Mendadak Jilbab


“Al-hukmu bizh-zhahir.” Manusia hanya bisa menghukumi yang zhahir saja, masalah niat itu dan yang tampak itu urusan Allah. Sehingga bisa saja menurut penilaian manusia sesorang itu ikhlas beramal tapi sesungguhnya di hadapan Allah tidak ada nilainya. Pun, begitu juga sebaliknya.

Sebuah fenomena yang akhir-akhir ini muncul adalah penggunaan identitas muslimah sebagai ‘seragam’ kebesaran para koruptor perempuan. Lagi-lagi, entah memang karena niatan mereka murni untuk menjalankan syariat Islam ataukah hanya untuk melindungi diri dan menutupi rasa malu atas kasus yang menimpanya. Sebut saja, Malinda Dee, Tersangka kasus pembobolan dana nasabah Citibank yang mendadak berjilbab, padahal sebelumnya berpakaian terbuka. Kemudian dilanjut dengan perubahan yang sangat ekstrim dilakukan oleh Yulianis, yang mengenakan pakaian sangat tertutup dengan cadarnya saat menjadi saksi dalam kasus suap wisma atlet. Saat itu Nazaruddin, sebagai terdakwa mempertanyakan keaslian Yulianis hingga meminta kepada Yulianis membuka cadarnya di hadapan majelis hakim. Dua perempuan terdakwa lainnya yang mendadak mengenakan jilbab adalah Afriyani, tersangka kasus kecelakaan maut xenia dan Nunun Nurbaeti yang terjerat kasus cek pelawat Gubernur BI. Terakhir, yang membuat saya bertanya-tanya lagi adalah saat Neneng, istri Nazarudin mendatangi kantor KPK dengan mengenakan jilbab dan hanya terlihat matanya saja.

Apakah memang benar, jilbab yang digunakan tersebut murni karena telah meyakini paham akan batasan-batasan aurat seorang muslimah, atau memang ada niatan lain yang hendak disampaikan oleh mereka.

Munarman, juru bicara FPI mengatakan kepada media, seperti yang dikutip Tribunnews.com “Kami protes sekaligus mempertanyakan. Setiap perempuan yang berurusan dengan hukum, termasuk Neneng, selalu terlihat berjilbab. Sebelumnya, Apriyani supir maut yang ditangkap juga pakai jilbab, begitu ditetapkan sebagai tersangka. Padahal kesehariannya tidak pakai jilbab, Kalau memakainya (busana muslim) sejak sebelum berurusan dengan hukum, itu lain soal. Tapi ketika datang ke penegak hukum, KPK misalnya, tiba-tiba saja pakai busana muslim, ini pelecehan namanya, Busana muslim, seakan hanya untuk menutupi kelakukannya saja. Padahal, belum tentu kesehariannya memakai busana muslim. Atau mungkin, yang memakai busana muslim itu baru sadar setelah terkena kasus hukum? Apakah Neneng pakai jilbab saat tertangkap atau memang sebelumnya sudah pakai?”

Tidak hanya perempuan, laki-laki pun sebenarnya juga sama. Banyak yang saya lihat ketika sidang-sidang di pengadilan, seorang terdakwa mengenakan baju koko lengkap  dengan pecinya . Jika kemudian hal tersebut terus berlangsung, maka mindset berpikir akan tergiring opini bahwa seorang terdakwa dan terjerat kasus hukum itu identik dengan muslim. Apalagi bila masyarakat melihat bahwa identitas seorang muslim-muslimah itu sering berhubungan dengan yang namanya perbuatan tidak terpuji.

Jika media selalu memberitakan bahwa perempuan berjilbab –apalagi bercadar- adalah istri Terduga teroris atau perempuan tersangka korupsi, atau perempuan ugal-ugalan, maka arus berpikir masyarakat sedikit demi sedikit akan tergerus dan terbawa pada pemahaman bahwa jilbab tidak lagi menjadi sebuah identitas penting. Jilbab hanya menjadi pakaian biasa yang semua perempuan bisa mengenakannya dan tak menjamin kepribadian perempuan tersebut. Akhirnya, masyarakat bisa saja menarik kesimpulan, “ngapain berjilbab atau bercadar, yang begitu saja kelakuannya bejat?”

Iklan

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: