, ziyaadatul khair  akan terus mengisi sisa waktu hidup kita di dunia.

Dalam berbagai kondisi, manusia berusaha untuk sebisa mungkin ruang kemungkinan bertambahnya amal kebaikan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Di sinilah letak keistiqomahan itu teruji. Ada yang memang bisa bertahan dengan amal baik dalam waktu yang singkat, namun ada juga yang bisa iqtiqomah tetap berada dalam kebaikan tersebut.

Kefahaman dan keyakinan akan amal yang dipebuat manusia menjadi poin penting bagi terjaganya niat. Karena dari niat itulah, yang menjadi pembeda segala aktivitas kehidupan manusia. Dalam tataran hamblumminannas, ada yang disebut akhlak dan juga ada yang disebut suluk. Perbedaanya terletak pada sebab yang menjadikan amal tersebut dilakukan. Seseroang bisa disebut berakhlak baik bila kepribadian baiknya itu dilandasi keimanan kepada ALLAH sedangkan seseorang disebut ber-suluk baik bila kepribadian baiknya itu hanya karena naluri fitrah manusia tanpa ada keyakinan atas perwujudan amal itu atas dasar keimanan.

Perputaran roda waktu kehidupan manusia pada dasarnya untuk menguji siapa diantara kita yang ayyukum ahsanu ‘amala. Manusia yang paling baik amalnya. Ada saatnya memang kita tergelincir dalam dosa, tapi biarkan itu menjadi ruang sempit dalam atmosfer kebaikan yang kita miliki.

Disinilah letak pembeda antara manusia yang benarbenar menjadikan keimanan mereka sebagi landasan gerak setia aktivitas kebaikan, kita diperintahkan untuk selalu berada dalam kondisi kebaikan, dalam hal apapun aga sewaktu-waktu ketika ajal menjemput, kita berada dalam kondisi yang benar-benar istimewa. Kalau diri kita selalu berada dalam kondisi istimewa tersebut, insya Allah, kebaikan-kebaikan dan rezeki yang istimewa akan sampai pada kita dalam kondisi yang tak terduga sebelumnya.

Depok, 20 Juni 2012 ,18.30 WIB

Tulisan di Media


Istiqomah: Konsisten, Persisten, Konsekuen via Fimadani dan Dakwatuna

Muhasabah Cinta Dua Sahabat via Fimadani

Bila Langkahmu Terhenti via Fimadani  dan Dakwatuna

Kader Imun vs Kader Steril via Islamedia dan Dakwatuna

Kemenangan, Perdamaian dan Sebuah Strategi via Dakwatuna

Yang Terdustakan via Dakwatuna 

Kader-Kader Manja via Dakwatuna

Putuskan Dalam Kondisi Ruhiyah Terbaik via Dakwatuna 

Ujian Kapasitas via Dakwatuna

Karena Ikatan Kita.. Istimewa via Dakwatuna

Antara Awal dan Akhir via Dakwatuna

Berharap Nafas yang Panjang via Dakwatuna

Antara Kompetensi dan Jaringan via Kompasiana

Mendadak Jilbab via Kompasiana

Cinta Tak Berbalas via Kompasiana

Jika Kerja Itu Sebuah Cinta via Kompasiana 

Infotainment: Antara Etika dan Relita via ILC

REDD Untuk Selamatkan Hutan Indonesia via ILC 

Jika kerja itu sebuah cinta…


Suatu hari ada sahabat saya yang mengatakan “lebih baik bekerja dalam hening, daripada memberi harap lalu mengecewakan.”  Tidak perlu berbanyak kata atas pekerjaan yang sedang kita kerjakan, cukup lakukan saja dengan sungguh-sungguh, perlahan tapi pasti dan selesai pada saat yang tepat.

Lalu, gimana klo seandainya tak ada yang menghargai kerja kita?”  Seorang pekerja memang akan mempunyai keinginan akan balasan terhadap pekerjaannya, setiap peluh yang menetes dan hentakan nafas yang mengembang menjadi bukti akan kuatnya usaha sang pekerja. Pagi hingga sore kemudian berlanjut sampai malam, bagi seorang pekerja sejati, hidup ini  harus penuh karya. Bukan kemudian bermalas-malasan atas waktu kosong yang tersedia.

“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (At-Taubah [9]: 105)”

Pada intinya setiap kerja yang kita lakukan kembal pada diri sendiri, seperti kita berteriak di antara tebing sebuah jurang, ia akan memantulkan kembali teriakan kita, bahkan tak hanya satu kali, bisa berulang-ulang dengan frekuensi yang lebih tinggi. Setiap kerja yang kita lakukan pasti akan ada imbalannya.  Rasa kecewa, marah, kesal mungkin terlintas daam benak jiwa sang pekerja ika tak bisa mendapat imbalan secepatnya.

Tapi bukan itu yang seharusnya di harapkan. Saat ini kita bekerja, bukan mengiba. Saat ini kita berkarya, bukan meminta. Seorang pekerja sejati tak berharap senandung pujian atas pretasi yang membanggakan. Ia juga tak hiraukan cacian yang kadang menyakitkan.

Dan, cinta itu juga sebuah kerja kan? . Memberi apa yang kita miliki, berarti memberi apa yang kita cintai kepada yang kita cintai pula. Bukan hanya benda berbentuk materi yang kita berikan, tapi cinta sejati itu lebih banyak memberi yang tak terlihat oleh kasat mata. Ia memberi do’a dalam kejauhan, ia memberi semangat dalam kesempitan, ia memberi motivasi untuk bangkit saat kita dalam ketejatuhan. Namun, sang pecinta tak suka berjanji, apalagi memberi harap yang tak pasti , kecuali ia sudah melewati tapak-tapak selanjutnya dari cinta. Hidup ini bukan sekedar mengerjakan apa yang kita cintai, tapi juga berusaha untuk mencintai apa yang kita kerjaka, kini dan nanti.

Para pencinta sejati tidak suka berjanji. Tapi begitu mereka memutuskan mencintai seseorang, mereka segera membuat rencana memberi. (Anis Matta)

Depok,  29 Juni 2012

06.30 WIB

#JumatSemangat

selalu ada rasa menyesal


selalu ada rasa menyesal tiap kali ada momen-momen penuh hikmah tak terdokumentasikan, atau ilmu baru tapi tak sempat tertuliskan. Banyak yang ingin dibagi berwujud tulisa, tapi apa daya, waktu yang masih belum mampu untuk dikondisikan. Padahal tiap harnya akan selalu ada momen berharga yang bisa  memberikan himah bagi kita. Selalu ada kata yang membuat kita terperangah merasuk ke dalam hati, atas nasehat orang-orang disekeliling kita. 

Dengarlah kat-kata Imam Syafi’i, Ikatlah Ilmu dengan menuliskannya…. 

Rasa yang teramat berat untuk menulis, selalu saja menjadi penghambat tertuangya segala sesuatu yang tersimpan dihati dan tak sempat hinggap ke hati atau bahkan ke kepala orang lain. 

Anyway, sekecil apapun tulisan itu, semoga kita diberikan keistiqamahan untuk terus menulis…. 

Menulislah, karena dengan menulis engkau akan lebih hidup… 

 

Akankah kita hanya duduk termangu???


Perjuangan itu akhirnya mulai tampak nyata hasilnya. Lama? Memang. Susah? Iya. Berat? Apalagi. Karena Ia begitu menyayangimu. Ia memberikan kesempatan ini untuk menguji kamu , siapa yang menang benar-benar mendengar dan menerima seruan-Mu.

Sudah banyak jiwa-jiwa yang dipenjara, syahid, dalam tiang gantungan atau bahkan dalam kondisi lain yang mengenaskan. Seperti sang Imam yang ditembak dalam perjalanan. Tak ada bantuan, sampai tim medis pun enggan memberikan pertolongan.  Hingga akhirnya nyawapun meregang. Tapi tak berhenti sampai disitu kezaliman penguasa tiran. Sang Imam tak boleh di sholatkan oleh para pengikutnya yang ribuan.

Tapi kini, perjuangannya mulai berbuah hasil. Saat dulu ikhwan sering di todong martir. Bergelirnya memperjuangkan hak rakyat sipil. Kini, suatu pencapaian yang mungkin menurutsebagian orng mustahil. Menjadi orang nomor satu di negeri mesir. Berawal dari kumpulan mujahid yang segelintir, memperjuangkan kebebasan atas penindasan dan kebijakan yg tidak adil. Tapi yang pasti, kemenangan itu akan bergilir dan bergulir.

Sampai saat ini  kita tak tahu, kapan seluruh umat Islam di dunia bersatu. Akan tetapi, pertanda itu mulai muncul satu persatu. Kemenangan demi kemenanga telah membawa kita di era baru. Dengan semangat para mujahid yang menggebu-gebu.

Akankah kita hanya duduk termangu??? Menyaksikan kejayaan umat ini akan terus melaju.

Serial Cinta: Seni Memperhatikan


Kalau intinya cinta adalah memberi, maka pemberian pertama seorang pencinta sejati adalah perhatian. Kalau kamu mencintai seseorang, kamu harus memberi perhatian penuh kepada orang itu. Perhatian yang lahir dari lubuk hati paling dalam, dari keinginan yang tulus untuk memberikan apa saja yang diperlukan orang yang kamu cintai untuk menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya.
Perhatian adalah pemberian jiwa: semacam penampakan emosi yang kuat dari keinginan baik kepada orang yang kita cintai. Tidak semua orang memiliki kesiapan mental untuk memperhatikan. Tidak juga semua orang yang memiliki kesiapan mental memiliki kemampuan untuk terus memperhatikan.

Memperhatikan adalah kondisi di mana kamu keluar dari dalam dirimu menuju orang lain yang ada di luar dirimu. Hati dan pikiranmu sepenuhnya tertuju kepada orang yang kamu cintai. Itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Mereka yang bisa keluar dari dalam dirinya adalah orang-orang yang sudah terbebas secara psikologis. Yaitu bebas dari kebutuhan untuk diperhatikan. Mereka independen secara emosional: kenyamanan psikologis tidak bersumber dari perhatian orang lain terhadap dirinya. Dan itulah musykilnya. Sebab sebagian orang besar lebih banyak terkungkung dalam dirinya sendiri. Mereka tidak bebas secara mental. Mereka lebih suka diperhatikan daripada memperhatikan. Itu sebabnya mereka selalu gagal mencintai.

Itulah kekuatan para pencinta sejati: bahwa mereka adalah pemerhati yang serius. Mereka memperhatikan orang-orang yang mereka cintai secara intens dan menyeluruh. Mereka berusaha secara terus-menerus untuk memahami latar belakang kehidupan sang kekasih, menyelidiki seluk beluk persoalan hatinya, mencoba menemukan karakter jiwanya, mendefinisikan harapan-harapan dan mimpi-mimpinya, dan mengetahui kebutuhan-kebutuhannya untuk sampai kepada harapan-harapannya.

Para pemerhati yang serius biasanya lebih suka mendengar daripada didengarkan. Mereka memiliki kesabaran yang cukup untuk mendengar dalam waktu yang lama. Kesabaran itulah yang membuat orang betah dan nyaman menumpahkan isi hatinya kepada mereka. Tapi kesabaran itu pula yang memberi mereka peluang untuk menyerap lebih banyak informasi tentang sang kekasih yang mereka cintai.

Tapi di sini juga disimpan sesuatu yang teramat agung dari rahasia cinta. Rahasia tentang pesona jiwa para pencinta. Kalau kamu terbiasa memperhatikan kekasih hatimu, secara perlahan-lahan dan tanpa ia sadari ia akan tergantung dengan perhatianmu. Secara psikologis ia akan sangat menikmati saat-saat diperhatikan itu. Bila suatu saat perhatian itu hilang, ia akan merasakan kehilangan yang sangat. Perhatian itu niscaya akan menyiksa jiwanya dengan rindu saat kamu tidak berada di sisinya. Mungkin ia tidak mengatakannya. Tapi ia pasti merasakannya.

~ Anis Matta ~