Archive | Juli 2012

1 Ramadhan: dari waktu ke waktu


……..

tahun 1427 H: kehidupan asrama dengan segudang aktifitas perkuliahan (dulu nyebutnya juga kuliah)  di tahun perstma ‘nyantren’

tahun 1428 H: jadi ketua panitia Syiar Ramadhan di sekolah… *riweuh bgt

tahun 1429 H: meski sdh tidak lagi di OSIS, tapi kebijakan sekolah yg fullday ampe magrib tetep aja bikin lieur, apalagi menjelang masa-masa Ujian bla bla bla

tahun 1430 H: dunia baru di kampus, dengan nuansa ospek yg masih kerasa, dulu masih bingung nyari sahur dan buka yg enak dan murah dimana aja.

tahun 1431 H: mulai kembali seperti masa-masa SMA, dengan amanah di Syiar Media Kampus..  target-target banyak yg terhambat.

tahun 1432 H: Ramadhan berkesan di tempat KKN, jauh dari hiruk pikuk kampus

tahun 1433 H: Mungkin ini Ramadhan terakhir saya di kampus, dengan aktifitas ‘publik’ yang sudah berkurang (alhamduillah).. semoga tahun ini bisa benar-benar fokus menyambut kedatangan ramadhan….

 

bismillah

Depok, 1 Ramadhan 1433 H

Rindu


Empat masjid yang entah mengapa selalu memberikan warna tersendiri tiap kali dikunjungi. Masjid Nurul Ashri, Masjid Bahrul Ulum (Puspiptek), Masjid Salman (ITB) dan terakhir yang paling ngangenin adalah Masjid Daarut Tauhid….

Setiap kali kesana pasti membawa ketenangan yang susah dituliskan dalam kata dan dirangkai dalam prosa. Ada sesuatu yang beda, bahkan masjid yang lebih megah dan lebih besar dari itupun tak memberi kesan serupa.

Yupz, paling tidak rasa rindu itu akan terobati jika kita sudah bisa untuk mengunjunginya kembali. Rasa rindu itu pertanda cinta, cinta untuk selalu berada dekat dengannya, dan rindu itu semakin bertambah besar jika semakin jauh jarak dan lama waktu yang memisahkan.

 

Geger Kalong, 17 Juli 2012, 22.15 WIB

H-3 Ramadhan 1433 H

 

Pesan pak Hidayat untuk kita


mau bilang sedih, tp ntar dibilang cengeng… Terharu deh bacanya… terutama buat yang merasakan kerasnya perjuangan di sana.. barakallahu fiikum
Ada saat suatu titik yang mempertemukan kita dalam sebuah jalan perjuangan dan mengisi catatan kehidupan dalam ranah idealisme. Yang mengingatkan kita akan visi perubahan untuk Jakarta yang kita Cintai.
Padatnya aktivitas perjuangan ini mungkin melebihi jadwal ketika bercengkrama dengan keluarga dan itu tak menjadi halangan tuk terus melangkah.
Mempertahankan cahaya nurani agar diri mampu menapak surga. Agar tetap menjadi bintang yang menerangi kegelapan.
Perjuangan ini telah menjadi saksi kehidupan untuk merajut mimpi untuk sebuah perubahan. Mimpi-mimpi menjadi sang al Banna. Yakinlah Batik Beresin Jakarta akan selalu memeriahkan aktivitas kita sampai kapanpun.
Saudaraku adalah sebuah kehormatan dapat mengenal dan berjuang bersama kalian yang dalam lelahnya masih dapat tetap berupaya, tidak hanya bisa bicara tapi juga bekerja. mengkritisi tapi juga memberi solusi tidak merasa rendah ketika dihina, dan tidak merasa tinggi bila dipuji, yang telah menjadikan Perjuangan sebagai urusan keluarganya.
Saudaraku Tetaplah berdiri tegak karena kalian adalah petarung….
Teruslah bergerak karena kalian adalah pejuang….
Masih banyak tugas lain menanti kita….
Terima kasih Sahabat Hidayat + Didik untuk Perjuangan ini, semoga Alloh mencatatkannya sebagai amal bagi kita semua…aamiin
Hidayat Nur Wahid

Ampuni hamba ya Rabb


Sumber Foto: ugeem.com

Kantor Pusat Fakultas Teknik kemarin kembali didatangi oleh salah seorang ‘tokoh’ istimewa. Kalau diingat-ingat berarti baru ada 2 ‘tokoh’ yang menjadi pembicara dalam agenda yang di adakan di selasar KPFT tersebut,Pak Tif (sapaan akrab Tifatul Sembiring) pada tahun ini dan beberapa tahun sebelumnya (klo gk salah thn 2002) Ust. Rahmat Abdullah.

Alhamduliiah, senang bisa melihat jajaran dekanat dan para ketua jurusan bisa ikut agendaa Tarhib ramadhan kemarin. Biasanya kan yang dateng paling cuma dekannya tok, itupun kadang diwakilkan dan cuma ngasih sambutan, selesai sambutan beres… wuzzzz langsung menghilang. Tapi kali ini beda, beberapa ketua jurusan dan jajaran dekanat duduk kalem di shaf paling depan sambil mendengarkan taujih pak Tif (Alhamdulillah lagi).

Pesertanya gimana? Yaah udah bisa ditebaklah, peserta mebludak ampe selasar timur dan barat. nggak seperti kajian-kajian ‘biasa’ yang pesertanya bisa diitung dengan jari. Itupun 4 L. loe lagi-loe lagi.  Bahkan dari berbagai kampus pun juga memadat area selasar KPFT itu (berapa ya klo diitung? *males -__-“). 

Hmm, saya jadi kepikiran kalau kajian-kajian dengan ustadz ‘biasa’ jumlah jamaahnya sedikit, trus ketika yang ngisi adalah ustadz sekaligus tokoh nasional, pada rame-rame tuh berdatangan, bahkan sampai yang jarang ikut kajianpun bisa hadir. Trus, apa iya, kita harus mendatangkan ustadz-ustadz dengan nama besar untuk mendatangkan jamaah dengan jumlah besar?. Apa iya kita baru sadar pentingnya kajian klo yang ngisi adalah seorang tokoh. Trus males2an klo yang dateng itu ustadz kampung atau ustadz lokal?

Satu sisi saya cukup senang karena kemarin bahasa-bahasa dakwah bisa tersampaikan dengan begitu ‘vulgar’ di Kampus, di hadapan birokrat kampus pula. Tapi di sisi lain, ada juga perasaan miris melihat masih lebih banyak lagi di areal kampus yang masih merokok, masih boncengan dengan lawan jenis, masih membuka aurat, dan lain-lain. Apa nggak cukup ustadz yang juga tokoh nasional ini untuk menarik minat mereka? Atau perlu langsung di datangkan malaikat untuk membuat mereka sadar (Astaghfirullah).

Begitupula kita, mungkin, dalam berbagai kondisi kita tak cukup untuk dinasehati oleh seorang kawan, mungkin kita tak cukup ditegur oleh seorang dosen, mungkin kita tak cukup dimarahi oleh pimpinan kita, mungkin tak cukup di dakwahi oleh ustadz biasa, mungkin dan mungkin lagi. Lalu, apakah kita menunggu sampai langsung ditegur oleh ALLAH atas setiap kemalasan kita, apakah kita menunggu dijemput malaikat maut sampai terucap kata taubat atas segala maksiat.  Astaghfirullah… Ampuni hamba ya Rabb

Senin, 9 Juli 2012. 06.15 WIB

Semburat Persepsi


Terkadang keberadaan atau positioning kita juga menentukan seberapa jauh kita bisa mengakses sebuah informasi. Menjadi seseorang yang ‘serba tahu’ ya memang harus berada di dalam sumber informasi. Itu kaidah secara umumnya. *kyk ilmu ushul aja #hehe*

Posisi dimana kita berada, bisa menentukan bagaimana perepsi yang terbentuk dalam alam pikiran. Misalnya saya tergabung dalam organisasi A, maka pola pikir yang terbentu adalah pola pikir yang berdasarkan kriteria A, pola pikir –atau dalam bahasa lainnya cara pandang (world view)– *berattt. Nah, world view inilah yang akan mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang kita ambil. Dalam konteks ini, memang penting untuk bergabung dalam organisasi yang memang mengantarkan kita pada pola pikir organisasi yang matang.

Tapi, dalam konteks lain, ada satu hal lain yang perlu diperhatikan, bahwa kita juga perlu menilai diri kita dari sisi orang lain. Atau bisa disebut bagaimana kita menjadi oang lain, dan melihat dengan sudut pandang yang lain. Misal, tadi saya melihat sebuah tugu di Fakultas X, dari jauh kelihatan segitiga, semakin dekat seperti dua segitiga berjajar, dan setalah melihat dari berbagai arah, bentuknya adalah prisma. Atau sederhananya deh, saya melihat si A dari belakang, beda kan dengan melihat di A dari depan. Kalau dari belakang, kita gk tau tuh ekspresi wajahnya seperti apa klo marah, sedih, kecewa. Akhirnya kita ber-presepsi klo si A itu orangnya blab la bla.

Cara membaca atau cara meihat kita terhadap sesuatu itu mengantarkan kita pada persepsi yang berbeda. Dan persepsi akan megantarkan pada pilihan sikap yang kita ambil.

Menjadi orang lain dalam menilai aktivitas yang kita lakukan bukan berarti mencari penghargaan di hadapan orang lain. Akan tetapi berupaya untk me-muhasabah sudah sejauh mana sih aktivitas yang kita lakukan itu benar-benar bermanfaat menurut kita. Terkadang sih, manusia itu merasa bahwa apa yang dilakukannya sudah bermanfaat bagi orang lain, tapi justru dalam kenyataannya aktivitas tersebut NIHIL  dari manfaat yang dirasakan lingkungan sekitarnya. Lah, kan yang penting niat gue udah bener? Kenapa mesti melihat apa kata orang lain?

Iya benar, seharusnya memang kita tak peduli apa kata orang lain, kalau niat udah ikhlas sih, insya Allah segala yang kita lakukan bermanfaat. Tapi, apa bener aktivitas kebaikan (baca: dakwah) yang kita lakukan sudah efektif? Bukankah masalah penerimaan dakwah itukan domainnya Allah, bukan domainnya manusia?.

Hmm, gini aja deh. Misal ya, ada seorang X (baca: ustadz) *lah kenapa disensor… Beliau rutin membacakan hadits-hadits tiap ba’da zuhur, tapi bacaannya itu lho gk nahan (bacaannya gk jelas, kecil pula suaranya). Sekecil-kecilnya suara saya masih lebih kecil lagi yang ini. Nah, udah gitu baca haditsnya puanjaaang bener, ampe  jamaahnya pada gelisah (yg ini agak lebay). Padahalkan cukup baca 2 atau tiga hadits kayaknya udah bisa jadi ilmu yang bermanfaat tuh. Nggak mesti harus baca berlembar-lembar. Kan gk enak, klo meninggalkan barisan shaf klo ada yg lagi ngisi taushiyah gitu.

Secara, meskipun isi yang disampaikan itu bener, sang ustadz juga harus memperhatikan apakah jamaahnya itu menerima dengan baik apa yang disampiakannya. Lho kan yg penting ikhlas? .Duh, nanya itu terusss, tadi kan udah saya bilang kali ini saya nggak berbicara masalah niat ya.. Karena insya Allah (asumsi) niatnya udah pada beres #hehe. Lillahi ta’ala.  Yang menjadi poin utama kali ini adalah efektivitas dakwah yang kita lakukan.

Seberapa efektif sih dakwah yang kita lakukan selama ini? Ini harus terus di riset. Bisa jadi, ada yang merasa dakwahnya sudah “wah”, tapi kenyataannya yang menerima manfaat itu hanya segelintir orang saja. Parahnya lagi, jika yang menjadi objek dakwahnya itu-itu terus. Mereka yang memang sudah paham akan dakwah. Mereka yang baru atau masih ‘ammah gimana?.

Ya itu tadi, coba sekali-kali kita belajar menjadi diri mereka. Belajar melihat agenda-agenda dakwah dari sudut pandang mereka. Belajar menilai dan mengevaluasi akivitas kebaikan kita dari sudut pandang orang lain.

Karena itu, jangan terjebak pada persepsi diri sendiri. Dakwah itu kan pada intinya mengajak orang lain pada kebaikan. Kalau yang di ajak gk respect lagi terhadap metode yang kita lakukan, ya kita perlu mempelajarai lagi objek karakteristik objek dakwah itu. Karena tiap generasi punya karakter yang berbeda, oleh karenanya butuh metode yang berbeda untuk mendekatinya. Belajarlah untuk menjadi mereka.

Ada yang bilang kalau mau melihat bentuk rumah kita, ya harus keluar sejenak melihat seperti apa sih bentuk rumah kita saat ini. Apakah cat rumahnya masih mengkilat, apakah temboknya sudah mulai berlumut atau apakah halaman depannya penuh dengan sampah bertebaran? Karena bila hanya melihat rumah kita dari dalam, bisa jadi kita hanya memperbagus dalamnya saja, tapi menurut tetangga, rumah kita menyeramkan tak terurus dan hanya menjadi sumber masalah bagi lingkungan sekitarnya. Bukankah dakwah itu pada hakikatnya memberikan ketenangan dan kebermanfaatan?. 

Mencintai Bayang Rembulan


Sudah 2 hari ini rembulan malam tampak begitu indah, bulat, bersinar dan lama-lama semakin meninggi. Ia datang menggantikan sang surya yang sedang berada di belahan bumi yang lain. Ah, ternyata malam tadi adalah malam nishfu sya’ban , pertengahan bulan sya’ban.

Rembulannya begitu indah. Ia meninggi di atas sana. Kata om amstrong butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa menjejakkan kaki di sana. Paling tidak harus bisa melewati lapisan atmosfer super panas dan bertarung dalam perjalanan menghindari serpihan-serpihan meteor yang sewaktu-waktu bisa mengancam.

Tapi, kini kulihat rembulan indah itu ada di sebuah sudut kolam, sama indahnya. Dan kupikir, aku tak seperti om amstrong yang harus mempersiapkan ini-itu untuk bisa mendekatinya. Ternyata rembulan itu datang meghampiri. Lama-lama ia semakin tampak indah, ditemani sekawanan gemintang yang kerlip cahayanya mengelilingi sang rembulan. Aku hampiri, rembulan itu mulai bergetar. Semakin dekat, kucoba menyentuhnya di atas riak permukaan. Getarannya semakin besar. Cintakah ia?

Dan, tiba-tiba ketika aku mulai menyentuhnya, sang rembulan bergetar hebat, gelombang air kemudian merusak bentuknya, tak lagi bulat, tak lagi indah. Bentukya tak lagi berarturan. Marahakan ia?…. 

Ternyata keinginanku untuk menekati sang rembulan ternyata justru merusak dirinya. Lalu kubiarkan ia kembali ke wujud semula. Menjadi bulat, indah dan bersinar kembali menghiasi permukaan kolam.

“Sejak saat itu, kuputuskan untuk mencintai rembulan dari kejauhan saja, tanpa mendekatinya. Biarlah ia tetap bersinar dan tak terluka oleh kehadiran kita. Biarlah kita merindunya, ia akan selalu datang menyapa menghiasi langit bumi dikala gulitanya.”

Bayangan? itu semu. Tak perlu kita perlu berharap pada segala sesuatu yang semu dan fana. Ia akan hilang seketika. Mencintai bayangan berarti mencintai ke-semu-an, dan berharap pada sesuatu yang tak pasti. Karenanya, meminta, mencinta, berharap dan mendekatlah pada Yang Maha Abadi. wallahu ‘alam bish showwab

Depok, 15 Sya’ban 1433 H, 06.00 WIB

Antum kok dingin banget?


Ada yang bilang saya akhir-akhir ini, paling tidak dalam sebulan terakhir semakin dingin 😦 . Bener gk ya?? Gk tau juga sih mereka melihatnya dari sisi mana, tapi ya emang akhir-akhir ini saya cukup cuek dengan keadaan sekitar, bales sms seadanya saja: “ya”, “oke”, “sip”… nggak pake tanda titik dua tutup kurung pula. Facebook pun sudah hampur sebulan lebih gk pernah di update. Setiap ada sms masuk saya abaikan (nggak semua juga sih hehe).

Antum dingin banget sih akhir-akhir ini? 

Jawaban singkat: Untuk memadamkan emosi yang sedang bergejolak…. 😀