Archive | Juni 2012

Pemandu Ospek Teknik 2008


gk kerasa udah 3 tahun lebih tu poto, dan sekarang pasti lagi musim2nya adek2 juga nyiapin hal sama untuk menyambut generasi selanjutnya.

kata seorang dosen: “Yang kita wariskan bukanlah harta yg banyak, tapi generasi yang jauuuh lebih baik dari kita.”

Mendadak Jilbab


“Al-hukmu bizh-zhahir.” Manusia hanya bisa menghukumi yang zhahir saja, masalah niat itu dan yang tampak itu urusan Allah. Sehingga bisa saja menurut penilaian manusia sesorang itu ikhlas beramal tapi sesungguhnya di hadapan Allah tidak ada nilainya. Pun, begitu juga sebaliknya.

Sebuah fenomena yang akhir-akhir ini muncul adalah penggunaan identitas muslimah sebagai ‘seragam’ kebesaran para koruptor perempuan. Lagi-lagi, entah memang karena niatan mereka murni untuk menjalankan syariat Islam ataukah hanya untuk melindungi diri dan menutupi rasa malu atas kasus yang menimpanya. Sebut saja, Malinda Dee, Tersangka kasus pembobolan dana nasabah Citibank yang mendadak berjilbab, padahal sebelumnya berpakaian terbuka. Kemudian dilanjut dengan perubahan yang sangat ekstrim dilakukan oleh Yulianis, yang mengenakan pakaian sangat tertutup dengan cadarnya saat menjadi saksi dalam kasus suap wisma atlet. Saat itu Nazaruddin, sebagai terdakwa mempertanyakan keaslian Yulianis hingga meminta kepada Yulianis membuka cadarnya di hadapan majelis hakim. Dua perempuan terdakwa lainnya yang mendadak mengenakan jilbab adalah Afriyani, tersangka kasus kecelakaan maut xenia dan Nunun Nurbaeti yang terjerat kasus cek pelawat Gubernur BI. Terakhir, yang membuat saya bertanya-tanya lagi adalah saat Neneng, istri Nazarudin mendatangi kantor KPK dengan mengenakan jilbab dan hanya terlihat matanya saja.

Apakah memang benar, jilbab yang digunakan tersebut murni karena telah meyakini paham akan batasan-batasan aurat seorang muslimah, atau memang ada niatan lain yang hendak disampaikan oleh mereka.

Munarman, juru bicara FPI mengatakan kepada media, seperti yang dikutip Tribunnews.com “Kami protes sekaligus mempertanyakan. Setiap perempuan yang berurusan dengan hukum, termasuk Neneng, selalu terlihat berjilbab. Sebelumnya, Apriyani supir maut yang ditangkap juga pakai jilbab, begitu ditetapkan sebagai tersangka. Padahal kesehariannya tidak pakai jilbab, Kalau memakainya (busana muslim) sejak sebelum berurusan dengan hukum, itu lain soal. Tapi ketika datang ke penegak hukum, KPK misalnya, tiba-tiba saja pakai busana muslim, ini pelecehan namanya, Busana muslim, seakan hanya untuk menutupi kelakukannya saja. Padahal, belum tentu kesehariannya memakai busana muslim. Atau mungkin, yang memakai busana muslim itu baru sadar setelah terkena kasus hukum? Apakah Neneng pakai jilbab saat tertangkap atau memang sebelumnya sudah pakai?”

Tidak hanya perempuan, laki-laki pun sebenarnya juga sama. Banyak yang saya lihat ketika sidang-sidang di pengadilan, seorang terdakwa mengenakan baju koko lengkap  dengan pecinya . Jika kemudian hal tersebut terus berlangsung, maka mindset berpikir akan tergiring opini bahwa seorang terdakwa dan terjerat kasus hukum itu identik dengan muslim. Apalagi bila masyarakat melihat bahwa identitas seorang muslim-muslimah itu sering berhubungan dengan yang namanya perbuatan tidak terpuji.

Jika media selalu memberitakan bahwa perempuan berjilbab –apalagi bercadar- adalah istri Terduga teroris atau perempuan tersangka korupsi, atau perempuan ugal-ugalan, maka arus berpikir masyarakat sedikit demi sedikit akan tergerus dan terbawa pada pemahaman bahwa jilbab tidak lagi menjadi sebuah identitas penting. Jilbab hanya menjadi pakaian biasa yang semua perempuan bisa mengenakannya dan tak menjamin kepribadian perempuan tersebut. Akhirnya, masyarakat bisa saja menarik kesimpulan, “ngapain berjilbab atau bercadar, yang begitu saja kelakuannya bejat?”

mengendalikan hawa nafsu


Hawa nafsu adalah dua pertiga jalan menuju neraka, maka dengan mengendalikan hawa nafsu adalah jalan terbesar menuju surga. Abu Dulaf al-Ijli-seperti yang dinukil oleh Ibnul Qayyim Aljauziyah dalam Raudhatul Muhibbin-nya- berkata:

“Betapa buruknya pemuda yang beradab luhur.

mengorbankan adabnya demi menuruti nafsu.

Kenistaan dia datangi, padahal dia mengetahuinya.

Kehormatannyapun ternoda karena perbuatan keji.

Setelah terkejut barulah kesadarannya pulih lagi.

Maka diapun menangisi waktu yang telah dilaluinya.”

Adakah kita mau menyesal di hari esok? 

Adakah kita akan menagisi hari demi hari yang kita lalui di masa muda dengan penuh kesiaan?

Ibnu Rajab berkata : “Barang siapa menjaga ketaatan di masa muda dan masa kuatnya, maka Allah akan memelihara kekuatannya disaat Tua dan saat kekuatannya melemah. Ia akan tetap diberi kekuatan pendengaran, penglihatan, kemampuan berpikir dan kekuatan akal”.

Random 4


Mungkin berawal dari ketidaksepahaman. Karena saling memahami menjadi prasyarat untuk saling menanggung beban. Juga tidak ada kata ‘menanggung beban” dalam tingkatan ukhuwah bila tak bermula dari ta’aruf (saling mengenal).

Mungkin kita tidak mengenal atau tidak saling mengenal, sehingga kita tak bisa saling memahami. Masing-masing bertahan dengan egonya sendiri. Sudahlah….

Penerimaan Mahasiswa Baru UGM 2020 (part 1)


28 Mei 2020

Kabar baik datang menghampiriku. Setelah suka cita idul fitri aku rasakan seminggu yang lalu, Alhamdulillah kabar menggembirakan datang dari kampus impianku, Universitas Gadjah Mada.

Penantian selama hampir sebulan ternyata berakhir indah dengan pengumuman kelulusanku di kampus biru itu. Aku bersama 4 teman lainnya, hamid, taqih, nisa dan risa Alhamdulillah berkesempatan untuk masuk UGM tanpa tes. Entah apa nama jalurnya, karena kata guruku tahun ini sistemnya sudah berganti lagi dari sebelumnya yang bernama snmptn.

Aku diterima di fakultas Hukum, Hamid dan Risa di Fakultas Kedokteran, Taqih di Fakultas Teknik, sedangkan Nisa di Fakultas Psikologi.

Tak lama setelah pengumuman itu, sebuah mention masuk ke account twiiter ku:

“Assalamu’alaikum @fadhilzha , Selamat bergabung dalam keluarga besar UGM 🙂 , slmt yah sudah di terima d I FH UGM “

Setelah ku cek ternyata itu adalah account twitter sebuah lembaga dakwah kampus di UGM.

Lho,kok kakak-kakak tingkatku sudah tau kelulusanku, padahal infonya baru saja kudapat.Sebuah notifikasi di facebook juga muncul di message fb ku, dengan redaksi yang hampir mirip seperti di twitter tadi.

“Assalamu’alaikum Fadhil Zaahid Anwar, Selamat bergabung dalam keluarga besar UGM :),  Jika perlu bantuan untuk mencari info kos atau yang lainnya, bisa menghubungi kami di CP 0812982615XX .”

Lagi-lagi ku berpikir, subhanallah, begitu perhatiannya kakak-kakakku di UGM sana. “Aku yang tinggal jauh di pelosok Padang ini sudah disambut begitu baiknya oleh mereka. “ bathinku dalam hati.

13 Juni 2020

Pukul 08.00

Aku dan keempat teman lain dari sekolahku berangkat menuju Yogyakarta untuk melengkapi berkas registrasi. Kami berangkat pagi-pagi dari Bandar Udara Internasional Minangkabau pukul 08.00 WIB, diperkirakan baru sampai ke Adisucipto International Airport pukul 15.00 sore nanti karena harus transit dulu ke Jakarta.

Pukul 15.30

Akhirnya, kami tiba di jogja. Sesampainya di pintu keluar bandara, handphone ku bordering,

“sudah sampai mana dek?”

“ini baru saja keluar dari pintu Arrival kak.”

“oh gitu, kakak tunggu di pintu penjemputan ya. Kakak pake jas ugm.”

“baik kak…”

Telepon dari kakak yang ku dapat nomornya di facebook kala itu. Rencananya kami berlima akan dijemput dan diantarkan langsung ke kontrakan yang sudah mereka carikan untuk kami. Kalau tak salah,  aku, hamid dan taqih di daerah Karanggayam, sedangkan risa dan nisa di Pogung Baru. Sampai di sini, aku ­ber-subhanallah lagi, betapa mulianya jasa mereka. Rela mengorbankan waktu untuk menjemput kami sampai mencarikan kontrakan, apalagi pagi tadi, sang kakak itu baru saja ada uas 2 mata kuliah.

Setelah keluar dari pintu utama bandara, kami menemukan sekumpulan kakak-kakak berseragam almamater berwarna agak ke abu-abuan, sedangkan di sebelahnya juga ada kakak-kakak berjilbab yang mengenakan jas serupa, “mungkin itu jas almamater ugm.” pikirku.

Ku hampiri mereka,

“maaf, ini kakak-kakak dari ugm?”

“oh iya, kalian mahasiswa baru dari padang ya?” sahut salah seorang diantara mereka.

Kami disambut begitu hangatnya, kegembiraan seperti saudara yang bertemu kembali setelah sekian lama berpisah, bahkan kehangatan itu seperti kakak dan adik sungguhan. Tak lama bercengkerama, sekedar saling memperkenalkan diri, kami langsung di antar ke kontrakan masing-masing dengan sepeda motor. Pas sekali, ada 3 kakak yang putra  dan 2 kakak yang putri.

Sesampainya di kontrakan, kami diperkenalkan dengan penghuni kontrakan lain yang juga merupakan mahasiswa baru. Mereka baru saja pagi tadi sampai di kontrakan itu. Zaenal dan Harits, mahasiswa MIPA asal Cirebon.

 14 Juni 2020

Inilah udara pagi jogja yang pertama kali kurasakan. Pagi-pagi buta kami sudah mempersiapkan diri untuk berangkat ke kampus, maklum jadwal registrasi sudah dibuka jam 7. Karenanya kami harus cepat-cepat berangkat  supaya tidak terlalu lama mengantri.

Kami berlima janjian di bunderan UGM untuk ketemuan, karena semua berkas yang diperlukan dikumpulkan di Risa.

Setelah selesai proses registrasi, kami berlima berencana keliling kampus untuk sekedar melihat-lihat seperti apa kampus ugm ini. Dulu, kami hanya bermimpi akan masuk ke kampus terbesar di Indonesia ini, dan kini, mimpi itu menjadi kenyataan. Meski kata orang, kalau masuk ke UGM itu ‘dosa’nya juga banyak, karena telah menghambat orang lain yang punya mimpi-mimpi jauh lebih besar tapi terhalang masuk ke ugm karena kita. Ah, tapi kami yakin, kesempatan itu akan bisa kami optimalkan sebaik-baiknya, bahkan bisa lebih baik lagi.

Kami berjalan menelusuri kampus kampus sebelah timur GSP. Dari fakultas ekonomika dan bisnis, filsafat, psikologi, ilmu budaya hingga fakultas hukum. Fakultas tempatku nanti menuntut ilmu.

Tiba-tiba ada seorang kakak putri yang menyapa kami,

“sedang keliling ugm ya dek?”

“eh, iya kak.” Mungkin kami begitu jelas terlihat sebagai mahasiswa baru, makanya kakak itu berani langsung menyapa.

“oiya kak, mau Tanya kalau fakultas kedokteran yang mana ya?” sahut risa ingin tahu juga dimana fakultasnya.

”hmm, mari kakak antar saja, kebetulan kakak juga mau ke arah sana.”

Sepanjang perjalanan kakak itu menjelaskan tentang kondisi kampus, tentang kegiatan mahasiswa, bahkan sampai atmosfer dakwah di kampus biru ini. Risa dan Nisa pun juga tampak sudah akrab dengan kakak tersebut. Kami menelusuri jalan kesehatan, konon katanya dulu jalan ini masih dipenuhi lalu lalang kendaraan umum, tapi kini sudah banyak terlihat pejalan kaki dan pesepeda yang melintasi jalan tersebut. “Alhamdulillah, kini ugm tak seperti dulu, rame dengan kendaraan.” Tutur kakak itu.

“Nah, itu dia fakultas kedokteran, nanti di sebelahnya ada fakultas mipa dan seberang rumah sakit ini fakultas teknik, mbak cuma bisa nganter sampe sini ya, soalnya mau ada jadwal tasqif di masjid itu.” Ujar kakak itu sambil menunjuk masjid besar nan mewah berlantai tiga. “Masjid Mardliyyah Kampus UGM.”

 

….bersambung.

Manusia beradab


Tujuan utama Pendidikan Islam, menurut Prof Syed Muhammad Naquib al-Attas, dalam bukunya, Islam and Secularism (Kuala Lumpur, ISTAC, 1993), adalah untuk menghasilkan orang yang baik (to produce a good man). Kata al-Attas, “The aim of education in Islam is therefore to produce a godman…. the fundamental element inherent in the islamic concept of education is the inculation of adab.” (hal. 150-151)

Lalu, siapakah manusia yang baik atau manusia beradab itu? Dalam pandangan Islam, manusia seperti ini adalah manusia yang kenal akan Tuhannya, tahu akan dirinya dan menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai uswah hasanah, mengikuti jalan pewaris Nabi (ulama), dan berbagai kriteria manusia beradab lainnya. Manusia beradab juga harus memahami potensi dirinya dan bisa mengembangkan potensinya, sebab potensi itu adalah amanah dari Allah swt.

_diambil dari buku: Pendidikan Islam: Membentuk Manusia Berkarakter dan Beradab (Adian Husaini)

Jangan berprasangka buruk pada matahari


“Jangan berprasangka buruk pada matahari. Jika ia terbenam di satu titik, sesungguhnya ia sedang terbit di titik yang lain.”

 

-penghujung sore 7 Juni 2012