Menjemput yang Istimewa dalam Kondisi Istimewa


Kata seorang ustadz, menjemput sesuatu yang istimewa itu harus dalam kondisi yang istimewa dengan cara yang istimewa dan di waktu yang istimewa.

Seringkali, kita berhadapan pada kondisi dimana iman itu naik dan dalam waktu sekejap bisa turun berbuah kefuturan. Dan, itu memang sunnatullah , al iimanu uaziidu wa yanqus. Iman itu bertambah dan berkurang. Bertambah karena keimanan dan berkuraang karena kemaksiatan. Proses perwujudan amal manusia tak bisa terlepasa dari dua kondisi yang sangat berbeda ekstrim. Dalam kondisi baik ataupun dalam kondisi buruk. Begitulah setiap waktunya kita dihadapkan pada dua kondisi tersebut.

Masa keberlangsungan hidup manusia pun, hatta ia seorang alim, pasti adakalanya pernah tergoda dan terjerembab dalam lubang kemasiatan. Namun, bukan berarti mewajarkan sunnatullah tersebut. Sebagai seorang yang beriman, tentunya aplikasi dalam keyakinan hati berwujud menjadi amal nyata dalam perbuatan. Setiap detak waktu yang berputar sebisa mungkin merupakan proses penambahan amal kebaikan dan menambah keberkahan di seriap aktivitas kita. Sehingga, ziyaadatul khair  akan terus mengisi sisa waktu hidup kita di dunia.

Dalam berbagai kondisi, manusia berusaha untuk sebisa mungkin ruang kemungkinan bertambahnya amal kebaikan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Di sinilah letak keistiqomahan itu teruji. Ada yang memang bisa bertahan dengan amal baik dalam waktu yang singkat, namun ada juga yang bisa iqtiqomah tetap berada dalam kebaikan tersebut.

Kefahaman dan keyakinan akan amal yang dipebuat manusia menjadi poin penting bagi terjaganya niat. Karena dari niat itulah, yang menjadi pembeda segala aktivitas kehidupan manusia. Dalam tataran hamblumminannas, ada yang disebut akhlak dan juga ada yang disebut suluk. Perbedaanya terletak pada sebab yang menjadikan amal tersebut dilakukan. Seseroang bisa disebut berakhlak baik bila kepribadian baiknya itu dilandasi keimanan kepada ALLAH sedangkan seseorang disebut ber-suluk baik bila kepribadian baiknya itu hanya karena naluri fitrah manusia tanpa ada keyakinan atas perwujudan amal itu atas dasar keimanan.

Perputaran roda waktu kehidupan manusia pada dasarnya untuk menguji siapa diantara kita yang ayyukum ahsanu ‘amala. Manusia yang paling baik amalnya. Ada saatnya memang kita tergelincir dalam dosa, tapi biarkan itu menjadi ruang sempit dalam atmosfer kebaikan yang kita miliki.

Disinilah letak pembeda antara manusia yang benarbenar menjadikan keimanan mereka sebagi landasan gerak setia aktivitas kebaikan, kita diperintahkan untuk selalu berada dalam kondisi kebaikan, dalam hal apapun aga sewaktu-waktu ketika ajal menjemput, kita berada dalam kondisi yang benar-benar istimewa. Kalau diri kita selalu berada dalam kondisi istimewa tersebut, insya Allah, kebaikan-kebaikan dan rezeki yang istimewa akan sampai pada kita dalam kondisi yang tak terduga sebelumnya.

Depok, 20 Juni 2012 ,18.30 WIB

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: