Semburat Persepsi


Terkadang keberadaan atau positioning kita juga menentukan seberapa jauh kita bisa mengakses sebuah informasi. Menjadi seseorang yang ‘serba tahu’ ya memang harus berada di dalam sumber informasi. Itu kaidah secara umumnya. *kyk ilmu ushul aja #hehe*

Posisi dimana kita berada, bisa menentukan bagaimana perepsi yang terbentuk dalam alam pikiran. Misalnya saya tergabung dalam organisasi A, maka pola pikir yang terbentu adalah pola pikir yang berdasarkan kriteria A, pola pikir –atau dalam bahasa lainnya cara pandang (world view)– *berattt. Nah, world view inilah yang akan mempengaruhi kebijakan-kebijakan yang kita ambil. Dalam konteks ini, memang penting untuk bergabung dalam organisasi yang memang mengantarkan kita pada pola pikir organisasi yang matang.

Tapi, dalam konteks lain, ada satu hal lain yang perlu diperhatikan, bahwa kita juga perlu menilai diri kita dari sisi orang lain. Atau bisa disebut bagaimana kita menjadi oang lain, dan melihat dengan sudut pandang yang lain. Misal, tadi saya melihat sebuah tugu di Fakultas X, dari jauh kelihatan segitiga, semakin dekat seperti dua segitiga berjajar, dan setalah melihat dari berbagai arah, bentuknya adalah prisma. Atau sederhananya deh, saya melihat si A dari belakang, beda kan dengan melihat di A dari depan. Kalau dari belakang, kita gk tau tuh ekspresi wajahnya seperti apa klo marah, sedih, kecewa. Akhirnya kita ber-presepsi klo si A itu orangnya blab la bla.

Cara membaca atau cara meihat kita terhadap sesuatu itu mengantarkan kita pada persepsi yang berbeda. Dan persepsi akan megantarkan pada pilihan sikap yang kita ambil.

Menjadi orang lain dalam menilai aktivitas yang kita lakukan bukan berarti mencari penghargaan di hadapan orang lain. Akan tetapi berupaya untk me-muhasabah sudah sejauh mana sih aktivitas yang kita lakukan itu benar-benar bermanfaat menurut kita. Terkadang sih, manusia itu merasa bahwa apa yang dilakukannya sudah bermanfaat bagi orang lain, tapi justru dalam kenyataannya aktivitas tersebut NIHIL  dari manfaat yang dirasakan lingkungan sekitarnya. Lah, kan yang penting niat gue udah bener? Kenapa mesti melihat apa kata orang lain?

Iya benar, seharusnya memang kita tak peduli apa kata orang lain, kalau niat udah ikhlas sih, insya Allah segala yang kita lakukan bermanfaat. Tapi, apa bener aktivitas kebaikan (baca: dakwah) yang kita lakukan sudah efektif? Bukankah masalah penerimaan dakwah itukan domainnya Allah, bukan domainnya manusia?.

Hmm, gini aja deh. Misal ya, ada seorang X (baca: ustadz) *lah kenapa disensor… Beliau rutin membacakan hadits-hadits tiap ba’da zuhur, tapi bacaannya itu lho gk nahan (bacaannya gk jelas, kecil pula suaranya). Sekecil-kecilnya suara saya masih lebih kecil lagi yang ini. Nah, udah gitu baca haditsnya puanjaaang bener, ampe  jamaahnya pada gelisah (yg ini agak lebay). Padahalkan cukup baca 2 atau tiga hadits kayaknya udah bisa jadi ilmu yang bermanfaat tuh. Nggak mesti harus baca berlembar-lembar. Kan gk enak, klo meninggalkan barisan shaf klo ada yg lagi ngisi taushiyah gitu.

Secara, meskipun isi yang disampaikan itu bener, sang ustadz juga harus memperhatikan apakah jamaahnya itu menerima dengan baik apa yang disampiakannya. Lho kan yg penting ikhlas? .Duh, nanya itu terusss, tadi kan udah saya bilang kali ini saya nggak berbicara masalah niat ya.. Karena insya Allah (asumsi) niatnya udah pada beres #hehe. Lillahi ta’ala.  Yang menjadi poin utama kali ini adalah efektivitas dakwah yang kita lakukan.

Seberapa efektif sih dakwah yang kita lakukan selama ini? Ini harus terus di riset. Bisa jadi, ada yang merasa dakwahnya sudah “wah”, tapi kenyataannya yang menerima manfaat itu hanya segelintir orang saja. Parahnya lagi, jika yang menjadi objek dakwahnya itu-itu terus. Mereka yang memang sudah paham akan dakwah. Mereka yang baru atau masih ‘ammah gimana?.

Ya itu tadi, coba sekali-kali kita belajar menjadi diri mereka. Belajar melihat agenda-agenda dakwah dari sudut pandang mereka. Belajar menilai dan mengevaluasi akivitas kebaikan kita dari sudut pandang orang lain.

Karena itu, jangan terjebak pada persepsi diri sendiri. Dakwah itu kan pada intinya mengajak orang lain pada kebaikan. Kalau yang di ajak gk respect lagi terhadap metode yang kita lakukan, ya kita perlu mempelajarai lagi objek karakteristik objek dakwah itu. Karena tiap generasi punya karakter yang berbeda, oleh karenanya butuh metode yang berbeda untuk mendekatinya. Belajarlah untuk menjadi mereka.

Ada yang bilang kalau mau melihat bentuk rumah kita, ya harus keluar sejenak melihat seperti apa sih bentuk rumah kita saat ini. Apakah cat rumahnya masih mengkilat, apakah temboknya sudah mulai berlumut atau apakah halaman depannya penuh dengan sampah bertebaran? Karena bila hanya melihat rumah kita dari dalam, bisa jadi kita hanya memperbagus dalamnya saja, tapi menurut tetangga, rumah kita menyeramkan tak terurus dan hanya menjadi sumber masalah bagi lingkungan sekitarnya. Bukankah dakwah itu pada hakikatnya memberikan ketenangan dan kebermanfaatan?. 

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: