Ampuni hamba ya Rabb


Sumber Foto: ugeem.com

Kantor Pusat Fakultas Teknik kemarin kembali didatangi oleh salah seorang ‘tokoh’ istimewa. Kalau diingat-ingat berarti baru ada 2 ‘tokoh’ yang menjadi pembicara dalam agenda yang di adakan di selasar KPFT tersebut,Pak Tif (sapaan akrab Tifatul Sembiring) pada tahun ini dan beberapa tahun sebelumnya (klo gk salah thn 2002) Ust. Rahmat Abdullah.

Alhamduliiah, senang bisa melihat jajaran dekanat dan para ketua jurusan bisa ikut agendaa Tarhib ramadhan kemarin. Biasanya kan yang dateng paling cuma dekannya tok, itupun kadang diwakilkan dan cuma ngasih sambutan, selesai sambutan beres… wuzzzz langsung menghilang. Tapi kali ini beda, beberapa ketua jurusan dan jajaran dekanat duduk kalem di shaf paling depan sambil mendengarkan taujih pak Tif (Alhamdulillah lagi).

Pesertanya gimana? Yaah udah bisa ditebaklah, peserta mebludak ampe selasar timur dan barat. nggak seperti kajian-kajian ‘biasa’ yang pesertanya bisa diitung dengan jari. Itupun 4 L. loe lagi-loe lagi.  Bahkan dari berbagai kampus pun juga memadat area selasar KPFT itu (berapa ya klo diitung? *males -__-“). 

Hmm, saya jadi kepikiran kalau kajian-kajian dengan ustadz ‘biasa’ jumlah jamaahnya sedikit, trus ketika yang ngisi adalah ustadz sekaligus tokoh nasional, pada rame-rame tuh berdatangan, bahkan sampai yang jarang ikut kajianpun bisa hadir. Trus, apa iya, kita harus mendatangkan ustadz-ustadz dengan nama besar untuk mendatangkan jamaah dengan jumlah besar?. Apa iya kita baru sadar pentingnya kajian klo yang ngisi adalah seorang tokoh. Trus males2an klo yang dateng itu ustadz kampung atau ustadz lokal?

Satu sisi saya cukup senang karena kemarin bahasa-bahasa dakwah bisa tersampaikan dengan begitu ‘vulgar’ di Kampus, di hadapan birokrat kampus pula. Tapi di sisi lain, ada juga perasaan miris melihat masih lebih banyak lagi di areal kampus yang masih merokok, masih boncengan dengan lawan jenis, masih membuka aurat, dan lain-lain. Apa nggak cukup ustadz yang juga tokoh nasional ini untuk menarik minat mereka? Atau perlu langsung di datangkan malaikat untuk membuat mereka sadar (Astaghfirullah).

Begitupula kita, mungkin, dalam berbagai kondisi kita tak cukup untuk dinasehati oleh seorang kawan, mungkin kita tak cukup ditegur oleh seorang dosen, mungkin kita tak cukup dimarahi oleh pimpinan kita, mungkin tak cukup di dakwahi oleh ustadz biasa, mungkin dan mungkin lagi. Lalu, apakah kita menunggu sampai langsung ditegur oleh ALLAH atas setiap kemalasan kita, apakah kita menunggu dijemput malaikat maut sampai terucap kata taubat atas segala maksiat.  Astaghfirullah… Ampuni hamba ya Rabb

Senin, 9 Juli 2012. 06.15 WIB

About jupri supriadi

unzhur maa qaalaa walaa tanzhur man qaalaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: